I. SELAYANG PANDANG PROGRAM AKSELERASI SMP TARUNA BAKTI
8 tahun SMP Taruna Bakti menyelenggarakan program akselerasi sebagai salah satu bentuk layanan terhadap siswa yang memiliki kemampuan dan kecepatan menerima informasi diatas rata-rata. Keberadaan program akselerasi tidak berbeda dan tidak istimewa dibandingkan dengan bentuk layanan lain yang ada di SMP Taruna Bakti, seperti program reguler dan bilingual.
Akselerasi adalah program layanan pendidikan bagi siswa yang memiliki kemampuan menerima materi pelajaran secara cepat. Hal ini dimungkinkan karena siswa akselerasi merupakan kelompok siswa dengan IQ yang termasuk superior (minimal 130), Komitmen terhadap tugas dan tingkat kreatifitas yang tinggi.
Program akselerasi pertama kali dilaksanakan di SMP Taruna Bakti pada tahun pelajaran 2002-2003 dengan beberapa pertimbangan. Pertimbangan pertama, adalah kepercayaan Dinas Pendidikan Luar Biasa Departemen Pendidikan Nasional terhadap SMP Taruna Bakti untuk menyelenggarakan program akselerasi karena SMP Taruna Bakti dinilai memiliki kemampuan penyelenggaraan pendidikan yang baik. Di kota Bandung sendiri, selain SMP Taruna Bakti, juga dipilih SMP Negeri 5 Bandung untuk tingkat SMP sebagai sekolah percontohan dan “pilot project” untuk penyelenggaraan program akselerasi di Jawa Barat. Pertimbangan kedua, Di SMP Taruna Bakti guru sering menemukan beberapa siswa yang memiliki karakteristik unik dan menuntut perhatian ekstra. Salah satu karakteristik unik tersebut diantaranya adalah sikap yang terkesan malas, iseng dan nakal namun dilain pihak mereka juga memiliki prestasi akademis yang sangat tinggi dikelasnya. Dari pengalaman tersebut maka sekolah merasa perlu memberikan layanan kepada siswa dengan karakteristik unik tersebut. Layanan itu dimaksudkan agar siswa yang memiliki karakteristik tersebut dapat dilayani dengan sebaik-baiknya sehingga mereka dapat memaksimalkan potensi mereka di bidang akademis. Dengan berbagai pertimbangan tersebut maka SMP Taruna Bakti menerima kepercayaan dari Dinas Pendidikan Nasional tersebut dengan membuka layanan program akselerasi dengan niat awal memberikan layanan terhadap siswa sebagai bentuk pengabdian di dunia pendidikan. Pada hakekatnya, program akselerasi adalah bentuk kepedulian sekolah, pemerintah dan masyarakat terhadap siswa yang memiliki karakteristik Cerdas Istimewa agar mereka mampu memaksimalkan potensi mereka baik dibidang akademis, non akademis maupun perkembangan aspek emosional.
Selama 8 tahun penyelenggaraan program akselerasi, SMP Taruna Bakti telah meluluskan 6 angkatan (data terlampir) dan 2 angkatan masih dalam proses kegiatan belajar mengajar. Selama itu pula kami telah menghasilkan prestasi akademis dan non akademis diatas rata-rata program lainnya. Hal ini membuktikan bahwa penanganan dan penyelenggaraan program akselerasi di SMP Taruna Bakti telah berjalan sesuai dengan aturan, prosedur dan tujuan yang diharapkan.
Dengan alasan itu pula, kami selaku penyelenggara program akselerasi SMP Taruna Bakti merasa perlu untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan seputar penyelenggaraan program akselerasi. Harapan kami, melalui buku kecil ini, kita semua bisa berbagi dan memberikan masukan yang positif bagi perbaikan program akselerasi.
Angkatan pertama peserta program akselerasi tahun pelajaran 2002/2003 terdiri atas 12 orang siswa. Tahun pelajaran 2003/2004 sebanyak 11 orang siswa dan angkatan 2004/2005 terdiri atas 8 orang siswa. Pada tahun ketiga penyelenggaraan program akselerasi, SMP Taruna Bakti menerima tanggung jawab sebagai Resource Center Keberbakatan Provinsi Jawa Barat (Banten) untuk memberikan pendampingan dan sosialiasi tentang keberbakatan dan program akselerasi kepada seluruh sekolah dan masyarakat yang ingin mengetahui tentang keberbakatan.
Tahun pelajaran 2005/2006 siswa yang terjaring masuk kelas akselerasi sebanyak 18 orang siswa. Tahun pelajaran 2006/2007 berhasil menjaring siswa sebanyak 15 orang siswa dan dilanjutkan pada tahun 2007/2008 menjaring siswa sebanyak 19 orang siswa. Dua tahun berikutnya siswa yang terjaring sebanyak 16 dan 20 orang siswa. Tahun 2010-2011 jumlah siswa akselerasi sebanyak 20 siswa.
Selama 9 angkatan tersebut, SMP Taruna Bakti telah banyak mengalami berbagai pengalaman dan wawasan seputar pelayanan terhadap anak Cerdas Istimewa. Berbagai pengalaman tersebut diuraikan secara rinci melalui blog yang dibuat SMP Taruna Bakti dengan alamat : akselerasismptarbak.blogspot.com dan educationtarbak.blogspot.com sebagai sarana berbagi pengalaman dan pengetahun dibidang pendidikan khususnya akselerasi.
Selain menjadi Resource Center keberbakatan, SMP Taruna Bakti juga menjadi salah satu sekolah yang menggagas terbentuknya Asosiasi Sekolah Penyelenggara Program Akselerasi tingkat Jawa Barat dan menjadi pengurus Asosiasi, yaitu sebagai Bendahara II yang ditempati oleh Dra. Lucia Dwi Suharti dan Bidang pengembangan olahraga dan pemuda ditempati oleh Imam Wibawa Mukti,S.Pd
Melalui buku ini pula kami mencoba berbagai media yang bisa diijadikan wahana komunikasi dan interaksi secara positif dan sinergis untuk membangun sebuah komunitas yang peduli terhadap dunia pendidikan, khususnya program akselerasi.
Sebelum melalui buku ini, kami telah mencoba dengan membuat blog yang berisi tentang pengalaman, pengetahuan dan masukan seputar penyelenggaraan akselerasi. Melalui blog yang bisa diakses oleh masyarakat umum secara praktis dan gratis untuk menjadikan berbagai tulisan di blog ini sebagai wacana bebas untuk didiskusikan.
Dalam tulisan ini, memuat berbagai masalah yang terjadi seputar penyelenggaraan program akselerasi di SMP Taruna Bakti, misalnya landasan hukum, tujuan, prosedur pengajuan, penjaringan/penyaringan dan syarat guru yang mengajar di program akselerasi. Tulisan-tulisan ini disusun berdasarkan panduan yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidilan Luar Biasa Dinas Pendidikan Nasional dan pengalaman SMP Taruna Bakti, sehingga tulisan-tulisan ini menjadi tulisan yang tidak mengakar dan tidak memiliki konteks dengan dunia nyata.
II. PROGRAM AKSELERASI DAN SEKOLAH BERSTANDAR INTERNASIONAL
Di Jakarta, ada sekolah negeri (SMA) yang menutup layanan akselerasi dengan alasan sekolahnya telah menjadi Sekolah Berstandar Internasional. Hal tersebut juga kemudian diikuti oleh salah satu sekolah negeri di Bandung dengan alasan yang sama. Sebenarnya hal tersebut bukanlah hal yang mengejutkan atau mendadak, karena sebelumnya memang telah beredar surat Direktur PSMP no. 0015/C3/KP/2010 tanggal 6 Januari 2010 tentang Pemberitahuan PPDB yang ditujukan kepada kepada Dinas Pendidikan propinsi dan Kabupaten/Kota, yang berisi tentang “semua SMP-RSBI tidak diperbolehkan mempunyai : 1) kelas Akselerasi ......”
Walaupun surat tersebut telah dibatalkan atas desakan berbagai pihak, namun dampaknya sangat terasa bagi sekolah yang menyelenggarakan program akselerasi sekaligus sebagai SBI. Hal ini karena mereka menganggap dengan system SKS (SMA) maka semua siswa berpeluang untuk menyelesaikan sekolah lebih cepat dari ketentuan biasa, yaitu 3 tahun.
SMP Taruna Bakti, yang merupakan Sekolah Berstandar Internasional sekaligus penyelenggara program akselerasi, perlu menegaskan keberadaan program akselerasi ditengah kegalauan berbagai pihak yang menanyakan nasib program akselerasi.
Program ini lahir sebagai bentuk kepedulian SMP Taruna Bakti terhadap kebutuhan akan layanan pendidikan bagi anak-anak yang memiliki kecerdasan luar biasa. Mereka selama ini berjumlah minoritas dan dipaksa untuk mengikuti layanan pendidikan regular konvensional yang bersifat klasikal, dimana mereka harus mengikuti kecepatan dan jumlah materi yang sama dengan mayoritas siswwa di kelasnya. Padahal dengan potensi mereka, mereka sebenarnya bisa mendapatkan ilmu lebih banyak atau belajar lebih cepat dibandingkan dengan rekan sebaya mereka.
Dari pengalaman itu, maka kami sering menghadapi kendala dimana mereka sering menjadi sumber masalah di kelas. Apakah itu iseng, ngantuk, hiperaktif atau underachiever. Maka, tahun 2002, SMP Taruna Bakti membuka program akselerasi.
Sampai saat ini, SMP Taruna Bakti AKAN TETAP MEMBUKA LAYANAN AKSELERASI dengan alasan sebagai berikut :
1. UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 52 : Anak yang memiliki keunggulan diberikan kesempatan dan aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan khusus.
2. UU no. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3: “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik........”
3. UU no. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 5 ayat 4 : “warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak mendapatkan pendidikan khusus”.
4. UU no. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 51 ayat 1 : “Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah”. Penerapan prinsip MBS berarti sekolah memiliki kewenangan untuk mengembangkan mutu pendidikan berdasarkan kebutuhan input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
5. RPP tentang Penyelenggaraan dan Pengelolaan Pendidikan (draft Mei 2009), paragraf 2 pasal 146 ayat 1: “Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat diselenggarakan pada satuan pendidikan formal TK/RA/BA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat.”
6. Framework for Action Salamanca Statement 1994 : The guiding principle of this Framework is that schools should accommodate all children…. This should include disabled and gifted children, street and working children, children from remote of nomadic populations, children from linguistic, ethnic or cultural minorities and children from other disadvantaged or marginalized areas or groups…. The challenge confronting the inclusive school is that of developing a child-centered pedagogy capable of successfully educating all children. (Framework for Action, no. 3, page 6)
7. Permendiknas no. 34/2006 tentang Pembinaan Prestasi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa.
8. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 70/2009 Tentang Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik Yang Memiliki Kelainan Dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa
Pasal 1 : “Dalam Peraturan ini, yang dimaksud dengan pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya”.
Pasal 5 ayat (1) : “Penerimaan peserta didik berkelainan dan/atau peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa pada satuan pendidikan mempertimbangkan sumber daya yang dimiliki sekolah”. Sekolah SSN atau RSBI adalah sekolah yang memiliki sumber daya yang memadai untuk menyelenggarakan pendidikan bagai peserta didik didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dalam bentuk program akselerasi.
9. Penyelenggaraan program akselerasi difasilitasi oleh Ditjen Dikdasmen pada tahun 1998/1999 melalui ujicoba pada tiga sekolah di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Pada tahun 1999 dikeluarkan SK Dirjen Dikdasmen tentang Penetapan Sekolah Penyelenggara Program Percepatan Belajar kepada 1 SD, 5 SMP, dan 5 SMA di DKI dan Jawa Barat.
10. Salah satu sekolah yang ditetapkan menjadi penyelenggara akselerasi adalah SMP Labschool Jakarta, melalui Surat Keputusan Dirjen Dikdasmen Depdikbud no. 191/C/Kep/MN/1999 tanggal 7 Juli 1999 tentang penetapan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama SLTP Yayasan Pembina IKIP Jakarta sebagai Penyelenggara Program Percepatan Belajar.
