Minggu, 08 Februari 2009

“Pak Imam, anak saya sangat susah kalau disuruh belajar. Kami harus bertengkar dulu sebelum akhirnya dia mau duduk di meja belajar dan membaca buku pelajaran. Bagaimana yang menumbuhkan motivasi internal sehingga mereka menyadari bahwa belajar itu untuk kepentingan mereka sendiri. Bahwa bawwelnya kita adalah demi kebaikan mereka sendiri” begitu orang tua curhat masalah anak-anak mereka.
“Bapaaa….kkk, kenapa orang teh selalu cerewet ama marah ke kita kalau nyuruh belajar. Kan pegel pak lama-lama di belakang meja belajar dengan sorot lampu belajar dan setumpuk buku pelajaran. Bapak saya selalu mengatakan cara belajar saya salah. Ibu saya selalu mengatakan jam belajar saya masih kurang. Padahal khan nilai pelajaran saya ngga jelek-jelek amat” , begitu siswa curhat masalah orang tuanya kepada saya.
Ada yang pernah mengalami hal di atas?
Pasti ada yang salah dalam komunikasi antara seorang ayah dengan anaknya ketika masalah ini muncul. Kedua-duanya berbicara pada titik pandang yang berbeda. Tapi jangan harap kita sebagai orang tua akan mendapatkan sebuh diskusi dewasa dengan mereka, karena bagaimanapun pintarnya anak kita, mereka berpijak pada dunia mereka sendiri. Oleh karena itu, untuk memulai sebuah dialog yang efektif, saya hanya akan membahas dari aspek orang tua, karena kita telah pernah mengalami masa-masa seperti mereka, sementara mereka belum mengalami apa yang pernah kita lalui.
BEBERAPA HAL YANG SALAH DALAM MEMANDANG GAYA DAN CARA BELAJAR ANAK
Siapa yang mengatakan kalau belajar itu harus selalu duduk di belakang meja dengan setumpuk buku dan disorot meja belajar yang panas itu? Pasti pengalaman kita dahulu begitu. Dan anehnya, banyak orang tua menganggap kalau cara dan gaya belajar seperti itu adalah yang terbaik pula buat anak-anak kita. Kita dulu selalu belajar pada jam-jam khusus yang ketat dan tetap misalnya antara jam 19.00 – 21.00 karena saat itu, dahulu, TVRI tidak sedang menayangkan acara yang menarik dan kita mulai menonton acara televise lebih dari jam 21.30 pada saat ada film atau acara music. Pertanyaannya, apakah dunia dan keadaan sekarang juga sama dengan jaman kita sekolah dulu?
Dari obrolan saya dengan orang tua dan siswa, dapat saya simpulkan beberapa hal dari pandangan orang tua dengan konsep belajar yang ingin harus dilakukan anak-anaknya, diantaranya :
1. Belajar harus selalu dibelakang meja belajar dengan lampu sorot dan buku diatas meja.
2. Belajar harus selalu mengerjakan soal matematika, fisika atau lainnya tanpa harus menunggu PR atau tugas dari guru.
3. Tangan harus bergerak lebih banyak ketimbang badan atau mulut karena kegiatan menulis dan mengerjakan perhitungan.
4. Tidak boleh ada iringan music dan makanan di meja belajar.
5. Jam belajar harus teratur dan tetap setiap hari, misalnya jam 19.00 – 21.00.
MENGENAL DAN TERLIBAT AKTIF DALAM PROSES BELAJAR ANAK DI RUMAH
Sekarang yang harus kita cermati sebagai orang tua adalah kemampuan untuk lebih memahami anak sesuai dengan jamannya. Jaman yang penuh persaingan, penuh godaan, penuh tantangan ini jauh dengan kehidupan kita sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Menyamakan gaya dan cara belajar kita dengan mereka dijaman sekarang benar-benar akan membuat mereka merasa aneh dan asing di duniannya sendiri. Pemahaman ini penting karena beberapa hal, diantaranya, si anak akan merasa bahwa mereka diterima oleh orang tua secara penuh, baik dunia, gaya dan kehidupannya. Mereka akan merasa bahwa rumah adalah tempat paling nyaman baginya untuk menyandarkan kesadarannya yangtelah dipenuhi beban hidup yang semakin berat di sekolahnya, dengan temannya dan dengan perkembangan psikologisnya yang sedang mengalami masa “pancaroba”. Dampak psikologis ini penting karena kematangan dan kenyamanan psikologis akan berdampak pada prestasi belajar mereka.
Yang kedua, pemahaman dari orang tua penting mengingat kita adalah sosok yang telah banyak pengalaman dalam menjalani kehidupan ini sehingga diharapkan akan mampu lebih memahami perbedaan dan perkembangan jaman yang telah dilalui. Sementara anak kita hanya bertemu dan menghadapi apa yang ada di depan matanya saja tanpa kemampuan meramu dan merakit pengalaman menjadi sebuah informasi yang utuh. Jangan berharap anak kita akan memahami maksud baik kita dengan mudah dan sekali proses. Kasih sayang dan maksud baik kita akan terasa pada saat mereka dewasa dan mulai mejlanai banyak peristiwa dalam hidupnya. Marilah kita pahami itu.
Yang ketiga adalah mulai saatnya orang tua melakukan redefinisi tentang konsep belajar yang selama ini kita bayangkan. Duduk di meja dengan sorotan lampu belajar dari jam 7 sampai jam 9 malam harus mulai ditinggalkan, dan metode membaca sambil duduk selama dua jam benar-benar harus dicari kembali teori pendukungnya sebagai metode paling baik dalam belajar.
Saatnya sekarang sebagai orang tua, untuk lebih terlibat alam proses belajar anak. Orang tua bukan lagi “pemberi perintah” kepada anaknya untuk belajar sendiri, tapi juga langsung terlibat dalam proses belajar tersebut. Orang tua tidak bias sudah merasa memperhatikan anak belajar hanya dengan menyuruhnya ke kamar untuk belajar setelah itu orang tua melanjutkan pekerjaan, hobi lalu tidur.
Hal tersebut akan sangat membuka peluang anak untuk melakukan manipulasi dan rekayasa seolah mereka belajar, padahal mereka tetap dengan aktivitasnya main game atau membaca komik. Orang tua tidak bisa melakukan evaluasi terhadap kemajuan dan perkembangan pemahaman anak. Bahkan bisa jadi orang tua tidak mampu memberikan teladan terbaiknya bagi proses belajar anak. Mereka masih mencari metode dan gaya belajar, salah satunya dengan mencontoh kedua orang tua dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
Sudah saya perkirakan ini akan menimbulkan sedikit protes dengan alasan keterbatasan waktu, tuntuan pekerjaan yang padat, jarang ada di rumah dan tidak sempat karena pekerjaan lain sedang dan akan selalu menunggu. Permasalahannya adalah bukan sempat atau tidak sempat tapi mau atau tidak mau. Keberatan lainnya adalah dengan alasan tidak memahami materi yang diajarkan. Tidak semua orang tua bekerja di pekerjaan yang menuntut harus tahu banyak tentang segala sesuatu. Ini alasan yang paling mungkin membuaut orang tua tidak merasa perlu terlibat banyak dalam proses belajar anak.
Kita memahami semua bahwa kewajiban orang tua tidak hanya mendidik anak, tapi ada juga mencari pendapatan untuk biaya keluarga, membangun relasi dan hubungan social, mempersiapkan dana untuk masa depan anak, menjalin silaturahmi dengan keluarga lainnya, menjaga eksistensi di tempat pekerjaan dan menjalin hubungan harmonis di dalam keluarga. Tapi dari semua urusan itu, tentukan prioritas dan jalankan prioritas utama. Saya tidak tahu persis, priotitas keberapa anak anda ada dalam aktivitas sehari-hari.
Dari beberapa pembicaraan yang dilakukan dengan orang tua, saya menemukan beberapa orang tua yang rela meninggalkan karier dan pekerjaan karena menganggap melakukan pendampingan adalah sebuah kewajiban mulia. Namun tentunya tidak semua harus se ekstrim itu dalam menyikapi belajar anak. Yang terpenting adalah bagaimana orang tua bisa terlibat aktif dalam belajar ananknya, lalu memperhatikan kecenderungan anak dalam belajar sehingga dapat membantu anak menemukan gaya belajarnya yang paling tepat.
Untuk itulah saya membuat tulisan ini. Mencoba menjembatani permasalahan komunikasi antara anak dan orang tua. Bagaimana orang tua bisa mulai sedikit memberikan keleuasaan kepada anak dalam mencari metode belajarnya namun dengan tetap pendampingan orang tua. Dengan demikian maka orang tua dan siswa akan menemukan sebuah metode belajar yang cocok bagi anak itu sendiri.
BEBERAPA GAYA DAN TIPE BELAJAR ANAK
Pernahkah orang tua menemukan anaknya sedang belajar sambil mendengarkan music? Atau sambil membaca buku pelajaran dengan suara keras, atau ada yang sambil jalan dari satu tempat ke tempat lainnya? Atau mungkin ada yang rajin membuat ringkasan dan catatan untuk dipelajar? Atau bahkan yang sering kita lihat si anak malah tidak memiliki waktu dan tempat yang sama untuk melakukan kegiatan belajarnya?
Menurut teori, secara garis besar ada 3 tipe anak dalam belajar, yaitu :
1.Auditory
Anak ini sangat tergantung pada indera pendengaran dalam menangkap informasi. Apa yang dia dengar akan jauh lebih mudah dia pahami ketimbang dari yang dia baca. Perhatiannya sangat focus ketika sedang mendengarkan guru menerangkan sebuah materi. Catatannya cenderung kosong karena dia mencoba untuk mengingat materi yang ditangkap indera pendengarnya. Kemudian mereka akan cepat menghubungkan informasi tersebut ketika dibutuhkan. Tipe ini disebut sebagai tipe auditory listening learner.
Tipe yang kedua dari anak auditory ini adalah lebih menyenangi suaranya sendiri dalam belajar. Tipe ini cenderung akan membaca materi secara keras sehingga mampu dia dengar sendiri suaranya. Jangan heran dan jangan terkejut ketika orang tua mendengar suara anaknya sedang membaca dalam belajarnya. Jangan larang dan hindari dari gangguan yang dapat mempengaruhi konsentrasinya. Tipe ini disebut dengan auditory verbal learner.
Beberapa hal yang dapat dilakukan oran tua untuk membantu tipe ini diantaranya dengan :
1.Jika mungkin, pinjam atau belilah CD atau tape (books-on-tape) yang isinya bahan pelajaran yang diikuti anak di sekolah. Biasanya banyak terdapat di perpustakaan
2.Untuk merangsang minat belajar anak tipe ini :
•Maka undanglah kawan-kawannya atau suruhlah ia belajar dengan sahabatnya, diluar jam sekolah.
•Biarkan ia mengucapkan apa yang ia baca, tidak harus keras-keras asalkan cukup dia bisa mendengar suaranya sendiri.
•Suruhlah ia mempresentasikan atau berpura-pura menjadi guru yang mengajarkan apa yang ia pelajari di depan kelas.
•Jika ia punya hobby menyanyi, suruhlah ia melantunkan melodi lagu kesayangannya dari apa yang ia pelajari.
2.Visual
Sesuai dengan namanya, anak seperti ini cenderung akan lebih mudah menangkap informasi dari indera penglihatannya. Melihat gambar atau membaca mungkin akan lebih bermanfaat bagi dirinya ketimbang mendengar uraian dari guru. Namun yang harus diperhatikan adalah tidak semua tipe ini akan senang membaca huruf atau buku karena tipe ini memiliki dua jenis, yaitu :
Picture learner, yaitu anak yang senang melihat gambar, film, grafik, table untuk memahami materi. Misalnya dia akan membuat uraian dan peristiwa sejarah dalam bentuk table yang memisahkan tahun, peristiwa, tokoh dan kejadian dari suatu peristiwa sejarah.
Print learner, tipe ini selain akan membuat catatan yang rapi dan baik juga cenderung akan membuat resume dari materi dan informasi yang telah diperolehnya.
Bantulah anak tipe ini dengan memberikan keleluasaan untuk mencatat dan merekam sebuah peristiwa. Sediakan alat visual seperti VCD atau kamus bergambar untuk menjelaskan suatu permasalahan atau dengan membuat tanda dari apa yang ia baca, misalnya diberi highlight, garis bawah, membuat tulisan/catatan kaki, membuat tulisan demi tulisan yg dihubungkan dengan tanda panah, menulis sesuatu yang menjelaskan sebuah informasi bergambar, dsb
3.The Tacticale Kinesthetic
Ada 4 macam tipe ini :
1.Hands on learner : paling suka aktifitas membuat model, membongkar pasang sesuatu, bekerja dengan material yang bertekstur, dsb.
2.Whole body learner : butuh menggerakkan tubuh, jalan, main, olahraga dsb
3.Sketching learner : butuh menggambar, mewarnai, dsb
4.Writing learner : butuh menulis, mengetik sesuatu yang ia pelajari agar cepat ingat. Bedanya dengan Print Learners hanyalah writing learners tidak selalu menerjemahkan gambar menjadi kata-2 yang ia tulis seperti pada Print Learners.
Karena itu untuk merangsang belajar tipe ini, sebaiknya :
1.Biarkan ia melacak apa yang ia baca dengan jarinya
2.Beri ia kesibukan jika anda tak ingin diganggu, misalnya suruhlah ia membuat gambar, mewarnai, membuat karya tangan, bermain clay dan aktifitas lain yang membuat ia menggerakkan tangan.
3.Saat belajar sesuatu biarkan ia membuat modelnya. Misalnya saat belajar piramyd, biarkan ia menggambarnya atau membuat model dari kertas, daripada hanya membaca buku sejarah.
4.Biarkan ia keluar rumah untuk belajar biologi dari alam secara langsung. Misalnya dengan mengumpulkan daun dan ia rasakan strukturnya, daripada hanya diberi buku biologi bergambar.
5.Untuk matematika, dia akan suka jika menggunakan kalkulator, atau abascus, dsb.
Biarkan ia menggerakkan tubuh, apakah untuk bermain bola, atau lainnya saat istirahat dari belajar.

