Kamis, 13 Mei 2010

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF

(Tinjauan Deskriptif Pelaksanaan Pendidikan Inklusif di Beberapa Sekolah di Kota Bandung)


PENDAHULUAN
Pendidikan inklusif menjadi wacana yang marak didiskusikan akhir-akhir ini. Hal itu terjadi karena telah munculnya kesadaran dari pihak pemerintah untuk seluas-luasnya memberikan kesempatan dan layanan pendidikan kepada seluruh warga negara tanpa ada pemisahan dan perbedaan yang disebabkan oleh hal-hal yang tidak prinsipil. Apalagi hak mendapatkan layanan pendidikan yang layak tidak saja merupakan hak namun juga dilindungi oleh Undang-Undang Dasar BAB XIII tentang PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Pasal 31 yang berisi :(1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
Pendidikan inklusif merupakan sebuah pendidikan yang memberikan kesempatan dan layanan yang sama kepada seluruh peserta didik, khususnya siswa berkebutuhan khusus untuk belajar yang sama dengan teman sebaya di kelas reguler. Hal ini bertujuan untuk menjadikan pendidikan sebagai sebuah wahana sosialisasi bagi siswa berkebutuhan khusus untuk dapat hidup secara wajar dan mendapatkan perlakukan yang sama dengan siswa-siswa lainnya.
Selama ini, siswa yang memiliki kebutuhan khusus dilayani oleh sekolah khusus yang memberikan layanan sesuai dengan kebutuhan khusus-nya. Mereka diisolir dan belajar hanya dengan siswa yang memiliki kebutuhan yang sama. Hal ini menyebabkan siswa yang berkebutuhan khusus hanya mengenal dunianya sendiri tanpa ada proses pembelajaran untuk hidup bersama orang yang tidak berkebutuhan khusus. Hal ini pada akhirnya akan berdampak pada kemampuan sosial dari siswa yang berkebutuhan khusus ketika mereka harus menjalani kehidupan bersama masyarakat lainnya. Ketergantungan terhadap fasilitator maupun fasilitas yang biasa mereka temui di sekolah akan mempersulit kemampuan mereka untuk menyesuaikan diri dengan lingungan sekitar.
Namun dalam kenyataannya, sekolah masih belum banyak yang berani memberikan layanan pendidikan inklusif. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:
1. Kekurangpahaman tentang hakekat dari pendidikan inklusif.
2. Kurangnya sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan dan wawasan seputar layanan pendidikan inklusif.
3. Kurangnya sarana prasarana bagi pelayanan terhadap siswa yang berkebutuhan khusus.
Untuk itu maka diperlukan langkah-langkah kongkret dari sekolah dan pemerintah untuk menyamakan persepsi, langkah dan strategi bagi pelaksanaan pendidikan inklusif di Indonesia, khususnya di Kota Bandung. Dengan demikian maka pelaksanaan pendidikan inklusif bisa diterapkan oleh semua sekolah dengan disesuaikan kemampuan sekolah masing-masing.
Tulisan ini pun bertujuan untuk menggali berbagai pelaksanaan pendidikan inklusi dari sekolah-sekolah yang telah melaksanakan pendidikan inklusi dalam berbagai bentuk dan metode. Dengan tulisan ini pula kita berharap bisa berbagi pengalaman tentang apa itu pendidikan inklusif, bagaimana penerapannya dan apa saja kendala yang dihadapi oleh sekolah dalam melaksanakan dan solusi untuk mengatasinya.

LANDASAN TEORI
1. Pengertian pendidikan inklusif
Pendidikan inklusif adalah sebuah sistem layanan pendidikan yang mengikut-sertakan anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan anak sebayanya di sekolah reguler yang terdekat dengan tempat tinggalnya. Penyelenggaraan pendidikan inklusif menuntut pihak sekolah melakukan penyesuaian baik dari segi kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, maupun sistem pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu peserta didik.
"Indonesia adalah laboratorium terbesar dan paling menarik untuk menghadapi permasalahan dan tantangan pendidikan inklusif, karena inilah negara kepulauan yang terbesar di dunia dengan jumlah pulau lebih dari 17.000. Pendidikan inklusif bukan hanya ditujukan untuk anak-anak cacat atau luar biasa, tetapi juga bagi anak-anak yang menjadi korban HIV/AIDS, anak-anak yang berada di lapisan strata sosial ekonomi yang paling bawah, anak-anak jalanan, anak-anak di daerah perbatasan dan di pulau terpencil, serta anak-anak korban bencana alam. "Anak-anak ini yang harus dilayani dengan Pendidikan Layanan Khusus (PLK)". (Bambang Soedibyo, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo dalam Konferensi Asia Pasifik Pendidikan Inklusif di Bali).

2. Landasan Dari Pendidikan Inklusif
a. Landasan filosofis
Landasan filosofis utama penerapan pendidikan inklusif di Indonesia adalah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang didirikan atas fondasi yang lebih mendasar lagi, yang disebut Bhineka Tunggal Ika (Mulyono Abdulrahman, 2003). Filsafat ini sebagai wujud pengakuan kebinekaan manusia, baik kebinekaan vertical maupun horizontal, yang mengemban misi tunggal sebagai umat Tuhan di bumi. Kebinekaan vertical ditandai dengan perbedaan kecerdasan, kekuatan fisik, kemampuan finansial, kepangkatan, kemampuan pengendalian diri, dsb. Sedangkan kebinekaan horizontal diwarnai dengan perbedaan suku bangsa, ras, bahasa, budaya, agama, tempat tinggal, daerah, afiliasi politik, dsb. Karena berbagai keberagaman namun dengan kesamaan misi yang diemban di bumi ini, misi, menjadi kewajuban untuk membangun kebersamaan dan interaksi dilandasi dengan saling membutuhkan.
b. Landasan Yuridis formal
1. Konvensi PBB tentang Hak anak tahun 1989.
2. Deklarasi Pendidikan untuk Semua di Thailand tahun 1990.
3. Kesepakatan Salamanka tentang Pendidikan inklusi tahun 1994.
4. UU No. 4 tentang Penyandang Cacat tahun 1997.
5. UU No. 23 tentang Perlindungan Hak Anak tahun 2003.
6. PP No. 19 tentang Standar Pendidikan Nasional tahun 2004.
7. Deklarasi Bandung tentang Menuju Pendidikan Inklusi tahun 2004.
c. Landasan pedagogis
Pada pasal 3 Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003, disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, nerilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab.Jadi, melalui pendidikan, peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab, yaitu individu yang mampu menghargai perbedaan dan berpartisipasi dalam masyarakat. Tujuan ini mustahil tercapai jika sejak awal mereka diisolasikan dari teman sebayanya di sekolah-sekolah khusus. Betapapun kecilnya, mereka harus diberi kesempatan bersama teman sebayanya.
d. Landasan empiris
Penelitian tentang inklusi telah banyak dilakukan di negara-negara barat sejak 1980-an, namun penelitian yang berskala besar dipelopori oleh the National Academy of Sciences (Amerika Serikat). Hasilnya menunjukkan bahwa klasifikasi dan penempatan anak berkelainan di sekolah, kelas atau tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif. Layanan ini merekomendasikan agar pendidikan khusus secara segregatif hanya diberikan terbatas berdasarkan hasil identifikasi yang tepat (Heller, Holtzman & Messick, 1982). Beberapa pakar bahkan mengemukakan bahwa sangat sulit untuk melakukan identifikasi dan penempatan anak berkelainan secara tepat, karena karakteristik mereka yang sangat heterogen (Baker, Wang, dan Walberg, 1994/1995).
Beberapa peneliti kemudian melakukan metaanalisis (analisis lanjut) atas hasil banyak penelitian sejenis. Hasil analisis yang dilakukan oleh Carlberg dan Kavale (1980) terhadap 50 buah penelitian, Wang dan Baker (1985/1986) terhadap 11 buah penelitian, dan Baker (1994) terhadap 13 buah penelitian menunjukkan bahwa pendidikan inklusif berdampak positif, baik terhadap perkembangan akademik maupun sosial anak berkelainan dan teman sebayanya.
3. Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus
Pengelompokan anak berkebutuhan khusus dan jenis pelayanannya, sesuai dengan Program Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Tahun 2006 dan Pembinaan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Pendidikan adalah sebagai berikut :
1. Tuna Netra
2. Tuna Rungu
3. Tuna Grahita: (a.l. Down Syndrome)
4. Tuna Grahita Ringan (IQ = 50-70)
5. Tuna Grahita Sedang (IQ = 25-50)
6. Tuna Grahita Berat (IQ 125 )
7. Talented : Potensi bakat istimewa (Multiple Intelligences : Language, Logico mathematic, Visuo-spatial, Bodily-kinesthetic, Musical, Interpersonal, Intrapersonal, Natural, Spiritual).
Kesulitan Belajar (a.l. Hyperaktif, ADD/ADHD, Dyslexia/Baca, Dysgraphia/Tulis, Dyscalculia/Hitung, Dysphasia/Bicara, Dyspraxia/ Motorik)
8. Lambat Belajar ( IQ = 70 –90 )
9. Autis
10. Korban Penyalahgunaan Narkoba
11. Indigo

4. Jenis Layanan Pendidikan
1. Pendidikan Khusus
Sekolah khusus untuk anak-anak :
a. Penyandang Cacat : (d/h TKLB, SDLB, SMPLB, SMLB)
b. Berkecerdasan Istimewa (e.g : Program “Aksel”)
c. Berbakat Istimewa
2. Pendidikan Layanan Khusus
Sekolah layanan khusus untuk anak-anak :
a. Pada daerah terbelakang/terpencil/pulau-pulau kecil/ pedalaman
b. Masyarakat etnis minoritas terpencil
c. Pekerja anak, pelacur anak/trafficking, lapas anak, anak jalanan
d. Pengungsi anak (gempa, bencana, konflik)
e. Anak TKI, Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN)
3. Pendidikan Inklusif
a. Sekolah Biasa/Sekolah Umum, yang mengakomodasi semua Anak Berkebutuhan Khusus
b. SLB/Sekolah Luar Biasa/Sekolah Khusus yang mengakomodasi anak normal
c. Sekolah Inklusif adalah Sekolah yang terpilih melalui seleksi dan memiliki kesiapan baik Kepala Sekolah, Guru, Orang Tua, Peserta Didik, Tenaga Administrasi dan Lingkungan Sekolah/Masyarakat.
Selengkapnya...