11. Program akselerasi kemudian dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dalam Rakernas Depdiknas tahun 2000, menjadi salah satu Program Pendidikan Nasional. Selanjutnya, sejak tahun 2001 dilakukan diseminasi program percepatan belajar pada beberapa sekolah di beberapa propinsi di Indonesia. SK penyelenggaraan akselerasi tersebut kemudian diterbitkan oleh Dinas Pendidikan. V. KESIMPULAN
Dari uraian di atas maka kita dapat simpulkan bahwa keberadaan program akselerasi tidak akan terganggu oleh program apapun karena hakekatnya, program akselerasi merupakan bentuk layanan pendidikan khusus kepada siswa yang memiliki cirri atau keunikan tertentu, dalam hal ini adalah kecerdasannya yang tinggi.
Keberadaan Sekolah Berstandar Internasional tidak berpengaruh pada kegiatan dan program akselerasi bahkan bila dikelola secara baik maka kedua program ini akan bersinergi satu sama lain untuk memberikan layanan terbaik baik siswa didik.
Selengkapnya...
Berbagi Pengalaman dan Pengetahuan Seputar Layanan Pendidikan Anak Cerdas Istimewa
Minggu, 19 Juni 2011
AKSELERASI DI TENGAH RSBI
CARA MENGEMBANGKAN KECERDASAN EMOSIONAL
Dalam berbagai kesempatan seringkali disampaikan bahwa kecerdasan emosi sangat mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam karier maupun dalam Bisnis. Selain ditentukan oleh kecerdasan intelektual, untuk mencapai keberhasilan dalam karier dan Bisnis juga sangat dipengaruhi oleh kecerdasan emosional. Bahkan menurut para ahli kecerdasan emosional memegang peranan yang lebih tinggi dalam pencapai keberhasilan seseorang. Menurut penelitian kecerdasan emosional dapat mempengaruhi hingga 80% bagi keberhasilan karier dan Bisnis seseorang.
Menyadari begitu besarnya peranan kecerdasan emosi seseorang dalam menopang keberhasilan, tentu kita bertanya bagaimana caranya mengembangkan kecerdasan emosi kita ? Bagaimana caranya membangun kecerdasan emosional kita sehingga dapat meningkat dan mempengaruhi keberhasilan kita ?. Ada beberapa elemen yang perlu diperhatikan agar kita dapat mengembangkan kecerdasan emosi ini. Beberapa diantaranya adalah:
1. Pengenalan Diri
Kembangkan kesadaran untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. Ini yang seringkali disebut dengan mengenal diri sendiri atau self-awareness. Bahasa sederhanannya adalah bagaimana kita dapat mengenali segala kekuatan dan kelemahan yang ada dalam diri anda. Bagaimana Anda dapat mengenali karakter, bakat, potensi yang Anda miliki. Karena itu berusahalah selalu membangun komunikasi ke dalam diri Anda agar dapat mengenali kekuatan diri sendiri lebih baik lagi.
2. Sikap optimisme
Sikap optimism adalah salah satu elemen penting dalam membangun kecerdasan emosional seseorang. Orang yang optimis selalu memandang segala sesuatunya dnegan posisitf. Sikap optimis ini merupakan salah satu elemen penting yang dapat memudahkan Anda mencapai keberhaasilan dan kebahagiaan. Karenanya berusahalah selalu memiliki sikap optimis, senantiasa memandang sisi positif, kemudian selalu berusaha mengembangkan diri. Orang yang optimistis biasanya berumur lebih panjang, lebih sehat, lebih mampu menggali kemampuannya serta menikmati keberhasilan yang dicapainya.
3. Fleksibilitas pribadi
Kembangkan sikap fleksibilitas pribadi yang baik. Artinya kita harus mampu bersikap fleksible dalam menyikapi berbagai masalah dalam kehidupan. Seringkali kita dihadaplkan pada berbagai benturan, hambatan dan kegagalan dalam mencapai apa yang Anda inginkan. Maka berusahalah mengembangkan sikap fleksible, artinya berani melakukan sebuah perubahan-perubahan. Karena kenyatanannya tidak sedikit keberhasilan yang luar biasa dan memuaskan dicapai ketika kita berani memikirkan sesuatu yang baru, atau berani memikirkan sesuatu di luar apa yang pernah kita rencanakan.
4. Hubungan Antar pribadi
Tingkatkan terus kemampuan Anda dalam membangun hubungan antar pribadi. Kepandaian anda dalam membangun hubungan antar pribadi akan meningkatkan kecerdasan emosi. Manfaatkan kemampuan Anda dalam menjalin hubungan antarpribadi. Bukan dalam arti perlu banyak mengetahui berbagai hal tentang seseorang melainkan lebih untuk mengembangkan hubungan yang kuat sehingga bisa ikut mendorong Anda mencapai tujuan.
5. Continues Learning
Terus belajar mengembangkan diri dalam kecerdasan emosi melalui membaca buku, membaca artikel, mengikuti milis, mendengarkan seminar, talkshow ataupu nmengikuti training-training yang berhubungan dengan kecerdasan emosi. Pembelajaran berkelanjutan tidak hanya dilakukan dalam sekolah formal, melainkan melalui berbagai kesempatan dalam berorganisasi dan berinteraksi dengan orang lain akan dapat meningkatkan kecerdasan emosi Anda.
Sahabat yang baik, untuk mencapai keberhasilan dalam karier dan Bisnis diperlukan adanya daya lenting atau resilience. Karena jalan menuju keberhasilan dan kemuliaan tidak pernah mulus, selalu ada ujian dan tantangannya. Kembangkan sikap kerjasama yang baik dengan orang lain, membangun hubungan yang luas, senang berbagi informasi, ilmu maupun bantuan lainnya. Berusahalah selalu mengembangkan sikap positif dengan membantu rekan di sekitar Anda untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Fokuslah pada kekuatan dan bukan kelemahan Andam. Berempatilah pada kebutuhan mereka.Beri jalan mereka untuk mencapai tujuan dan ungkapkan penghargaan Anda pada keberhasilan mereka. Inilah bagian lain dari membangun daya lenting Anda mencapai keberhasilan dengan mengembangkan kecerdasan emosi Anda.
SEMOGA BERMANFAAT.
Selengkapnya...
Sabtu, 11 Juni 2011
AKHIR SEBUAH PERJUANGAN
Setelah tiga hari di Cipanas Cianjur...akhirnya tiba saatnya penutupan. Lomba kreatifitas hasil belajar seni dan olahraga siswa Pk dan Plk yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Jawa Barat diselenggarakan dari tgl 10 - 12 Juni 2011.
Kejuaraan kali ini mempetandingkan 25 jenis pertandingan. Dan SMP Taruna Bakti mengirimkan 2 peserta mewakili Kita Bandung.Lomba yang diikuti adalah pidato bahasa inggris dan penelitian Iptek.
Pidato bahasa inggris diikuti oleh Amanda Widayanti, siswa kelas akselerasi tingkat I dan penelitian iptek diikuti oleh Alvin Abiwardani siswa kelas akselerasi I.
Amanda akhirnya meraih juara pertama dan Alvin meraih juara harapan. bagi juara pertama disetiap lomba akan menjadi perwakilan Jawa Barat dalam pertandingan tingkat nasional di Manado pada bulan September 2011.
Penutupan dilaksanakan saat ini jam 08.52 wib.
Jumat, 10 Juni 2011
LOMBA HASIL BELAJAR SISWA SENI DAN OLAH RAGAPENDIDIKAN KHUSUS TINGKAT JAWA BARAT
Hari ini, Jumat,10 Juni 2011 dibuka Lomba Kreatifitas Hasil Belajar Seni dan Olah raga Siswa Berkebutuhan Khusus tingkat Jawa Barat yang diselenggarakan di Green Hill Resort Cipanas Cianjur Jawa barat.
Mewakili kota Bandung untuk siswa akselerasi,SMP Taruna Bakti di tunjuk untuk mengikuti lomba pidato bahasa inggris (speech) dan penelitian Iptek.
Untuk lomba speech diikuti oleh Amanda Widayanti dan penelitian Iptek diwakili oleh Alvin Abiwardhani.
Pemenang lomba ditingkat Jawa Barat ini akan dikirim menuju tingkat nasional yang rencananya akan diselenggarakan tgl 10-12 September 2011 di kota Manado.
Semoga kegiatan ini berjalan dengan lancar dan SMP Taruna Bakti bisa memberikan yang terbaik.
Senin, 06 Juni 2011
Yakinlah...Tuhan Memberimu Yang Terbaik
Selamat kepada 9 siswa akselerasi tahun ajaran 2010-2011 yang telah diterima disekolah yang diharapkan (RSBI SMA 3 Bdg). Semoga kalian semakin dekat dengan cita-cita yang kalian harapkan.
Bagi siswa yang belum diterima disekolah yang dituju...bersabarlah! Perjuangan belum berakhir. Masih banyak jalan menuju sukses,kami yakin dengan nilai yang kalian peroleh..kalian akan masih terbuka untuk memilih sekolah yang baik.
Terlepas dari masalah pendaftaran...bpk ingin bicara dalam tataran yang lebih luas...yaitu pada tataran keyakinan.
Kemarin sebelum UN kita berdoa kepada Tuhan untuk mendapatkan yang terbaik. Dan sekarang kita tahu bahwa Tuhan telah mendengar doa kita.
Apa yang ada dalam benak kita tentang hal yang baik ternyata belum tentu menurut pandangan Tuhan.
Manusia punya harapan dan rencana...tapi Tuhan sudah mempersiapkan sesuatu yang lebih baik bagi kita.
Marilah kita yakini hal itu!
Jangan pernah mendikte Tuhan dengan pandangan dan harapan kita yang tidak tahu apa-apa.
Doa kami terus mengalir dan berhembus mengisi sela-sela udara yang kalian hirup.
Potensi kalian yang luar biasa akan tetap menyala...dimanapun kalian sekolah...jangan pernah menyerah&
Jumat, 03 Juni 2011
Kisi ulum akselerasi...
Silakan download kisi ulum akselerasi disini dan sebarkan kepada teman yg lain
http://www.ziddu.com/
download/15236611/
KISIULUMAKSELERASI.doc.html
Lulus 100%
Siswa akselerasi SMP Taruna Bakti tahun ajaran 2010-2011 dinyatakan lulus 100% berdasarkan rapat pleno guru tgl 3-juni-2011 jam 17.43 wib.
Dengan hasil yang sangat memuaskan ini...semoga kalian bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan hasil yang baik pula...
Rabu, 13 April 2011
PENGUMUMAN TENTANG PROGRAM PSB AKSELERASI SMP TARUNA BAKTI BANDUNG
Kepada seluruh calon siswa akselerasi SMP Taruna Bakti Bandung yang telah dinyatakan lulus Tes Akademis, wajib mengikuti:
1. Sosialisasi program Akselerasi dan Bilingual yang dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Sabtu, 23 April 2011
Waktu : Jam 08.00-09.30 WIB (untuk orang tua)
Jam 10.00-11.30 WIB (untuk siswa)
Tempat : Aula ASMTB. Jalan Martadinata 93 Bandung
2. Psikotest yang akan dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Minggu, 24 April 2011
Waktu : 08.00 – 14.00 WIB
Tempat : SMP Taruna Bakti. Jalan Martadinata 52 Bandung
Keterangan :
1. . Siswa hadir setengah jam sebelum acara di mulai.
2. Siswa memakai pakaian seragam SD asalnya masing-masing.
3. Seluruh peserta psikotest membawa makanan masing-masing.
4. Demi kelancaran pelaksanaan, maka para orang tua tidak diperkenankan berada di lokasi pada saat test berlangsung.
Selengkapnya...
Kamis, 02 Desember 2010
Latih Disiplin Anak Tanpa Memukul
Disiplin anak
Setiap keluarga mempunyai cara sendiri-sendiri untuk menanamkan disiplin pada anak. Walau berbeda, sebenarnya tujuannya sama, yaitu menangani anak bandel atau yang bertingkah nakal.