GAYA BELAJAR MENURUT GREGORC
Ada juga beberapa teori yang mencoba untuk mengidentifikasi dan menemukan gaya mengajar anak. Hal ini perlu diketahui dan dipahami orang tua maupun guru sehingga akan dengan mudah menentukan metode cara belajar dan mengajar anak atau siswa.
Teori dan Model yang dihasilkan oleh para ahli mengenai Gaya Belajar memang sangat beragam. Dalam bukunya, "Cara Mereka Belajar", Cynthia Ulrich Tobias menjelaskan bahwa ada empat gaya atau cara belajar anak. Dia mendasarkan pokok pikirannya itu dari hasil riset Dr. Anthony F. Gregorc. Model yang dikembangkannya memberikan wawasan yang sangat berharga mengenai bagaimana pikiran kita MENERIMA dan MENGGUNAKAN informasi.
A. Menurut Dr. Gregorc, ada dua hal penting yang perlu diketahui tentang bagaimanakah anak menangkap pelajaran. Dia membagi fungsi otak dalam dua macam, pertama PERSEPSI, yaitu cara kita menerima informasi, kedua PENGATURAN, yaitu cara menggunakan informasi yang kita persepsikan.
1. 1. PERSEPSI
Persepsi adalah cara kita menerima informasi atau menangkap sesuatu hal, secara pribadi atau individu. Persepsi-persepsi ini membentuk apa yang kita pikirkan, mendefinisikan apa yang penting bagi kita, dan selanjutnya juga akan menentukan bagaimana kita mengambil keputusan. Menurut Gregorc, persepsi yang dimiliki setiap pikiran/pribadi ada dua macam, yaitu Persepsi Konkret dan Persepsi Abstrak.
a) PERSEPSI KONGKRET/NYATA
Persepsi Kongkret membuat anak lebih cepat menangkap informasi yang nyata dan jelas, secara langsung melalui kelima indranya, yaitu penglihatan, penciuman, peraba, perasa, dan pendengaran. Anak tidak mencari arti yang tersembunyi atau mencoba menghubungkan gagasan atau konsep. Kunci ungkapannya: "Sesuatu adalah seperti apa adanya."
b) PERSEPSI ABSTRAK/KASAT MATA
Persepsi abstrak memungkinkan anak lebih cepat dalam menangkap sesuatu yang abstrak/kasat mata, dan mengerti atau percaya apa yang tidak bisa dilihat sesungguhnya. Sewaktu anak menggunakan persepsi abstrak ini, mereka menggunakan kemampuan intuisi, intelektual dan imajinasinya. Kunci ungkapannya: "Sesuatu tidaklah selalu seperti apa yang terlihat."
Meskipun setiap anak menggunakan Persepsi Konkret dan Persepsi Abstrak setiap harinya, namun ada kecenderungan seseorang merasa lebih mampu dalam menggunakan yang satu dibanding yang lainnya.
2.PENGATURAN
Setelah anak menerima informasi yang masuk, maka anak akan mengatur dan menggunakan informasi yang dipersepsikan tersebut. Menurut Gregorc, kedua kemampuan anak untuk mengatur persepsi adalah sekuensial (teratur, menurut suatu aturan bertahap) dan random (acak, yang mana saja).
a)SEKUENSIAL/BERURUTAN
Metode pengaturan sekuensial membiarkan pikiran anak mengatur informasi secara berurutan, linear atau setapak demi setapak. Anak yang bertipe berurutan biasanya menyukai metode belajar satu demi satu secara berurutan. Orang-orang yang memiliki kemampuan pengaturan sekuensial yang kuat mungkin lebih suka mempunyai suatu rencana dan mengikutinya daripada bertumpu kepada dorongan-dorongan hati. Kunci ungkapannya: "Ikutilah langkah-langkah tersebut."\
b) RANDOM/ACAK
Pengaturan acak membuat pikiran kita mengatur informasi dalam potongan-potongan dan tanpa rangkaian tertentu, seperti memulai di tengah-tengah atau memulai di akhir bagian dan kembali kepermulaan. Anak yang bertipe acak biasanya lebih menyukai cara belajar yang spontan, tidak harus berurutan. Seolah-olah mereka tidak mempunyai suatu rencana tertentu. Kunci ungkapannya: "Lakukan saja!"

B. Berdasarkan konsep ini Cyntia Ulrich Tobias menyusun empat gaya belajar, agar orangtua dan guru lebih dapat memahami cara anak dalam belajar. Setiap anak sebenarnya memiliki kemampuan untuk menggunakan tipe yang lain namun biasanya anak mempunyai tipe yang dominan. Empat tipe kombinasi yang dominan tersebut adalah:

1. 1. SEKUENSIAL KONGKRET (Kongkret Berurutan)
Anak yang bertipe Kongkret Berurutan biasanya mengalami kesulitan apabila diminta untuk menangkap suatu pelajaran yang bersifat abstrak dan yang memerlukan daya imajinasi yang kuat. Ia cenderung menangkap pelajaran yang dopresentasikan secara verbal dan yang dapat ia lihat. Dengan kata lain, ia membutuhkan banyak contoh atau peragaan dan semua ini disajikan dalam bentuk yang sistematis dan berurutan.
Anak ini tidak bisa diburu-buru untuk menyelesaikan tugasnya, karena dia harus benar-benar memahami informasi yang diterimanya satu demi satu. Ini tidak berarti bahwa ia lebih lamban daripada anak yang lain. Ketertarikannya terhadap kerapian, membuat dia sukar menerima beberapa informasi yang datang bersamaan. Istilah kunci baginya adalah SATU DEMI SATU dan NYATA.

2. 2. SEKUENSIAL ABSTRAK (Abstrak Berurutan)
Anak yang bertipe Abstrak Berurutan dilengkapi Tuhan dengan kemampuan penalaran yang tinggi. Anak ini cenderung kritis dan analitis karena dia memiliki daya imajinasi yang kuat. Pada umumnya ia menangkap pelajaran atau informasi secara abstrak dan tidak memerlukan peragaan yang kongkret. Biasanya ia bersifat pendiam dan menyendiri karena ia sibuk berpikir dan menganalisa. Ia pun lebih menyukai pelajaran atau informasi yang disajikan secara sistematis. Istilah kunci baginya adalah SATU DEMI SATU dan IMAJINATIF.

3. 3. RANDOM ABSTRAK (Abstrak Acak)
Anak yang bertipe Abstrak Acak, pelajaran yang disajikan secara berurutan atau sistematis tidaklah menarik. Cara belajar anak model ini tidak teratur dan penjadwalan sangat menyiksa dirinya. Ia tidak terbiasa terpaku oleh pengajaran di dalam kelas; baginya semua pengalaman hidup merupakan pelajaran yang berharga. Istilah kunci baginya adalah SPONTAN dan IMAJINATIF.

4. 4. RANDOM KONGKRET (Kongkret Acak)
Anak yang bertipe Konkret Acak adalah anak yang penuh dengan energi dan ide-ide yang segar. Ia belajar banyak melalui pancaideranya dan tidak terlalu tertarik dengan hal-hal yang memerlukan penalaran abstrak. Ciri praktisnya yang diperkuat oleh kemampuannya menerima pelajaran secara acak membuatnya menjadi orang yang penuh dengan ide-ide yang baru. Kesulitannya adalah melakukan hal-hal yang sama, sebab baginya hal ini sangat membosankan. Anak bertipe ini cenderung mengalami masalah dalam sistem pengajaran di sekolah sebab ia bukanlah tipe penurut. Istilah kunci baginya adalah SPONTAN dan NYATA.

Sebagaimana kita melihatnya, setiap anak (dan juga kita) belajar dengan cara yang berbeda. Untuk itu sangatlah penting bagi orangtua atau guru untuk mengenal gaya belajar anak-anak dan murid-muridnya, agar memiliki pemahaman yang benar terhadap mereka sehingga menghasilkan buah yang maksimal. Demikian pula sebagai Guru Sekolah Minggu, kita harus waspada dengan kelemahan Gaya Belajar kita sendiri serta berusaha untuk mengembangkan beberapa teknik mengajar yang mungkin "secara alami" kurang kita sukai.

CARA PRAKTIS MENGAJAR ANAK-ANAK MENURUT KOMBINASI GAYA BELAJAR GREGORC

Di dalam artikel diatas kita telah membahas empat kombinasi gaya belajar yang dikembangkan oleh Cynthia Ulrich Tobias berdasarkan riset dari Dr. Anthony F. Gregorc. Berikut ini adalah langkah - langkah praktis yang dapat dilakukan oleh guru untuk menolong anak - anak yang memiliki kecederungan gaya belajar tersebut.

1. SEKUENSIAL KONGKRET (Kongkret Berurutan)
Anak yang bertipe Kongkret Berurutan lebih menyukai rutinitas, melakukan hal-hal dengan cara yang sama, dan senang bekerja secara sistematis (langkah demi langkah) dengan batasan waktu dan jadwal kerja yang jelas.
Cara praktis yang dapat digunakan guru untuk membantu anak bertipe Konkret Berurutan ini adalah:
1. Menyediakan waktu dan tempat dimana anak dapat belajar/ bekerja dengan tenang.
2. Memberikan contoh konkret tentang apa yang diharapkan, kalau perlu menggunakan alat bantu dan peraga.
3. Bertanya pada anak apa yang dapat anda lakukan untuk membantunya.

2. SEKUENSIAL ABSTRAK (Abstrak Berurutan)
Anak dengan gaya belajar Abstrak Berurutan membutuhkan informasi sebanyak mungkin sebelum mereka membuat suatu keputusan dan waktu yang cukup agar dapat menyelesaikan pekerjaannya.
Cara praktis yang dapat dilakukan guru untuk menolong anak ini adalah:
1. Memberikan waktu tambahan atau mengusahakan tidak ada tekanan waktu sementara anak belajar/bekerja.
2. Tidak terlalu memaksa anak untuk mengutarakan perasaan/ emosinya bila dia belum merasa siap.
3. Mengusahakan untuk senantiasa menggunakan logika dan memaparkan fakta-fakta dalam mengajar atau membimbing anak.

3. RANDOM ABSTRAK (Abstrak Acak)
Bagi anak yang bertipe Abstrak Acak, keseluruhan hidup dan belajar merupakan suatu pengalaman yang amat sangat pribadi. Anak ini biasanya sensitif terhadap perasaan orang lain maupun "suasana" belajarnya.
Cara praktis Guru dalam membangun motivasi anak ini adalah:
1. Memberikan jaminan kasih dan penghargaan serta pujian yang tulus.
2. Menegaskan pentingnya "pelajaran" tertentu bagi kehidupan pribadi mereka serta apa yang dapat mereka lakukan bagi sesama dengan bekal "pelajaran" tersebut
3. Menghindari kompetisi dan konflik, sementara mendorong anak untuk bekerja bersama-sama dengan orang lain

4. RANDOM KONGKRET (Kongkret Acak)
Anak yang bertipe Kongkret Acak cenderung ingin "mengalami" sendiri fakta-fakta supaya dapat benar-benar mempercayainya. Anak ini juga dikenal sering melawan struktur dan rutinitas, mereka ingin menjaga agar semua pilihan mereka tetap terbuka lebar. Mereka sangat menyukai tantangan baru.
Cara praktis yang dapat digunakan guru untuk membantu anak bertipe Kongkret Acak adalah:
1. Memberikan kesempatan pada anak untuk berinspirasi dan berkreasi (mengembangkan kreativitasnya).
2. Memberikan bimbingan serta pengarahan dan jangan memberi peraturan serta batasan yang cenderung mengikat senantiasa menyediakan 'tantangan baru' dan sebisa mungkin menghindari rutinitas.

Nah…setelah menyimak beberapa tipe belajar, apakah orang tua mulai bisa membedakan tipe belajar anaknya atau tidak. Kita perlu secara aktif menemukan, mengidentifikasi gaya belajar anak dan kemudian menetapkan, membiasakan pola belajar menurut kecenderungan anak. Tidak mustahil seorang anak telah merasa nyaman dengan gaya belajar yang telah dilakukannya selama ini. Namun orang tua dapat mengamati apakah haisl belajar anak berbanding lurus dengan gaya belajarnya atau tidak, bila tidak ada hubungan signifikan antara gaya yang tengah dilakukan dengan hasil yang diperoleh, maka orang tua harus secara sabar dan bijak merubah gaya belajar anak.
Bahan ini dirangkum dari:
1. Judul buku : Cara Mereka Belajar
Penulis : Cynthia Ulrich Tobias
Penerbit : Harvest Publication House
Halaman : 16-27
2. Judul buletin: Parakaleo
Edisi : Juli - September 1995
Penulis : Dr. Paul Gunadi
Penerbit : Departemen Konseling STTRII
Halaman : 2-3
3. Bahan ini diambil dan diringkas dari:
Judul buku : Cara Mereka Belajar
Penulis : Cynthia Ulrich Tobias
Penerbit : Harvest Publication House
Halaman : 31-83

Imam Wibawa Mukti dengan mengutip banyak sumber.



Selengkapnya...

Kamis, 22 Januari 2009

Selamat datang dunia baru yang penuh dengan toleransi.
Menulis dan membaca tulisan tentang toleransi beragama harus hati-hati dengan kata-kata dan kalimat. Kesalahapahaman mudah muncul ketika kita membahas agama, khususnya tentang toleransi. Hal ini menjadi wajib diperhatikan karena ketika kita berbicara toleransi maka harus membuang sikap egois beragama dan berani mengakui persamaan nilai-nilai universal keagamaan, walau pada tataran praktek kita sering melihat hal yang sebaliknya.
Penulis merasa perlu membahas ini karena memiliki mimpi Indonesia dibangun dalam suatu masyarakat yang hidup harmonis membangun bangsa dan negara ini tanpa harus menghabiskan energi dan pikiran untuk menangani masalah pertentangan agama. Mengapa agama yang harus dibahas? Karena penulis menyadari, sangat menyadari, kalau hal “keduniawian’ kita masih bisa berbagi, namun dalam kehidupan beragama kita sering sekali terjebak pada keyakinan bahwa agama kita adalah syorga dan agama lain adalah neraka! Hal itu tidak akan menimbulkan masalah ketika keyakinan itu disimpan dalam sanubari masing-masing dan tidak menjadikan semangat “mengkafirkan” keyakinan orang lain.

Tulisan ini harus dimulai dari sebuah perumpamaan sebagai berikut :
“Saya akan tersinggung dan marah bila ada penganut agama lain menghina agama saya dengan berbagai cap seperti “neraka”, “teman setan”, “salah” dan “gelap”. Saya akan memberontak ketika ada penganut agama lain memaksakan keyakinannya kepada saya melalui ancaman dan kekerasan, saya akan membantah keras kalau ada beberapa nilai keyakinan saya dianggap irasional, klenik atau kuno”
“Saya akan menganggap agama saya aalah yang paling benar, saya akan terus menanamkan keyakinan itu melalui kehidupan saya sehari-hari. Saya akan terus melatih segala kekurangan saya dalam melakukan ibadah. Hal-hal yang berbau irasional dalam agama saya selalu saya anggap sebagai ujian keimanan. Logika saya akan saya “gembala” menuju tuntunan agama saya”
Nah…sekarang, bayangkanlah semua orang akan mengatakan hal yang sama pada dirinya sendiri tentang agama dan keyakinannya masing-masing. Lantas dimana “alasan” atau “pembenaran” kita untuk men”jastifikasi” agama orang lain. Kalau kita marah apabila agama kita diganggu, dihina dan dihujat, bagaimana dengan orang lain? Kalau kita meyakini agama kita sepenuh hati, bukankah orang lain juga memiliki hak untuk itu?

Ketika anak saya bertanya, “ayah kalau orang Islam akan masuk syorga?” saya menjawab “insyaAllah”. Lantas dia bertanya kembali,”Kalau yang tidak Islam berarti masuk neraka?” saya menjawab, “Nggak dong, mereka juga masuk Syorga, tapi syorga-nya agama mereka”. Anak saya kembali bertanya,”emang syorga itu banyak?”, saya hanya bisa menjawab,” Tiara, Tuhan tidak akan kesulitan dan tidak akan rugi membuat syorga yang maha luas dan maha banyak. Tiara kan tahu Allah Maha Kaya dan Maha Pengasih”.
Saya tidak pernah berpikir apakah anak saya akan memahami atau tidak pernyataan itu diusianya yang ke 8 tahun. Tapi saya hanya ingin anak saya mulai untuk menghargai keyakinan agama orang lain dengan tidak dijejali pernyataan “negatif” tentang agama lain dan “hanya” mengatakan pernyataan “positif” saja tentang agama saya. Saya ingin anak saya memiliki sikap dan pandangan “positif” tentang agamanya dan agama orang lain. Bahkan setelah memberikan landasan yang kuat tentang agamanya, saya ingin sekali memperkenalkan kepadanya tentang ajaran dan nilai-nilai agama lain yang ada di bumi ini.
Pada saat yang tepat, saya harus menerangkan bagaimana agama Kristen mengajarkan kasih sayang sesamanya melalui Bunda Theresia atau Bapak Mangunwijaya yang telah mengabdikan hidupnya untuk orang-orang miskin, terpinggirkan dan pengabdian mereka kepada kemanusiaan. Saya ingin memperkenalkan ajaran dan nilai dalam kitab Mahabarata serta Ramayana dan implementasinya pada diri Mahatma Gandhi, memberikan sedikit pengertian tentang Para Dewa sebagai representasi sifat-sifat Tuhan sehingga pandangannya menjadi jernih ketika melihat ritual dan ibadah kaum Hindu. Saya ingin juga mengajarkan “jalan tengah” sang Budha dengan segala ajaran dan filosofinya dalam menyikapi hidup yang serba menjebak dan melahirkan kesengsaraan. Saya akan berikan alternatif pemikiran tentang Reinkarnasi, Dharma dan Syorga Neraka dari semua sudut pandang semua agama.
Saya tidak ingin pengalaman saya yang hanya dijejali dengan berjuta pernyataan tentang agama saya tanpa sedikit pun diberi keleluasaan untuk belajar agama lain. Saya merasakan bagaimana saya terbiasa untuk melihat dunia ini “hitam-putih” saja. Pandangan sempit itu pernah membuat saya menjadi picik.