Rabu, 12 Mei 2010

MENYUSUN MATERI DAN STRATEGI INSTRUKSIONAL UNTUK PROGRAM AKSELERASI (bAGIAN1)

   Untuk melayani siswa yang memiliki keunggulan dalam bidang akademis, beberapa sekolah memberikan layanan berupa pembentukan kelas unggulan. Kelas unggulan adalah kelas yang diisi oleh siswa dengan nilai akademis yang lebih unggul dibanding dengan rata-rata siswa lainnya. Lalu dengan memberikan layanan berupa fasilitas yang lebih lengkap, guru yang lebih berpengalaman dan pencitraan yang baik, maka kelas tersebut akan menghasilkan nilai akademis yang lebih baik ketimbang kelas-kelas lainnya.
   Keberadaan kelas unggulan tidak terlepas dari munculnya gagasan sekolah unggulan yang dilontarkan oleh Menhankam Jendral Benny Murdani pada tahun 1989 sebagai jawaban atas keprihatinannya atas krisis yang melanda bangsa Indonesia khususnya di dunia pendidikan. Beliau akhirnya mendirikan sekolah yang memberikan layanan pendidikan untuk menggembleng penerus bangsa dari aspek kepemimpinan. Wujud gagasan ini dibuktikan dengan lahirnya SMU Taruna Nusantara di Magelang dengan menitikberatkan pada pengembangan ppotensi pribadi secara optimal.
   Namun tujuan awal penyelenggaraan kelas atau sekolah unggulan mengalami pergeseran makna. Tujuan awal kelas unggulan sebagai bentuk layanan untuk siswa yang memiliki keunggulan akademis dengan menciptakan suasana yang mendukung bagi perkembangan potensi siswa, berubah menjadi kelas dengan FASILITAS unggulan. Kelas yang lebih baik, memiliki AC, bangku yang baru dan media pembelajaran yang lebih lengkap menghiasi kelas unggulan.

   Namun fasilitas itu bukan tanpa biaya. Dibeberapa sekolah, kelas unggulan menjadi media pemerasan sekolah kepada peserta didik untuk membayar biaya pendidikan lebih mahal dengan alasan untuk fasilitas dan gaji guru yang lebih besar. Namun hal tersebut tidak diikuti dengan pemahaman makna dan hakekat dari keberadaan kelas unggulan tersebut, sehingga pada akhirnya tujuan pengembangan potensi sebagai bentuk layanan terhadap anak cerdas tidak maksimal dan semakin berkurangnya animo masyarakat terhadap promosi sekolah tentang kelas unggulan.
    Pada tahun 1997, terdapat 25% siswa kelas unggulan memiliki taraf kecerdasan dibawah rata-rata sementara yang memenuhi syarat (memiliki kecerdasan istimewa) hanya 9.8%. Sisanya adalah siswa yang memiliki kecerdasan rata-rata. Fakta ini membuktikan bahwa banyak terjadi penyalahgunaan hakekat sekolah atau kelas unggulan, sehingga belum bisa mengakomodir pendidikan untuk anak cerdas istimewa.
    Kekurangan lainnya adalah dalam memperlakukan kurikulum yang ada. Kurikulum nasional sebagai standar minimal yang harus dicapai peserta didik diperlakukan sama antara kelas unggulan dengan kelas reguler. Perlakuan yang sama tersebut pada akhirnya tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi kemampuannya secara maksimal.
    Untuk itu maka, selain membenahi pemahaman pelaku pendidikan akan hakekat kelas atau sekolah unggulan, kita juga perlu membahas tentang hal yang lebih penting dalam kegiatan proses pembelajaran untuk anak cerdas istimewa. Hal tersebut adalah dalam menyusun materi dan strategi instruksional untuk anak cerdas istimewa.
    Alasan itulah yang kemudian pemerintah menggagas dikembangkan model kelas akselerasi untuk melayani anak yang memiliki kecerdasan khusus. Dengan berbagai perbaikan, diharapkan adanya perubahan yang signifikan dalam memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan setiap karakter siswa.
    Dari berbagai faktor yang mengalami perbaikan, salah satu yang harus menjadi perhatian semua pihak khususnya guru, adalah materi dan menentukan strategi instruksional dari setiap mata pelajaran.

INDIKATOR HASIL PROSES BELAJAR UNTUK SISWA CERDAS ISTIMEWA
    Berbicara masalah silbus, materi dan tujuan instruksional, maka kita terlebih dahulu harus menyusun indikator yang ingin dicapai dalam setiap proses pembelajaran, akhir dari setiap tingkatan pendidikan maupun tujuan jangka panjang.
    Indikator yang harus dicapai siswa akan sangat berpengaruh pada pemilihan dan pemilahan materi yang akan disampaikan, metode yang akan dipergunakan dan jenis evaluasi yang akan diberikan.
Siswa berbakat berbakat memiliki tuntutan belajar yang lebih dibanding temannya di kelas reguler, karena selain memahami konsep dasar, mereka juga menuntut pembahasan lebih mendalam dan lebih kaya untuk memenuhi rasa keingintahuannya yang sangat tinggi.
    Oleh karena itu, kurikulum yang ada harus mampu diramu untuk mengantisipasi dan mengakomodir keinginan tersebut. Tidak cukup guru hanya mengandalkan kurikulum nasional yang hanya menjadi standar minimal yang harus dicapai siswa secara umum.
    Penambahan, pengayaan dan pendalaman menjadi salah satu faktor yang harus direncanakan dari awal dan tidak hanya mengalir mengikuti keingintahuan siswa. Dengan penetapan hasil yang harus dicapai oleh siswa, baik dalam jangka pendek, menengah dan panjang, guru diharapkan menyusun rencana tersebut dalam pengadministrasian yang baik sehingga dapat dijadikan acuan dalam menyusun materi, metode, strategi dan evaluasi.
    Pada umumnya masyarakat menilai keberhasilan proses pembelajaran dilihat dari nilai akademis yang diperoleh siswa diakhir pembelajaran. Seperti nilai ulangan harian, nilai raport atau Nilai HASIL UN. Hal tersebut tidaklah salah, namun karena yang ditangani adalah anak cerdas istimewa tentunya target hasil yang diharapkan harus menunjukkan sesuatu yang “lebih” dibandingkan dengan siswa lainnya. Baik itu berupa pendalaman maupun pengayaan.
    Untuk menentukan indikator keberhasilan, kita coba dengan menetapkan tujuan pendidikan secara nasional. Tujuan ini sering dilupakan sekolah karena dinilai terlalu jauh dan masih terlalu lama untuk dipikirkan. Sehingga dalam merancang materi guru lebih terfokus pada pembelajaran sesaat dan jangka pendek. Padahal guru atau sekolah harus memahami bahwa siswa yang kita didik saat ini adalah calon anggota masyarakat dimasa mendatang yang diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi pembangunan nasional.

Nilai dasar
Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat Jasmani dan Rokhani, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dan untuk mencapai itu, baik secara institusional, guru dan sekolah wajib untuk bisa merepresentasikannya ke dalam kurikulum yang dibuat kemudian diuraikan secara definitif dalam penyusunan rencana pengajaran.
Beberapa nilai yang harus ditanamkan sejak dini sebagai bekal siswa dalam menjalankan perannya dimasyarakat diantaranya adalah :
1. Kejujuran.
2. Integritas.
3. Tanggung Jawab.
4. Amanah.
5. Kerjasama
Tujuan yang bersifat penanaman nilai ini memang tidak mudah bahkanmasih ada yang menganggap bahwa karakter adalah faktor bawaan atau takdir. Tapi setidaknya, apabila guru memiliki muara tujuan nilai-nilai yang bersifat universal tadi maka akan terjewantahkan dalam pemilihan metode, cara atau strategi yang akan dipergunakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

Kompetensi dasar
Siswa cerdas jangan hanya belajar ilmu dan pengetahuan semata, tapi jauh lebih penting adalah bekal kompetensi sosial. Perhatian sekolah atau guru terhadap kompetensi mereka yang termasuk siswa cerdas istimewa menjadi penyeimbang kemampuan mereka dalam hal kompetensi akademis. Oleh karena itu selain nilai-nilai universal yang akan melandasi setiap tindakan siswa dalam berperilaku sehari-hari, guru maupun sekolah juga wajib menetapkan kompetensi umum yang harus menjadi target pembelajaran.
Seorang pakar pendidikan bernama Whetzel mengidentifikasikan lima kompetensi yang dibutuhkan seseorang di masyarakat maupun di tempat kerja. Diantaranya :
1. Kemampuan managerial, dari mulai kemampuan untuk mengidentifikasi, mengatur, merencanakan, alokasi waktu, dana dan sumber daya untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas diri.
2. Keterampilan interpersonal, yaitu keterampilan seseorang dalam memposisikan dirinya ketika hidup berdampingan dengan orang lain.
3. Intensional, yaitu kemauan dan daya gerak untuk mengubah lingkungan ke arah yang lebih baik. Kepekaan sosial akan semakin bermakna ketika seseorang mampu berbuat untuk memperbaikinya.
4. Keterampilan dalam menyikapi dan menguasai tekhnologi komunikasi dan tekhnologi. Sudah tidak ada alasan bagi sekolah untuk memperkenalkan siswanya pada tekhnologi. Berbagai dampak negatif yang bisa ditimbulkan dari kemjuan tekhnologi harus disikapi dengan memperkenalkan tekhnologi yang baik dan bisa diakses sebagai cara pengalihan keingintahuan mereka yang sangat besar.
5. Keterampilan memahami dan menjalankan sistem, melakukan evaluasi dan memperbaiki serta merancang sistem untuk bisa lebih baik.

Sikap Harus Dikembangkan
Selain kompetensi yang harus dimiliki siswa, juga perlu mulai diidentifikasi sikap-sikap yang harus terus ditumbuhkembangkan pada diri siswa. Beberapa sikap yang harus dikembangkan tersebut diantaranya ialah:
1. Percaya diri, dapat mengontrol diri dan emosi serta selalu melandasi keyakinan diri dengan sikap optimis.
2. Membiasakan siswa untuk bersikap selalu ingin tahu. Kesadaran belajar sebagai kebutuhan sepanjang hayat akan menimbulkan rasa dan motivasi diri untuk terus belajar.
3. Mudah bergaul dan memiliki kecerdasan sosial yang tinggi. Empati dan simpati sangat perlu terus ditumbuhkembangkan untuk mempersiapkan siswa agar bisa dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan melalui kecerdasan emosi yang tinggi.
4. Mampu bekerja sama.
5. Memiliki keterampilan dan memiliki seni berkomunikasi yang cerdas.

MATERI PELAJARAN ( BERSAMBUNG KE BAGIAN 2)
Selengkapnya...

Selasa, 11 Mei 2010

KECERDASAN EMOSIONAL

Dewasa ini kita dihadapkan pada masalah-masalah kehidupan yang semakin komplek. Terutama kita
yang hidup di perkotaan yang sangat rentan pada perkembangan teknologi, komunikasi dan
perkembangan sosial ekonomi. Perkembangan semua itu tidak selamanya membuat perubahan
kehidupan kita menuju ke perbaikan, hal itu tergantung pada bagaimana kita menyikapi dan
memanfaatkan perubahan tersebut bagi kehidupan kita, khususnya dalam rumah tangga kita.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perubahan yang selama ini kita rasakan, banyak yang tidak
menyadari, telah merubah pola kehidupan generasi kita menjadi pribadi yang individual, materialis dan
cenderung kapitalis dengan alasan modern. Tekanan-tekanan komulatif dari kehidupan modern telah
mendatangkan bencana-bencana berupa depresi, kecemasan, dan susah tidur, dan masih banyak lagi
masalah-masalah yang tidak begitu tampak, seperti munculnya berbagai penyakit seperti kelebihan
berat-badan, kanker dan lain-lain.

Bagaimana sikap kita dengan segala perubahan yang telah merubah generasi kita?. Keadaaan ini
sangat dimungkinkan akan berpengaruh pada pola kehidupan para generasi penerus kita, yaitu anak-
anak kita. Gejala ini sudah semakin nampak dengan maraknya perkelahian pelajar, broken home,
kurangnya rasa hormat pada orang tua dan guru, pergaulan bebas sampai menjalarnya penyakit
HIV/AIDS.