Tahukah Anda, menurut pakar psikologi anak, menangani anak nakal dengan cara berteriak atau memukul dapat menimbulkan efek negatif pada emosi si kecil. Agar disiplin bisa dilatih sejak dini, kenali cara lain yang lebih efektif untuk buah hati Anda, seperti dikutip dari laman Modern Mom.
Beda usia, beda cara
Pertimbangkan usia anak Anda. Cara menanamkan disiplin pada anak tidak sama di tiap usia. Beda usia, beda cara. Misalnya, untuk anak berusia 15 bulan, Anda bisa menggunakan cara pengalihan perhatian untuk membuatnya disiplin. Berbeda dari anak usia yang lebih muda atau lebih tua dari itu, Anda mengabaikan mereka jika merengek-rengek atau bertindak tidak tepat, untuk mendapatkan perhatian Anda.
Beri contoh
Contohkan perilaku yang baik agar si kecil menirunya. Menurut penelitian, teknik itu selalu direspon baik oleh anak-anak. Sebab, memberi si kecil contoh dari apa yang harus dilakukan, bukan apa yang tidak boleh dilakukan.
Anak-anak lebih mudah meniru perilaku orang dewasa. Mereka lebih mudah menerima pendekatan itu dari pada diberi tahu apa yang tidak boleh mereka lakukan.
Berpegang pada aturan
Tetaplah berpegang pada aturan yang Anda tetapkan untuk buah hati. Setelah memberitahu harapan Anda pada si kecil, hal ini akan memperkuat perilaku yang ingin Anda lihat dari si kecil.
Beri penghargaan
Anda harus ingat untuk selalu menghargai anak Anda setiap kali dia menunjukkan perilaku baik. Lontarkan pujian kepada si kecil tidak hanya lewat kata-kata, tapi juga menawarkan hadiah favoritnya. Si kecil tentu akan merasa Anda benar-benar bangga pada dirinya sendiri.
Ungkapkan ketidaksetujuan Anda
Selalu ungkapkan pendapat Anda jika Anda merasa tingkahnya tidak tepat. Jelaskan kepadanya tentang perilaku yang tidak baik itu. Mengekspresikan pendapat Anda merupakan pendidikan keluarga yang bagus. Ini akan efektif mengubah perilaku si kecil.
Konsekuensi
Jika anak tidak disiplin atau melakukan kesalahan untuk pertama kalinya, segera ungkapkan kalau ia bersalah. Hal itu untuk menghindari ia melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Katakan juga padanya setiap kesalahan memiliki konsekuensi, salah satunya adalah hukuman. Hukuman bisa berupa tidak mengizinkannya menonton televisi beberapa hari atau memotong uang jajannya sementara waktu.
Jangan berikan hukuman fisik seperti memukul, hal itu hanya akan menimbulkan trauma dan bisa meregangkan hubungan Anda dengannya. Memberikan hukuman atau konsekuensi atas kesalahan anak juga melatih perkembangan psikologisnya. Mereka jadi lebih peka dan berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu kesalahan. (pet)
Kamis, 05 Agustus 2010
PENETAPAN KELAS AKSELERASI SMP TARUNA BAKTI BANDUNG
Hari/Tgl :Kamis / 5 Agustus 2010
Tempat :Aula ASM Taruna Bakti
Waktu :14.00 - 16.00 WIB
Jumlah :20 Siswa Selengkapnya...
Minggu, 04 Juli 2010
MENGATUR ALOKASI WAKTU DAN MATERI DALAM PEMBELAJARAN KELAS AKSELERASI
Ketika membicarakan pembelajaran di kelas akselerasi, masih ada hal yang terus menjadi perdebatan dikalangan guru akselerasi. Diprogram akselerasi, kita mengenal kurikulum berdiferensiasi, yaitu kurikulum nasional yang dirubah, ditambah, dimodifikasi agar mampu merangsang anak untuk bisa mengoptimalkan kemampuannya secara penuh.
Dalam kurikulum akselerasi, kita mengenal istilah materi esensi dan non esensi. Esensi dan non esensi tidak berhubungan dengan pengelompokkan atau peng-kasta-an ilmu pengetahuan atau penting atau tidak pentingnya suatu materi. Esensi dan non esensi hanya mengatur antara materi yang harus didalami oleh siswa dengan pendampingan guru secara intens, sementara materi non esensi adalah materi yang diperkirakan bisa dipelajari secara mandiri.
Hal lainnya adalah pengayaan (enrichment) dan Pendalaman (escalation). Pengayaan berhubungan dengan kemampuan guru dalam memperluas wawasan diri dan siswanya dalam mempelajari suatu materi pelajaran. Dan pendalaman adalah pembahasan secara rinci dan fokus dalam memahami suatu materi. Dan yang lebih penting adalah, kurikulum berdiferensiasi harus lebih menekankan pada kemampuan siswa untuk mandiri mencari pemahaman atas materi yang disampaikan. Oleh karena itu, pembelajaran yang berpusat pada siswa menjadi ruh bagi proses pembelajaran di kelas akselerasi. KONSTRUKTIFISME menjadi salah satu strategi yang harus dikembangkan oleh guru dalam menjalankan proses pembelajaran di kelas.
Namun metode kostruktifisme atau strategi lain yang lebih memberikan keleluasaan siswa sebagai subjek pembalajaran memiliki “kelemahan”, yaitu lebih membutuhkan waktu lebih panjang ketimbang metode ceramah atau demonstrasi yang didominasi oleh guru. Kembali, masalah waktu sering dijadikan kabing hitam dalam kegagalan guru dalam menjalankan kurikulum berdiferensiasi atau proses pembelajaran yang berpusat pada siswa.
Oleh karena itu tidak semua guru bisa menjalankan kurikulum berdiferensiasi. Mereka berdalih, “Jangankan melakukan enrichment dan eskalasi, sementara menyampaikan semua materi pembelajaran saja sudah bingung”. Hal tersebut mengingat waktu yang ditempuh anak di kelas akselerasi lebih cepat dibandingkan dengan kelas reguler. Bahkan ada guru yang menyatakan, kalau mau pendalaman ustru harus dikelas reguler karena waktunya lebih leluasa. Masalahnya, direguler pun hal tersebut tidak dilakukan, jadi kendala implementasi kurikulum berdiferensiasi tidak bertumpu pada masalah alokasi waktu, namun lenbih pada kemauan dan kemampuan guru dalam merancang, merencanakan dan melaksanakan kurikulum tersebut.
WAKTU! Menjadi kendala bagi guru untuk menyampaikan materi yang sesuai dengan kurikulum berdiferensiasi. Sebagai koordinator program akselerasi, saya sempat menjadi bingung untuk menjelaskan kepada rekan guru karena dalam kenyataannya, waktu memang sering memotong aktifitas pembelajaran yang berpusat pada siswa atau pada saat menyampaikan materi dengan pengayaan dan pendalaman.
BAGAIMANA MENGATASINYA?
Apapun alasannya dan apapun kendalanya, seorang guru harus menjalankan kewajibannya sebagai tenaga profesional dibidang pendidikan yang memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan siswa menjadi manusia yang siap lahir bathin untuk memerankan fungsinya didalam masyarakat. Dan salah satunya adalah melalaui pembelajaran yang me”manusia”kan mereka dalam setiap proses pembelajaran sehari-hari. Dan salah satu metode atau strateginya adalah dengan memberikan keleluasaan kepada mereka untuk mandiri belajar melalui pembelajaran yang berpusat kepada siswa dan materi yang aplikatif dalam kehidupan mereka.
Untuk mengatasi masalah keterbatasan waktu, maka guru harus memiliki kiat dalam mengatasinya. Berikut beberapa hal yang harus dipahami guru agar waktu tidak lagi menjadi kendala.
Pertama, guru harus menguasai dan memahami silabus atau kurikulum yang akan disampaikan kepada siswa.
Hal ini wajib karena banyak guru tidak membaca dengan baik tentang materi yang seharusnya diajarkan. Silabus berisi tentang kompetensi yang harus dikuasai siswa, materi yang harus diajarkan, indikator serta metode dan alokasi waktu. Dengan memahami silabus, maka guru memiliki jalur dan batasan serta pedoman ketika memberikan materi kepada siswa.
Biasanya, kurikulum dan metode yang dipakai oleh guru adalah kurikulum atau metode yang pertama kali mereka kerjakan ketika tahun pertama mengajar. Berapa kalipun kurikulum diganti, tapi bagi beberapa guru, kurikulum yang dikenal dan dijalankan adalah kurikulum pertama kali yang mereka jalankan ketika bekerja sebagai guru. Oleh karena itu jangan heran, sangat sulit untuk bisa menjalankan kurikulum bentuk apapun selama paradigma, pikiran atau sikap guru tidak dirubah.
Maka, kunci utama untuk bisa menjalankan kurikulum dan metode yang cocok untuk siswa akselerasi adalah dengan merubah paradigma guru, paradigma kita sendiri! Jangan pernah puas dengan hasil yang sudah diperoleh, namun harus terus berpacu dan terpacu meningkatkan kemampuan diri setiap saat.
Kedua, guru jangan terjebak pada buku pegangan dan jangan berkeinginan untuk bisa menyampaikannya lembar demi lembar.
Mungkin sudah saatnya guru tidak lagi memiliki buku pegangan! Sudah saatnya guru memiliki sendiri rangkuman atau rundown dari materi yang harus disampaikan kepada siswa dengan tetap berpedoman pada kurikulum yang berlaku.
Guru selama ini mengatakan materi terlalu banyak atau materi terlalu sulit karena bukan lagi berpedoman pada kurikulum dengan indikator yang ditetapkan sebelumnya, namun lebih berpatokan kepada buku pegangan yang dipergunakan. Padahal, bisa jadi seribu cerita dan alasan sebuah buku pegangan bisa sampai ke tangan guru.
Bila diamati lebih mendalam, ternyata tidak semua materi yang ada di buku itu perlu atau layak disampaikan kepada anak. Banyak materi yang ada di buku ternyata sama sekali tidak berhubungan dengan silabus yang menjadi “pajangan” dihalaman depan maupun dihalangan belakang buku.
Ketiga, guru tidak terjebak pada rentetan atau urutan materi yang ada pada kurikulum. Untuk kelas akselerasi kita meramu materi sedemikian rupa sehingga tidak terpaku pada urutan materi dengan kaku. Pada beberapa pelajaran bisa kita temukan beberapa materi yang bisa dibahas dalam satu kesempatan. Hal ini akan menuntut guru bisa merencanakan dan melaksanakan metode pembalajaran yang bisa merangsang anak untuk ber-eksplorasi dengan materi yang diberikan sehingga tidak mustahil siswa akan meloncat untuk bertanya atau meminta guru membahas materi secara acak dan locat.
Momentum yang diciptakan oleh guru dan kemudian direspon oleh siswa dengan minat yang tinggi akan mampu membantu guru untuk memberikan materi secara cepat dan tetap fokus sehingga materi justru mengalami percepatan waktu penyampaian.
Keempat, guru harus membangkitkan motivasi internal siswa untuk mau mempelajari dan memahami materi yang diajarkan secara mandiri.
Untuk point keempat ini, lebih memfokuskan pada peran guru sebagai fasilitator dan motivator, bukan sebagai pemegang hak atas kendali proses pembelajaran. Sebagai fasilitator maka guru menjalankan sebuah filsofi pendidikan “tut wuri handayani” dan sebagai motivator guru menjalankan “ing madya mangun karsa”.
Dan ketika membicarakan kedua peran tersebut maka titik perhatian kita adalah pada kemampuan guru dalam merancang sebuah metode yang mampu membangkitkan kesadaran siswa akan pentingnya mempelajari sebuah materi dan kreatifitas guru dalam melakukan variasi pembelajaran.
Ketika seorang guru mengajak siswanya untuk berdiskusi dan ketika diskusi telah mampu menarik minat siswa untuk terlibat, maka ada kedua keuntungan yang bisa diperoleh oleh guru. Pertama adalah materi yang disampaikan akan lebih meluas dan “memaksa” guru untuk membahasnya secara intensif dan berarti memangkas waktu lebih pendek, kedua adalah disadari atau tidak bisa membangkitkan siswa untuk tahu lebih banyak dan mau belajar secara mandiri.