Bagaimana kita bisa dengan lantang meng-klaim bahwa agama kita paling toleran dibandingkan agama lainnya, sementara pernyataan kita tidak pernah lepas dari menghujat ajaran agama lain. Bagaimana kita bisa yakin dengan kebenaran agama kita sementara kita tidak pernah bahkan melarang untuk mempelajari agama lain. Bagaimana kita meyakini Nabi Muhammad sebagai tauladan yang paling toleran sementara tingkah laku kita sangat-sangat tidak “Muhammad” ?
Ada semacam ketakutan pada diri kita ketika ada keluarga, rekan dan sejawat kita mempelajari agama lain. Takut kalau-kalau mereka akan terpangruh dan berpindah keyakinan. Semakin besar ketakutan itu, bukankah berarti semakin kurang keyakinan kita akan kebenaran agama kita sendiri? Dan ketidakyakinan akan keteguhan mereka kepada agamanya sendiri? Semua orang berhak untuk mencari kebenaran sejati!
Membangun toleransi memang tidak selalu harus melalui mempelajari agama lain, saya paham itu. Tapi setidaknya dengan mempelajarinya, keyakinan saya akan kebenaran agama sendiri menjadi semakin kuat dan pemahaman saya tentang agama lain pun akan semakin mendalam. Sampai pada titik keyakinan…
“Bagi Tuhan tidak sulit membuat penduduk dunia ini meyakini satu agama yang di Ridhai-Nya, tapi Tuhan tidak melakukannya karena pasti ada berjuta hikmah di dalamnya. Lantas mengapa kita ingin lebih berkuasa dari Tuhan dengan ingin menyatukan keyakinan itu? Dan sangat mudah bagi Tuhan untuk menghancurkan agama lain yang tidak diinginkan-Nya, tapi mengapa Tuhan tidak melakukannya kalau tidak ada maksud tertentu. Lantas mengapa kita merasa paling “tuhan” dengan ingin menghancurkan agama, dan keyakinan lainnya?”

Semakin banyak saya mempelajari keyakinan dan agama lain maka saya semakin yakin bahwa mereka memiliki alasan-alasan “LOGIS” tersendiri untuk membenarkan keyakinannya, sama dengan kita sendiri yang melakukannya dengan agama kita masing-masing. Dan alangkah indahnya apabila kita bisa belajar untuk lebih toleransi antar pemeluk agama lainnya.
Ada penulis agama Hindu yang bukunya saya baca dan menulis beberapa penyataan dalam kitab dan kenyataan di dunia bahwa agama Hindu adalah agama paling toleran, begitu juga dari buku agama Budha yang saya baca, begitu juga dari buku-buku dan ceramah pemuka agama saya sendiri, Islam. Saya temukan juga pada beberapa buku Kristen yang mengatakan pentingnya toleransi. Tapi saya masih gelap dan miris dengan kenyataan yang terjadi di dunia ini.

Melalui pendidikan yang saya jalani, saya ingin memulai untuk membangun jiwa toleransi itu secara total. Saya membaca buku sejarah peradaban manusia, dan hampir seluruhnya berisi dengan perkembangan suatu agama baru, menyebarkannya dengan menghancurkan agama lainnya. Terus berulang dan berulang. Dendam dan nafsu yang dibalut dengan keyakinan sebagai “tentara tuhan”, “wakil tuhan”, “janji syorga”, “pengabdian tertinggi karena kaykinan” telah banyak menodai sejarah peradaban manusia itu sendiri dengan darah dan kesengsaran berkepanjangan.
Saya sempat berpikir seandainya agama itu tidak pernah ada, minimal satu penyebab kehancuran peradaban ini hilang dari muka bumi. Tapi ah…itu sesuatu yang sia-sia saja karena semua itu telah terjadi. Sekarang adalah tugas saya dan dunia pendidikan untuk memperbaikinya.
Selamat datang dunia baru yang penuh dengan toleransi. Selengkapnya...

Kamis, 15 Januari 2009

GURU DAN “KEKERASAN” DISEKOLAH

Kekerasan dalam tanda koma!
Telah menjadi berita yang sering didengar, seorang guru melakukan kekerasan terhadap siswanya di sekolah. Ada apa dengan pendidikan di Indonesia? Apakah penegakan disiplin identik dengan kekerasan? Ataukah memang kekerasan adalah sebuah keniscayaan bagi dunia pendidikan? Dan apakah kekerasan ini merupakan sebuah tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi sebagai ciri sebuah bangsa dengan mental jajahan?
Dari berita yang kita lihat, seorang guru melakukan pemukulan terhadap siswanya secara estafet dari satu siswa ke siswa lainnya. Demonstratif di depan siswa lainnya, lalu mengatakan bahwa apa yang dilakukannya adalah sebagai upaya penegakan disiplin dan diselimuti rasa sayang untuk masa depan siswa.
Ah…seandainya “kasih” dan “sayang” harus diwujudkan dalam bentuk tamparan dan pukulan, saya lebih baik tidak pernah mengenal dua kata itu! Karena sebenarnya alasan apapun hanyalah pembenaran dari suatu tindakan yang salah. Tidak ada alasan logis dan benar secara hukum bila kita melakukan kekerasan., bahkan orang tua pun bisa kena sangsi bila melakukan kekerasan terhadap anaknya. Apalagi seorang guru yang tidak memiliki hubungan darah apapun dengan siswanya.

Kemunduran Peran dan Fungsi Guru?
Dunia pendidikan dilandasi oleh filosofi “Tut Wuri Handayani”, apa artinya? Guru bukanlah pemilik kebenaran dan pengetahuan tentang kehidupan. Siswa bukanlah obyek dari sebuah proses pendidikan. Guru dan siswa memiliki posisi yang sama sebagai manusia pembelajar, memiliki nilai kebenaran universal dalam diri mereka sebagai seorang individu bebas dan guru berjalan di belakang untuk mengawasi dan mengembalikan proses yang menyimpang dari nilai-nilai budaya dan kebenaran yang ada dimasyarakat. Ki Hajar Dewantara tidak menekankan (walau harus dilakukan) “Ing Ngarso Sung Tulodo” karena merasa guru belum tentu mampu menjadi tauladan yang baik bagi siswanya, dan tidak juga menekankan “Ing Madyo Mangun Karso” (walau tetap harus diusahakan) karena motivasi internal harus menjadi landasan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itulah proses pendidikan kita disebut sebagai proses belajar mengajar.
“Proses Belajar Mengajar” memiliki makna, proses belajar bagi siswa dan guru dalam memaknai setiap ilmu yang ditemukan dan dialami, proses mengajar bagi guru dalam memberikan pendampingan kepada siswa untuk menyikapi dan memanfaatkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari serta proses belajar untuk terus berkembang dalam mengajar bagi guru itu sendiri.
Lantas dimana pembenaran untuk melakukan kekerasan sebagai dalih untuk menegakkan disiplin?
Mungkin dunia pendidikan harus melakukan introspeksi kedalam dan memaknai kembali peran guru sebagai orang yang “Tut Wuri Handayani”. Profesionalisme yang terus didengung-dengungkan oleh pemerintah harus diikuti oleh berbagai kebijakan dalam sebuah sistem yang kuat dan mampu melakukan pembinaan profesi serta memfasilitasi guru dalam mengembangkan kemampuannya secara mandiri.
Sertifikasi yang pada awalnya untuk memberikan pengakuan kepada guru yang mampu menunjukkan karya dan prestasi profesi yang baik, telah berfungsi menjadi beban tambahan yang harus dipikul guru dengan seabrek syarat administrasi yang gampang dimanipulasi, ketidakpastian terhadap profesi guru yang berstatus honorer, himpitan ekonomi di dunia yang terus mengalami krisis, segudang suri tauladan yang dicitrakan, pekerjaan di berbagai tempat sebagai lahan mencari pendapatan, tugas administrasi yang bertele-tele, KTSP, KBK dan permasalahan lain menjadi masalah klasik yang menujukkan ketidakkosistenan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan dan pembangunan sistem dunia pendidikan yang parsial dan lebih bernuansa politis ketimbang sebuah kebijakan jangka panjang. (Ngomong-ngomong kebijakan anggaran pendidikan 20% itu akan panjang ngga ya? Eh…BBM naik lagi setelah pemilu selesai? Walahualam!)

Pergeseran Paradigma Masyarakat Terhadap Peran dan Fungsi Guru
Eit…tunggu dulu…!
Masalah kekerasan yang terjadi merupakan permasalahan yang nampak seperti gunung es. Masalah lainnya sebagai penyebab dampak kekerasan ini adalah hasil dari suatu sistem yang tidak ajeg. Tidak jelas dan akumulasi dari sakitnya masyarakat itu sendiri.
Guru, sebagai bagian dari masyarakat tidak bisa dilepaskan dari segala permasalahan yang terjadi di masyarakat. Orang tua misalnya. Banyak orang tua yang “menyerahkan” anaknya sepenuh hati dan rela mengeluarkan uang banyak asal anaknya pendapatkan “pendidikan” yang layak dan kalau bisa sehari penuh menjejalinya dengan berbagai ilmu dan etika masyarakat yang berlaku (sambil menunggu orang tua pulang bekerja). Itu tidak salah, namun pernahkan orang tua juga mengevaluasi sampai sejauh mana menerpakan etika, nilai dan norma itu di rumah? Nilai dan etika mana yang dipakai? Samakah norma itu dengan norma yang ditanamkan di sekolah? Atau malah berbeda dan menimbulkan kebingungan di benak anak-anak?
Pada satu sisi guru memang mendapat mandat sebagai pendidik nilai masyarakat, tapi akan menjadi suatu benturan ketika dirumah ada orang tua yang menganggap bahwa mencontek adalah lumrah dan mengatakan kepada anaknya bahwa “bapak juga dulu menjadi dokter karena sering mencontek, nak”.
Dimata anak, sekolah telah menjadi “musium dan penjara” moral dengan guru sebagai sipir moral tersebut ditengah-tengah arus perubahan budaya dan revolusi dunia informasi yang tengah melanda dunia. Pandangan anak akan korupsi, budaya mencontek, tawuran dan etika pergaulan bebeas telah menjadi sebuh trend. Nilai kejujuran, patriotisme, kerja keras dan pemahaman akan pentingnya ideologi telah tergerus oleh arus perubahan budaya dunia dan Indonesia menjadi konsumen mentah-mentah produk asing. Anak kemudian menganggap bahwa menentang guru berarti sebuah perjuangan. Anak yang berhasil mengelabui guru menjadi pahlawan dan eksis dimata mereka.
Perbedaan perlakuan di rumah, nilai yang berkembang di masyarakat dan kekakuan sekolah dalam menerapkan disiplin semakin membuat siswa frustasi dan mengalami kebingungan mencari landasan dan prinsip dalam bergaul dan bermasyarakat. Ada gap yang sangat curam antara nilai “suci” yang sekolah tanamkan dengan realitas di masyarakat.
Guru menjadi dilematis! Menerapkan disiplin dan etika yang dianggap siswa telah usang? Membiarkan siswanya menemukan sendiri nilai kebenarannya berdasarkan pengalamannya? Semua mengandung konsekuensi yang tidak kecil.
Salahkah Guru Memukul?
Ini bukan pembelaan!
Kekerasan itu salah ! memberikan sangsi bagi siswa yang bandel dianggap sebagai tugas mulia dalam peran dan fungsinya sebagai guru. Padahal selain hukuman, yang jauh lebih penting adalah menghargai siswa sebagai manusia yang juga memiliki banyak peluang untuk dihargai.
Lihat siswa dalam sudut pandang setengah isi ketimbang setengah kosong. Dan yakinlah kita akan menganggap kesalahan mereka hanyalah riak kecil proses pendewasaan yang tidak layak dihukum dengan kekerasan bentuk apapun!
Siswa melanggar hukum? Ada petugas yang berwenang menanganinya!
Ada jenis “pukulan” yang lebih membahayakan! Menjadi ancaman serius dalam dunia pendidikan. Menjadi hantu yang tidak nampak namun sangat terasa merusak harga diri siswa. “Bullying” (akan dibahas di tulisan tersendiri mengingat sangat rumitnya permasahan ini di dunia sekolah).
Kepada rekan guru…jangan pernah memukul! Harga diri siswa akan berontak dan melukai perasaan dan sisi kemanusiaannya. Atau kita sendiri harus berhadapan dengan hukum, masyarakat, media massa yang tengah berubah dan juga sedang berproses untuk menjadi dewasa!
Mari…hentikan kekerasan di sekolah! Apapun alasannya!

Kembali Menata Diri
Disadari atau tidak, sekolah tetap dianggap sebagai lembaga yang diharapkan mampu menjadi agen transformasi nilai dan budaya suatu masyarakat untuk menjadi lebih baik dikemudian hari dan menjadi lebih bijak menjalani kehidupan yang semakin penuh tantangan. Sekolah pun dijadikan sandaran masyarakat untuk dapat melahirkan suatu generasi yang lebih baik dari generasi sebelumnya, sementara tantangan dan gelombang perubahan semakin deras menerpa kehidupan sekolah dan siswa itu sendiri.
Apa yang baik menurut kita hari kemarin belum tentu baik hari ini atau yang baik hari ini belum tentu cocok untuk esok hari. Nilai dan budaya masyarakat terus berubah, namun pendidikan masih terus jalan ditempat, khususnya dalam memperlakukan siswa dalam sebuah proses “memanusiakan” mereka.
Apabila kita menganggap mereka bukan manusia yang utuh, mengagap mereka hanyalah sebuah angka yang masuk dan harus dikeluarkan dalam suatu proses pembelajaran, maka guru pun akan terbiasa memperlakukan mereka sebagai sebuah bahan mentah yang harus ikut sebuah proses tetap dan keluar dengan kualitas yang bagus (menurut siapa dan apa indikatornya?). Kemudian pendidikan di sekolah menjadi proses pembelajaran yang tidak lebih dari sebuah proses produksi yang dijaga ketat dalam sebuah sistem statis dan anti perubahan dengan mengabaikan sisi kemanusia mereka.
Mereka punya rasa, emosi, daya ingat dan kemampuan untuk melampiaskan rasa itu (baik atau buruk) dengan berbagai aktivitas. Mungkin ketika mereka mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi dari seorang guru, dia diam dan merasa lebih aman untuk diam (suatu pola pendidikan budak, tanpa kesempatan siswa membela diri secara logis, sistematis dan bertanggungjawab. Dan itu masih dilaksanakan di era kemerdekaan ini) namun siapa yang menjamin apabila mereka tidak melampiaskannya dengan membuat keonaran di masyarakat, di sekolah, di rumah atau pada diri mereka sendiri baik fisik maupun mental.
Apa yang terjadi apabila mereka mendapatkan kesan dan memori yang mendap di otak mereka adalah kekerasan, ketidakadilan atau bahkan kekecewaan yang terpendam sekian lama selama sekolah? Generasi seperti apa yang akan dilahirkan? Dan siapa yang harus bertanggung jawab?