Untuk itu marilah kita tengok kembali perkembangan anak-anak kita dengan berbagai faktor yang
mempengaruhi perkembangan otak dan emosinya.

Pola asuh sejak dini sangat menentukan pembentukan kepribadian atau emosi anak-anak kita. Seperti
layaknya kita membuat sebuah tempayan, kalau kita membentuk tempayan tersebut selagi panas
maka apa yang terwujud adalah apa yang kita harapkan. Tetapi bila kita membentuk tempayan
tersebut setelah besi tersebut dingin maka akan sangat sulit dan cenderung mustahil kita akan
membuat bentuk seperti kita harapkan.

Banyak pakar ilmu sosial percaya bahwa masalah anak dewasa ini dapat dirunut ke peliknya
perubahan-perubahan pola sosial yang telah terjadi selama empat puluh tahun terakhir, termasuk
meningkatnya angka perceraian, meresapnya pengaruh negatif TV dan media, kurangnya rasa hormat
pada sekolah (dan orang tua) sebagai sumber otoritas, dan semakin sedikitnya waktu yang disediakan
oleh orang tua untuk anak-anak mereka. (Emotional Intelligence, hal. 12). Dan dapat saya tambahkan,
bahwa kita dengan kultur timur yang mempunyai budaya yang lebih dibandingkan negara barat dengan
rasa hormat dan santun pada sesama telah banyak terkikis oleh maraknya budaya barat lewat
berbagai media, mulai televisi, komputer (internet), majalah, radio dan lain-lain.

Banyak kejadian-kejadian yang sudah kita lihat selama ini seperti:
• pertengkaran antar pelajar
• depresi
• broken home
• tidak menghargai orang tua atau guru
dikalangan dunia kerja yang dapat kita lihat adalah:
• membuat keputusan yang tidak bijaksana
• kolusi
• korupsi
• dll
Membangun ketrampilan emosional anak sejak dini menjadi sangat penting kalau kita kembali akan
membuat karakter anak-anak kita menjadi baik. Mengapa penting?
Orang yang tidak sependapat meragukan perlunya mengajarkan emosi kepada anak-anak. Dan
mereka bertanya, Bukankah emosi datang secara alami pada anak-anak?. Jawabnya adalah TIDAK!.
Banyak ilmuwan percaya bahwa emosi manusiawi kita, terutama berkembang melalui mekanisme
kelangsungan hidup. Dan anak yang mempunyai kecerdasan emosional akan mendapat banyak
keuntungan pada masa mendatang dalam perjalanan hidupnya. Dan kecerdasan emosional, atau EQ
(Emotional Quotient), bukan didasarkan pada kepintaran seorang anak, melainkan pada suatu yang
dahulu disebut karakteristik pribadi atau “karakter”.(Emotional Intelligence, hal. 4).


Apakah Kecerdasan Emosional itu?

Istilah “Kecerdasan Emosional”pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey
dari Harvad University dan John Mayer dari University of New Hampshire Amerika untuk menerangkan
kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Kualitas-kualitas ini antara lain
adalah:

• Empati (kepedulian)
• Mengungkapkan dan memahami perasaaan
• Mengendalikan amarah
• Kemandirian
• Kemampuan menyesuaikan diri
• Disukai
• Kemampuan memecahkan masalah antar pribadi
• Ketekunan
• Kesetiakawanan
• Keramahan
• Sikap hormat


Penelitian-penelitian telah menunjukkan bahwa ketrampilan EQ yang sama untuk membuat anak siswa
yang bersemangat tinggi dalam belajar, atau untuk disukai oleh teman-temannya di arena bermain,
juga akan membantunya pada dua puluh tahun kemudian ketika sudah masuk ke dunia kerja atau
ketika sudah berkeluarga. (Emotional Intelligence, hal. 6).

Berbeda dengan IQ, EQ sulit untuk diukur, namun walaupun kita tidak dapat begitu saja mengukur
bakat atau sifat-sifat khas seseorang -misalnya kemarahan, percaya diri, atau sikap hormat kepada
orang lain- kita dapat mengenali sifat-sifat tersebut pada anak-anak dan sepakat bahwa sifat-sifat
tersebut mempunyai nilai penting.

Barangkali perbedaan yang paling penting untuk diketahui antar IQ dan EQ adalah, EQ tidak begitu
dipengaruhi oleh faktor keturunan, sehingga membuka kesempatan bagi orang tua dan para pendidik
untuk melanjutkan apa yang sudah disediakan oleh alam agar anak mempunyai peluang lebih besar
untuk meraih keberhasilan. (Emotional Intelligence, hal. 10). Disinilah orang tua berpeluang dan
mempunyai kesempatan yang tidak dapat diulang, untuk membentuk pribadi anak yang mempunyai
kecerdasan emosional yang baik.

Tidaklah mudah untuk membentuk pribadi dengan kecerdasan emosional yang ideal, perlu kesabaran
dan ketelitian. Usaha membentuk kecerdasan emosional ini bukanlah suatu yang harus membebani
orang tua dalam mendidik anaknya, dan tidak ada orang tua yang sempurna. Satu hal penting yang
perlu diingat adalah bahwa satu perubahan saja dapat memberikan efek yang luar biasa pada
kehidupan anak kita. Dengan kata lain, menekankan pada salah satu aspek (dalam kecerdasan
emosional) akan mendatangkan efek bola salju.

Dengan melihat kualitas-kualitas yang ditunjukkan dalam kecerdasan emosional, kita akan sepakat
bahwa karakter-karakter seperti itulah yang diharapkan oleh kita sebagai makhluk sosial dan dengan

memiliki beberapa kualitas tersebut seorang anak atau orang dewasa akan dapat menghadapi
permasalahan-permasalahan hidup yang semakin komplek dan berhubungan dengan orang lain.


Sejak Kapan Kecerdasan Emosional Perlu Ditanamkan pada Anak?

Keberhasilan kecerdasan emosional seseorang berpengaruh pada kesuksesan seseorang pada masa
mendatang, juga berpengaruh pada prestasi belajar dan bekerja. Hal tersebut sudah harus menjadi
kebiasaan sejak kecil, sehingga dapat dikatakan bahwa kecerdasan emosional sudah harus diberikan
sejak usia anak mengenal tantangan di dunia luar kehidupan dirinya, yaitu sejak balita.

Mengingat semakin meluasnya informasi penting mengenai kecerdasan emosional ini, sekarang
banyak lembaga pendidikan, khususnya prasekolah, kembali mengembangkan kurikulum yang
menyangkut kecerdasan emosional ini. Karena kecerdasan ini berpengaruh juga pada prestasi belajar
para siswa. Tetapi perlu diingat, dibandingkan pendidikan di sekolah yang hanya beberapa jam dalam
sehari, akan lebih efektif lagi bila pendidikan itu diberikan juga dirumah secara habitual (kebiasaan).

Kecedasan tersebut tidak hanya dibutuhkan di dalam proses belajar di bangku sekolah atau kehidupan
rumah tangga tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih luas sampai ke jenjang kerja.
Dan apabila kita kupas satu persatu kualitas kecerdasan emosional tersebut kita akan bisa lihat
manfaat dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

Sampai sejauh mana kecerdasan emosional mempengaruhi keberhasilan dalam setiap tahap
kehidupan sejak kecil ?… Hal itu bisa kita diskusikan selanjutnya. Dan semua itu tergantung pada kita
sebagai orang tua, apakah kita sebagai orang tua peduli pada perkembangan kecerdasan emosional
anak-anak kita.

Nuraini
Lembaga Bina Anak dan Pengembangan Masyarakat FEDUs
Selengkapnya...

Senin, 10 Mei 2010

Apa Itu Kecerdasan Emosional?