Dengan metode yang tepat, siswa sebenarnya bisa diajak untuk mau belajar secara mandiri dan ketika motivasi itu terbangun maka guru akan lebih mudah untuk menyampaikan materi. Siswa akan lebih siap untuk menerima pelajaran ketika mereka telah mempelajarinya. Mungkin mereka akan tidak mengerti tentang suatu materi yang belum diajarkan, namun dengan kesiapan mereka untuk mempelajari lebih awal, maka mereka akan jauh lebih mudah untuk menerima materi berikutnya.
Demikian sedikit uraian saya tentang mengatur alokasi waktu dan materi belajar di kelas akselerasi. belum tentu penulis juga telah berhasil melaksanakannya. Pencerahan ini baru penulis dapatkan pada acara WORKSHOP GURU MIPA UNTUK SISWA CERDAS ISTIMEWA, yang diselenggarakan di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia Depok Oleh Asosiasi CI-BI Banten pada tanggal 26 Juni 2010.
Apa yang diuraikan diatas pun tidaklah mudah untuk segera dirasakan dampak dan manfaatnya. Butuh waktu dan kesabaran dari guru dalam menjalankannya.
Namun doa kita, semoga semuanya menjadi lebih mudah.
Oleh Imam Wibawa Mukti,S.Pd
Koordinator Program Akselerasi SMP Taruna Bakti Bandung
Selengkapnya...
Sabtu, 26 Juni 2010
Selasa, 15 Juni 2010
Perlukah Program Child Day-Care Bagi Anak Anda?
Kategori Pendidikan
Oleh : Jacinta F. Rini
Jakarta, 16 Juli 2002
________________________________________
Day-care center sebenarnya bukan semata-mata tempat penitipan anak, namun seharusnya lebih menyediakan sarana atau fasilitas serta program-program yang disusun sedemikian rupa sehingga memungkinkan anak bereksplorasi dengan aman. Sayangnya, di Indonesia tidak banyak day-care center yang berkualitas dan punya fasilitas memadai sehingga bisa memberikan kesempatan yang terbaik bagi anak; atau pun jika ada, biayanya sangat mahal sehingga hanya kalangan terbatas saja yang mampu membayarnya. Menurut Kagan, seorang ahli psikologi perkembangan, umumnya anak usia 4 bulan sampai dengan 29 bulan sudah bisa dimasukkan dalam day-care center. Sebab mulai dari usia kira-kira 2,5 tahun atau 3 tahun umumnya anak-anak tersebut sudah meningkat pada program preschool.
Yang jadi pertanyaan utama, apakah memang sudah diperlukan untuk menitipkan anak atau pun istilah nya memasukkan anak dalam program child day-care? Apakah memang ada manfaat lebih dari program tersebut bagi anak Anda?
Di Amerika, trend memasukkan anak dalam program tersebut sebenarnya lebih banyak dilakukan oleh para wanita yang bekerja sehingga mereka harus menitipkan anaknya. Di Indonesia sendiri, kecenderungan untuk memasukkan anak dalam program child day-care tampaknya sudah mengalami perubahan karena anak-anak yang mengikuti program bukanlah disebabkan karena ibunya harus bekerja sepanjang hari. Sekarang ini, memasukkan anak dalam program child day-care lebih banyak dipengaruhi oleh alasan trend atau mode sehingga seringkali lupa untuk melihat pada kebutuhan sebenarnya dari sang anak. Tidak jarang anak-anak tersebut dimasukkan oleh orang tuanya karena mereka tidak mau repot-repot untuk mendidik atau mengajari beberapa ketrampilan pada anak-anak mereka atau karena para orang tua berpikir, semakin cepat dimasukkan ke day-care program, anak mereka akan semakin cepat pintar. Apakah persepsi demikian memang terbukti kebenarannya? Untuk melihat kebenarannya, mari kita perhatikan faktor-faktor yang harus Anda pertimbangkan sekaligus pendapat beberapa ahli sebelum memasukkan anak Anda dalam program day-care.
Kebutuhan dasar anak
Di luar negeri sendiri pada umumnya orang tua memasukkan anak mereka dalam program child day-care dari usia 4 bulan ke atas, karena tuntutan bahwa ibunya harus mulai bekerja setelah melahirkan. Namun di Indonesia kebanyakan anak-anak yang mengikuti progam tersebut sudah pada usia yang cukup besar, sekitar 1 tahun ke atas.
Menurut salah seorang ahli psikologi perkembangan yaitu Erik Erikson, kebutuhan dasar anak pada masa bayi (baru lahir) sampai dengan kurang lebih 1 tahun adalah kebutuhan yang bersifat biologis dan psikologis. Kebutuhan biologis, seperti makan, minum, pakaian, dan segala urusan pencernaan. Kebutuhan psikologis seperti kebutuhan akan rasa aman, merasa diri dicintai dan diperhatikan, dan kebutuhan untuk dilindungi. Untuk itu lanjut Erikson, diperlukan figur orang tua dan pola pengasuhan yang konstan dan stabil sehingga sang anak bisa mempercayai dan meyakini bahwa orang tuanya selalu siap menanggapi kebutuhannya. Jika ternyata dalam prosesnya terjadi hambatan yang menyebabkan hubungan antara keduanya terganggu, misalnya karena orang tua meninggal, terlalu sibuk, sakit, atau situasi apa pun yang menyebabkan terpisahnya hubungan antara anak dengan orang tuanya, maka sang anak akan berpikir bahwa dirinya tidak lagi dicintai. Anak berpikir begitu karena pola pikir mereka yang masih egosentris.
Masalahnya, anak yang tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang konstan di tahun pertama kehidupannya, dalam diri anak tersebut akan tumbuh basic mistrust. Ia akan merasa kurang percaya diri (karena dia menghadapi kenyataan berdasarkan persepsinya bahwa dirinya ditolak atau pun diabaikan) dan kurang dicintai oleh orang tuanya. Anak tersebut juga akan tumbuh menjadi orang yang sulit mempercayai orang lain karena semasa kecilnya ia tidak menerima kehadiran orang tua yang konstan, stabil dan predictable. Ketidakmampuan untuk mempercayai baik diri sendiri maupun orang lain berpotensi menjadi masalah di kemudian hari jika persoalan ini tidak diselesaikan sejak dini. Sebagai contoh tanda-tanda anak yang tidak mengalami kedekatan yang stabil dengan orang tua sehingga dalam dirinya tidak tumbuh basic trust seperti :
1. Takut atau tidak mau ditinggal sendirian, harus selalu nempel orang tua
2. Lebih suka menyendiri dari pada bermain bersama teman-teman yang lain
3. Kurang percaya diri, minder
4. Tidak berani keluar rumah
5. Takut terhadap orang asing, jika didekati langsung menangis atau menarik diri
6. Bisa jadi tidak menunjukkan ekspresi apa-apa waktu ditinggal orang tua karena sudah biasa ditinggal, atau bahkan tidak ingin dipeluk atau didekati ibunya sendiri
7. Terlalu sering menangis / cengeng, mudah ketakutan, mudah cemas
8. Dalam perkembangan usia selanjutnya, berpotensi mengalami masalah dalam pelajaran / sekolah, entah karena kesulitan belajar, hambatan intelektual, atau pun hambatan interaksi sosial dengan teman-temannya
Jadi, sebelum Anda memasukkan anak Anda ke dalam program child day-care, haruslah diperhatikan apakah anak Anda memperlihatkan salah satu atau beberapa dari tanda-tanda di atas. Jika ternyata Anda menemukan adanya kecenderungan demikian, ada baiknya jika Anda mempertimbangkan kembali niat Anda untuk memasukkan anak Anda dalam program child day-care. Sebab, bukannya anak Anda menjadi pintar dan pandai bergaul, malah menjadi penakut dan punya segudang masalah. Selain itu, ada baiknya Anda memperhatikan pendapat para ahli terhadap program child day-care tersebut di bawah ini.
Pandangan para ahli terhadap child day-care
• Banyak kritikan yang dilontarkan terhadap program day-care center tersebut dengan dasar, bahwa setiap anak membutuhkan perhatian dan penanganan yang stabil, kontinyu, dan dapat diprediksikan. Menurut pandangan psikoanalisa, kebutuhan akan kasih sayang yang intensif dan stabil hanya diperoleh dalam hubungan antara anak dengan sang ibu/pengasuh utama; dan hal itu dialami dalam setahun pertama kehidupan anak tersebut. Salah seorang ahlinya yaitu Fraiberg (1977) mengemukakan, bahwa dalam day-care center tersebut, setiap anak harus mau tidak mau menerima perhatian yang tidak penuh karena sang pekerjanya harus membagi waktu dan perhatian pada anak-anak yang lain. Belum lagi kalau pada saat pertengahan program, si pekerjanya keluar dari pekerjaan dan digantikan dengan orang baru. Mungkin saja hal ini tidak diperhitungkan oleh orang tua; padahal, bagi anak hal ini menjadi faktor penting karena sejak usia dini sang anak belajar membangun kepercayaan terhadap seseorang sampai hubungan tersebut stabil. Namun jika justru yang dihadapi adalah situasi yang tidak pasti, selalu berubah dan unpredictable, maka akan sulit bagi si anak untuk belajar menumbuhkan rasa percaya dalam dirinya. Tidak heran jika di kemudian hari, ia menerapkan pola pertemanan yang hit and run, atau pun solitaire sebagai antisipasi jika dirinya sewaktu-waktu ditinggalkan dan dikecewakan. Salah satu fakta yang ironi mengungkapkan, bahwa orang tua yang sering terlalu sibuk bekerja enggan atau kurang tertarik untuk memperhatikan masalah-masalah yang dihadapi anak-anak mereka; padahal, sebenarnya anak-anak tersebut sedang benar-benar membutuhkan kasih sayang orang tua. Jadi, jika karena alasan orang tua tidak sempat mendampingi dan memperhatikan anak sehingga dititipkan pada institusi seperti chid day-care center, tetap tidak menyelesaikan masalah, malah menambah kerumitan.
• Kagan, seorang psikolog perkembangan melakukan penelitian melalui eksperimen yang dilakukannya sendiri dan menemukan, bahwa ternyata anak-anak yang dititipkan pada day-care center (meskipun sudah ditangani secara intensif oleh orang-orang yang berkompeten, dan dengan rasio perbandingan 1 pengasuh berbanding 3 atau 4 orang anak), memiliki kapasitas intelektual, emosional dan sosial yang tidak jauh berbeda dengan anak-anak yang diasuh dan dibesarkan semata-mata dalam lingkungan rumah/keluarga (tidak ikut program child-care). Malahan dari penelitian itu ditemukan, bahwa pada usia 29 bulan, anak yang dibesarkan hanya dalam lingkungan rumah, terlihat punya kemampuan adaptasi sosial yang lebih baik dibandingkan anak-anak yang dibina dalam day-care center.
• Bagi orang tua, pemilihan day-care center juga harus menjadi bahan pertimbangan penting karena harus melihat kualitas dari pengasuhan dan failitas yang tersedia. Oleh karena itu, banyak ahli berpandangan memasukkan anak dalam day-care center akan banyak menghabiskan biaya, namun tidak seimbang dengan kualitasnya. Selain itu, sulit menemukan day-care center yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan setiap anak yang punya problem berbeda-beda pada masanya dan yang menuntut penanganan yang spesifik pula.
• Faktor kebersihan dan kesehatan lingkungan juga perlu menjadi bahan pertimbangan, karena di situ berkumpul banyak anak-anak yang mungkin saja mempunyai penyakit tertentu yang mudah menular pada anak lain, seperti flu, hepatitis, diare, distentri, dll. Kemungkinan besar, tidak semua pengasuh atau pun pekerja di day-care center tersebut dibekali dengan latihan dan pengetahuan yang memadai tentang kesehatan, kebersihan, penyakit dan penanganannya. Kondisi tersebut masih ditambah lagi dengan pola perilaku anak yang masih tidak karuan dan masih belum bisa diatur. Jadi, dalam child day-care, akan besar kemungkinannya bagi setiap anak untuk terkena atau tertular penyakit.