Jangan Hanya Menghakimi Guru
Sekali lagi, guru pun manusia!
Guru bukan seonggok mesin yang perasaan dan perilakunya bisa diubah seketika sekehendak hati. Banyak hal yang harus menjadi perhatian mengapa tindakan kekerasan itu senantiasa terjadi di sekolah. Bahkan bisa jadi hal ini tidak mengalami trend naik, namun pemberitaan di era “kebebasan?” ini menjadikan permasalahan ini mengemuka dengan sangat kentara di masyarakat.
Guru kemudian menjadi tersangka utama dari setiap peristiwa kekerasan. Pernahkah berpikir bahwa guru pun adalah korban kekerasan yang lebih besar. Suatu penyakit dari yang namanya ketidakpedulian masyarakat dan pemerintah untuk memperhatikan dunia pendidikan selama ini, sehingga siapapun yang menjadi guru selalu merupakan alternatif terakhir dalam hidupnya?
Ini bukan pembenaran, hanya upaya dari kita untuk, guru sendiri untuk mampu introspeksi ke dalam dan berteriak untuk menuntut perubahan ke luar. Kembali menata diri sekaligus melakukan perubahan sistem dunia pendidikan.
Dan sambil menunggu perubahan itu, bapak/Ibu guru, tolonglah…jangan melakukan kekerasan!

Imam Wibawa Mukti,S.Pd Selengkapnya...

Rabu, 14 Januari 2009

MENGENAL BELAJAR SISWA DALAM MENGATASI KEGAGALAN

Oleh:
Pudjo Sumedi AS *)
Abstrak: Pada umumnya siswa yang dalam belajar menggunakan strategi yang diharapkan dapat menutupi ketidakmampuannya dan melindungi diri dari kemarahan guru atau olok-olok dan ejekan teman-temannya bila keliru menjawab pertanyaan. Rasa takut pada siswa yang mendorong menggunakan strategi tersebut menyebabkan siswa tidak dapat mengoptimalkan kemampuannya dalam menggunakan nalarnya, sehingga akan mempengaruhi kualitas belajar siswa. Ada bermacam-macam strategi siswa dalam belajar, yaitu: (a) Strategi pencetus – pemikir (Producer – thinker strategy), (b) Strategi komat-kamit (Mumble strategy), (c) Strategi meminimaksimalkan (Minimax strategy), (d) Strategi coba dan benar dengan tebakan dan pengamatan (Tried and true strategy), dan (e) Strategi aduk angka (Numeral shoving strategy). Dengan memahami alasan pemilihan strategi siswa dalam belajar dan jenis-jenis strategi yang digunakan, diharapkan guru dapat memilih cara mengajar yang lebih tepat dengan lebih memberi kebebasan dalam belajar.
Kata kunci: strategi belajar siswa,kemarahan guru, olok-olok dan ejekn teman, cara mengajar, kebebasan belajar.
A. Pendahuluan
"Ochikobore" (tidak tercapainya standar kompetensi dalam belajar) merupakan masalah di Jepang. Di masyarakat muncul sindiran terhadap kekurangberhasilan pendidikan di Jepang dengan ungkapan ochikobore sichi – go-san. Maksud ungkapan itu adalah hanya 70 persen siswa SD yang sebetulnya layak dikatakan tamat SD walaupun faktanya 100 persen tamat. Untuk SLTP hanya mencapai 50 persen berhasil dan di SMU hanya 30 persen. Hal itu berarti + 70 persen tamatan SMU tidak layak melanjutkan pendidikan universitas. Padahal Jepang termasuk bangsa yang paling berhasil dalam menciptakan SDM melalui sistem pendidikannya. Sedangkan di Amerika Serikat, negara yang melakukan banyak ide dan sistem baru tentang pendidikan seperti Individual Priscribed Instruction (IPI), Computer Assisted Instruction (CAI), dan Module putus sekolah masih cukup tinggi.
Menurut John Holt (1981) dalam bukunya ‘How Children Fail’, dinyatakan bahwa siswa yang masuk pendidikan menengah, hampir 40 persen putus sekolah. Bahkan, yang lain pun banyak yang gagal, baik yang benar-benar gagal maupun gagal terselubung. Mereka menyelesaikan pendidikan hanya karena sudah sepakat agar naik kelas dan lulus dari sekolah, tanpa mempedulikan apakah mereka memperoleh ilmu atau tidak. Dengan kata lain tanpa mempertimbangkan kemampuan dan keterampilan siswa pada suatu jenjang pendidikan tertentu.
Sementara di Indonesia mutu pendidikan baik dilihat dari aspek akademik maupun nonakademik menunjukkan angka yang jauh lebih rendah dari Jepang maupun Amerika.
Dilihat dari segi akademik misalnya, salah satu indikator mutu pendidikan, yaitu NEM (Nilai Ebtanas Murni) masih jauh di bawah standar yang diinginkan. Sebagai ilustrasi, klasifikasi mutu SLTP pada tahun 1995/1996 menunjukkan 9 persen baik dan baik sekali (NEM di atas 6,5), 28,9 persen sedang (NEM 5,5 sampai dengan 6,5), dan 62,1 persen kurang (NEM kurang dari 5,5).
Dari aspek non-akademik, mutu pendidikan juga banyak mendapat kritik, khususnya berkaitan dengan masalah kedisiplinan, moral dan etika, kreativitas, dan kemandirian yang tidak mencerminkan tingkat kualitas yang diharapkan oleh masyarakat luas. Rendahnya mutu pendidikan ataupun terjadinya ochikobore tidak terlepas dari kondisi tenaga kependidikan, sarana dan prasarana pendidikan, kurikulum, metode pengajaran, strategi mengajar dan strategi belajar siswa itu sendiri.
Dari sekian banyak kondisi yang disinyalir sebagai penyebab rendahnya mutu pendidikan serta terjadinya ochikobore, masalah strategi siswa dalam mengikuti pelajaran jarang dibahas oleh para ahli pendidikan. Oleh karena itu, berikut ini disajikan jenis-jenis strategi yang sering digunakan oleh siswa dalam proses belajar-mengajar. Faktor-faktor yang mempengaruhinya dan penyebab kegagalan siswa dalam belajar.
Bahasan ini diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan guru dalam memutuskan program pembelajaran serta pemilihan strategi pengajaran, sehingga dapat mengurangi kegagalan siswa.
B. Bagaimana Siswa Belajar
Setiap hari jutaan anak dan ribuan orang dewasa berinteraksi dalam hubungan antara siswa dan guru. Namun, tidak diketahui apakah interaksi yang mereka lakukan berpengaruh terhadap proses belajar-mengajar.
Tidak ada teori belajar atau praktik pendidikan yang mengetengahkan apakah yang sebenarnya terjadi ketika guru bertanya kepada siswanya di kelas. Apakah yang didengar siswa bila ia dipanggil? Apakah yang dipikirkannya, fantasinya dan yang diharapkannya? Kebiasaan seperti apa yang dilakukannya? Adakah pengaruh yang ditimbulkannya terhadap guru? Seringkali guru tidak mengerti jawaban siswa atau ia hanya menganggap jawaban tersebut adalah betul atau salah. Itulah sebabnya, memahami anak adalah hal yang sangat penting dalam proses belajar-mengajar. Dengan mempelajari strategi yang dipakai oleh siswa dalam mengikuti pelajaran, pertanyaan-pertanyaan di atas dapat terjawab.
Menurut John Holt (1980), "Strategy deals with the ways in which children try to meet or dodge the demands that adult make on them in school". (Strategi adalah cara siswa memenuhi atau menghindari tuntutan yang dikenakan kepadanya oleh orang dewasa di sekolah).
1. Strategi belajar yang dipakai oleh siswa
Lima dari banyak strategi belajar yang menurut Holt (1980) sering dipakai siswa dalam mengikuti pelajaran di kelas. Pertama Producer-thinker strategy (Strategi pencetus – pemikir). Istilah producer (pencetus) dipakai untuk menunjukkan siswa yang hanya mementingkan jawaban yang benar, dan untuk mendapatkan jawaban itu mereka berbuat apa saja misalnya memakai peraturan dan rumus secara sembarangan. Siswa semacam ini biasanya langsung mencuat dengan jawaban yang benar dan seringkali mundur ke sikap mengalah dan putus asa bila tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya. Istilah thinker (pemikir) adalah siswa yang berusaha memahami arti, kenyataan, atau apa saja yang sedang dipelajarinya. Pemikir biasanya lebih bersedia bekerja keras. Sayangnya, pengguna strategi pemikir lebih sedikit jika dibandingkan dengan pencetus (producer strategy).
Kedua, Mumble strategy (Strategi komat-kamit). Strategi ini sering dipakai siswa dalam pelajaran bahasa di kelas yang besar. Strategi ini sangat bermanfaat untuk guru yang cerewet tentang aksen dan bangga akan aksen dirinya sendiri. Jika siswa diminta mengulangi kalimat, ada yang hanya membuka mulut tanpa mengucapkan bunyi yang jelas atau benar, dan tanpa memahami artinya. Guru akan menyangka semua siswanya mengikuti pelajaran dengan baik.
Ketiga, Minimax strategy (Strategi meminimaksimalkan). Dengan strategi ini, siswa memanfaatkan peluang untuk menang seluas-luasnya (memaksimalkan), dan menekan serendah-rendahnya (meminimalkan) kekalahan kalau terpaksa harus kalah. Contoh : seorang siswa diminta untuk menentukan di titik mana ia harus menaruh suatu beban pada palang keseimbangan (balance beam) sehingga terjadi keseimbangan. Bila teman-temannya berpendapat bahwa palang itu tidak akan seimbang dengan titik pilihannya, makin lama ia makin tidak yakin akan pilihannya. Akhirnya, setelah semuanya berbicara dan ia harus memecahkan masalah itu, ia pun berkata dengan riang: "Saya pribadi juga berpendapat bahwa tidak akan terjadi keseimbangan."
Keempat, Tried and true strategy of guess and look (Strategi coba dan benar dengan tebakan dan pengamatan). Siswa seringkali terus terang dengan strategi yang dipakainya untuk mendapatkan jawaban dari guru. Untuk melakukan tes terhadap siswa dalam hal jenis kata, guru membuat tiga kolom di papan tulis, masing-masing dengan judul kata benda, kata sifat dan kata kerja. Kemudian memberi pertanyaan termasuk jenis kata apa suatu kata. Salah seorang siswa berkata, "Ibu telah menunjukkan jawabannya." Mungkin guru itu terkejut dan bertanya apa maksudnya. Sebenarnya guru tersebut tidak menunjuk, tetapi ia berdiri di samping kolom yang menjadi jawaban. Begitu guru mengucapkan suatu kata, siswa menyimak menghadap ke mana muka guru untuk menebak jawaban yang benar. Siswa tidak sepenuhnya belajar jenis kata, namun lebih mempelajari gerakan atau tingkah guru dalam mengajar. Bahkan dalam penyusunan soal tes, siswa sering mengamati jenis pertanyaan yang biasanya dibuat oleh guru, sehingga siswa hanya belajar bagian tertentu dari pelajaran tersebut.
Kelima, Numeral shoving strategy (Strategi aduk angka). Siswa sering memakai strategi ini dalam pelajaran matematika atau berhitung. Walaupun anak-anak menjawab dengan benar, mereka seringkali tidak betul-betul mengerti masalahnya. Jika kita menanyakan dari mana mereka memperoleh jawaban itu, segera disadari bahwa mereka hanya mengaduk-aduk bahan pelajaran saja.
Pada kenyataannya, siswa memakai strategi secara konsisten. Siswa yang terpandai memakai strategi tersebut, demikian juga siswa yang bodoh, dapat dipastikan selalu menggunakan strategi dalam belajar. Bahkan, setiap siswa cenderung akan memakai strategi tersebut bila dalam keadaan tertekan. Salah satu cara menjelaskan strategi ini adalah dengan menyebutkannya sebagai yang mementingkan jawaban (answer-centred) dan yang mementingkan persoalan (problem-centred). Perbedaan di antara kedua jenis siswa ini dapat dilihat dari persoalan yang dihadapinya. Kebanyakan anak sekolah cenderung mementingkan persoalan adalah answer-centred dari pada problem-centred. Mereka memandang masalah sebagai semacam pengumuman yang jawabannya ada di suatu tempat misterius nun jauh di sana, dan mereka harus pergi ke sana untuk mencarinya.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Strategi Belajar Siswa
Faktor utama yang mempengaruhi anak-anak menggunakan salah satu strategi belajar adalah guru. Lester Smith (1976) bersikukuh: "Practically everything we do in school tends to make children answer-centred" (Hampir semua hal yang kita lakukan di sekolah cenderung membuat anak-anak menjadi answer-centred). Ada tiga alasan yang berhubungan dengan masalah ini. Pertama, jawaban yang benar selalu mendapat ganjaran. Sekolah merupakan semacam tempat pemujaan bagi jawaban yang benar, dan cara untuk maju adalah mempersembahkan sebanyak-banyaknya jawaban benar di meja pemujaan. Kedua, kebanyakan guru pun answer-centred. Apa yang dilakukan guru adalah akibat apa yang telah diajarkan kepadanya, atau hal itulah yang selalu dilakukannya. Ketiga, bahkan guru yang tidak answer-centred pun mungkin tidak melihat perbedaan antara yang answer-centred dan yang problem-centred, apalagi mengerti betapa pentingnya hal itu. Jadi, cara mengajar siswa dan terutama substansi yang diberikan kepada anak-anak, akan mendorong mereka menggunakan strategi yang bersifat answer-centred.
Strategi belajar merupakan akibat dari karakter siswa. Mereka menggunakan berbagai strategi dalam belajar disebabkan adanya suatu perasaan tertentu yang ingin diatasi, adanya harapan-harapan yang ingin dimiliki, adanya tantangan di kelas dan tantangan lain yang dirasakan. Suatu hal yang menjadi perhatian utama siswa adalah adanya keinginan untuk mempertahankan diri sendiri. Rasa ketakutan akan sangat berpengaruh pada strategi belajarnya.
Hampir dapat dipastikan, bahwa strategi belajar siswa akan konsisten pada kepentingan diri dan pertahanan diri, yang semuanya ditujukan untuk menghindarkan diri dari kesulitan, rasa malu, hukuman, celaan, atau kehilangan status. Berbagai pertanyaan akan muncul pada siswa manakala mereka harus menjawab suatu pertanyaan. Pertanyaan yang muncul antara lain "Apakah yang akan terjadi padaku bila menjawab salah? Tidakkah guru akan marah? Apakah teman-teman tidak akan mentertawakan saya?
Siswa seharusnya dibebaskan dari rasa ketakutan atau kekhawatiran sehingga mampu menggunakan kemampuan dan penalarannya seoptimal mungkin. Sebagai ilustrasi misalnya tentara akan mampu mengontrol ketakutan, hidup di tengah ketakutan, menaklukkan rasa takutnya, dan sangat dimungkinkan justru ketakutannya menimbulkan strategi perang yang baik. Namun, ada perbedaan yang sangat mendasar antara sekolah dan perang.
Siswa dalam menyesuaikan diri dengan perasaan takut akan berakibat buruk dan menghancurkan kemampuan mereka. Sedangkan prajurit yang ketakutan dapat menjadi penyerang yang terbaik, namun pelajar yang ketakutan akan selalu menjadi siswa yang bodoh.
3. Belajar yang sesungguhnya (Real Learning)
Kegiatan seperti mencari kosakata, menghafal sebuah puisi, mengoperasikan komputer, dan aktivitas-aktivitas lainnya termasuk dalam kegiatan belajar. Kegiatan belajar dapat dilakukan di mana saja baik di sekolah maupun di luar sekolah. Kegiatan belajar tidak selalu berarti senyatanya sungguh-sungguh belajar (real learning).
Real Learning atau belajar yang sesungguhnya berhubungan dengan perbedaan antara "apakah yang diharapkan dapat diketahui oleh anak" dengan "apakah yang sebenarnya mereka ketahui".
John Holt (1981) mengatakan dalam bukunya How Children Fail: "What seem simple, natural and self evident to us, may not seem to a child." (yang kelihatan sederhana, alami dan percaya diri kita, tidak demikian dilihat oleh anak). John Holt memberi contoh tentang pemahaman angka 10. Orang dewasa telah terbiasa dengan angka 10 sehingga tidak pernah membayangkan perbedaan angka satu dan nol untuk bilangan sesuatu, apakah lebih besar atau sama. Kita harus akui, kesulitan guru terjadi pada saat pertama mengenalkan angka kepada anak-anak, agar mereka tidak merasa mendapat teka-teki yang tidak jelas. Dikhawatirkan, pada saat pertama dikenalkan angka 10 anak-anak akan kaget sehingga mereka tidak pernah memahami atau akan membekukan penalarannya waktu memikirkan hal tersebut.
Seorang guru Bahasa Inggris di SLTP, harus sangat bijak dalam mengajarkan Countable and Uncountable Nouns. Siswa berpikir bahwa benda yang Countable adalah benda yang dapat diberi bilangan satu, dua dan seterusnya. Dalam otak siswa tidak pernah atau tidak terbiasa memikirkan perbedaan Countable dan Uncountable Nouns, karena tidak dikenal dalam Bahasa Indonesia.
4. Yang Dipikirkan Siswa dalam Mengikuti Pelajaran
Orang dewasa sering tidak mengetahui apakah yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh anak. Jika anak tidak dapat memahami hal yang sangat umum, hal itu dimungkinkan karena bahasa yang digunakan sulit dipahaminya, atau paling tidak disebabkan adanya kontradiksi antara kebiasaan yang mereka alami dengan yang kita bicarakan. Kita tidak dapat mengatakan anak itu bodoh bila ia tidak dengan cepat memahami ide kita ketika diminta membagi angka 6 dengan ½. Contoh : siswa yang memahami definisi pembagian akan menjawab dengan benar yaitu 12. Namun, bagi siswa yang merasa telah ahli dalam perkalian pecahan yang dipelajari beberapa hari sebelumnya, mereka akan mengartikan pembagian dengan definisi yang berbeda. Kalau membagi 6 kedalam tengahan, berapa besar tiap-tiap tengahan, sehingga mereka berfikir berapa separuhnya 6, maka jawabannya adalah 3. Di sini guru menemukan kesulitan, karena tidak menjelaskan perbedaan definisi pembagian, sehingga definisi kedua ini tidak dapat diterapkan pada kasus tersebut.
Penjelasan yang keliru oleh guru akan menyebabkan salah pengertian siswa. Oleh karena itu, sebaiknya menanyakan masuk akal atau tidak atau dapat dipahami atau tidak daripada menanyakan salah atau benar.
5. Penyebab Kegagalan Siswa
Setelah diketahui tentang Ochikobore yang terjadi, masalah tersebut harus dipecahkan dan diatasi. Sungguhpun Ochikobore bukan semata-mata merupakan produk guru, namun guru tidak boleh mengelak dari tanggung jawabnya.
Banyak siswa gagal dalam belajar karena mereka tidak dapat menangkap bahasa guru. Selain itu, seringkali kemampuan siswa di sekolah tidak terlihat karena mereka merasa takut. Hal ini menyebabkan guru keliru dalam menilai kemampuan siswa. Adanya perasaan takut yang mempengaruhi, menyebabkan siswa menggunakan berbagai strategi dalam belajar untuk menjaga diri agar tidak dimarahi oleh guru. Guru sering meremehkan kemampuan dan kreativitas siswa dengan memerintahkan mereka berbuat sesuatu atas inisiatif guru.
Guru menciptakan kekhawatiran bagi siswa, khawatir membuat kesalahan, tidak memenuhi harapan orang lain atau teman, tidak dapat menggembirakan, gagal, dan menjadi salah.
B. Kesimpulan dan Saran
Berbagai strategi belajar sering digunakan oleh siswa dalam rangka membela diri karena sebenarnya mereka dalam kondisi takut. Mereka takut kena marah guru, takut diolok-olok teman, dan takut mendapat nilai jelek. Untuk mengurangi kegagalan siswa atau ochikobore, guru diharapkan lebih memberikan perhatian pada strategi siswa dalam belajar, disamping berupaya membantu menghilangkan berbagai rasa takut yang ada pada siswa dengan memberikan kebebasan dalam belajar. Guru diharapkan lebih memahami kemampuan siswa yang sesungguhnya sehingga mampu menyusun program yang sesuai untuk langkah pembelajaran selanjutnya.
Seharusnya, sekolah menjadi tempat di mana anak-anak mempelajari apa yang sesungguhnya ingin mereka ketahui dan bukan apa yang mereka harus ketahui.
Seorang anak yang ingin mengetahui sesuatu akan selalu mengingat dan menggunakannya sekaligus. Sebaliknya, anak yang belajar untuk menyenangkan atau melakukan sesuatu atas perintah orang lain, akan segera lupa sewaktu keperluan tersebut telah lewat.
Untuk menghilangkan atau mengurangi rasa takut siswa, peran guru harus diubah yang selama ini lebih selaku instruktor menjadi fasilitator. Tugas guru adalah membantu anak dalam belajar. Perbedaan-perbedaan individu pantas untuk mendapat perhatian. Hal ini sulit dilakukan bila jumlah siswa di kelas terlalu besar. Disarankan agar standar jumlah siswa di kelas disesuaikan dengan kemampuan kontrol guru agar "out put" dari sekolah mencapai kualitas yang memadai. Prinsip persamaan hak (equality) dalam pendidikan sudah waktunya ditingkatkan dari pemerataan kesempatan belajar ke arah pemerataan kualitas belajar.
Pustaka Acuan
W.O. Lester Smith. 1976. Education, Penguin Books Ltd
John Holt. 1981. How Children Fail, Pipman Publishing Coporations
John Holt. 1980. How Children Learn, Pipman Publishing Coporations
John Holt. 1970. The Understanding School, Pipman Publishing Coporations
Lindgren Henry C. 1972. Educational Psychology in the class room, Modern Asia Edition Selengkapnya...