Istilah Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence) mulai populer sejak diperkenalkan secara massal pada tahun 1995 oleh Daniel Goleman lewat bukunya berjudul Emotional Intelligence – Why It Can Matter More Than IQ. Sebenarnya istilah ini sudah muncul sebelumnya dan sebagai terminologi dipakai dalam tesis doktoral Wayne Payne di tahun 1985. Untuk sejarah lebih lengkap dapat Anda baca di sini.
Apa Itu Kecerdasan Emosional?
Ada banyak perbedaan pendapat tentang apa yang dimaksud dengan kecerdasan emosional. Secara relatif bidang ini dianggap masih baru dalam Psikologi dan masih mencari bentuknya yang lebih mantap. Secara sederhana saya mencoba memahaminya sebagai:
• kemampuan mengenali emosi diri sendiri
• kemampuan mengendalikan emosi dan mengambil tindakan yang tepat
• kemampuan mengenali emosi orang lain
• kemampuan bertindak dan berinteraksi dengan orang lain
Dengan demikian orang yang cerdas secara emosional adalah orang yang memahami kondisi dirinya, emosi-emosi yang terjadi, serta mengambil tindakan yang tepat. Orang tersebut juga secara sosial mampu mengenali dan berempati terhadap apa yang terjadi pada orang lain dan menanggapinya secara proporsional.
Kecerdasan Emosional dan Realita Dunia Kerja
Dalam bukunya yang terkenal itu, Daniel Goleman menyebutkan disamping Kecerdasan Intelektual (IQ) ada kecerdasan lain yang membantu seseorang sukses yakni Kecerdasan Emosional (EQ). Bahkan secara khusus dikatakan bahwa kecerdasan emosional lebih berperan dalam kesuksesan dibandingkan kecerdasan intelektual. Klaim ini memang terkesan agak dibesarkan meskipun ada beberapa penelitian yang menunjukkan kebenaran ke arah sana. Sebuah studi bahkan menyebutkan IQ hanya berperan 4%-25% terhadap kesuksesan dalam pekerjaan. Sisanya ditentukan oleh EQ atau faktor-faktor lain di luar IQ tadi.
Jika kita melihat dunia kerja, maka kita bisa menyaksikan bahwa seseorang tidak cukup hanya pintar di bidangnya. Dunia pekerjaan penuh dengan interaksi sosial di mana orang harus cakap dalam menangani diri sendiri maupun orang lain. Orang yang cerdas secara intelektual di bidangnya akan mampu bekerja dengan baik. Namun jika ingin melejit lebih jauh dia membutuhkan dukungan rekan kerja, bawahan maupun atasannya. Di sinilah kecerdasan emosional membantu seseorang untuk mencapai keberhasilan yang lebih jauh.
Berdasarkan pengalaman saya sendiri dalam proses rekrutmen karyawan, seseorang dengan nilai IPK yang tinggi sekalipun dan datang dari Universitas favorit tidak selalu menjadi pilihan yang terbaik untuk direkrut. Ada kalanya orang yang pintar secara intelektual kurang memiliki kematangan secara sosial. Orang seperti ini bisa jadi sangat cerdas, memiliki kemampuan analisa yang kuat, serta kecepatan belajar yang tinggi. Namun jika harus bekerja sama dengan orang lain dia kesulitan. Atau jika dia harus memimpin maka akan cenderung memaksakan pendapatnya serta jika harus menjadi bawahan punya kecenderungan sulit diatur.
Orang seperti ini mungkin akan melejit jika bekerja pada bidang yang menuntut keahlian tinggi tanpa banyak ketergantungan dengan orang lain. Namun kemungkinan besar dia akan sulit bertahan pada organisasi yang membutuhkan kerja sama, saling mendukung dan menjadi sebuah “super team”, bukan “super man”.
Tentunya tidak semua orang yang cerdas secara intelektual seperti itu. Dan bukan berarti kecerdasan intelektual tidak penting. Dalam dunia kerja kecerdasan intelektual menjadi sebuah prasyarat awal yang menentukan level kemampuan minimal tertentu yang dibutuhkan. Sebagai contoh beberapa perusahaan mempersyaratkan IPK mahasiswa minimal 3.0 atau 2.75 sebagai syarat awal pendaftaran. Hal ini kurang lebih memberikan indikasi bahwa setidaknya kandidat tersebut telah belajar dengan baik di masa kuliahnya dulu.
Setelah syarat minimal tersebut terpenuhi, selanjutnya kecerdasan emosional akan lebih berperan dan dilihat lebih jauh dalam proses seleksi. Apakah dia punya pengalaman yang cukup dalam berorganisasi? Apakah calon tersebut pernah memimpin atau dipimpin? Apa yang dia lakukan ketika menghadapi situasi sulit? Bagaimana dia mengelola motivasi dan semangat ketika dalam kondisi tertekan? Dan banyak hal lagi yang akan diuji.
Dalam dunia kerja yang semakin kompetitif, kemampuan seseorang menangani beban kerja, stres, interaksi sosial, pengendalian diri, menjadi kunci penting dalam keberhasilan. Seseorang yang sukses dalam pekerjaan biasanya adalah orang yang mampu mengelola dirinya sendiri, memotivasi diri sendiri dan orang lain, dan secara sosial memiliki kemampuan dalam berinteraksi secara positif dan saling membangun satu sama lain. Dengan cara ini orang tersebut akan mampu berprestasi baik sebagai seorang individu maupun tim.
Beberapa Karakteristik Orang Yang Sukses dalam Pekerjaan
Jika kita melihat orang yang sukses dalam pekerjaan, ada beberapa karakteristik umum yang mirip satu sama lain:
• Bekerja dengan sepenuh hati dan riang
• Memiliki prestasi dalam pekerjaan sebagai individu dan tim
• Mampu mengelola konflik
• Mampu menghadapi dan menjalankan perubahan
• Memiliki empati terhadap atasan, bawahan dan rekan kerja
• Mampu membaca dan mengenali emosi diri sendiri maupun orang lain serta mengambil tindakan yang tepat dalam menanganinya
Jika kita perhatikan, maka hampir semua daftar di atas akan dimiliki oleh orang yang cerdas secara emosional. Khusus untuk item nomor dua diperlukan kecerdasan intelektual yaitu bagaimana seseorang bisa menjadi ahli di bidangnya. Memiliki pengetahuan dan skill yang mumpuni agar bisa berprestasi secara individu. Selanjutnya kecerdasan emosional akan membantunya berprestasi pula sebagai tim bersama rekan kerja, bawahan maupun atasannya.
Secara sederhana, ada dua kelompok keahlian yang dimiliki orang yang cerdas secara emosional:
1. Kemampuan Pribadi
o Pengenalan diri (Self Awareness), memahami emosi, batasan yang dapat dicapai, kemampuan, kekuatan dan kelemahan.
o Manajemen diri (Self Management), mampu mengendalikan diri menghadapi berbagai situasi
o Orientasi Tujuan (Goal Orientation), mengetahui apa yang menjadi tujuannya dan menyusun langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapainya.
2. Kemampuan Sosial
o Empati: mengenali perasaan dan emosi orang lain serta mampu menempatkan diri dalam posisi tersebut.
o Keahlian sosial (Social skills): mampu berinteraksi dengan orang lain, bekerjasama, mengelola konflik serta bersikap dengan tepat terhadap berbagai situasi perasaan dan emosi orang lain.
Melatih Kecerdasan Emosional
Sejak kecil kita telah memiliki emosi dan berinteraksi dengan emosi tersebut. Kebiasaan kita dalam menanganinya akan terus terbawa dan menjadi karakter seseorang ketika dewasa. Dengan demikian, alangkah berbahagianya seorang anak yang memiliki orangtua yang peka dan pelatih emosi yang baik. Anak seperti ini akan berlatih menangani dirinya sejak masa kecil. Untuk topik ini insya Allah akan saya posting dalam kesempatan yang akan datang.
Bagaimana jika ketika dewasa kita kurang memiliki kematangan secara emosional? Jawabannya adalah kecerdasan tersebut dapat dilatih. Cara paling awal adalah dengan mengenali emosi diri Anda ketika terjadi. Kenali apa saja yang berkecamuk dalam dada Anda dan suara-suara yang memerintahkan Anda untuk bertindak. Tahapan berikutnya adalah melakukan kontrol diri terhadap berbagai bentuk emosi yang ada. Bagaimana Anda mengendalikan diri ketika marah, tidak terpuruk ketika merasa kecewa, dapat bangkit dari kesedihan, mampu memotivasi diri dan bangkit ketika tertekan, mengatur diri dari kemalasan, menetapkan target yang menantang namun wajar, serta bisa menerima keberhasilan maupun kegagalan dengan lapang dada.
Jika hal tersebut sudah Anda kuasai, selanjutnya adalah melatih kematangan sosial. Bagaimana Anda berempati – merasakan apa yang dirasakan orang lain – sehingga bisa memberi respon yang tepat terhadap sinyal-sinyal emosi yang ditampilkan orang lain. Kematangan ini akan mudah dikembangkan jika Anda aktif terlibat dalam organisasi, bekerjasama dengan orang lain dan memiliki interaksi sosial yang intens. Latihlah kemampuan Anda dalam memimpin dan dipimpin, memotivasi orang lain, serta mengatasi dan mengelola konflik.
Bagi saya pribadi, memahami emosi sangat membantu dalam mengenali diri dalam tahap awal. Selanjutnya adalah mengenali dan mengendalikan oknum-oknum yang saling berperang dalam diri: berbagai keinginan, kesombongan, iri hati, dengki, kebencian, amarah dan sifat-sifat lainnya. Cerdas secara emosional akan membantu Anda pada tahap awal untuk mengenali diri dengan lebih baik, sekaligus bersikap positif dan melatih kematangan menghadapi kehidupan, apapun yang terjadi: susah atau senang, sukses atau gagal, mudah atau sulit.
Selamat belajar, semoga Allah membantu saya dan Anda menjadi orang yang lebih baik lagi di masa mendatang.
Anda punya pandangan lain tentang hal ini? Silakan sampaikan pendapat Anda.


Bahan Rujukan:
• Kecerdasan Emosional oleh Daniel Goleman, Gramedia Pustaka 1996. Diterjemahkan dari Daniel Goleman (1995). Emotional Intelligence. New York: Bantam Books
• Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak oleh John Gottman, Ph. D. dan Joan DeClaire, Gramedia Pustaka, 2008. Diterjemahkan dari John Gottman, Ph. D. & Joan DeClaire (1997). The Heart of Parenting.
• Wikipedia – http://en.wikipedia.org/wiki/Emotional_Intelligence
• Emotional Intelligence At Work – E-Learning Course
Selengkapnya...

KECERDASAN DITINJAU DARI PERSPEKTIF GENDER (Part 1)

Oleh : Imam Wibawa Mukti,S.Pd

Mengapa di jurusan MIPA SMA terasa sekali dominasi laki-laki sementara di jurusan humaniora atau bahasa di dominasi oleh perempuan? Mengapa di SMK yang berbau tekhnologi dan ilmu pasti, laki-lai terasa lebih banyak? Sementara di SMK yang berhubungan dengan tata boga atau keterampilan lebih banyak diikuti oleh perempuan? Atau mungkin ada sekolah yang memiliki lebih banyak pria-nya untuk kelas unggulan atau akselerasi? Benarkah jenis kelamin berpengaruh pada kecerdasan atau pada keterampilan? Atau benarkah bahwa laki-laki lebih cerdas ketimbang perempuan?
Ditengah-tengah masyarakat yang masih didominasi oleh budaya patriarki, masih banyak berkembang mitos atau anggapan yang menganggap bahwa jenis kelamin laki-laki memiliki kemampuan dan tingkat keterampilan lebih tinggi dibandingkan perempuan. Demikian pula dalam dunia pendidikan.
Dibeberapa sekolah di Indonesia, masih terasa sekali pembedaan dan pemilahan jenis keterampilan yang diberikan di sekolah dengan sudut pandang jenis kelamin. Misalnya keterampilan dibidang elektronik atau ekstrakurikuler tekhnologi informasi dan telekominasi hanya diikuti oleh siswa laki-laki sementara keterampilan memasak menjahit dan menyulam diberikan untuk siswa perempuan.
Namun benarkah jenis kelamin sangat berpengaruh pada tingkat kecerdasan siswa atau setidaknya terhadap kemampuan siswa dalam meraih prestasi di sekolah? Pertanyaan ini sangat penting untuk diketahui dan disadari oleh guru maupun orang tua sehingga kita semua dapat memperlakukan semua siswa didik dan anak secara proporsional dan pada akhirnya memberikan kemampuan pada diri siswa atau anak kita untuk menghayati perannya di dalam masyarakat sesuai dengan jenis kelaminnya masing-masing.

GENDER
Masih banyak orang yang mengartikan gender sebagai jenis kelamin. Ketika kita membicarakan gender maka seolah yang kita bicarakan adalah sebuah organ tubuh dan horman yang berhubungan dengan kelaki-lakian atau kewanitaan. Padahal gender lebih merupakan sebuah anggapan atau stereotif baik itu bersifat posititf atau negatif yang dilekatkan terhadap jenis kelamin tertentu. Padahal anggapan atau stereotif tersebut lebih disebabkan oleh budaya yang berkembang dan tumbuh di lingkungan tersebut.
Wanita itu cengeng, lemah, terlalu menuruti perasaan, bawel, cerewet, emosional atau lemah di ilmu-ilmu pasti. Sementara laki-laki memiliki sifat berani, egois, memiliki bakat memimpin, pantang menangis atau lebih mengedepankan logika ketimbang perasaan. Anggapan itu pada akhirnya akan berpengaruh pada pola didik baik di rumah maupun disekolah.
Di rumah orang tua akan menyediakan mainan berupa boneka dan alat masak untuk perempuan dan menyediakan mobil-mobilan atau senjata mainan untuk anak lelaki. Orang tua akan kaget, tidak nyaman atau merasa heran bila anak perempuannya lebih tertarik memainkan mobil-mobilan ketimbang bonekanya, atau sebaliknya. Hal itu dilakukan tanpa ada penjelasan ilmiah selain kekhawatiran bila anaknya berkembang tidak sesuai dengan peran yang diharapkan oleh perbedaan jenis kelamin tersebut.
Begitu juga disekolah. Tidak mustahil seorang guru atau sekolah telah mempersiapkan beberapa jenis keterampilan atau fasilitas pendidikan yang “disesuaikan” menurut jenis kelamin. Sehingga semakin kuatlah anggapan – angapan yang memandang laki-laki dan perempuan memang memiliki sifat dan kemampuan yang disebabkan oleh perbedaan jenis kelamin.