• Penelitian yang dilakukan oleh Laurence D. Steinberg dan Jay Belsky beberapa tahun yang lalu menemukan bahwa ternyata pengalaman atau pun bimbingan yang diberikan selama berlangsungnya day-care, tidak menghambat atau pun mendorong perkembangan intelektual anak. Namun, memang day-care terbukti dapat menolong anak-anak dari golongan ekonomi lemah atau pun lingkungan yang beresiko tinggi dari penurunan IQ akibat dari penanganan/pendidikan yang tidak memadai. Lebih lanjut penemuan mereka juga membawa fakta, bahwa anak-anak yang ikut serta dalam program day-care, akan memperlihatkan peningkatan interaksi, baik dalam bentuk positif maupun negatif dengan teman-teman mereka.
• Penelitian yang dilakukan oleh Belsky di tahun 1984 menemukan bahwa bayi yang menghabiskan rata-rata sebanyak 20 jam seminggunya dalam program pengasuhan non-maternal (seperti halnya day-care) selama tahun pertama kehidupannya, beresiko tinggi mengalami insecure attachment terhadap sang ibu dan peningkatan agresivitas, ketidaktaatan, atau bahkan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial pada saat mereka memasuki tahap preschool dan sekolah dasar. Namun perlu ditekankan, bahwa situasi demikian tidak berlaku bagi anak yang usianya 1 tahun ke atas. Belsky berpandangan, bagaimana pun juga, preschool yang benar-benar berkualitas memang memberikan kontribusi secara positif pada perkembangan anak.
• Salah satu penelitian yang dilakukan di Amerika menampilkan salah satu faktanya, bahwa anak-anak yang diikutsertakan dalam program day care dalam rentang waktu yang cukup lama menunjukkan peningkatan agresivitas terhadap sesama dan terhadap orang dewasa, dan menunjukkan penurunan sikap kooperatif terhadap orang dewasa.
Dari berbagai pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa kebanyakan peneliti masih berpendapat bahwa day-care yang benar-benar berkualitas memang dapat menjadi alternatif program pengasuhan terhadap anak-anak. Adapun pengaruh dari day-care tergantung dari kualitas, lamanya waktu keikutsertaan, serta kualitas yang sebenarnya terjalin antara anak dengan orang tua di luar waktu day-care. Jadi, bagi Anda yang hendak mengikutsertakan anak Anda dalam program day-care center, cobalah perhatikan dengan seksama, apakah sesuai dengan kebutuhan yang sedang dihadapi oleh sang anak, dan apakah memang benar-benar dibutuhkan, dalam arti bukan karena semata-mata mengikuti mode saja. Selain itu, faktor kebersihan dan keamanan juga selayaknya menjadi bahan pertimbangan mengingat di Indonesia masih mudah terjadinya penularan penyakit-penyakit "aneh" yang sampai saat ini masih sulit ditangani secara cepat oleh para medis. Keberadaan ahli gizi, tim medis dan psikolog dalam day-care center bisa menjadi nilai tambah yang sangat bermanfaat untuk memonitor perkembangan anak Anda. Selengkapnya...
Anakku Malas Belajar
Kategori Pendidikan
Oleh : Martina Rini S. Tasmin, SPsi
Jakarta, 06 Mei 2002
________________________________________
Keluhan yang datang dari orangtua pada umunya lebih banyak menyangkut anaknya terlalu banyak bermain daripada orangtua yang anaknya terlalu banyak belajar. Bahkan kalau anak sangat rajin belajar, pastilah orangtua memamerkannya ke orang-orang dengan nada bangga, "Iya loh Pak Dani, anak saya itu belajarnya rajin sekali. Pulang sekolah belajar, bangun tidur siang belajar, terus malam kalau bapaknya sudah pulang ya belajar lagi. Makanya anak saya itu pintar sekali, apa-apa tahu. Kadang-kadang malah saya yang nggak tahu". Lain lagi kalimatnya jika anak terlalu banyak bermain, "Aduuuuuuh Pak Dani, anak saya ini kerjanya main melulu.... Siang main, sore main, malam juga main. Saya dan bapaknya kalau mau menyuruh dia belajar, harus teriak-teriak dulu, mengancam dulu, baru dia mau belajar. Pusing saya jadinya. Sudah begitu perkalian saja tidak hafal".
Penyebab
Kalau anak enggak belajar, tentunya perlu dicari tahu sebab-musababnya, baru kemudian diambil suatu tindakan. Beberapa sebab mengapa anak enggan belajar, diantaranya adalah sebagai berikut:
• Kurangnya waktu yang tersedia untuk bermain
• Punya masalah di rumah (misalnya suasana di rumah sedang "kacau" misal karena ada adik baru).
• Bermasalah di sekolah (tidak suka/phobia sekolah, sehingga apapun yang berhubungan dengan sekolah jadi enggan untuk dikerjakan).
• Sedang sakit.
• Sedang sedih (bertengkar dengan teman baik, kehilangan anjing kesayangan)
• Tidak ada masalah atau sakit apapun, juga tidak kurang waktu bermain (malahan kebanyakan), hanya memang MALAS.
Malas
Dalam Kamus Bahasa Indonesia oleh Muhammad Ali, malas dijabarkan sebagai tidak mau berbuat sesuatu, segan, tak suka, tak bernafsu. Malas belajar berarti tidak mau, enggan, tak suka, tak bernafsu untuk belajar.
Kalau anak-anak tidak suka belajar dan lebih suka bermain, itu berarti belajar dianggap sebagai kegiatan yang tidak menarik buat mereka, dan mungkin tanpa mereka sadari juga dianggap sebagai kegiatan yang tidak ada gunanya/untungnya karena bagi ana-anak tidak secara langsung dapat menikmati hasil belajar. Berbeda dengan kegiatan bermain, jelas-jelas kegiatan bermain menarik buat anak-anak, dan keuntungannya dapat mereka rasakan secara langsung (perasaan senang yang dialami ketika bermain adalah suatu keuntungan).
Motivasi
Dalam dunia psikologi, dorongan yang dirasakan seseorang untuk melakukan sesuatu disebut sebagai motivasi. Motivasi tersebut dapat berasal dari dalam maupun dari luar diri seseorang.
Morgan (1986) dalam bukunya Introduction To Psychology, menjelaskan beberapa teori motivasi:
1. Teori insentif
Dalam teori insentif, seseorang berperilaku tertentu untuk mendapatkan sesuatu. Sesuatu ini disebut sebagai insentif dan adanya di luar diri orang tersebut. Contoh insentif yang paling umum dan paling dikenal oleh anak-anak misalnya jika anak naik kelas akan dibelikan sepeda baru oleh orangtua, maka anak belajar dengan tekun untuk mendapatkan sepeda baru. Insentif biasanya hal-hal yang menarik dan menyenangkan, sehingga anak tertarik mendapatkannya. Insentif, bisa juga sesuatu yang tidak menyenangkan, maka orang berperilaku tertentu untuk menghindar mendapatkan insentif yang tidak menyenangkan ini. Dapat juga terjadi sekaligus, orang berperilaku tertentu untuk mendapatkan insentif menyenangkan, dan menghindar dari insentif tidak menyenangkan.
2. Pandangan hedonistik
Dalam pandangan hedonistik, seseorang didorong untuk berperilaku tertentu yang akan memberinya perasaan senang dan menghindari perasaan tidak menyenangkan. Contohnya: anak mau belajar karena ia tidak ingin ditinggal ibunya ke pasar/supermarket.
Dari uraian di atas, dapat diasumsikan anak yang malas tidak merasa adanya insentif yang menarik bagi dirinya dan ia pun tidak merasakan perasaan menyenangkan dari belajar.
Memberikan Dorongan Agar Anak Mau Belajar
Sehubungan dengan teori motivasi di atas tentunya bisa dikatakan dengan mudah, ayo kita berikan dorongan agar anak mau belajar. Tapi dorongan seperti apa yang dapat diberikan kepada anak?
Berikut ini adalah beberapa buah saran:
1. Berikan insentif jika anak belajar. Insentif yang dapat diberikan ke anak tidak selalu harus berupa materi, tapi bisa juga berupa penghargaan dan perhatian. Pujilah anak saat ia mau belajar tanpa mesti disuruh (peristiwa ini mungkin jarang terjadi, tapi jika saat terjadi orangtua memperhatikan dan menunjukkannya, hal tersebut bisa menjadi insentif yang berharga buat anak). Pujian selain merupakan insentif langsung, juga menunjukkan penghargaan dan perhatian dari orangtua terhadap anak. Anak seringkali haus perhatian dan senang dipuji. Jadi daripada memberikan perhatian ketika anak tidak mau belajar dengan cara marah-marah, dan ketika belajar tanpa disuruh orangtua tidak memberikan komentar apapun, atau hanya komentar singkat tanpa kehangatan, akan lebih efektif perhatian orangtua diarahkan pada perilaku-perilaku yang baik.
2. Terangkan dengan bahasa yang dimengerti anak, bahwa belajar itu berguna buat anak. Bukan sekedar supaya raport tidak merah, tapi misalnya dengan mengatakan "Kalau Ade rajin belajar dan jadi pintar, nanti kalau ikut kuis di tv bisa menang loh, dapat banyak hadiah. Kan kalau anak pintar, bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya".
3. Sering mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang diajarkan di sekolah pada anak (bukan dalam keadaan mengetes anak, tapi misalnya sembari mengisi tts atau ikut menjawab kuis di tv). Jika anak bisa menjawab, puji dia dengan menyebut kepintarannya sebagai hasil belajar. Kalau anak tidak bisa, tunjukkan rasa kecewa dan mengatakan "Yah Ade nggak bisa jawab, nggak bisa bantu Mama deh. Ade, di buku pelajarannya ada nggak sih jawabannya? Kita lihat yuk sama-sama". Dengan cara ini, anak sekaligus akan merasa dipercaya dan dihargai oleh orangtua, karena orangtua mau meminta bantuannya.
Banyak lembaga pra-sekolah yang mengajarkan kepada anak pelajaran-pelajaran dengan metode active learning atau learning by doing, atau learning through playing, salah satu tujuannya adalah agar anak mengasosiasikan belajar sebagai kegiatan yang menyenangkan. Tapi seringkali untuk anak-anak SD, hal ini agak sulit dipraktekkan, karena mulai banyak pelajaran yang harus dipelajari dengan menghafal. Untuk keadaan ini, hal minimal yang dapat dilakukan adalah mensetting suasana belajar. Jika setiap kali pembicaraan mengenai belajar berakhir dengan omelan-omelan, ia akan mengasosiasikan suasana belajar sebagai hal yang tidak memberi perasaan menyenangkan, dengan demikian akan dihindari.
Membuat Suasana Belajar Lebih Menyenangkan
Selain tidak sering-sering memarahi anak ketika belajar, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan agar suasana belajar lebih menyenangkan dan anak mau belajar. Hal-hal tersebut adalah:
1. Anak cenderung meniru perilaku orangtua, karena itu jadilah contoh buat anak. Ketika menyuruh dan mengawasi anak belajar, orangtua juga perlu untuk terlihat belajar (misalnya membaca buku-buku). Sesekali ayah-ibu perlu berdiskusi satu sama lain, mengenai topik-topik serius (suasana seperti anak sedang kerja kelompok dan diskusi dengan teman-teman, jadi anak melihat kalau orangtuanya juga belajar). Dengan demikian, anak melihat bahwa orangtuanya sampai tua pun tetap belajar.
2. Pilih waktu belajar terbaik untuk anak, ketika anak merasa segar. Mungkin sehabis mandi sore. Anak juga bisa diajak bersama-sama menentukan kapan waktu belajarnya.