Minggu, 14 Desember 2008

KIAT MENGADAPI UJIAN NEGARA

Bagi kelas IX, awal tahun 2009 adalah ajang kerja keras untuk menghadapi ujian negara. Keberhasilan menghadapi Ujian Negara dapat di prediksi dari usahanya selama awal tahun sampai menjelang UN.
Untuk itu diperlukan banyak belajar dan berdoa untuk dapat menghadapi Ujian dengan baik. Berikut adalah beberapa tips yang bisa dilakukan menjelang Ujian.
Trik yang saya coba gulirkan sebenarnya tidaklah istimewa. Sama dan pasti kalian semua sudah peroleh dari orang tua atau guru. Tapi yang menjadi masalah adalah nasehat yang sepintas remeh temeh ini sering diabaikan dan dianggap tidak penting. Padahal semua itu sangat membantu kalian secara mental untuk “menang sebelum perang”.
Yang penting kalian camkan adalah mencoba menerapkan nasehat itu sejak dini. Jangan pernah kalian merasa bisa menjalankan nasehat ini kalau kalian tidak biasakan dari sekarang. Laksanakan dan jadikan sebagai kegiatan sehari-hari. Niat dan buat rancangannya secara natural, alami dan tidak dipaksakan sehingga kalian menganggap semua itu adalah bukan beban.

A. TRIK PRA UJIAN
1. Benar-benar memanfaatkan waktu pemantapan untuk mengukur kemampuan
Saya heran bila melihat ada kalian berusaha mencontek di saat pemantapan. Ini sangat mubazir dan sia-sia. Bayangkan kalau pun kalian dapat mencontek dengan baik lalu berhasil mendapatkan nilai sepuluh di pemantapan, lantas apa manfaatnya bagi kalian? Nilai pemantapan tidak akan pernah berpengaruh pada diterima atau tidaknya kalian di sekolah favorit. Kepuasan? Ah…sebuah fatamorgana kalau kita menganggap nilai sepuluh itu sebagai tanda kemampuan kalian belajar. Nilai sempurna di pemantapan namun hasil mencontek tidak akan pernah dapat dijadikan ukuran keberhasilan kalian menghadapi ujian. Percuma!
Atau karena kalian merasa gengsi dikatakan bodoh karena nilai kalian jelek? Kalau itu memang kenyataan mengapa harus malu. Bukankah itu sebagai tanda peringatan bahwa kalian harus lebih mengerti dan belajar lebih keras. Gengsi inilah yang akan terus menghantui kalian tatkala kalian tidak mampu melakukan sesuatu. Kegagalan harus diterima sebagai sebuah kenyataan yang akan senantiasa mendampingi keberhasilan. Yang saya tahu, “orang berhasil lebih banyak gagalnya ketimbang orang yang gagal!”
Lakukan tes pemantapan sebagai ajang mengukur kemampuan diri. Hilangkan rasa takut dan gengsi kalau nilainya buruk, karena yang lebih menakutkan adalah justru mendapatkan nilai jelek pada saat ujian negara.
2. Hindari berteman dengan orang yang tidak memiliki motivasi untuk belajar
Ini penting! Kita harus berani memilih dan menetapkan teman yang pantas untuk menemani kita menghadapi ujian. Kalau ada pepatah yang mengatakan bahwa kita tidak boleh memilih-milih orang untuk dijadikan teman, saya tidak setuju! Teman harus dipilih! Harus yang memberikan manfaat terbaik bagi kita, juga sebaliknya!
Bayangkan bila kita berteman dengan orang yang tidak memiliki motivasi sedikitpun untuk belajar, maka yang ada dalam agenda hidupnya hanyalah bermain dan menghamburkan waktu dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Seusia kalian faktor pertemanan sangat dominan mempengaruhi tingkah laku kalian, baik disadari atau tidak.
Memang terkadang berteman dengan orang pintar atau rajin membuat kita sengsara. Kita harus merubah jadwal kemalasan kita. Merubah pola belajar dan mengganti selera atau kesenangan yang selama ini kita lakukan. Tapi percayalah, untuk menghadapi ujian dan mendapatkan nilai terbaik memang sangat membutuhkan pengorbanan. Salah satunya adalah dengan menyingkirkan teman-teman kita yang akan menjerumuskan kita ke jurang “kenistaan”, yaitu menyesal dikemudian hari namun sudah tidak lagi memiliki arti. Ceileee.
Ada loh teman-teman kalian yang merasa tidak perlu belajar dengan keras. Penyebabnya bisa jadi karena mereka menganggap dirinya bodoh. Dan kalau kalian berteman dengan mereka maka anggapan itu juga akan hinggap di benak kalian! Ada yang karena alasan rumah tangga yang tidak harmonis. Dan itu bisa menjadi beban pikiran kalian juga ketika teman kalian mencurahkan perasaannya kepada kalian. Padahal keluarga kalian harmonis-harmonis saja! Ada juga yang merasa tidak berkepentingan dengan nilai ujian karena merasa sekolah dimanapun buat mereka tetap saja dianggap sebagai siksaan. Bagi mereka mengejar cita-cita bukanlah sesuatu yang harus dipikirkan. Mereka manja dan terbiasa hidup diketiak mamanya. Kalian tentunya tidak bisa mengandalkan teman seperti itu. Atau ada juga yang tidak belajar tapi nilainya selalu besar, kalau bukan karena jenius orang seperti ini pasti jago nyontek. Iya kalau jenius, kamu bisa bertanya padanya, tapi giliran karena nyontek, percayalah suatu saat kamu akan menjadi bagian dari kebiasaannya. Dicontek atau terbiasa mencontek. Padahal jelas orang seperti ini gak bisa diandalkan dalam belajarnya.
Jadi carilah teman yang benar-benar layak kalian jadikan teman menjelang UN.
3. Kurangi kegiatan yang tidak berhubungan dengan Ujian
Ini siksaan! Ini sulit dilaksanakan! Tapi mau apa kita dengan segala permainan dan kesenangan itu tatkala nilai kalian di ujian sangat jelek dan kalian tidak bisa berdiri tegak ketika Pawidya atau wisuda nanti? Ujian negara ini cuma sekali selama kalian belajar di SMP (atau SMA) dan sangat menentukan sekolah kalian dimasa depan dan lebih jauhnya dengan cita-cita yang kalian harapkan. Jadi apa salahnya kalau kita mulai sekarang belajar untuk sedikit (atau banyak) berkorbaan sesaat untuk ujian ini. Percayalah…pengorbanan kalian tidak aka sia-sia bila dilakukan dengan penuh kesadaran.
Simpan dulu play station kalian di gudang! Pindahkan dulu televisi di kamar kalian! Hapus dulu games yang ada di komputer kalian! Dan kurangi kesenangan bermain menghabiskan waktu di mall atau ningkrong di rumah teman tanpa melakukan kegiatan yang bermanfaat. Ayolah…toh suatu saat kamu dapat melakukannya lagi ketika semuanya telah selesai.
Tapi jangan kalian kurangi berolah raga. Jangan kurangi jadwal les piano atau biolanya. Jangan kurangi berkumpul dengan keluarganya. Itu tetap penting. Yang harus kalian kurangi hanyalah kegiatan yang bisa membuat konsentrasi kamu berkurang. Dan bayangkan kenikmatan darikeberhasilan yang akan kamu raih!
4. Jangan bikin konflik dengan teman dan keluarga
Pacaran? Buat apa? Jangankan pacaran, berteman dan bersahabat saja sudah cukup memberikan kita beban yang tidak sedikit, apalagi pacaran! Eit, tapi bagi yang sudah terlanjur pacaran tapi asyik-asyik aja ya…nikmati dan jaga jangan sampai membuat konflik!
Jangan dikira bahwa konflik kalian dengan teman tidak akan membawa dampak psikologis lho kepada kalian! Kalian akan menjadi tidak tenang dalam menjalani keseharian disekolah bahkan bisa jadi membuyarkan energi dan konsentrasi kalian di kelas. Beneran!! Hindarilah membuat masalah dengan teman, keluarga atau bahkan dengan hewan peliharaan. Bayangkan saja kalau kalian membuat konflik dengan anjing peliharaan dan anjing itu menggigit kalian, pasti kalian akan mendapatkan kesulitan.
Hindari pertentangan yang tidak perlu. Jauhi teman yang selalu bikin masalah. Hindari dimarahi guru karena ga bikin PR atau tugas. Jelaskan dengan baik kepada orang tua ketika kalian ada masalah dengan mereka. Mintalah kepada teman, keluarga atau guru untuk memahami beban kalian yang seabrek itu. Jelaskan kepada mereka bahwa kalian membutuhkan dukungan dan motivasi ketimbang nasehat dan amarah mereka! Dan tentunya kalian pun harus mengerti bahwa orang tua, teman dan guru juga memiliki tingkat stress yang sama dengan kalian dalam menghadapi Ujian Negara sehingga perlu menjaga sikap di sekolah dan di rumah.
5. Jaga kesehatan
Aduh jangan sampai deh kalian sakit justru ketika kalian “wajib” sehat. Perjuangan kalian selama tiga tahun ini bisa hancur berantakan ketika kalian sakit disaat ujian.
Dulu…nenek kita selalu melakukan tindakan “pingit” kepada wanita atau laki-laki yang akan menikah. Itu sebenarnya dilakukan untuk menghindari kejadian yang tidak diharapkan meNjelang pernikahan. Nah sekarang, orang tua dan guru pasti akan melakukannya kepada kalian.
Pingitan ini dilakukan untuk menghindarkan kalian dari kejadian yang tidak diinginkan menjelang ujian. Sepak bola yang memiliki tingkat resiko cukup besar dalam berbenturan, basket yang beresiko menimbulkan kelelahan atau kebiasaan mengendarai motor atau mobil sedikit dikurangilah. Itu semua perlu dilakukan sebagai bentuk antisipasi dan menghindari dari kejadian yang bisa membuat badan kamu sakit di saat-saat ujian.
Berolahragalah dengan jenis olahraga yang memiliki resiko ringan. Toh memang olahraga itu perlu untuk menjaga kesehatan kalian.
Jaga jenis makanan yang masuk ke dalam perut kalian. Wah…kebayang kalau pada saat ujian, perut kita tidak bisa kompromi dan selalu ingin buang angin atau buang air besar. Buyarlah konsentrasi kita! Hindari…hindari…!
6. Beli perlengkapan ujian dari toko yang dijamin menjual barang asli
Sekarang banyak barang asli tapi palsu.
Ujian sekarang diperiksa oleh komputer. Untuk itu ada standarisasi baku tentang alat atau perlengkapan yang dipakai dalam ujian. Pensil 2B yang asli, penghapus yang tidak meninggalkan bekas, serutan yang tajam dan rapi.
Jangan ambil resiko dengan membeli perlengkapan ujian di sembarang tempat, digrosir, di warung, di pinggir jalan atau di depan sekolah. Kita tidak memiliki waktu untuk menguji semua perlengkapan itu khan? Jadi belilah di toko buku Gramedia atau Gunung Agung dan sudah dipaket khusus untuk ujian. Abaikan harga yang relatif lebih mahal. Abaikan keengganan karena tempatnya jauh. Abaikan rayuan rekan dan teman yang bisa menyediakan alat ujian. Sekolah biasanya berupaya supaya kalian benar-benar mendapatkan perlengkapan yang asli dengan menghubungi distributor barang yang asli langsung sehingga memudahkan kalian untuk mendapatkannya dengan harga lebih murah. Manfaatkan peluang itu sebaik-baiknya.
Tolong camkan ini. Siapkan pensil lebih dari satu. Belilah 4 pensil baru, lalu serutlah kedua ujungnya dengan rapih. Siapkan penghapus baru dan yang tidak meninggalkan bekas. Sediakan serutan yang baru sehingga ketajamannya masih terjaga. Dengan persiapan matang itu minimal kepercayaan diri kalian akan terjaga sampai ujian.