GENDER DAN PENDIDIKAN
Dalam bukunya tentang akselerasi, Reni Akbar Hawadi menyatakan, Riset-riset terakhir yang memandang dari sudutbiologis menyiratkan bahwa perbedaan jenis kelamin juga memiliki kaitan aspek biologis dari otak. Analisis Moir dan Jessel (1989) mengatakan bahwa otak perempuan memproses informasi dengan cara yang berbeda, yang kemudian menghasilkan perbedaan persepsi, prioritas kebutuhan dan tingkah laku. Perbedaan ini lebih ditentukan oleh hormon yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. Perbedaan ini semakin menonjol pengaruhnya ketika pada tahap usia perkembangan remaja.
Perbedaan lainnya yang paling mudah diamati adalah terletak pada agresivitas fisik. Laki-laki terlihat lebih agresif, begitu juga dalam mengikuti pembelajaran. Laki-laki terlihat lebih bersemangat dalam proses pembelajaran. Namun agresivitas tersebut tidak selamanya dalam pengertian negatif, seperti tidak bisa tenang dalam belajar, beraktivitas guru atau lebih tertarik pada aktivitas fisik. Sementara perempuan terlihat lebih tenang namun memiliki tingkat perhatian yang lebih baik ketimbang laki-laki.
Namun ternyata dari berbagai pengamatan, ternyata pengaruh budaya dan sudut pandang budaya merupakan faktor tunggal yang menimbulkan perbedaan yang ada secara menyeluruh. Oleh karena itu perlu sebuah revolusi budaya untuk bisa meyakinkan bahwa sebenarnya perempuan memiliki kemampuan yang sama dengan laki-laki, khususnya didunia pendidikan.
Beberapa perbandingan antara perempuan dan laki-laki ditinjau dari aspek kemampuan dan kepribadian dikemukakan oleh Travis dan Offir tahun 1997. Perbedaan tersebut meliputi:
Kemampuan :
1. Intelegensia umum : tidak ada perbedaan.
2. Kemampuan verbal : wanita lebih tinggi setelah usia sepuluh-sebelas tahun.
3. Kemampuan kuantitatif : pria lebih tinggi yang dimulai pada tahap remaja.
4. Kreatifitas : wanita lebih tinggi pada kreatifitasverbal, selebihnya tidak ada perbedaan.
5. Kognisi : tidak ada perbedaan.
6. Kemampuan visual-ruang : pria lebih tinggi yang dimulai pada tahap remaja.
7. Kemampuan fisik : pria lebih berotot dan rawan terhadap penyakit.

Kreativitas (bersambung...)
Selengkapnya...

Kamis, 06 Mei 2010

Program Akselerasi Bagi Siswa Berbakat Akademik

T. Rusman Nulhakim*
Abstrak: Tujuan program akselerasi adalah memaksimalkan potensi peserta didik agar terlayani dengan baik dan tidak mengalami “underachievement.” Layanan pendidikan bagi peserta didik berbakat akademik harus diwarnai dengan kecepatan dan kompleksitas yang cocok dengan kemampuannya daripada peserta didik biasa. Ciri-ciri keberbakatan, meliputi: (1) kemampuan di atas rata-rata, (2) kreativitas, (3) pengikatan diri pada tugas. Terdapat tiga model praktik penyelenggaraan program akselerasi yang dikenalkan oleh Depdiknas, yakni: (1) model kelas reguler dengan cluster dan atau pull out, (2) model kelas khusus, dan
(3) model sekolah khusus. Standar kualifikasi yang diharapkan, yaitu: (a) perilaku kognitif, (b) perilaku kreatif, (c) perilaku keterikatan pada tugas, (d) perilaku kecerdasan emosi, dan (e) perilaku kecerdasan spiritual. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan pendidikan khusus kepada peserta didik berbakat akademik dan berkecerdasan luar biasa dibutuhkan oleh masyarakat dengan beberapa peningkatan layanan agar dapat berlangsung secara optimal dengan memperhatikan kebutuhan peserta didik yang memang “unggul”dan merupakan aset harapan masa depan bangsa.
Kata Kunci: keberbakatan akademik, program akselerasi, efektivitas program.
Pendahuluan
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Melalui pendidikan yang berkualitas diharapkan tujuan nasional “mencerdaskan kehidupan bangsa” dalam hakikatnya untuk mencapai suatu tatatanan peradaban negara dan bangsa
* T. Rusman Nulhakim adalah Guru SMA Negeri 63 Jakarta.
yang modern dapat terwujud (Soedijarto, 2003). Oleh karena itu, pembangunan sektor pendidikan merupakan proyek yang tidak akan pernah usai, disebabkan oleh dinamika tuntutan peradaban umat manusia yang senantiasa berubah sepanjang zaman.
Amanat UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab IV bagian kesatu Pasal 5 ayat 4 berbunyi: “warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus.” Selanjutnya, pada Bab V Pasal 12 ayat 1 menegaskan bahwa, “setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak: huruf (b) mendapatkan layanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya; huruf (f) menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan.
Salah satu realisasi pendidikan, sebagai amanat konstitusi adalah layanan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Program percepatan belajar (PPB) atau akselerasi sebagai salah satu pilihan program layanan khusus pendidikan nasional. Program akselerasi memberikan kesempatan bagi para siswa dalam percepatan waktu belajar dari enam tahun menjadi lima tahun pada jenjang SD dan tiga tahun menjadi dua tahun pada jenjang SMP dan SMA. Tujuan umum program ini adalah memberikan layanan kebutuhan peserta didik yang memiliki karakteristik khusus pada segi potensi intelektual dan bakat istimewa agar terlayani sesuai bakat, minat, dan kemampuannya.
2
Program akselerasi memiliki muatan positif pada pendidikan secara umum. Karena menawarkan suatu diferensiasi model pendidikan dengan menempatkan anak didik sesuai kemampuannya. Tujuan operasional program akselerasi adalah memaksimalkan potensi anak didik yang “potensial” agar terlayani dengan baik dan tidak mengalami “underachievement.”
Kehadiran program akselerasi dilatarbelakangi oleh realitas hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh Balitbang, Depdiknas. Diperoleh temuan bahwa pada 20 SMA unggulan di Indonesia terdapat 21,75% siswa dengan kecerdasan umum prestasinya di bawah rerata sedangkan para siswa yang tergolong berkemampuan dan berkecerdasan luar biasa sebesar 9,7% (Depdiknas:2001). Pada hasil temuan sebelumnya telah diungkapkan, bahwa masih tinggi siswa yang dikategorikan berbakat istimewa mengalami “underachiever” pada SD dan SMP sebesar 2 - 5% dan SMA sebesar 8% (Depdikbud: 1997). Kemudian hasil riset-riset independen (Yaumil Achir: 1990) pada SMA di DKI Jakarta ditemukan 39% siswa mengalami underachiever. Selanjutnya, Yusuf dan Widyastono (1997) melakukan penelitian serupa dan menemukan masih terdapat 13,5% sampai 20% siswa SMP mengalami underachiever.
Berangkat dari keadaan tersebut maka pemerintah pada tahun 2000 ketika Mendiknas dipimpin oleh Yahya Muhaimin meluncurkan Program Percepatan Belajar (PPB) atau lebih dikenal dengan sebutan program akselerasi pada SD, SMP, dan SMA. Program akselerasi kini telah berjalan beberapa tahun pada
3
sekolah yang menyelenggarakannya dan telah tersedia beberapa penelitian dalam berbagai jenis untuk diungkapkan.
Bertolak pada latar belakang yang telah dideskripsikan di atas, maka permasalahan umum studi ini meletakan pada “bagaimanakah kinerja program akselerasi sebagai upaya layanan pendidikan khusus pada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan luar biasa dan bakat istimewa?” Sehubungan dengan hal tersebut ada beberapa permasalahan khusus yang menjadi perhatian dalam studi ini: (1) Apakah pengertian dan karakteristik program akselerasi? (2) Bagaimanakah implementasi program akselerasi di sekolah? (3) Bagaimanakah hasil-hasil penelitian yang relevan memberikan kesimpulan dan rekomendasi tentang pendidikan khusus siswa berbakat akademik ?
Tujuan penulisan arttikel ini adalah menggambarkan kinerja layanan program akselerasi yang mempengaruhi efektivitas program menuju pada perbaikan layanan pendidikan bagi peserta didik yang berbakat istimewa dan berkecerdasan luar biasa. Secara lebih spesifik, bertujuan untuk mengetahui pemahaman program akselerasi meliputi: (a) karakteristik program, (b) implementasi program, dan (c) hasil-hasil penelitian yang relevan mengenai peserta didik berpotensi kecerdasan dan berkemampuan istimewa.
4
Kajian Teori dan Pembahasan
Pengertian dan Karakteristik Program Akselerasi
Program percepatan belajar atau akselerasi, merupakan bagian kebijakan pendidikan jalur formal pada program layanan khusus peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan keberbakatan akademik istimewa. Program akselerasi memberikan kesempatan bagi peserta didik dalam percepatan waktu belajar dari enam tahun menjadi lima tahun pada jenjang SD dan tiga tahun menjadi dua tahun pada jenjang SMP dan SMA. Program akselerasi dilaksanakan sebagai wujud layanan pendidikan kepada para siswa yang memiliki keunggulan-keunggulan komparatif agar dapat berkembang secara maksimal.