3. Anak butuh suatu kepastian, hal-hal yang dapat diprediksi. Jadi jadikan belajar sebagai rutinitas yang pasti. Misalnya ketika sudah ditentukan, waktu belajar adalah 2 jam setiap hari, pukul 17.00-19.00, maka pada jam tersebut harus digunakan secara konsisten sebagai waktu belajar. Kecuali disebabkan hal-hal yang mendesak, misalnya anak baru sampai rumah pukul 16.30, tentunya tidak bijaksana memaksa anak harus belajar pukul 17.00, karena masih lelah.
4. Anak punya daya konsentrasi dan rentang perhatian yang berbeda-beda. Misalnya ada anak yang bisa belajar terus-menerus selama 1 jam, ada yang hanya bisa selama setengah jam. Kenali pola ini dan susunlah suatu jadwal belajar yang sesuai. Bagi anak yang hanya mampu berkonsentrasi selama 30 menit, maka berikan waktu istirahat 5-10 menit setelah ia belajar selama 30 menit. Demikian untuk anak yang mampu belajar lebih lama.
5. Dalam artikel di Tabloid Nova edisi Maret 2002, disarankan agar orangtua menemani anak ketika belajar. Dalam hal ini orangtua tidak perlu harus terus-menerus berada di samping anak karena mungkin Anda sebagai orangtua memiliki pekerjaan. Namun paling tidak ketika anak mengalami kesulitan, Anda ada di dekatnya untuk membantu.
Demikian hal-hal yang dapat disarankan untuk membantu orangtua memberikan motivasi anak agar mau belajar. Semoga berguna dan dapat berhasil diterapkan. Orangtua senang, tidak lelah berteriak-teriak dan marah-marah, anak pun senang tidak dimarahi dan merasa menyukai kegiatan belajar. Selengkapnya...
BAGAIMANA GURU MENANGGAPI MASUKAN ORANG TUA ?
“Katanya kemarin anak saya terlambat 30 menit lalu oleh gurunya dihukum untuk mengumpulkan tandatangan seluruh guru.”
“Kata anak saya, ada guru yang menerangkan materi bab 1 namun ketika ulangan yang keluar justru materi bab 2.”
“Maaf pak, ada juga guru yang menerangkan sangat cepat dan menyuruh materi tertentu untuk dibaca oleh anak secara mandiri, lalu langsung melakukan test tanpa menerangkan terlebih dahulu.”
“Menurut saya, hukuman yang diberikan oleh guru tersebut kurang tepat. Akan lebih baik bila hukumannya adalah ………”
Apa yang salah dari beberapa pernyataan diatas? Hampir tidak ada sama sekali. Tapi bila anda yang menjadi guru, apa kira-kira kesan yang akan muncul dibenak?
Ketika otoritas guru di dalam kelas menjadi permasalahan, maka apa yang harus guru lakukan? Rasanya terlalu banyak yang harus guru katakan dan lakukan ketika semua hal dipermasalahkan, khususnya tentang apa yang kita katakan, lakukan atau kita pikirkan di dalam kelas. Bayangkan bila setiap ucapan guru menjadi permasalahan, bisa tidak jadi mengajar kita!
Tanpa menafikan bahwa guru memang bukan malaikat, tapi rasanya guru akan melakukan semua hal yang terbaik untuk siswanya. Masalah metode dan cara, tidak jauh berbeda dengan orang tua yang melakukan trik dan metode berbeda dalam mengatasi setiap anaknya. Kenapa guru tidak?
Ada cara praktis. Berikut beberapa diantaranya:
1. Jangan terlalu diambil hati. Profesi apapun bisa menerima hal yang sama.
2. Jangan terlalu dipikirkan. Masih banyak yang harus dipikirkan guru dari hanya sekedar protes orang tua. Salah satunya terus berpikir untuk memperbaiki diri.
3. Selalu katakan iya diawal pembicaraan. Jangan bersifat defensif atau menolak. Sabar bro!
4. Setelah memahami inti yang dibicarakan orang tua, lalu kemukakan alasan dan latar belakang kejadian secara singkat. Sekali lagi singkat.
5. Respon semua “curhat” orang tua dengan tulus. Masalah anda paham atau tidak itu urusan belakangan.
6. Sering orang tua bermaksud untuk curhat dan membeberkan suasana hatinya. Apakah itu sebuah kebanggaan, kekecewaan atau sekedar bercerita. Dengarkan!
7. Ada yang membeberkan banyak masukan (protes) hanya sekedar untuk menutupi kekurangan atau kesalahan yang terjadi pada pola asuh di rumah. Tapi sangat jarang yang mau mengakui kekurangan dan kesalahan itu dan kemudian mencari kambing hitam. Dan yang paling mudah adalah dengan mnunjuk hidung sekolah, guru atau teman-teman dari anaknya.
8. Terakhir…bilang “terima kasih, masukan anda sangat berharga dan menjadi masukan bagi saya untuk memperbaiki diri”. Salaman dan kembali kerutinitas biasanya.
9. Siap-siap untuk menerima orang tua berikutnya.
Gimana…? Cukup? Selengkapnya...
Senin, 14 Juni 2010
JANGAN TIRU APA YANG MEREKA LAKUKAN!
Hati-hati...!
Banyak situs yang menawarkan free download. jangan tertipu...! Selengkapnya...
Minggu, 06 Juni 2010
Rahasia para genius
Kita harus berterima kasih pada para genius. Faktanya, dunia kita ini dihela oleh para genius itu yang tersebar dalam berbagai bidang kehidupan. Merekalah yang menemukan dan menciptakan berbagai hal yang membuat kita menjadi semaju sekarang ini. Jumlah mereka hanya kurang dari 2%, tapi di tangan merekalah nasib umat manusia bertumpu. Sebutlah beberapa genius! Nama pertama yang muncul mungkin Albert Einstein, Bill Gates, Habibie, dan seterusnya.
Tapi bukan hanya ilmuwan yang bisa disebut genius, mereka yang menjalankan usahanya sehingga maju dan berkembang pesat dan mampu memberi pekerjaan kepada banyak orang pun layak disebut genius. Begitupun para pemimpin masyarakat yang berhasil membawa yang dipimpinnya makmur sejahtera adalah orang-orang genius. Nah, ingin jadi “THE NEXT GENIUS?”
Selama ini Anda mungkin mengira kalau para genius selalu memiliki otak yang lebih hebat dari kebanyakan orang. Anda benar. Tapi Anda keliru kalau mengira IQ mereka jauh di atas rata-rata orang. Faktanya, kebanyakan dari mereka memiliki IQ tidak lebih tinggi dari kebanyakan orang. Bedanya mereka hanya berhasil menggunakan kemampuan otaknya lebih dari orang-orang biasa. Kabar baiknya, siapapun bisa mengembangkan kemampuan otak yang dimilikinya, untuk menjadi genius seperti mereka. Termasuk Anda! Syaratnya: MAU, TAHU CARANYA, dan KERJA KERAS. Seperti kata Bill Gates, si penguasa Microsoft: 99,9% kejeniusan itu kerja keras.
Di sini, genius bisa kita tukarbalikkan dengan kata “expert” alias si “ahli”. Menjadi genius bisa berarti juga menjadi ahli. Oleh karena itu istilah genius digunakan bergantian dengan istilah expert. Keduanya sama saja. Perlu diingat, genius disini bukan untuk mengistilahkan mereka yang memiliki IQ superior tetapi untuk menyebut mereka semua yang menjadi ahli di bidangnya.
Rahasia Para Genius
Hanya ada 3 rahasia utama para genius di manapun di dunia ini. So, jangan kuatir Anda akan harus meniru banyak hal dari mereka. Yang perlu Anda tiru cuma tiga hal saja. Sedikit bukan?!
Rahasia 1.
Si genius bisa mencari cara sendiri untuk menguasai hal-hal yang belum di kuasainya. Para genius menciptakan metode belajar sendiri yang paling cocok dengan diri mereka. Jika tidak menguasai suatu subjek, mereka akan cari tahu cara paling efisien untuk mempelajarinya. Mereka terus mencoba (mereka tidak pernah berhenti mencoba jika belum berhasil) sampai mereka bisa menguasai yang ingin dikuasainya. Kalau gagal dengan satu metode, mereka akan mencoba metode lainnya.
Rahasia 2.
Para genius memiliki motivasi yang “sangat, sangat, sangat besar!” untuk menguasai apa yang menjadi minatnya. Kadangkala mereka rela mengorbankan berbagai hal demi minatnya itu. Inilah kisah Bill Gates si orang terkaya di muka bumi: “Bill Gates orang yang cerdas. Itu sudah pasti. Jika tidak cerdas, dia tidak akan bisa masuk Universitas Harvard, yang merupakan universitas terbaik di dunia. Tapi dia keluar. Alasannya: “Aku ingin berbuat lebih.” Rupanya, dia tidak ingin hanya menjadi cerdas. Dia ingin menjadi seorang genius. Dia sadar, terus kuliah akan mengurangi waktunya dalam mendalami software computer yang sangat diminatinya. Dalam pengakuannya, dia pernah tidak tidur selama berhari-hari ketika menyelesaikan software pertamanya.
Rahasia 3.
Mereka yang genius memiliki visi masa depan yang jelas, konkret dan terukur. Apabila ditanya apa yang diinginkannya di masa depan, mereka akan menjawab tuntas hingga ke detailnya. “10 tahun dari sekarang, saya akan menjadi seorang pengusaha mebel kayu jati yang produknya merambah seluruh Eropa. Karyawannya lebih dari 500 orang. Omsetnya lebih dari 50 miliar.” Itulah visi seorang pengusaha besar.
So, apa yang Anda pikirkan?
Anda bisa menjadi genius di bidang apapun yang Anda minati, jika Anda berpikir dan memiliki karakter seorang genius. Dan, tiga itulah rahasianya. Hanya tiga.
Cara sederhana menjadi genius.
Jika 3 rahasia itu sudah Anda pegang dan Anda jadikan sebagai rahasia Anda juga. Maka inilah cara sederhana membangkitkan sosok genius dalam diri Anda:
* Saat Anda ingin mengetahui sesuatu, katakan pada diri Anda sendiri: “Sisi lain dari ini apa, ada apa dibaliknya?”
* Saat satu jawaban datang, terus tanyakan pertanyaan-pertanyaan itu kembali.
Hal-Hal Yang Bisa Membantumu Mencapai “Inner Genius”Mu
Setelah Anda tahu berbagai hal tentang genius dan tahu cara membangkitkannya, kini saatnya untuk tahu hal-hal apa saja yang bisa membantumu untuk membangkitkan “si genius” dalam dirimu.
Tidurlah cukup
Lho kok malah tidur, bukannya untuk melatih pikiran harusnya terus bangun? Ternyata tidak. Tidur setelah belajar justru meningkatkan kemampuan otak mengingat. Saat terlelap tidur, otak kita justru bekerja keras memilah-milah informasi penting untuk kita, sehingga kemampuan memori kita menguat. Namun itu hanya berlaku bagi tidur yang lebih dari 6 jam. Itu kenapa sistem belajar SKS (sistem kebut semalam) tidak direkomendasikan karena justru hanya melemahkan kemampuan berpikir dan kemampuan memori kita. So, langsunglah tidur sekurang-kurangnya 6 jam usai belajar di malam hari. Dengan begitu, belajarmu akan memberikan hasil lebih maksimal. Untuk menjadi expert, begadang merupakan pantangan.
Latihan fisik
Banyak-banyaklah melakukan aktivitas fisik: jalan-jalan, berolahraga permainan, senam, atau apapun. Melakukan banyak aktivitas fisik terbukti meningkatkan kemampuan berpikir otak.
Makan cukup
Kurang makan akan membuatmu tidak memiliki energi untuk berpikir cerdas, tapi terlampau banyak makan juga akan membuat otakmu menjadi kurang cerdas. Makan secukupnya dan selektif. Hindari terlalu banyak makan-makanan dari lemak hewani. Banyak-banyaklah makan sejenis lemak yang bernama omega 3, yang terkandung dalam ikan, kacang-kacangan, atau biji-bijian. Banyak-banyaklah juga makan buah dan sayuran. Para expert selalu tidak pernah berkekurangan atau berlebihan dalam soal makan.