B. TRIK SAAT UJIAN
1. Tidur dan bangun lebih awal
Idealnya kalian sudah tidak membuka buku disaat menjelang ujian. Makanya menjelang ujian selalu ada yang disebut pekan sunyi atau minggu tenang sebelum ujian. Ini bukan waktu kalian untuk belajar, tapi justru untuk mengendurkan urat syaraf kalian yang tegang mempersiapkan ujian.
Minggu tenang memang harus kalian isi dengan ketenangan dan suasana badan yang rileks. Sudah tidak ada lagi kegiatan baca buku tebal. Sudah bukan saatnya kalian menghapalkan rumus. Tapi itu bisa kalian lakukan kalau kalian benar-benar siap disaat jauh-jauh hari sebelum ujian.
Malam sebelum ujian yang harus kalian lakukan adalah mempersiapkan alat perang dengan lengkap dan meyakinkan lalu berdoa kepada Tuhan semoga kalian diberi ketenangan ketika ujian dan disaat mengerjakan soal. Lalu tidur dengan nyaman lebih awal. Mengapa harus lebih awal? Karena biasanya kalian akan sulit tidur membayangkan saat ujian besok, sehingga dengan tidur lebih awal kalian bisa tidur tepat waktu.
Besoknya, bangunlah pagi-pagi benar. Karena kamu harus bersiap lebih awal dan kesiapan awal akan membawa kamu pada ketenangan. Kamu akan leluasa mempersiapkan semua perlengkapan. Kamu akan santai mandi, ganti pakaian dan sarapan pagi.
Cek lagi persiapan perlengkapan ujian. Bawa kartu peserta, alat tulis yang dibutuhkan dalam satu tempat yang mudah dibawa namun bisa menampung semua perlengkapan kamu. Jangan bawa sesuatu yang tidak penting buat kalian. Lupakan dulu I-pod, PSP atau handphone. Jangan sampai semua itu akan menganggu konsentrsai kamu dengan harus mejaga sesuatu yang tidak perlu.
Sarapan. Wajib dan harus! Bagi yang tidak terbiasa sarapan, kali ini sarapan menjadi wajib walaupun hanya sekedar roti atau segelas susu hangat. Bukan apa-apa, semua itu untuk mengantisipasi kalau-kalau perut kalian bunyi di saat suasana kelas sepi. Malu dan membuat suasana menjadi lebih tidak nyaman.
Jangan bawa buku pelajaran. Ketika kalian masih membaca di detik-detik terakhir menjelang ujian sebenarnya merupakan gambaran ketidaksiapan kalian diujian tersebut. Dan yang jelas tidak bermanfaat apapun bagi kalian, malahan kalian akan semakin sadar bahwa banyak materi yang kalian tidak tahu ketimbang yang kalian tahu, dan apa akibatnya? Kalian akan bertambah gugup dan tidak percaya diri. Yang harus kalian lakukan adalah memanfaatkan waktu yang masih sempit ini untuk terus belajar sekuat mungkin sehingga di saatnya nanti kalian akan merasa percaya diri dan merasa tidak perlu repot-repot membaca rangkuman di detik akhir sebelum ujian.
Dan ketika kalian akan pergi, niatkan dan laksanakan perintah orang tua dulu. “kalau sudah pergi, jangan melihat kebelakang!” dulu saya menganggap bahwa pepatah itu secara harfiah, jadi setiap akan ujian saya berusaha untuk tidak melihat kebelakang. Padahal kalau diselami lebih jauh sebenarnya perintah kakek nenek kita adalah ketika sudah diperjalanan menuju sekolah jangan sampai kita balik lagi kerumah gara-gara ada perlengkapan yang tertinggal.
Sediakan waktu toleransi 30 menit untuk pergi lebih awal ke sekolah untuk mengantisipasi kemacetan, mogok, ban meletus, ketinggalan sesuatu atau hanya sekedar membuat kalian tenang.
2. Tiba di sekolah lebih awal, luangkan waktu untuk teratur menarik nafas dalam-dalam
Perintah ini tidak mengandung unsur mistik apalagi magic. Ini hanya bayangan saya ketika akan menghadapi berbagai macam ujian. Selalu khawatir dan stress (walaupun kallian tidak pernah mneyadarinya). Dengan kesadaran kalian untuk menarik nafas, setidaknya kalian tidak ada waktu untuk bercanda, bercengkarama atau melakukan tindakan yang mubazir dan hanya menguras energi kalian.
Bisa jadi sebelum ujian kalian awalnya bercanda dengan teman. Saling ejek,sikut lalu dorong mendorong. Jatuh, baju kotor, lutut berdarah, hidung patah dan tangan keseleo. Nah lho…
Atau kalian membicarakan teman lalu mendengar omongan teman yang tidak nyaman dan kalian suka tidak suka akan memikirkannya. STOP! Bernafas dan berdoa adalah tindakan paling rasional menjelang ujian. Atau kalau tidak bisa, lebih baik DIAM!
3. Berdoa ketika pertama kali duduk di kursi ujian
Diam sejenak. Tarik nafas dalam-dalam. Yakinkan kalian bisa mengerjakan soal. Pusatkan perhatian untuk berdoa sendiri minta petunjuk kepada Tuhan untuk memberikan yang terbaik bagi kita. Pejamkan mata, ingat dan bayangkan wajah ibu baik-baik, bayangkan wajah ayah kita dengan jelas. Nenek, kakek dan semua orang yang kalian cintai dan mencintai kalian dengan tulus. Mintalah doa dari mereka dengan membayangkan mereka.
Lalu lihat sekitar kalian. Kelas, pengawas, dinding dan kalau bisa lepaskan pandangan keluar kelas. Lihat pohon dan langit. Maka pikiran kalian akan lebih tenang.
4. Jangan pernah berpikir untuk mencontek
Adalah sebuah kebodohan kalau kalian merasa perlu menyamakan jawaban dengan rekan kalian. Apalagi untuk menanyakan jawaban ujian. Ada beberapa alasan rasional mengapa kita tidak boleh mencontek pada saat ujian.
Pertama, yakinkah kalian kalau teman kalian itu bisa menjawab soal yang sama? Terkadang yang membuat saya heran, banyak anak yang pinter merasa belum yakin kalau belum menanyakan jawaban kepada teman. Padahal temannya itu dikelas dan sehari-hari berada dibawah peringkat dia di bidang akademis. Ini bisa terlihat dari ulangan umum yang sering ditemukan jawaban yang sudah benar dicoret dan diganti dengan jawaban yang salah. Jangan bertanya kepada teman, karena tidak ada jaminan kalau jawaban teman kalian itu adalah benar adanya.
Kedua, kalaupun teman kalian tahu jawabannya, yakinkah kalian kalau teman kalian memberikan jawaban yang sama dengan dilembar jawabannya? Kalau saya yang ditanya, maka saya akan memberikan jawaban yang salah karena tentunya saya harus meminimalisir persaingan. Semakin banyak orang lain bertanya kepada saya maka semakin besar peluang saya menjatuhkan nilai teman-teman saya dengan memberikan jawaban yang salah. Lalu kalau tidak ada jaminan jawaban teman kalian itu benar, mengapa harus repot-repot bertanya?
Ketiga, ketika kalian merasa tidak bisa menjawab lalu ada teman yang kalian anggap lebih pintar dan merasa dia akan memberikan jawabannya kepada kita, bersiaplah kalian akan menerima pertanyaan lebih banyak dari teman kalian. Ini merepotkan! Konsentrasi kalian akan terganggu dan harus menerima banyak “misscall” dari teman yang hanya sekedar bertanya.
Keempat, mencontek itu beresiko tinggi. Jangan kalian anggap bahwa pengawas itu tidak melihat. Mereka diberi kekuasaan untuk menulis berita acara yang berisi situasi disaat ujian. Tidak mustahil ada pengawas yang menulis nomor kalian di berita acara dengan tulisan,”no 132 mencontek dari buku atau temannya”. Dan yang pasti kita tidak akan pernah tahu apa yang akan dilakukan dengan berita acara itu oleh pemeriksa!
Pengawas tidak boleh membuat suasana menjadi tidak nyaman dengan marah atau memperingati kalian untuk tidak mencontek, jadi jalan yang terbaik adalah dengan menuliskannya di berita acara. Dan kita tidak merasa sedang diperhatikan.
Banyak kejadian dimana kita menganggap bahwa orang lain mencontek selalu tidak diketahui oleh guru atau pengawas, tapi giliran kita baru sekali melakukannya kok ketahuan. Itu adalah peringatan bahwa kalian memang dilarang mencontek oleh Tuhan.
Kalau kalian melihat ada teman yang mencontek atau kerjasama, lihat saja sejarah belajar dia di kelas, pasti mereka adalah golongan siswa yang tidak memiliki kepercayaan diri, pemalas,selalu bikin gara-gara dengan guru atau temannya, selalu merasa paling ganteng, paling hebat, paling gaul dan paling menjadi pusat (mencari) perhatian. Padahal tahukah kalian…semua itu adalah cara mereka menyembunyikan kepengecutan dan ketidakpercayaan dirinya yang akut atau parah. Jangan tergoda olah kelakuan orang atau teman seperti itu…percuma.
Dan coba lihat teman kalian yang percaya diri dengan kemampuannya. Tenang, santai dan sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Mereka biasanya dari golongan siswa yang sejarah belajarnya memang bagus. Tirulah mereka! Percaya diri dengan kemampuan sendiri untuk mencapai tujuan sendiri.
5. Perhatikan alokasi waktu
Ingat! Waktu yang disediakan sudah termasuk waktu untuk mengisi bio data, membaca soal dan kelengkapannya, mellingkari dan menghitamkan lembar jawaban, mengisi essay dan memeriksa kembali. Jadi kalau ditotal, waktu itu sangat sempit. Namun sangat sering kalian merasa waktu itu terlalu banyak dan membosankan, tapi begitu hendak dikumpulkan kalian baru sadar bahwa ada beberapa jawaban yang belum kalian isi. Lalu sibuk, asal jawab dan mengeluh kurang waktu.
Pakai jam tangan! Beli jam tangan kalau tidak punya. Jam tangan sekarang murah. Bilang pada orang tua…beli! Kalau perlu bawa jam kecil untuk disimpan di depan meja kalian! Beneran, serius!
5 menit awal alokasikan waktu untuk mengisi bio data dilembar jawaban. Adalah sebuah keteledoran yang sangat sia-sia kalau kalian mendapat nilai minimal karena kesalahan bio data. Ingat!!! lembar jawaban akan diperiksa oleh komputer jadi hindari kesalahan kecil yang akan membuat lembar jawaban kalian gagal di scacn oleh komputer karena ini akan membuat lambar jawaban kalian akan diperiksa manual oleh manusia. Dan bayangkan bisa berapa ratus atau ribu lembar jawaban yang akan di periksa manual. Apalagi oleh manusia yang sangat terbatas kesabaran dan ketekunannya, maka pemeriksaan akan jauh lebih beresiko salah. Hindari!
5 menit berikut, cek kelengkapan soal baik nomor soal atau lembar soalnya. Jangan sampai kalian terganggu konsentrasi karena ditengah jalan lembar soalnya harus kalian ganti karena tidak lengkap atau tidak jelas.
Mulai kerjakan dari soal yang kalian anggap mudah.
Alokasikan waktu 10 menit sebelum jam berakhir untuk mengecek jawaban. Hanya mengecek, bukan mencari jawaban lagi. Lalu siapkan urutan soal dan jawaban sebelum dikumpulkan setelah kalian cek ulang. Kalau perlu cek sampai 3 kali.
Jangan merasa jenuh. Waktu 3 hari itu sangat penting buat kalian. Manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Selamat belajar !!
Imam Wibawa Mukti,S.Pd
Guru SMP Taruna Bakti Bandung Selengkapnya...

1. NILAI YANG TERPAMPANG ADALAH NILAI AKHIR YANG AKAN MASUK RAPORT DAN MERUPAKAN GABUNGAN DARI NILAI :ULANGAN HARIAN + TUGAS + ULANGAN UMUM
2. SEMUA YANG REMIDIAL DIKARENAKAN NILAI UL UMNYA DIBAWAH STANDAR KETUNTASAN MINIMAL (7,5)
3. JADWAL REMIDIAL LISAN: SENIN DAN SELASA / 15 –16 Desember 2008
A.SENIN/15 DESEMBER 2008 : KELAS VII A-VII C-VII D
B.SELASA/16 DESEMBER 2008 : VII B-VII BILINGUAL
4. WAKTU : 10.00 – 11.00 WIB
5. TEMPAT : RUANG IPS TERPADU (EKONOMI)
BENTUK REMIDIAL : A. MENGUMPULKAN LKS DAN CATATAN LENGKAP SEMESTER I (SEMUA KELAS 6. DIKUMPULKAN HARI SELASA/16 DESEMBER 2008 KEPADA )B.MENGHAPALKAN DAN MERANGKUM MATERI (TEKTONIK DAN VULKANIK, MANUSIA PURBA INDONESIA, BENTUK INTERAKSI SOSIAL DAN MOTIF/PRINSIP EKONOMI) KEMUDIAN DI TES LISAN SESUAI DENGAN JADWAL YANG TELAH DITETAPKAN
7. BAGI YANG TIDAK IKUT KEGIATAN REMEDIAL PADA JADWAL YANG TELAH DITENTUKAN MAKA NILAINYA TIDAK AKAN MENGALAMI PERUBAHAN
REMIDIAL YANG DILAKSANAKAN TIDAK AKAN MENJAMIN PERUBAHAN NILAI BILA TIDAK DIIKUTI DENGAN BAIK
BILA JADWAL REMIDIAL IPS BENTROK DENGAN JADWAL REMIDIAL LAINNYA, MAKA HARUS ADA SURAT KETERANGAN DARI GURU YANG BERSANGKUTAN DAN MENGIKUTI REMIDIAL SUSULAN (TERAKHIR SELASA/16 DESEMBER 2008)
Selengkapnya...