Colangelo yang dikutip Hawadi (2004) menyebutkan bahwa istilah akselerasi merujuk pada layanan yang disajikan (service delivery) dan kurikulum yang disampaikan (curriculum delivery). Sebagai layanan, akselerasi pada setiap tahap pendidikan berarti loncatan kelas/tingkat yang lebih tinggi dari masa studi normal. Dan sebagai kurikulum, akselerasi berarti mempercepat bahan ajar dari yang biasa disampaikan kepada kelas regular sehingga peserta didik (akseleran) akan menguasai banyak pengalaman belajar dalam waktu yang sedikit.
Adapun keuntungan yang diperoleh para akseleran melalui program ini adalah meningkatkan efisiensi dan efektivitas belajar, memberikan penghargaan atas kemampuannya yang tingi, menghemat waktu dan biaya, mempercepat untuk berkarir di dunia kerja, dan mereduksi underachievement.
5
Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Ditjen Manajemen Dikdasmen, Depdiknas menggulirkan program layanan khusus yaitu program percepatan belajar dari jenjang SD, SMP, dan SMA. Tujuan diselenggarakannya program adalah memberikan layanan pendidikan kepada siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa secara optimal. Adapun tujuan khususnya adalah: (a) Memberikan penghargaan kepada peserta didik untuk dapat menyelesaikan program pendidikan secara lebih cepat sesuai potensinya, (b) Meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pembelajaran peserta didik, (c) Mencegah rasa bosan terhadap iklim kelas yang kurang mendukung berkembangnya potensi keunggulan peserta didik secara optimal, dan (d) Memacu mutu siswa untuk peningkatan kecerdasan spiritual, intelektual dan emosional secara seimbang.
Implementasi Program Akselerasi di sekolah
Terdapat tiga model praktik penyelenggaraan program percepatan belajar yang dikenalkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Ditjen Manajemen Dikdasmen, Depdiknas (2003), yaitu: (1) model kelas reguler dengan cluster dan atau pull out, (2) model kelas khusus, dan (3) model sekolah khusus. Pada sekolah-sekolah di Indonesia yang telah diberikan izin membuka layanan program akselerasi, pada umumnya lebih banyak menggunakan model kelas khusus yakni pengelompokkan akseleran pada kelas tersendiri yang terpisah dengan kelas regular.
6
Mekanisme penyelenggaraan bagi sekolah yang telah diberikan izin adalah dimulai dengan rekrutmen siswa berdasarkan kriteria-kriteria informasi objektif maupun subjektif. Informasi objektif diperoleh melalui hasil nilai rapor dan ujian nasional pada pendidikan sebelumnya, tes potensi akademik, dan tes psikologi. Sedangkan informasi subjektif bersumber pada keinginan peserta didik, nominasi dari teman sebaya, orang tua, dan guru.
Kurikulum akselerasi adalah kurikulum nasional dan lokal yang dimodifikasi dengan penekanan pada materi esensial. Kurikulum akselerasi berdiferensiasi dengan memperhatikan empat dimensi yaitu dimensi umum, dimensi diferensiasi, dimensi nonakademis, dan dimensi suasana belajar. Struktur program sama dengan kelas reguler. Perbedaan terletak pada waktu penyelesaian yang lebih cepat.
Guru akselerasi adalah guru yang terbaik berdasarkan kriteria tertentu seperti pengalaman mengajar, prestasi, tingkat pendidikan yang dipersyaratkan, dan telah dipersiapkan untuk mengajar siswa akselerasi. Adapun tipologi guru berdasarkan buku pedoman (Depdiknas: 2003) adalah guru yang berkarakter sebagai berikut, yaitu: (1) adil dan tidak memihak, (2) sikap koperatif demokratis, (3) fleksibel, (4) memiliki rasa humor, (5) menerapkan penghargaan dan pujian, (6) minat yang luas, (7) memberi perhatian pada masalah siswa, dan (8) penampilan dan sikap menarik.
7
Sarana dan prasaran belajar program akselerasi dirancang untuk mampu memenuhi kebutuhan siswa berbakat akademik tinggi dalam kerangka mengembangkan potensinya. Sarana dan prasarana tersebut meliputi sarana fisik bangunan beserta instrumennya maupun sarana dan sumber belajar yang berbasis teknologi tinggi (multimedia).
Proses pembelajaran siswa akselerasi sama dengan siswa regular. Jika peserta didik akselerasi dikumpulkan dalam satu kelas tersendiri maka guru dan siswa dapat menerapkan berbagai strategi belajar. Ciri dominan proses belajar yang khas pada siswa akselerasi adalah pembelajaran individual atau mandiri lebih kontras dilaksanakan daripada siswa regular.
Komponen belajar yang juga penting adalah sistem evaluasi. Pada dasarnya sistem evaluasi program akselerasi sama dengan program regular yang terdiri atas ulangan harian, ulangan tengah semester (blok), ulangan semester dan Ujian Nasional/Sekolah. Perbedaan terletak pada tes-tes pilihan materi-materi yang bereskalasi sehingga butir-butir soal mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi dan cakupan yang lebih luas.
Guna menjaga keseimbangan antara intelektual, mental, dan kepribadian serta masalah yang timbul pada tiap-tiap akseleran, sekolah penyelenggara memberikan layanan bimbingan dan penyuluhan yang meliputi bidang akademis, kepribadian, dan bimbingan karir.
8
Standar kualifikasi (output) yang diharapkan dapat dihasilkan melalui PPB atau akselerasi (Depdiknas, 2003) adalah siswa yang memiliki kemampuan-kemampuan unggul, yaitu: (a) kualifikasi perilaku kognitif: daya tangkap cepat, mudah dan cepat memecahkan masalah, dan kritis; (b) kualifikasi perilaku kreatif: rasa ingin tahu, imaginatif, tertantang, berani ambil resiko; (c) kualifikasi perilaku keterikatan pada tugas: tekun, bertanggungjawab, disiplin, kerja keras, keteguhan, dan daya juang; (d) kualifikasi perilaku kecerdasan emosi: pemahaman diri sendiri, pemahaman terhadap orang lain, pengendalian diri, penyesuaian diri, harkat diri, dan berbudi pekerti luhur; dan (e) kualifikasi perilaku kecerdasan spiritual: pemahaman apa yang harus dilakukan siswa untuk mencapai kebahagiaan bagi diri dan orang lain.
Pendidikan Khusus Siswa Berbakat
Pendidikan pada umumnya merupakan suatu intervensi eksternal yang memungkinkan peserta didik mengembangkan bakat, minat, dan kemampuan dalam dirinya (intern) secara optimal sehingga berguna bagi diri, masyarakat dan bangsanya. Setiap manusia dilahirkan memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, membutuhkan pendidikan yang berbeda pula. Bakat menurut Semiawan (1997) adalah kemampuan ’inherent’ dalam diri seseorang yang dibawa sejak lahir. Bakat merupakan anugerah dari Tuhan YME yang terkait pada struktur otak yang secara genetis telah terbentuk sejak manusia
9
dilahirkan. Institusi pendidikan bertanggung jawab untuk mengidentifikasikan dan memupuk bakat tersebut termasuk di dalamnya mereka yang memiliki bakat istimewa dan potensi kecerdasan luar biasa (gifted and talented) untuk dapat terlayani dengan baik.
Sebagaimana peserta didik pada umumnya, siswa berbakat merupakan ‘anak unggul’ yang memerlukan pendidikan khusus sesuai dengan kebutuhan belajarnya. Pendidikan bagi peserta didik berbakat harus diwarnai dengan kecepatan dan kompleksitas yang lebih cocok dengan kemampuan yang tinggi daripada peserta didik biasa.
King (http://www.hoagiesgifted.org/accademic_acceleration htm#3. 1996) memuat beberapa model pembelajaran untuk siswa berbakat dengan beberapa pendekatan, yaitu: (1) loncat kelas (grade skipping), (2) percepatan penempatan individual atas beberapa mata pelajaran (advanced placement or accelerated pacing for individual subject areas), (3) masuk sekolah lebih awal (early entrance to school or collage), (4) pembelajaran beberapa program mata kuliah pada sekolah di atasnya (enrollment in college courses while still high school), dan (5) program belajar khusus seperti kelas musim panas dan sejenisnya (special fast-paced courses: classroom, summer, or correspondence).
Konsep keberbakatan menurut Renzulli (http://www.indiana.educ./~itell/ renzulli.html.11/3/2002) pada hakikatnya terlihat pada tiga kelompok (cluster) ciri-ciri keberbakatan, yaitu: (1) kemampuan di atas rata-rata (above average
10
ability), (2) kreativitas (creativity), dan (3) pengikatan diri pada tugas (task-commitment). Ketiganya disebut The Three-Ring Conception of Giftedness dapat divisualisasikan sebagai berikut:
1. above average ability
2. creativity
3. task-commitment
Gambar 1. Konsep keberbakatan Renzulli
Konsep Renzulli ini menarik, karena untuk mengidentifikasi keberbakatan seseorang memfokuskan pada interaksi tiga ring lingkaran. Dua ring lingkaran mendampingi satu ring lingkaran kemampuan intelektual (intelegensi) yang merupakan kawasan nonintelektual. Meskipun dua ring lingkaran bukan kawasan intelektual, tetapi sangat signifikan menentukan kinerja intelektual. Dua kawasan itu adalah kreativitas dan komitmen pada tugas.
Ciri-ciri anak berbakat yang dikemukakan oleh Torrance (1981) dengan mengutip laporan USOE (United States Officer of Education) terdapat 6 (enam) tipe keberbakatan dengan keunggulan-keunggulan khusus, seperti (1) kemampuan intelektual umum, (2) kemampuan akademis khusus, (3) kemampuan berpikir