Musik
Mendengarkan musik disinyalir bisa meningkatkan kemampuan otak dalam berpikir, namun tidak secara langsung. Diketahui mendengarkan musik bisa membuat tubuh merasa rileks, perasaan negatif berkurang, dan menurunkan rasa takut. Nah, hal-hal itu otomatis membuat kita bisa lebih fokus dalam berpikir. Namun diketahui tidak semua orang berhasil dengan bantuan musik. Sebagian orang justru tidak bisa berpikir sambil mendengarkan musik. So, cari cara Anda sendiri!
Jangan lupa bermain
Belajar terus menerus secara intensif tanpa istirahat dan tanpa jeda bukanlah perilaku yang bijak. Bermain itu menyenangkan. Selain bisa menghilangkan stress, bermain juga membuat kemampuan otak kita berpikir menjadi lebih cemerlang. So, sempatkan bermain. Asal Anda tahu, seorang Albert Einstein dan Bill Gates saja selalu mencadangkan waktu setiap hari untuk bermain. Sebaliknya, jangan pula hanya bermain-main melulu. Hanya bermain tidak akan menjadikan Anda seorang expert.
Beberapa saran bermain:
1. Bermain secara fisik. Ikutlah dalam permainan fisik yang tidak ada target tertentu (bertanding untuk menang bukanlah bermain) dan yang tidak dibatasi waktu (maksimal beberapa menit untuk meraih poin tertentu bukanlah bermain).
2. Bermain dengan benda, seperti membuat sesuatu dengan tangan dan Anda menikmati aktivitas itu (lakukan saja, tanpa harus ada target harus membuat sesuatu. Just do it).
3. bergabung dengan teman-teman atau orang lain dalam sebuah aktivitas yang terlihat tanpa tujuan, seperti hanya ngobrol dan tertawa bersama.
Meditasi
Meditasi rutin sangat membantu kerja otak. Cara yang paling sederhana adalah latihan nafas sederhan. Pertama, buat posisi tubuh dalam keadaan senyaman mungkin. Lalu tarik nafas lewat lubang hidung dan hirup dalam-dalam, lalu lepaskan perlahan-lahan dari lubang mulut. Lakukan itu berulang-ulang, sampai badan terasa segar. Ingin bantuan cara sederhana berelaksasi?
Percaya kalau Anda bisa
“Meskipun berusaha sangat keras tapi Anda gagal juga. Lantas Anda berkesimpulan kalau Anda memang tidak cukup mampu.” Nah, meskipun Anda berpikir demikian, para ahli psikologi menyatakan sebaliknya. Kegagalan semacam itu seringkali bukan karena kurangnya kemampuan, tetapi karena kepercayaan terhadap diri sendiri yang kurang. Kebanyakan dari kita sudah terjebak dalam stereotip bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang bisa berhasil. Alhasil, otak kita pun bereaksi menyesuaikan diri dengan kepercayaan itu. Jadinya, kita pun tidak mencapai performa terbaik kita karena pada dasarnya kita memang tidak terlalu percaya akan berhasil. So, percaya 100% Anda bisa, maka otak Anda akan membantu Anda.
Bermain video-game
Hm… rupanya bermain video game dalam waktu yang proporsional, akan meningkatkan kemampuan otak kita berpikir. So, bermainlah video-game, terutama game-game strategi yang membutuhkan kemampuan Anda untuk dengan cepat mengambil keputusan. Tetapi terlalu banyak bermain video-game juga akan membuat kemampuan Anda berpikir menurun. Usahakan tidak lebih dari 1 jam per hari untuk bermain.
Bahan bacaan
* Quiet! Sleeping Brain at Work (2008). Robert Stickgold & Jeffrey M. Ellenbogen. Scientific American Mind, Volume 19, Nomor 4, Agustus-September 2008, hal. 21-29.
* Six Ways to Boost Brain Power (2009). Emily Anthes. Scientific American Mind, Volume 20, Nomor 1, Februari-Maret 2009, hal. 56-63.
* The Serious Need for Play (2009). Melinda Wenner. Scientific American Mind, Volume 20, Nomor 1, Februari-Maret 2009, hal. 22-29.
* The Social Psychology of Success (2008). S. Alexander Haslam, Jessica Salvatore, Thomas Kessler & Stephen D. Reicher. Scientific American Mind, Volume 20, Nomor 1, Februari-Maret 2009, hal. 24-31.
* Uncommon Talents (2006). Ellen Winner. Scientific American Exclusive Online Issues – Uncommon Genius, Agustus 2006, hal. 21-24.
* Conceptions of Giftedness (2008). S.B. Kaufman & R.J. Sternberg. Dalam Steven I. Pfeiffer (ed.), Handbook of Giftedness in Children : Psychoeducational Theory, Research, and Best Practices. New York : Springer, 71–93.
* The Expert Mind (2006). Phillip E. Ross. Scientific American Exclusive Online Issues – Uncommon Genius, Agustus 2006, hal. 27-32.
* http://psikologi-online.com/rahasia-para-genius
[sumber: http://www.gamedevid.org/forum/archive/index.php?t-8100.html]
Selengkapnya...
Kamis, 03 Juni 2010
Cara Menjadi Orang Tua Yang Lebih Baik
Tahapan kehidupan kita seperti tahapan melangsungkan pernikahan selanjutnya diikuti menjadi orang tua dan menjadi kakek nenek. Bila kita sudah menjadi orang tua akan merasakan menjadi orang tua memang merupakan hal yang sangat menyenangkan namun menjadi orang tua juga bukan merupakan hal yang mudah. Karena orang tua merupakan panutan dari anak nah bagaimana cara menjadi orang tua yang lebih baik bagi anak anda, mari kita baca tulisan berikut ini:
1. Perhatikan dan pujilah sikap baik anak anda
Mungkin anda sebagai orang tua sering mengkritik anak anda daripada memujinya. Coba anda lihat dan rasakan bagaimana jika anda sering dikritik oleh bos anda? Nah begitu juga yang akan dirasakan oleh anak anda. Langkah yang cukup berguna dalam menjadi orang tua yang lebih baik adalah dengan memperhatikan sikap baik yang ditunjukkan oleh anak. Selanjutnya ungkapkan perhatian anda tersebut dalam kata-kata seperti “pandainya, kamu mau sikat gigi tanpa disuruh, itu bagus sekali”. Ungkapan semacam itu akan lebih mendorong mereka untuk bersikap baik dari pada kata-kata keras seperti perintah. Jangan ragu-ragu untuk memuji anak jika dia bersikap baik. Anak anda akan selalu bersikap seperti ini tanpa harus disuruh lagi.
2. Jalin komunikasi, komunikasi merupakan sesuatu yang penting
Anda sebagai orang tua tidak akan bisa mengharapkan anak anda akan patuh begitu saja tanpa anda memintanya untuk melakukan sesuatu. Anak-anak perlu penjelasan mengenai perintah, aturan atau harapan-harapan anda. Berikan alasan dan penjelasan setiap kali anda akan memberikan aturan atau nasihat. Bila anda menghadapi masalah dengan anak anda, cobalah ajak dia untuk ikut memecahkannya masalah bersama-sama. Jika anak-anak yang diajak berdiskusi, mereka akan merasa lebih termotivasi dalam melaksanakan langkah-langkah pemecahan yang telah anda tentukan.
3. Berhati-hatilah akan harapan Anda terhadap Anak
Fahamilah bahwa tiada yang yang sempurna, begitu juga bahwa anda bukan seorang yang sempurna. Kenalilah kelemahan dan kekuatan diri anda. Demikian pula dengan anak anda, dia bukan manusia yang sempurna. Jangan terlalu berharap hal-hal yang tidak realistis kepada anak anda. Didalam bersikap sebagai orang tua, usahakan untuk lebih memfokuskan diri pada wilayah tertentu yang sekiranya memerlukan perhatian khusus dari anda.
4. Tingkatkan rasa percaya diri anak anda
Anak-anak mengembangkan rasa percaya dirinya dimulai sejak mereka masih bayi. Mereka akan mengembangkannya sesuai dengan contoh-contoh perilaku yang anda berikan sebagai orang tua. Bahasa tubuh anda, Nada suara dan setiap ekspresi-ekspresi yang anda tunjukkan ke anak anda akan mereka olah secara sederhana, mereka akan simpan dalam ingatan mereka. Semua kata-kata dan sikap anda akan mempengaruhi perkembangan rasa percaya dirinya lebih besar dari pengaruh hal-hal yang lain. Oleh karenanya, pujian yang diberikan untuk anak jika ia berhasil melakukan sesuatu walaupun hanya merupakan hal-hal kecil tetapi akan membuat dia bangga. Mengijinkannya untuk melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain akan membuatnya merasa mampu untuk mandiri. Dan sebaliknya, jika terlalu sering melarang anak untuk mengerjakan sesuatu dapat membuatnya merasa tidak mampu dan tingkat percaya dirinya akan berkurang.
Hindarilah untuk mengucapkan kata-kata seperti “kamu lebih ceroboh dari pada adikmu” atau “kamu ceroboh sekali”. Kata-kata seperti ini dapat melukai perasaan anak anda, berpikirlah sebelum anda mengucapkan sesuatu yang sekiranya dapat menyakiti perasaan anak. Biarkan mereka tahu bahwa setiap orang dapat membuat kesalahan dan kesalahan yang dia buat tidak akan menyebabkan anda tidak lagi mencintainya.
5. Berikan waktu anda untuk anak
Ingatlah bahwa anak selalu ingin dapat berada dekat dengan orang tuanya. Sediakan sejumlah waktu anda untuk dapat beraktivitas dengan anak. Waktu yang akan anda berikan tersebut tidak perlu berlebihan tetapi harus berkualitas.
Bangunlah lebih pagi agar anda dapat makan pagi bersama anak dan tanyakan tentang kegiatan sekolah mereka hari itu. Anak-anak yang kurang perhatian dari orang tuanya akan cenderung untuk bersikap buruk karena mereka menganggap perilaku mereka tidak akan diperhatikan oleh orang tuanya.
6. Anda selalu mencintainya apapun yang terjadi
Orang tua bertanggung jawab dalam membimbing anak anda. Hal yang penting adalah bagaimana cara anda membimbingnya, jangan terlalu mengkritik, menyalahkan atau mencari-cari kesalahan dari si anak. Hal ini dapat menurunkan rasa percaya dirinya sehingga membuatnya merasa marah dan sedih. Tetapi jika sebaliknya berusahalah agar selalu menunjukkan rasa sayang anda walaupun anda sedang menghukumnya. Pastikan dia tahu bahwa walaupun dia telah berbuat kesalahan, anda akan tetap selalu mencintainya.
7. Beri aturan yang konsisten agar anak disiplin
Disiplin sangat diperlukan oleh kita termasuk anak kita agar anak anda dapat tumbuh dengan perilaku yang baik serta memiliki pengendalian diri. Tetapkan aturan-aturan di rumah yang dapat membantu anak memahami arti apa itu disiplin, seperti aturan menonton TV setelah menyelesaikan PR sekolah atau aturan jam tidur. Jika anak tidak mematuhi aturan berilah hukuman kepada anak. Perlu diingat bahwa hukuman yang diberikan harusnya bersifat membangun dan konsisten.
8. Jadikan diri anda sebagai panutan yang baik
Anak kecil belajar bagaimana berperilaku dengan mengamati dan meniru perilaku anda. Semakin muda usia anak maka semakin mudah dia menirukan perilaku anda tanpa berpikir panjang. Bersikaplah sebagaimana anda inginkan anak anda bersikap. Tunjukkan sikap ramah, hormat, sabar, jujur dan penuh tenggang rasa. Jangan bersikap egois atau bersikap buruk lainnya. Lakukan hal-hal kecil untuk orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Kuncinya adalah perlakukan anak anda sebagaimana anda ingin diperlakukan oleh orang lain.
9. Jadilah menjadi orang tua yang fleksibel
Apabila anda sering kali dikecewakan oleh perilaku anak mungkin karena anda berharap terlalu tinggi dari anak anda.