Senin, 01 Desember 2008

UNDERACHIEVER

Pada tulisan terdahulu saya mengupas tentang underachiever untuk menjawab kekhawatiran orang tua terhadap motivasi putra/i-nya dalam mengikuti proses pembelajaran di akselerasi. Karena bersifat spontan maka uraiannya terasa sangat singkat dan mungkin tidak mampu menjawab pertanyaan selanjutnya yang lebih detail. Melalui tulisan kedua ini saya harapkan dapat sedikit menambah wawasan tambahan mengenai keberadaan anak cerdas istimewa namun memiliki masalah dalam perkembangan prestasi, khususnya di sekolah dan mata pelajaran di sekolah.
Namun sekali lagi, semoga ini tidak menambah kebingungan tapi justru menambah kemampuan kita untuk mengenali dan mengidentifikasi beberapa kecenderungan underachiever untuk kemudian mengantisipasinya secara tepat dan cepat.
Mungkin di tulisan ini akan ada beberapa point penting yang akan mengalami pengulangan uraian, namun tidak secara rinci karena telah dibahas pada tulisan sebelumnya.

A. PENGERTIAN UNDERACHIEVER
Adalah jika ada ketidaksesuaian antara prestasi sekolah anak dengan indeks kemampuannya sebagaimana nyata dari tes intelegensia, prestasi atau kreativitas atau dari data observasi, dimana tingkat prestasi sekolah nyata lebih rendah daripada tingkat kemampuan anak” (Davis and Rimm dikutip Utami Munandar.1999).

B. KARAKTERISTIK ANAK UNDERACHIEVER
Beberapa karaktersitik dari anak underechiever adalah :
Karakter Primer : Rasa harga diri yang rendah
Karakter Sekunder : Perilaku menghindar
Karakter Tersier : Kebiasaan belajar yang buruk, daya konsentrasi yang hilang dan atau bermasalah dengan disiplin dan rumah dan di sekolah.

C. CARA MENGIDENTIFIKASI KARAKTER UNDERACHIEVER
Amati anak selama kurang lebih dua minggu untuk menentukan apakah ia memiliki ciri-ciri berikut. Jika siswa mempunyai minimal 10 ciri tersebut maka ia kemungkinan termasuk dalam kategori underachiever. Berikut beberapa ciri tersebut :
1Nilai mayoritas rendah pada nilai prestasi atau ulangan
2Mencapai nilai rata-rata atau dibawah rata-rata kelas dalam keterampilan dasar seperti membaca, menulis dan berhitung
3.Pekerjaan sehari-hari tidak lengkap atau buruk
4Memahami dan mengingat konsep hanya jika berminat
5Kesenjangan antara tingkat kualitatif pekerjaan lisan dan tulisan
6Pengetahuan faktual sangat luas
7. Daya imajinasi sangat kuat
8Selalu tidak puas dengan pekerjaannya, termasuk seni
9Kecenderungan ke sifat perfeksionisme dan mengkritik diri sendiri
10Menghindari pekerjaan dan kegiatan baru untuk menghindari hasil yang kurang baik
11Menunjukan prakarsa dalam mengerjakan proyek di rumah atas pilihan sendiri
12Mempunyai minat yang luas dan keahlian yang khusus dalam penelitian dan riset
13Rasa harga diri rendah nyata dalam kecenderungan untuk menarik diri atau menjadi agresif di dalam kelas
14Tidak berfungsi atau berkontribusi dalam kelompok
15Menunjukkan kepekaan dalam persepsi terhadap diri sendiri, selalu tinggi atau terlalu rendah
16Tidak menyukai pekerjaan praktis atau hapalan
17Tidak mampu memusatkan perhatian dan berkonsentrasi pada tugas-tugas
18Mempunyai sikap tak acuh atau negatif terhadap sekolah
19Menolak upaya guru memotivasi atau menanamkan disiplin perilaku di kelas
20Mengalami kesulitan dalam hubungan dengan teman sebaya, kurang dapat mempertahankan persahabatan



Jumlah



(sumber : Whitemore.1980. Giftedness, Conflict and Underachievement. Boston:Allyn &Bacon)

D. LATAR BELAKANG UNDERACHIEVER
Anak tidak dilahirkan dengan membawa sifat underachiever. Sifat ini mudah dirubah apabila keluarga paham dan peduli dinamika underachievement.
Kebiasaan di keluarga yang memberikan perlindungan terlalu berlebihan untuk anak, sikap otoriter, sikap permisif secara berlebihan dan ketidakajekan kedua orang tua dalam menegakkan disiplin adalah beberapa hal yang mudah dirubah asalkan ada komitmen untuk itu.
Beberapa latar belakang munculnya sifat underachievera pada anak diantaranya adalah :
Identifikasi dan model
Identifikasi terbalik



E. MENGATASI ANAK UNDERACHIEVER
Selengkapnya...

“MIND MAPPING”

A. Mengapa Harus Mencatat ?
Sejarah manusia dimulai dengan suatu keterampilan yang tidak mungkin bisa ditiru oleh makhluk apapun di muka bumi ini. Mencatat!
Mencatat adalah satu kemampuan terpenting yang pernah dipelajari manusia. Bagi siswa, ini berarti mendapatkan nilai yang baik. Bagi orang yang bergerak di bidang bisnis, ini berarti adalah selalu dapat menepati janji, proyek dan pertemuan dengan tepat. Bagi guru ini berarti berhubungan dengan kemampuan menyampaikan materi dan penambahan wawasan baru.
Selama ini kita selalu terpaku dengan bentuk catata outline yang kaku dan berderet ke bawah dengan susunan sistematis. Masalahnya adalah sering kali kita menemukan guru atau pembicara memaparkan materinya secara loncat dan berputar sehingga kita menemukan kesulitan untuk meruntutnya secara sistematis. Membosankan!
Dan yang jelas adalah, catatan outline yang selama ini kita pergunakan sama sekali tidak sama dengan kerja otak manusia!!
Mencatat bukan kegiatan sesaat untuk kemudian dilupakan! Mencatat adalah mendapatkan point kunci dan hubungannya dengan materi lainnya untuk memahami suatu konsep utama.
Hingga saat ini orang menganggap bahwa kerja otak itu linier, teratur dan rapi. Hal ini disebabkan oleh karena media komunikasi kita, yaitu lisan dan tulisan yang memang menuntut kemampuan kita dalam menguraikan segala sesuatu secara linier, runut dan rapi. Padahal ternyata, temuan para ahli mengungkapkan bahwa lisan dan tulisan adalah “hasil” bukan “proses” komunikasi.
Pada proses terjadinya komunikasi, sebenarnya otak manusia bekerja secara acak. Otak kita mencari, memilah, memilih dan merumuskan, mengatur, menghubungkan dan menjadikannya sebuah gagasan yang kemudian kita hasilkan dalam bentuk lisan atau tulisan.
Hal itu terjadi tidak hanya pada komunikator tapi juga pada komunikan. Yang mendengarkan akan menangkap setiap kata demi kata, mengumpulkannya dan menghubungkannya menjadi sebuah informasi yang layak untuk didengarkan.
Lantas catatan seperti apa yang dapat memaksimalkan kemampuan kita dalam menerima informasi kemudian memanfaatkannya kembali baik untuk diingat, disimpan dan dijadikan “artefak” budaya kita?

B. Teknik Mencatat Tingkat Tinggi
Bayangkan sebuah benda, misalnya mobil, lalu tutuplah mata kalian dan bayangkan keberadaan mobil itu dalam benak kalian beberapa saat. Buka mata dan ceritakan apa yang kalian bayangkan tadi? Sebuah gambaran mobil dengan warna dan bentuk tertentu terletak di tengah-tengah pikiran kita bukan? Otak kita bekerja untuk mengingat informasi dalam bentuk gambar, simbol, suara, dan perasaan. Bahkan ketika kita mendatangi rumah teman yang belum pernah kita datangi, akan terasa lebih mudah melihatnya dalam bentuk gambar atau peta dengan warna atau simbol tertentu dibandingkan dengan membacanya seperti karangan puisi atau artikel bukan?
Catatan yang berkembang saat ini dipopulerkan oleh Tony Buzan sekitar tahun 1970-an berdasarkan riset dan penelitian tentang tata cara kerja otak kita.
Catatan itu di kenal dengan peta konsep atau “Mind Mapping”.

C. Langkah-langkah Membuat Peta Konsep
Langkah yang harus dipersiapkan pertama kali adalah siapkan selembar kertas kosong dengan alat tulis berwarna-warni dan yang terpenting adalah BAWA IMAJINASIMU!!!!
Setelah itu kita akan melakukan langkah berikutnya :
Gunakan kertas dengan horizontal sehingga kalian bisa memiliki ruang lebih luas untuk menulis dan menggambar.
Menulis gagasan utama di tengah-tengah kertas kosong dengan huruf kapital. Hal ini akan memudahkan kita untuk menulis dan menggambar ke segala arah.
Berikan simbol ide utama dengan gambar, bentuk dan warna sehingga menarik untuk dilihat.
Lalu tarik garis melengkung (lurus membuat kita bosan melihatnya) keluar dari pusatnya untuk menuliskan cabang gagasan. Jumlahnya sangat tergantung pada bagian, segmen atau bagian dari ide utama. Buatlah dengan warna yang berbeda untuk setiap cabang sehingga memudahkan kalian untuk membedakan antar cabang gagasan.
Tulis kata atau frase kunci untuk setiap cabang gagasan. Berikan simbol dan warna yang paling mudah kita buat dan ingat. Yang dimaksud dengan kata kunci adalah kata yang dapat menyimpulkan dan menyampaikan inti sebuah gagasan.

Cukup? Eit…tunggu dulu, supaya maksimal peta pikiran kita, alangkah lebih baiknya kalian memperhatikan beberapa hal berikut :
1. Tulis dengan huruf KAPITAL/BESAR sehingga menarik perhatian.
2. Tulislah gagasan dan kata kunci dengan huruf yang lebih besar dan menonjol sehingga memudahkan kalian untuk melihatnya dalam waktu sekilas.
3. Garis bawahi dan gunakan huruf tebal untuk semakin memperjelasnya.
4. Kreatif dan gunakan imajinasimu dengan bebas dan jangan takut dengan hal-hal diluar kebiasaan.
5. Gunakan warna yang berbeda untuk setiap gagasan utama dan cabang.
6. Gunakan asosiasi atau persamaan dengan menggambarkan panah antara cabang melengkung.
7. Buat dan kembangkan beberapa simbol untuk menggantikan kata yang sering dan umum dipergunakan, Atau 8. Bila perlu nomori setiap cabang untuk menentukan urutan kronologis catatan.
9. Kreatif,kreatif dan kreatif!

D. Kiat Tambahan
Nah…kalau kalian sekarang telah memahami bagaimana membuat Peta Pikiran, sekarang kita akan membahas beberapa kiat tambahan yang dapat sedikit membuat kalian merasa senang membuat peta pikiran itu.
1. Kalau kalian akan membuat Peta Pikiran dari sebuah buku maka kalian lebih baik kalau membacanya terlebih dahulu sepintas. Dengan demikian kalian akan menemukan arah, gagasan utama dan bagian-bagian dari buku tersebut. Hal ini akan semakin mempermudah kalian untuk membayangkan Peta Pikiran yang akan kalian buat.
2. Kalau kalian akan membuat agenda kegiatan maka kalian dapat membuat gagasan utamanya dengan tulisan “AGENDAKU MINGGU INI” lalu membuat cabang sebanyak 7 garis lengkung dan menuliskan kata kunci untuk setiap hari. Tambahkan waktu, orang dan jenis kegiatan yang akan kalian lakukan. Berikan tanda panah untuk beberapa kegiatan yang merupakan prioritas.
3. Nah, kalau kalian mengikuti ceramah atau penjelasan guru alangkah lebih baiknya selalu waspada dan berhati-hati dalam membuat garis lengkung atau garis cabang, karena biasanya selalu ada tambahan wawasan, humor, ide atau pengulangan materi untuk materi yang terlupakan.
4. Lalu tidak salah kalau kalian kemudian mengulanginya kembali di rumah dalam bentuk Peta Pikiran yang jauh lebih baik dan lebih rapi. Selain akan membuat kalian kreatif, senang melihat dan membacanya juga akan menambahkan daya ingat kalian terhadap materi tersebut.

E. Kiat Praktis Dalam Mencatat
Kiat tambahan dalam mencatat memang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan Peta Konsep, bahkan dengan metode apapun, catatan kalian dapat lebih baik bila kalian melakukan beberapa hal berikut :
1. Mendengarkan dengan aktif
Bertanyalah,”apa manfaat materi yang disampaikan ini bagiku”. Dengan demikian kalian akan menemukan materi penting dalam mencatat sehingga itu akan menjadi kata kunci dalam memahami materi dan kaitannya dengan kehidupan kalian sehari-hari.
2. Memperhatikan dengan aktif
Tidak hanya pada materi dan keterkaitan materi ini dengan materi lainnya, namun juga kalian dapat memperhatikan gerak, mulut, gerakan tubuh, ekspresi dan nada suara guru atau pembicara.
3. Partisipasi
Dengan mendengar dan memperhatikan dengan aktidf kalian akan segera tahu materi yang tidak dimengerti. Lalu…bertanyalah secara aktif. Jangan malu dianggap mencari perhatian atau terlalu serius.
4. Melakukan tinjauan awal
Alangkah sangat baik bila sebelum akan mendengarkan penjelasan dari pembicara atau guru, kalian telah menyempatkan waktu untuk mempelajari materi tersebut terlebih dahulu. Guru dan kalian terkadang wawasannya hanya berbeda satu malam.
5. Buatlah “yang terdengar” menjadi “yang terlihat”
Perhatikan catatan kalian, lalu ambil gambar atau simbol yang akan mempermudah kalian mengingatnya. Anggaplah kalian tengah berfungsi menjadi kamera kata menjadi gambar.
6. Menjadikan pengulangan lebih mudah
Setelah selesai maka cobalah memindahkannya ke dalam kartu berukuran 3 x 5 yang dapat dibawa kemana-mana. Baca disaat kamu sedang tidak melakukan apa-apa atau sedang luang karena lama menunggu seseorang. Bermanfaat bukan?