1

2

3
11
kreatif dan produktif, (4) kemampuan mempimpin, (5) kemampuan dalam bidang seni, dan (6) kemampuan psikomotor.
Keenam tipe tersebut merupakan ciri-ciri umum dalam eskalasi yang lebih luas. Meskipun demikian, pada kenyataan di lapangan peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa (gifted and talented) dapat terjadi dalam satu atau beberapa bidang saja atau kombinasi dari beberapa kecerdasan.
Gardner (1999) dalam bukunya Intellegence reframe membuat klasifikasi yang spesifik dalam menjabarkan kecerdasan anak dalam delapan kecerdasan majemuk yang disebut dengan ‘multiple intelegence,’ yang terdiri atas: kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetis-jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Kerangka kerja Gardner lebih tertuju sebagai kritik atas tes-tes IQ yang sangat mekanis menetapkan ukuran relatif kecerdasan otak manusia. Ia lebih berpendapat bahwa kecerdasan lebih berkaitan dengan kapasitas memecahkan masalah dan menciptakan produk di lingkungan yang kondusif dan alamiah. Delapan kecerdasan yang diungkap merupakan kecerdasan dasar dan merupakan konsep fungsional yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dengan beragam cara. Asumsinya tidak menyamakan antara kecerdasan dan bakat dengan dasar bahwa banyak orang tidak cerdas tetapi memiliki bakat tertentu seperti bernyanyi atau bermusik. Terlepas dari pandangan
12
berbeda antara cerdas dan berbakat, tulisan ini berpijak pada definisi peserta didik akselerasi adalah anak yang memiliki kecerdasan luar biasa atau berbakat di bidang akademik.
Peserta didik berbakat akademik merupakan anak “luar biasa” yang memerlukan pendidikan khusus agar berkembang sesuai kebutuhannya. Alasan perlunya pendidikan khusus adalah bahwa peserta didik berbakat akademik mempunyai kebutuhan unik yang tidak tergarap secara maksimal pada kelas reguler sehingga perlu adanya pendidikan khusus. Pendidikan sekolah sebagai bentuk layanan diibaratkan seperti jasa kereta api yang memberikan layanan kepada penumpang kereta api untuk sampai pada tujuan dengan menyediakan bermacam kelas, seperti kelas ekonomi, kelas bisnis dan kelas eksekutif. Kelas bisnis dan eksekutif merupakan bentuk layanan khusus yang lebih cepat dan prima daripada kelas ekonomi.
Layanan eksekutif bagi anak berbakat merupakan kebutuhan, sebab bila tidak terlayani sesuai kebutuhannya maka peserta didik akan mengalami underachiever. Komentar Foster dalam Farmer (1993) menekankan bahwa pelayanan yang terbaik sesuai minat dan kebutuhan peserta didik di sekolah akan dapat mereduksi underachievement. Underachievement adalah suatu kondisi kemampuan intelektual tinggi/luar biasa yang tidak terlayani secara maksimal, berakibat pada penurunan kinerja intelektual.
13
Proses pembelajaran anak berbakat diwarnai dengan aktivitas intelektual, kecepatan dan kompleksitas sesuai kemampuannya yang lebih tinggi daripada anak biasa. Munandar (1999) memberikan beberapa pertimbangan bahwa pendidikan bagi anak berbakat mendasarkan pada: (1) keberbakatan tumbuh dari proses interaktif antara lingkungan yang memberikan rangsangan dan kemampuan pembawaannya, (2) Sekolah memberikan kesempatan pendidikan yang sama kepada semua anak untuk mengembangkan semua potensi (bakat) secara penuh, (3) Bila anak berbakat dibatasi atau dihambat dalam perkembangannya atau bila mereka tidak dimungkinkan untuk maju lebih cepat dan memperoleh materi pengajaran sesuai dengan kemampuannya, mereka sering melakukan unjuk kebosanan, kejengkelan, sikap acuh tak acuh, (4) Anak berbakat merasa bahwa minat dan gagasan mereka sering berbeda dari teman sebaya, hal ini dapat membuatnya merasa terisolasi sehingga tidak jarang akan membentuk konsep diri yang negatif, dan (5) Jika kebutuhan anak berbakat dipertimbangkan dan dirancang melalui program untuk memenuhi kebutuhan pendidikan mereka sejak awal maka mereka akan menunjukkan peningkatan prestasi nyata sehingga tumbuh rasa kompetensi dan rasa harga diri.
Semiawan (1997) berpendapat, proses pembelajaran anak berbakat memerlukan pendampingan dan pembelajaran yang baik sehingga akan tercipta suasana belajar yang kooperatif antara guru dan siswa. Alhasil pendidikan anak berbakat tidak hanya belajar fakta, konsep, dan prinsip dalam konteks yang
14
bermakna, melainkan juga tertingkatkan kreativitasnya. Pembelajaran seperti ini akan meningkatkan kemampuan diri (self-adequacy) dan kepercayaan diri (self confidence) serta disiplin dan motivasi belajar yang tinggi.
Realitas Hasil-hasil Penelitian
Sejumlah penelitian akademisi telah dilakukan untuk mengkaji relevansi dan efektivitas program. Penelitian tersebut dikumpulkan melalui studi kepustakaan dan browsing internet. Berikut dipaparkan beberapa hasil penelitian yang berusaha mengungkap variabel-variabel yang berhubungan dengan pendidikan khusus siswa berbakat akademik dan berkecerdasan luar biasa secara kronologis berdasarkan urutan waktu yang berhasil dihimpun.
Penelitian awal oleh Hawadi (1993) sebagai bahan disertasi yang meneliti tentang Identifikasi Anak Berbakat Intelektual menurut Konsep Renzulli berdasarkan nominasi oleh guru, teman sebaya, dan diri sendiri. Penelitian ini berbentuk penelitian deskriptif pada beberapa siswa SD di DKI Jakarta. Hawadi melakukan studi kasus pada beberapa SD di Jakarta tentang proses identifikasi anak berbakat intelektual dengan mengaplikasikan konsep Renzulli dengan kerangka kerja berdasarkan nominasi oleh guru, teman sebaya dan diri sendiri. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa proses identifikasi berdasarkan konsep Renzuli ternyata cukup efektif untuk mengidentifikasi anak berbakat melalui nominasi oleh guru, teman sebaya, dan diri sendiri.
15
Penelitian yang dilakukan oleh Swiatek dan Benbow yang dihimpun dalam situs King (1996) berjudul “Ten-Year Longitudinal Follow-Up of Ability-Matched Accelerated and Unaccelerated Gifted Students.” Penelitian berbentuk longitudinal studi yang dilakukan selama sepuluh tahun. Hasil studi menyimpulan bahwa tanpa penanganan serius pada pendidikan siswa berbakat akan mengakibatkan kerugian dalam eskalasi pengalaman siswa. Penelitian ini meyakini bahwa anggapan-anggapan siswa berbakat berkembang sendiri secara akademik dan psikososial patut dipertimbangkan. Penanganan siswa berbakat membutuhkan konsideran dan pendampingan yang terprogram baik.
Selanjutnya, Kusumawardhani (2000) yang bertema “Konsep Siswa tentang Belajar dan Motivasi Belajar pada siswa Program Akselerasi dan Siswa Program Reguler” melakukan studi korelasional pada SMU 8 dan SMU Labschool di DKI Jakarta. Temuan Kusumawardhani dengan sampel 60 orang menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan tentang konsep belajar dan motivasi antara siswa kelas akselerasi dengan siswa kelas reguler. Hal ini menunjukkan bahwa siswa akselerasi memiliki konsep belajar dan motivasi yang efektif lebih tinggi mempengaruhi proses belajar mereka dibandingkan dengan siswa kelas reguler.
Penelitian relevan melalui penelusuran situs internet (browsing) dapat ditemukan yaitu Xin Ma (2003) yang berjudul percepatan pembelajaran matematik dan pengaruhnya pada pertumbuhan rasa percaya diri: suatu penelitian
16
longitudinal atau “Early Acceleration of Mathematicts Students and its Effect on Growth in Self-Esteem: A Longitudinal Studies. Xin Ma dalam abstraksinya menyatakan, bahwa program akselerasi pada mata pelajaran matematika pada siswa berbakat mendorong berkembangnya rasa percaya diri siswa secara signifikan.
Pada tahun yang sama Rahmatsyah melakukan penelitian kualitatif di perguruan tinggi dengan fokus mahasiswa berprestasi unggul dengan judul “Budaya belajar mahasiswa yang berprestasi unggul.” Hasil interpretatif penelitiannya menyatakan bahwa kecerdasan intelektual menjadi syarat untuk mencapai prestasi unggul, meskipun kecerdasan intelektual tinggi tidak menjamin secara otomatis perolehan indeks prestasi kumulatif (IPK) tinggi. Masih terdapat dimensi nonintelektual yang menentukan budaya unggul, meliputi kemandirian, komitmen, konsistensi, kreativitas, dan keyakinan religius. Budaya belajar mahasiswa berprestasi unggul terbentuk melalui sinergisitas antara kecerdasan intelektual dengan dimensi-dimensi nonintelektual.
Wahab (2004) secara khusus melakukan penelitian komparasi tentang rasa sosial siswa akselerasi pada tingkat SD, SMP dan SMA. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa pada tingkat SMP dan SMA ternyata perilaku rasa sosial siswa tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Tidak ditemukan siswa akselerasi bersikap individual dan egois, mereka juga aktif dalam kegiatan sekolah dan di luar sekolah. Pada tingkat SD, ditemukan kecenderungan rasa sosial kurang atau
17
terdapat perbedaan, karena tuntutan belajar yang tinggi pada siswa akselerasi sehingga menyebabkan kurangnya kesempatan bermain. Banyak kritik untuk program kelas akselerasi pada jenjang SD.
Selanjutnya, Idris (2005) melakukan studi evaluatif yang berjudul “Program Akselerasi dan Eskalasi pada SLTP X Jakarta.” Riset Idris menyimpulkan bahwa siswa akselerasi menunjukkan pada aspek konteks, secara rasional asumsi-asumsi tujuan penyelenggaraan program akselerasi sudah baik secara konseptual dan legalistik. Pada aspek proses disimpulkan cukup baik dan perlu untuk terus dikembangkan.
Setahun berikutnya, Nulhakim (2006) melakukan penelitian serupa dengan model CIPP pada level SMA dengan judul “Evaluasi Program Akselerasi.” Penelitian memfokuskan pada sebuah SMA unggulan di DKI Jakarta. Komponen evaluasi mencakup empat komponen yaitu context, input, process, dan product. Data dikumpulkan dengan berbagai teknik dan dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil temuan studi menyimpulkan bahwa pada evaluasi konteks menunjukkan program akselerasi dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat pendidikan untuk melayani siswa berbakat akademik dan berkecerdasan luar biasa. Animo masyarakat demikian tinggi untuk menyekolahkan anaknya yang berbakat akademik luar biasa di sekolah dengan layanan khusus. Pada evaluasi input, evaluasi proses dan evaluasi produk ditemukan banyak faktor yang perlu mendapatkan peningkatan (improvement) pada sekolah penyelenggara, agar
18
layanan program akselerasi dapat lebih optimal sesuai standar-standar objektif. Pada aspek kematangan emosional berdasarkan hasil analisis menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara peserta didik akselerasi dibandingkan dengan siswa regular. Rekomendasi yang dihasilkan adalah agar pemerintah tetap mempertahankan keberadaan program layanan khusus akselerasi dengan mengubah model layanan dari kelas khusus menjadi kelas reguler dengan model cluster dan atau pull out. Implikasi lain dapat juga disarankan pada tingkat sekolah menengah menerapkan sistem SKS murni sehingga siswa yang memiliki potensi luar biasa dan berkecerdasan istimewa akan lebih cepat dalam penyelesaian belajar.
Hasil-hasil penelitian di atas, menunjukkan bahwa layanan pendidikan khusus peserta didik berbakat akademik tinggi dan berkecerdasan luar biasa memang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia. Harapan besar adalah bagaimana layanan tersebut dapat berlangsung secara optimal dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan peserta didik yang memang “unggul.” Pada sisi lain, dengan layanan yang optimal akan mereduksi underachievement yang merugikan peserta didik unggul yang merupakan aset tumpuan harapan masa depan bangsa.
19
Simpulan dan Saran
Simpulan
Secara keseluruhan, kajian ini menyimpulkan bahwa kebutuhan masyarakat akan adanya sekolah unggul atau super untuk melayani siswa berbakat akademik tinggi dan berpotensi kecerdasan luar biasa sangat diperlukan. Perwujudan diferensiasi layanan pendidikan ini merupakan suatu proses demokratisasi dalam dunia pendidikan yang memberikan layanan berbeda kepada peserta didik unggul sesuai bakat, kemampuan dan kebutuhannya.
Asumsi-asumsi masyarakat akan kemungkinan terjadinya deviasi emosional dan sosial pada peserta didik akselerasi di level SMP dan SMA berdasarkan hasil penelitian, tidak ditemukan. Para peserta didik sebagai siswa berkemampuan tinggi memiliki adaptibilitas tinggi dengan keadaan, meskipun secara usia relatif lebih muda dibandingkan dengan teman sebaya. Pada level SD terdapat kecenderungan deviasi sosial pada penerapan program percepatan belajar atau akselerasi.
Pelaksanaan program akselerasi yang sedang berlangsung dengan segenap instrumen pendukungnya selalu urgen untuk dikritisi dan dievaluasi. Keberadaannya kerap kali dipertanyakan efektivitasnya. Tidak berlebihan jika masyarakat mengkritisi kinerja sekolah yang notabene lebih menonjol pada aspek pengajaran daripada pendidikan. Faktor ini yang sering mereduksi kemampuan unggul peserta didik karena lingkungan belajar yang ‘mandul.’ Padahal dalam
20
konsep Renzulli maupun Gardner tentang siswa berbakat/cerdas memiliki banyak aspek kawasan nonintelektual yang mempengaruhi kinerja intelektual. Sinergisitas antardomain akan menghasilkan keberbakatan akademik tinggi.
Saran
Berdasarkan telaah literatur pada bahasan dan simpulan maka dapat diajukan saran-saran kepada pihak-pihak terkait dengan kebijakan penyelenggaraan program pendidikan layanan khusus akselerasi untuk senantiasa memperhatikan proses pendidikan peserta didik secara optimal terutama dalam kaitannya dengan pengembangan kawasan nonintelektual agar mereka tidak hanya terakselerasi secara intelektual tetapi juga tereskalasi secara mental dan emosional serta sosial.
Program akselerasi masih dibutuhkan oleh sebagian masyarakat untuk melayani siswa yang berkecerdasan tinggi agar terlayani dengan baik. Oleh karena itu, program akselerasi agar tetap dipertahankan dan bahkan perlu ditingkatkan. Adanya ketidaksesuaian kinerja sekolah dengan standar-standar pelayanan objektif di sekolah berdasarkan hasil-hasil riset sehingga sebaiknya sekolah penyelenggara akselerasi mengubah model dari kelas khusus akselerasi menjadi model cluster dan atau pull out.
21
Pustaka Acuan
Achir, Yaumil A. 1990. Bakat dan Prestasi. Jakarta: Disertasi FPs Universitas
Indonesia.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997. Laporan Penelitian: Profil siswa SD/SLTP yang Memerlukan layanan khusus dan yang berkesulitan belajar. Balitbang. Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional, 2001. Laporan Penelitian SMU Unggulan di Indonesia, Balitbang, Jakarta.
______, 2003. Pedoman Penyelenggaraan Program Percepatan Belajar SD, SMP, dan SMA: Suatu model pelayanan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa, Dikdasmen, Jakarta.
______, 2006, Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Depdiknas.
Farmer, D (ed). 1993. Gifted Children Need Helf A Guide for Parents and Tea- cher. New South Wales: Association for Gifted & Talented Children Inc.
Gardner, Howard. 1999. Intellegence Reframe: Multiple intelligence for the 21st
century. New York: Basic Books.
Hawadi, Reni Akbar. 1993. Melacak Bakat Intelektual Anak menurut Konsep
Renzulli. Depok: Disertasi FPs Universitas Indonesia.
Hawadi, Reni Akbar (ed). 2004. Akselerasi. Jakarta: Grasindo.
Yusuf dan Widyastono, H. 1997. Profil peserta didik yang memerlukan perhatian
khusus di sekolah lanjutan tingkat pertama. Jakarta: Balitbang Dikbud.
Idris, Asmaniar Z. 2005. Program Akselerasi dan Eskalasi pada SLTP X Jakarta.
Jakarta: Disertasi PPs Universitas Negeri Jakarta.
King, Valorie (ed).1996. Academic Acceleration: What is it?
http://www.hoagiesgifted.org/academic_acceleration.html#3. 1996
22
Kusumawardhani, Dianti Endang. 2000. Konsep Siswa tentang Belajar dan Moti-
vasi Belajar pada Siswa Program Akselerasi dan Siswa Program Reguler. Depok: Tesis Psikologi UI.
Ma, Xin.2003. Early acceleration mathematicts students and its Effect on Growth
In self esteem: a longitudinal studi.
http://xinma.ualberta.ca
Munandar, Sukarni Catur Utami. 1999. Pengembangan Kreativitas Anak
Berbakat. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Nulhakim, Teuku Rusman. 2006. Evaluasi Program Akselerasi. Jakarta:
Disertasi PPs Universitas Negeri Jakarta (tidak dipublikasikan)
Renzulli, Josep.2002. Conception of Giftedness.
http://indiana.educ./~itell/renzulli
Semiawan, Conny. 1997. Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta:Grasindo.
Soedijarto. 2003. Pendidikan Nasional sebagai Proses Transformasi Budaya.
Jakarta: Balai Pustaka.
Torrance, E.Paul. 1981. “who is gifted ?” in strategies for educational Change:
Recognition the gifts and talents of All Children. New York: MacMillan.
Wahab, Rohmat. 2004. Rasa Sosial Anak Akselerasi pada SD, SMP, dan SMA.
Yogyakarta: Disertasi PPs Universitas Negeri Yogyakarta.
23
Selengkapnya...