Lingkungan sekitar anak anda akan selalu memberi pengaruh kepada anak. Bila anda sering berkata tidak kepada anak anda yang berusia 2 tahun, sekarang cobalah ubah lingkungan sekitar anak anda sehingga lebih sedikit hal-hal yang sekiranya menyebabkan anda akan berkata tidak kepada dia. Seiring dengan semakin dewasanya anak anda maka anda juga harus mengubah sikap anda terhadapnya.
Selengkapnya...
Adalah Hebat Menjadi Orang Tua yang Baik
Sebagai orang tua yang memiliki anak-anak kecil, saya harus cermat menerapkan cara yang tepat dalam mendidik anak-anak kita. Masa kanak-kanak adalah masa pembentukan karakter seorang anak yang akan mempengaruhi perkembangan mental anak. Cara yang salah dalam mendidik anak akan berakibat fatal dalam pembentukan kepribadian ini. Tingkah laku yang menyimpang yang sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari yang sering kita temui dewasa ini adalah salah satu contoh ketidakpedulian atau metode yang keliru dalam mendidik anak saat masih kecil.
Seni Mendidik
Bagi saya mendidik anak adalah sebuah seni. Mendidik anak seolah-olah mendesain anak kita sesuai dengan keinginan kita di masa depan. Sebagai orang tua kita tentu menginginkan anak kita mandiri, cerdas, bertanggung jawab, dan siap menghadapi kerasnya kehidupan. Jadi, kita perlu membuat desain bagaimana anak kita bisa memiliki sikap dan sifat yang baik sebagaimana tersebut di atas.
Usia 1 s/d 5 tahun disebut-sebut sebagai golden age atau masa emas dalam kehidupan seseorang. Artinya, baik tidaknya anak-anak kita ketika tumbuh dewasa nanti sangat ditentukan dari bagaimana mereka mendapatkan perlakuan dan pendidikan yang sesuai saat masih kecil. Jadi, saya sangat memperhatikan dan serius mengikuti perkembangan anak-anak saya yang saat ini sedang memasuki fase tersebut.
Sekecil apapun sikap kita kepada mereka akan memberikan pengaruh besar buat perkembangan kepribadiannya. Saya bukan tipe orang tua yang selalu memperhatikan kemana saja anak saya pergi sambil terus berteriak-teriak memperingatkannya saat ingin melakukan sesuatu tetapi saya juga tidak membiarkan anak-anak saya bertindak seenaknya tanpa menegurnya. Membiarkan mereka bebas bermain membuat mereka kreatif dan berinisiatif, tetapi teguran dan peringatan kecil saat mereka mulai melakukan tindakan di luar batas tetap diperlukan untuk mengingatkan mana yang benar dan mana yang salah.
Salah satu sikap yang menurut saya kurang baik yang sering dilakukan oleh orang tua kepada anak-anaknya yang masih kecil adalah selalu mengikuti kemauan anak-anak kita saat mereka merengek meminta segala kemauannya. Anak kecil sering merengek untuk dibelikan sesuatu atau meminta sesuatu yang diinginkannya. Dan, dengan alasan sayang orang tua selalu mengikuti semua kemauan anaknya. Menurut saya cara ini hanya menjadikan anak kita pemalas, boros, tidak kreatif, dan terlalu manja.
Meskipun kita memiliki banyak uang untuk membeli dan mencukupi segala kemauan anak kita, tidak sepantasnya kita sebagai orang tua untuk selalu mengikuti kemauan anak kita. Rasa sayang dan cinta kepada anak-anak kita semestinya diwujudkan dengan sikap dan interaksi yang mendalam dengan anak-anak dan tidak dengan memberikan mereka segala materi (harta dan uang). Memang materi diperlukan tetapi dalam mendidik kepribadian dan mental diperlukan prinsip, sikap, dan perhatian yang memadai, tidak sekedar harta yang berkecukupan.
Disiplin
Contoh kecil yang sangat sering saya hadapi adalah saat saya mendengar rengekan anak-anak saya meminta jajan. Anak-anak saya memang anak-anak yang menurut saya agak over dan salah satunya ditandai dengan seringnya mereka merengek meminta jajan. Bagi saya sikap dan prinsip perlu secara disiplin diterapkan bukan semata-mata untuk menghemat pengeluaran tetapi lebih kepada pembentukan karakter. Saya tidak ingin anak-anak saya mempunyai mental selalu meminta-minta. Maka berbagai cara perlu dilakukan untuk mengatasi rengekan anak-anak saya.
Kita harus memberikan pengertian kepada anak-anak kita bahwa mereka tidak harus selalu meminta jajan setiap saat. Ini juga terkadang disertai dengan mengalihkan perhatian mereka kepada bentuk yang lain, misalnya dengan mengajak mereka berjalan-jalan atau memberikan mereka bentuk permainan yang menghibur. Dengan selalu mengajak mereka bermain atau memberikan mereka permainan dapat melupakan keinginan mereka untuk jajan. Di sini diperlukan kesabaran dan ketegasan sikap dari orang tua karena terkadang anak kita merengek sampai menangis untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang tua kadang merasa kasihan kepada mereka dan akhirnya menuruti kemauan anaknya. kita harus tegas demi kebaikan anak-anak kita juga, bahkan tetap membiarkannya menangis. Sekali lagi saya katakan rasa sayang tidak harus diwujudkan dengan menuruti kemauannya. Justru karena sayang itulah saya bersikeras tidak menuruti kemauan mereka untuk jajan.
Tidak menuruti kemauan anak kita jajan bukan berarti saya sama sekali tidak menyiapkan makanan atau jajanan di lemari kita. Saya terkadang sudah menyiapkan setumpuk makanan yang bisa diberikan kepada anak-anak saat mereka meminta jajan. Tapi kita juga harus tegas dengan hanya memberikannya satu macam yang boleh dimakan saat itu dan menyimpan makanan yang lain untuk waktu yang lain. Ini juga salah satu bentuk latihan kedisiplinan buat saya dan istri sebagai orang tua dan bagi anak-anak saya.
Contoh kecil yang lain, orang tua yang selalu membawakan tas anaknya yang sekolah tk atau sd. Kita sering melihat ada orang tua yang membawakan tas anaknya yang sekolah. Sikap orang tua ini menurut saya keliru dalam mewujudkan rasa kasih sayangnya kepada anaknya. Sikap disiplin dan tanggung jawab mesti dilatih semenjak dini. Dengan membiarkan anak membawa perlengkapan sekolahnya sendiri, kita melatih anak untuk bertanggung jawab dan mandiri dalam menjalankan tugasnya. Kita perlu menanamkan kepada anak bahwa dia yang sekolah dan dia pula yang bertanggung jawab atas segala yang berhubungan dengan sekolah termasuk membawa tas sendiri.
Sikap tegas dan disiplin terkadang juga keras menurut saya perlu dilakukan dalam berinteraksi dengan anak-anak kita. Ini diperlukan untuk melatih mereka berdisiplin dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kita tidak ingin anak-anak kita malas, bukan? Tapi, tentu saja perhatian dan kasih sayang adalah landasan yang harus selalu diterapkan dalam setiap interaksi.
Dan, sepertinya saya dan istri sudah menuai hasilnya. Itu bisa saya rasakan dari sikap anak saya yang pertama, Firdaus. Sebagai anak usia lima tahun yang ditinggal oleh kedua orang tuanya bekerja, Firdaus boleh dikatakan mandiri dan disiplin. Dia tidak pernah bangun tidur kesiangan, kadang tidak lupa untuk salat Subuh, sesuatu yang tidak buruk untuk anak usia lima tahun. Sejak pertama masuk sekolah, dia tidak pernah mau ditemani atau ditunggui oleh orang tuanya atau pengantarnya. Dia cepat bergaul dan berinteraksi dengan orang atau anak yang baru dikenalnya. Memang, Firdaus tidak bisa diam, dia selalu bergerak untuk melakukan apa saja.
Firdaus bisa memanfaatkan barang apapun untuk dijadikan mainannya. Saya perhatikan dia banyak mengumpulkan bungkus kotak bekas susu. Dia bisa mengkhayalkan benda apapun dengan barang bekas yang dia dapatkan.
Tentu saja kami sangat bersyukur memiliki anak yang mandiri dan kreatif. Kami sadar anak adalah amanah dari sang Pencipta buat kita sehingga kami harus menjaga dan mendidiknya dengan cermat.
It’s great to be a good parent.
Sumber : (maaf lupa...!)
Selengkapnya...
Rabu, 02 Juni 2010
9 PRINSIP MENJADI ORANG TUA YANG BAIK
1. Yang utama, apa yang Anda lakukan
Tentu membutuhkan waktu dan Anda perlu menyusun kembali prioritas Anda. Seringkali, ini berarti mengorbankan apa yang ingin Anda lakukan, dengan melakukan apa yang diinginkan atau diperlukan anak. Selalu siap untuk anak Anda baik secara mental maupun fisik.
3. Sesuaikan dengan karakter anak
Setiap anak memiliki karakter berbeda. Misalnya, anak kelas 2 SMP yang mudah merasa terganggu dan cepat marah, nilainya di kelas sangat jelek. Bisa jadi anak Anda sedang merasa depresi. Memaksanya untuk melakukan keinginan orangtua bukan merupakan jawaban. Jika perlu, permasalahan ini harus didiagnosa oleh seorang profesional.
4. Menetapkan dan menerapkan aturan
Bila Anda tidak mengatur perilaku anak dari kecil, Anda akan mengalami kesulitan pada saat dia lebih besar, terlebih ketika Anda tidak ada di dekatnya. Aturan yang dipelajari anak dari orangtua sejak kecil, akan membentuk aturan-aturan yang diterapkannya di kemudian hari.
5. Membantu mengembangkan kemandirian
Memberikan dukungan terhadap kemandiriannya dapat membantunya mengembangkan arah tujuan yang akan diambil kelak. Banyak orangtua salah mengartikan kemandirian anaknya, dan menyamakannya sebagai pembangkang dan pemberontak. Anak-anak menuntut kemandirian, karena kemandirian merupakan bagian dari sifat dasar manusia untuk merasa terkendali, dan bukan merasa dikendalikan oleh orang lain.
6. Bersikap konsisten
Bila aturan yang Anda berikan kepada anak berubah-ubah dari hari ke hari, atau bila Anda memaksa anak melakukan sesuatu hanya untuk waktu yang sebentar-sebentar, wajar jika anak menjadi bingung. Selalulah berusaha bersikap konsisten agar anak Anda tumbuh menjadi orang yang konsisten dan tak bingung dengan tujuan hidupnya.
7. Hindari disiplin kasar
Janganlah pernah punya keinginan untuk mengalahkan anak. Anak yang sering ditampar lebih mudah berkelahi dengan anak-anak lain, dan kemungkinannya lebih besar bagi mereka untuk menjadi penggertak atau menjadi agresif dalam mengatasi perselisihan dengan orang lain. Banyak kok, cara untuk mendisiplinkan anak, selain main kasar yang malah bisa menimbulkan sifat agresi.
8. Jelaskan aturan dan keputusan Anda
Umumnya, orangtua memberikan penjelasan yang berlebihan pada anak yang masih kecil, dan memberikan penjelasan yang kurang pada anak yang sudah remaja. Padahal, sesuatu yang tampaknya jelas bagi Anda belum tentu jelas bagi anak Anda yang berusia 12 tahun. Anak Anda tidak memiliki prioritas, penilaian atau pengalaman seperti yang Anda miliki, lho.
9. Perlakukan anak Anda dengan hormat
Cara terbaik agar anak menghormati Anda adalah dengan memerlakukannya dengan hormat. Anda harus memberi kebaikan pada anak Anda seperti kebaikan yang Anda berikan pada orang lain. Berbicaralah dengan cara yang sopan kepadanya. Hormati pendapatnya. Dengarkan dengan sungguh-sungguh bila dia berbicara. Anak-anak akan memperlakukan orang lain sebagaimana orangtuanya memperlakukannya. Hubungan Anda dengan anak Anda merupakan pondasi bagi hubungannya dengan orang lain. Selengkapnya...