F. Manfaat Catatan Peta Pikiran
“aku ngga biasa nih, gimana…?”
Caranya? Ya biasakan…dan lihat hasilnya! Jangan memberikan dulu kesimpulan dan penilaian bahwa tulisan kalian itu gagal atau berhasil dengan dua kali percobaan. Ini memang tidak biasa dan seringkali kita agak sulit merubah kebiasaan lama dengan yang baru apalagi catatan metode Peta Pikiran ini menuntut kalian memaksimalkan kemampuan kalian baik kemampuan membuat kesimpulan, kreatif, menggambar dan menyusun.
Tapi itu akan hilang seiring kebiasaan baru itu. Dan kamu akan tahu beberapa manfaat dari catatan metode Peta Pikiran ini, diantaranya :
Fleksibel, kamu jadi tidak perlu mengingat setiap kata yang keluar dari mulut guru khan? Kalian akan lebih fokus pada gagasan utama.
Memusatkan perhatian, bila kita jenud atau bosan maka otak kita akan terus “berpetualang” ke alam lain. Nah dengan mencatat metode Peta Pikiran ini kalian akan lebih fokus dan menyenangi gerakan dan aktivitas kalian sendiri tanpa kehilangan materi yang disampaikan.
Meningkatkan pemahaman bila kalian mengulang, memperbaiki dan menambah catatan tersebut sehingga menjadi lebih baik. Asyik dan mengerti!
Menyenangkan karena memberikan keleluasaan kepada kalian untuk memberikan warna, simbol atau peninjauan kembali.
Nah setelah tahu apa dan bagaimana kita membuat Peta Pikiran, sekarang tugas kalian adalah belajar membuatnya dan membiasakannya. Alah bisa karena biasa. Dan kalau kalian mendapatkan kesulitan, tidak ada salahnya kalian bertanya pada orang tua atau guru yang telah lebih dahulu mengetahuinya. OKSSSS?
Menyadur, menyimpulkan dan menambahkan dari buku :
Quantum Learning (Bobbi DePorter and Mike Hernacki). Kaifa.1992 dan Quantum Teaching (Bobbi DePorter, Mark Reardon and Sarah Singer-Nouri). Kaifa.2000
Imam Wibawa Mukti,S.Pd
Guru Taruna Bakti Bandung
e-mail : imamwibawamukti@yahoo.co.id
Blog : cogitoergowibisum.blogspot.com


TUGAS MEMBUAT MIND MAPPING

Setelah membaca tentang mind mapping diatas, sekarang kalian mendapatkan tugas membuat maind mapping untuk mata pelajaran ekonomi. Beberapa aturan ini harap diperhatikan, diantaranya :
1. Materi dan tugas di photocopy secara individual (bisa kolektif oleh KM)
2. Materi yang dibuat dalam mind mapping adalah seluruh materi EKONOMI
3. Semua materi harus dapat dipetakan dalam satu lembar kertas HVS ukuran Polio (legal)
4. Materi yang diterangkan dalam buku atau dikelas harus mampu di petakan secara utuh.
5. Ikuti petunjuk membuat mind mapping dan kerjakan dengan penuh imajinasi dan daya kreatif yang tinggi
6. Mind mapping dikumpulkan hari Kamis, 4 Desember 2008
7. Mind mapping yang terkumpul di satukan oleh KM dan kemudian dijilid menjadi satu eksemplar dengan memberikan cover.
8. Siswa yang terlambat mengumpulkan akan mendapatkan pengurangan nilai



Imam Wibawa Mukti,S.Pd
Guru Taruna Bakti Bandung
e-mail : imamwibawamukti@yahoo.co.id
Blog : cogitoergowibisum.blogspot.com

Selengkapnya...

TUGAS IPS “MIND MAPPING”

TUGAS MEMBUAT MIND MAPPING Setelah membaca tentang mind mapping diatas, sekarang kalian mendapatkan tugas membuat maind mapping untuk mata pelajaran ekonomi. Beberapa aturan ini harap diperhatikan, diantaranya :

1. Materi dan tugas di photocopy secara individual (bisa kolektif oleh KM)

2. Materi yang dibuat dalam mind mapping adalah seluruh materi EKONOMI

3. Semua materi harus dapat dipetakan dalam satu lembar kertas HVS ukuran Polio (legal)

4. Materi yang diterangkan dalam buku atau dikelas harus mampu di petakan secara utuh.

5. Ikuti petunjuk membuat mind mapping dan kerjakan dengan penuh imajinasi dan daya kreatif yang tinggi

6. Mind mapping dikumpulkan hari Kamis, 4 Desember 2008

7. Mind mapping yang terkumpul di satukan oleh KM dan kemudian dijilid menjadi satu eksemplar dengan memberikan cover.

8. Siswa yang terlambat mengumpulkan akan mendapatkan pengurangan nilai

A. Mengapa Harus Mencatat ?
Sejarah manusia dimulai dengan suatu keterampilan yang tidak mungkin bisa ditiru oleh makhluk apapun di muka bumi ini. Mencatat!
Mencatat adalah satu kemampuan terpenting yang pernah dipelajari manusia. Bagi siswa, ini berarti mendapatkan nilai yang baik. Bagi orang yang bergerak di bidang bisnis, ini berarti adalah selalu dapat menepati janji, proyek dan pertemuan dengan tepat. Bagi guru ini berarti berhubungan dengan kemampuan menyampaikan materi dan penambahan wawasan baru.
Selama ini kita selalu terpaku dengan bentuk catata outline yang kaku dan berderet ke bawah dengan susunan sistematis. Masalahnya adalah sering kali kita menemukan guru atau pembicara memaparkan materinya secara loncat dan berputar sehingga kita menemukan kesulitan untuk meruntutnya secara sistematis. Membosankan!
Dan yang jelas adalah, catatan outline yang selama ini kita pergunakan sama sekali tidak sama dengan kerja otak manusia!!
Mencatat bukan kegiatan sesaat untuk kemudian dilupakan! Mencatat adalah mendapatkan point kunci dan hubungannya dengan materi lainnya untuk memahami suatu konsep utama.
Hingga saat ini orang menganggap bahwa kerja otak itu linier, teratur dan rapi. Hal ini disebabkan oleh karena media komunikasi kita, yaitu lisan dan tulisan yang memang menuntut kemampuan kita dalam menguraikan segala sesuatu secara linier, runut dan rapi. Padahal ternyata, temuan para ahli mengungkapkan bahwa lisan dan tulisan adalah “hasil” bukan “proses” komunikasi.
Pada proses terjadinya komunikasi, sebenarnya otak manusia bekerja secara acak. Otak kita mencari, memilah, memilih dan merumuskan, mengatur, menghubungkan dan menjadikannya sebuah gagasan yang kemudian kita hasilkan dalam bentuk lisan atau tulisan.
Hal itu terjadi tidak hanya pada komunikator tapi juga pada komunikan. Yang mendengarkan akan menangkap setiap kata demi kata, mengumpulkannya dan menghubungkannya menjadi sebuah informasi yang layak untuk didengarkan.
Lantas catatan seperti apa yang dapat memaksimalkan kemampuan kita dalam menerima informasi kemudian memanfaatkannya kembali baik untuk diingat, disimpan dan dijadikan “artefak” budaya kita?

B. Teknik Mencatat Tingkat Tinggi
Bayangkan sebuah benda, misalnya mobil, lalu tutuplah mata kalian dan bayangkan keberadaan mobil itu dalam benak kalian beberapa saat. Buka mata dan ceritakan apa yang kalian bayangkan tadi? Sebuah gambaran mobil dengan warna dan bentuk tertentu terletak di tengah-tengah pikiran kita bukan? Otak kita bekerja untuk mengingat informasi dalam bentuk gambar, simbol, suara, dan perasaan. Bahkan ketika kita mendatangi rumah teman yang belum pernah kita datangi, akan terasa lebih mudah melihatnya dalam bentuk gambar atau peta dengan warna atau simbol tertentu dibandingkan dengan membacanya seperti karangan puisi atau artikel bukan?
Catatan yang berkembang saat ini dipopulerkan oleh Tony Buzan sekitar tahun 1970-an berdasarkan riset dan penelitian tentang tata cara kerja otak kita.
Catatan itu di kenal dengan peta konsep atau “Mind Mapping”.

C. Langkah-langkah Membuat Peta Konsep
Langkah yang harus dipersiapkan pertama kali adalah siapkan selembar kertas kosong dengan alat tulis berwarna-warni dan yang terpenting adalah BAWA IMAJINASIMU!!!!
Setelah itu kita akan melakukan langkah berikutnya :
Gunakan kertas dengan horizontal sehingga kalian bisa memiliki ruang lebih luas untuk menulis dan menggambar.
Menulis gagasan utama di tengah-tengah kertas kosong dengan huruf kapital. Hal ini akan memudahkan kita untuk menulis dan menggambar ke segala arah.
Berikan simbol ide utama dengan gambar, bentuk dan warna sehingga menarik untuk dilihat.
Lalu tarik garis melengkung (lurus membuat kita bosan melihatnya) keluar dari pusatnya untuk menuliskan cabang gagasan. Jumlahnya sangat tergantung pada bagian, segmen atau bagian dari ide utama. Buatlah dengan warna yang berbeda untuk setiap cabang sehingga memudahkan kalian untuk membedakan antar cabang gagasan.
Tulis kata atau frase kunci untuk setiap cabang gagasan. Berikan simbol dan warna yang paling mudah kita buat dan ingat. Yang dimaksud dengan kata kunci adalah kata yang dapat menyimpulkan dan menyampaikan inti sebuah gagasan.

Cukup? Eit…tunggu dulu, supaya maksimal peta pikiran kita, alangkah lebih baiknya kalian memperhatikan beberapa hal berikut :
1. Tulis dengan huruf KAPITAL/BESAR sehingga menarik perhatian.
2. Tulislah gagasan dan kata kunci dengan huruf yang lebih besar dan menonjol sehingga memudahkan kalian untuk melihatnya dalam waktu sekilas.
3. Garis bawahi dan gunakan huruf tebal untuk semakin memperjelasnya.
4. Kreatif dan gunakan imajinasimu dengan bebas dan jangan takut dengan hal-hal diluar kebiasaan.
5. Gunakan warna yang berbeda untuk setiap gagasan utama dan cabang.
6. Gunakan asosiasi atau persamaan dengan menggambarkan panah antara cabang melengkung.
7. Buat dan kembangkan beberapa simbol untuk menggantikan kata yang sering dan umum dipergunakan, Atau 8. Bila perlu nomori setiap cabang untuk menentukan urutan kronologis catatan.
9. Kreatif,kreatif dan kreatif!

D. Kiat Tambahan
Nah…kalau kalian sekarang telah memahami bagaimana membuat Peta Pikiran, sekarang kita akan membahas beberapa kiat tambahan yang dapat sedikit membuat kalian merasa senang membuat peta pikiran itu.
1. Kalau kalian akan membuat Peta Pikiran dari sebuah buku maka kalian lebih baik kalau membacanya terlebih dahulu sepintas. Dengan demikian kalian akan menemukan arah, gagasan utama dan bagian-bagian dari buku tersebut. Hal ini akan semakin mempermudah kalian untuk membayangkan Peta Pikiran yang akan kalian buat.
2. Kalau kalian akan membuat agenda kegiatan maka kalian dapat membuat gagasan utamanya dengan tulisan “AGENDAKU MINGGU INI” lalu membuat cabang sebanyak 7 garis lengkung dan menuliskan kata kunci untuk setiap hari. Tambahkan waktu, orang dan jenis kegiatan yang akan kalian lakukan. Berikan tanda panah untuk beberapa kegiatan yang merupakan prioritas.
3. Nah, kalau kalian mengikuti ceramah atau penjelasan guru alangkah lebih baiknya selalu waspada dan berhati-hati dalam membuat garis lengkung atau garis cabang, karena biasanya selalu ada tambahan wawasan, humor, ide atau pengulangan materi untuk materi yang terlupakan.
4. Lalu tidak salah kalau kalian kemudian mengulanginya kembali di rumah dalam bentuk Peta Pikiran yang jauh lebih baik dan lebih rapi. Selain akan membuat kalian kreatif, senang melihat dan membacanya juga akan menambahkan daya ingat kalian terhadap materi tersebut.

E. Kiat Praktis Dalam Mencatat
Kiat tambahan dalam mencatat memang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan Peta Konsep, bahkan dengan metode apapun, catatan kalian dapat lebih baik bila kalian melakukan beberapa hal berikut :
1. Mendengarkan dengan aktif
Bertanyalah,”apa manfaat materi yang disampaikan ini bagiku”. Dengan demikian kalian akan menemukan materi penting dalam mencatat sehingga itu akan menjadi kata kunci dalam memahami materi dan kaitannya dengan kehidupan kalian sehari-hari.
2. Memperhatikan dengan aktif
Tidak hanya pada materi dan keterkaitan materi ini dengan materi lainnya, namun juga kalian dapat memperhatikan gerak, mulut, gerakan tubuh, ekspresi dan nada suara guru atau pembicara.
3. Partisipasi
Dengan mendengar dan memperhatikan dengan aktidf kalian akan segera tahu materi yang tidak dimengerti. Lalu…bertanyalah secara aktif. Jangan malu dianggap mencari perhatian atau terlalu serius.
4. Melakukan tinjauan awal
Alangkah sangat baik bila sebelum akan mendengarkan penjelasan dari pembicara atau guru, kalian telah menyempatkan waktu untuk mempelajari materi tersebut terlebih dahulu. Guru dan kalian terkadang wawasannya hanya berbeda satu malam.
5. Buatlah “yang terdengar” menjadi “yang terlihat”
Perhatikan catatan kalian, lalu ambil gambar atau simbol yang akan mempermudah kalian mengingatnya. Anggaplah kalian tengah berfungsi menjadi kamera kata menjadi gambar.
6. Menjadikan pengulangan lebih mudah
Setelah selesai maka cobalah memindahkannya ke dalam kartu berukuran 3 x 5 yang dapat dibawa kemana-mana. Baca disaat kamu sedang tidak melakukan apa-apa atau sedang luang karena lama menunggu seseorang. Bermanfaat bukan?

F. Manfaat Catatan Peta Pikiran
“aku ngga biasa nih, gimana…?”
Caranya? Ya biasakan…dan lihat hasilnya! Jangan memberikan dulu kesimpulan dan penilaian bahwa tulisan kalian itu gagal atau berhasil dengan dua kali percobaan. Ini memang tidak biasa dan seringkali kita agak sulit merubah kebiasaan lama dengan yang baru apalagi catatan metode Peta Pikiran ini menuntut kalian memaksimalkan kemampuan kalian baik kemampuan membuat kesimpulan, kreatif, menggambar dan menyusun.
Tapi itu akan hilang seiring kebiasaan baru itu. Dan kamu akan tahu beberapa manfaat dari catatan metode Peta Pikiran ini, diantaranya :
Fleksibel, kamu jadi tidak perlu mengingat setiap kata yang keluar dari mulut guru khan? Kalian akan lebih fokus pada gagasan utama.
Memusatkan perhatian, bila kita jenud atau bosan maka otak kita akan terus “berpetualang” ke alam lain. Nah dengan mencatat metode Peta Pikiran ini kalian akan lebih fokus dan menyenangi gerakan dan aktivitas kalian sendiri tanpa kehilangan materi yang disampaikan.
Meningkatkan pemahaman bila kalian mengulang, memperbaiki dan menambah catatan tersebut sehingga menjadi lebih baik. Asyik dan mengerti!
Menyenangkan karena memberikan keleluasaan kepada kalian untuk memberikan warna, simbol atau peninjauan kembali.
Nah setelah tahu apa dan bagaimana kita membuat Peta Pikiran, sekarang tugas kalian adalah belajar membuatnya dan membiasakannya. Alah bisa karena biasa. Dan kalau kalian mendapatkan kesulitan, tidak ada salahnya kalian bertanya pada orang tua atau guru yang telah lebih dahulu mengetahuinya. OKSSSS?
Menyadur, menyimpulkan dan menambahkan dari buku :
Quantum Learning (Bobbi DePorter and Mike Hernacki). Kaifa.1992 dan Quantum Teaching (Bobbi DePorter, Mark Reardon and Sarah Singer-Nouri). Kaifa.2000
Imam Wibawa Mukti,S.Pd
Guru Taruna Bakti Bandung
e-mail : imamwibawamukti@yahoo.co.id
Blog : cogitoergowibisum.blogspot.com



Imam Wibawa Mukti,S.Pd
Guru Taruna Bakti Bandung
e-mail : imamwibawamukti@yahoo.co.id
Blog : cogitoergowibisum.blogspot.com

Selengkapnya...