Surat Pengumuman Kelulusan SMP Dikirim Malam Ini

TEMPO Interaktif, Bandung - Tingkat kelulusan ujian nasional siswa SMP sederajat di Jawa Barat pada tahun ini menurun. Dari 636.511 peserta ujian, 15 ribu siswa diantaranya belum lulus. Rencananya pengumuman ujian akan disampaikan serentak Jumat (7/5) besok.

Menurut Ketua Panitia ujian nasional Dinas Pendidikan Jawa Barat, Asep Hilman, kelulusan siswa SMP sederajat di Jawa Barat sebesar 97,59 persen. Adapun pada 2009 mencapai lebih dari 98 persen. "Sekarang kelulusan menurun, tapi masih di atas provinsi lain di pulau Jawa," katanya, Kamis (6/5).

Menurut Asep ada 4 penyebab menurunnya jumlah lulusan ujian utama tahun ini. Pertama, terkait naiknya angka minimum kelulusan dari 5,25 menjadi 5,50, makin ketatnya pengawasan ujian, dan kesiapan psikologis siswa menghadapi ujian. "Juga karena nanti ada ujian ulangan, tahun lalu tidak ada," ujarnya.

Tentang cara pengumuman basil ujian tersebut, Dinas Pendidikan Jawa Barat menyerahkan ke masing-masing sekolah. Dinas meminta siswa tetap di rumah. "Orang tuanya besok (Jumat) bisa datang ke sekolah atau menunggu kiriman surat lewat pos," ujar Asep.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Oji Mahroji mengatakan, surat hasil ujian akan dikirim ke rumah setiap siswa. Pengiriman itu akan dimulai malam nanti. "Kami sudah membangun kerja sama dengan PT Pos," ujarnya.

Kelulusan ujian di kota Bandung yang diikuti 36 ribu siswa mencapai 98 persen. Dalam persentase, di Jawa Barat ada 6 daerah yang tingkat kelulusannya tinggi. Daerah itu adalah Kota Bogor (99,26), Kota Banjar (99,25), Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka masing-masing (99,21), Kabupaten Sumedang (99,18), dan Kabupaten Tasikmalaya (99,12).

Kelulusan terendah terdapat di Kabupaten Karawang (92,23). Siswa yang belum lulus saat ini, masih punya kesempatan mengikuti ujian nasional ulangan pada Juni mendatang.

ANWAR SISWADI Selengkapnya...

Kelulusan Siswa SMP Taruna Bakti Tahun Pelajaran 2009-2010

Berdasarkan rapat pleno, Kamis, 6 Mei 2010  jam 19.24 WIB dan dihadiri oleh seluruh guru SNP Taruna Bakti Bandung, menyatakan bahwa :
siswa SMP Taruna Bakti Bandung 100% lulus.
Selamat kepada Siswa/i SMP Taruna Bakti.....!  Semoga kalian berhasil di tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Bandung, 06 Mei 2010
Selengkapnya...

Jumat, 30 April 2010

PELAKSANAAN PSIKOTEST SMP TARUNA BAKTI


Salam sejahtera           
Dalam melaksanakan program identifikasi potensi siswa baru, SMP Taruna Bakti melaksanakan kegiatan psikotest yang dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal                             : Sabtu / 1 Mei 2010
Tempat                                     : Kampus SMP Taruna Bakti Bandung
                                                  Jalan LL.RE. Martadinata 52 Bandung
Waktu                                      : 08.00 – 14.00 WIB
Pelaksana                                 : BPIP Unpad Bandung
Jumlah peserta                          : 230 siswa
            Sehubungan dengan Siswa SD Moestopo sedang melaksanakan Ujian praktek pada saat psikotes dilaksanakan, sehingga beberapa siswa yang berasal dari SD tersebut harus mengikuti psikotest susulan. (PESERTA SUSULAN TERLAMPIR).
Waktu dan tempat pelaksanaan psikotest susulan akan dikonfirmasikan kembali kepada pihak penyelenggara psikotest. Untuk itu maka kami memohon kepada pihak penyelenggaran psikotest untuk menjadwalkan psikotest susulan dan menentukan tempat pelaksanaan psikotest tersebut. 
Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Bandung, 30 Mei 2010
Selengkapnya...

Senin, 26 April 2010

PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME BAGI SISWA AKSELERASI SMP TARUNA BAKTI SEBAGAI WUJUD PROSES MENUMBUHKAN SEMANGAT BELAJAR MANDIRI DAN “LONG LIFE EDUCATION”

SMP TARUNA BAKTI
TAHUN AJARAN 2008-2009

A. LATAR BELAKANG DAN TUJUAN MASALAH
1. Banyak siswa mampu menyajikan tingkat hapalan yang baik terhadap materi ajar yang diterimanya, tetapi pada kenyataan-nya mereka tidak memahaminya.
2. Sebagian besar dari siswa tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dipergunakan/dimanfaatkan
3. Siswa memiliki kesulitan untuk memahami konsep akademik sebagaimana mereka biasa diajarkan yaitu dengan menggunakan sesuatu yang abstrak dan metode ceramah.
4. Membiasakan siswa dan guru untuk membangun sebuah budaya ilmiah di sekolah sebagai media berbagi ilmu dan pengetahuan secara timbal balik untuk melahirkan sebuah karya yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis dan ilmiah.
Metode ini pun merupakan sebagai jawaban atau solusi bagi berbagai permasalahan dalam proses pembelajaran yang selama ini berjalan di sekolah. Beberapa permasalahan yang dirasakan diantaranya adalah:
1. Bagaimana menemukan cara terbaik untuk menyampaikan berbagai konsep yang diajarkan di dalam mata pelajaran tertentu, sehingga semua siswa dapat menggunakan dan mengingatnya lebih lama konsep tersebut ?
2. Bagaimana setiap individual mata pelajaran dipahami sebagai bagian yang saling berhubungan dan membentuk satu pemahaman yang utuh ?.
3. Bagaimana seorang guru dapat berkomunikasi secara efektif dengan siswanya yang selalu bertanya-tanya tentang alasan dari sesuatu, arti dari sesuatu, dan hubungan dari apa yang mereka pelajari ?
4. Bagaimana guru dapat membuka wawasan berpikir yang beragam dari siswa, sehingga mereka dapat mempelajari berbagai konsep dan mampu mengkait-kannya dengan kehidupan nyata, sehingga dapat membuka berbagai pintu kesempatan selama hidupnya?
5. Bagaimana sekolah mampu melibatkan seluruh komponen pendidikan baik guru, siswa, sekolah dan masyarakat untuk mampu terlibat secara aktif dalam memberikan bekal pengetahuan dan pengalaman secara sistematis dan terprogram bagi siswa?

B. MENGAPA METODE KONSTRUKTIFISME?
Konstruktivisme adalah sebuah metode yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari dan menggali secara mandiri materi yang akan dipelajarinya. Oleh karena itu pada metode konstruktivisme telah mengandung berbagai metodelogi pembelajaran seperti kegiatan menemukan (Inquiri), pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) atau penilaian diri (Self Asessment).
Esensi dari pembelajaran kostruktif adalah bahwa siswa harus secara individual menemukan konsep atau informasi yang kompleks dan mengorganisasikan dalam benaknya untuk jadi miliknya sendiri atau disebut kepemilikan konsep yang utuh (Concept Attainment).
Hakekat dari pembelajaran konstruktif adalah pengakuan akan eksistensi siswa sebagai individu yang utuh dan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang harus dihargai dan diakui secara penuh oleh guru dan masyarakat sehingga mereka dapat melakukan ekspresi keilmuan secara ilmiah.
Secara akademik, yang dimaksud dengan keberhasilan belajar adalah kemampuan siswa dalam membangun konsep-konsep kunci keilmuan didalam benaknya dengan fasilitas yang telah diberikan oleh guru.
Melalui metode konstruktivisme diharapkan dapat :
1. Membuat materi pelajaran menjadi lebih bermakna, relevan dengan kebutuhan siswa dan dapat langsung diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari.
2. Mendorong siswa untuk belajar dengan polanya sendiri atau strateginya sendiri
3. Menyiapkan tahapan belajar yang dapat membantu siswa mencapai tingkat penguasaan oleh dirinya sendiri sebagai perolehan belajar.

C.. ALOKASI WAKTU PELAKSANAAN KEGIATAN
NO KEGIATAN ALOKASI WAKTU KETERANGAN
1 Siswa menentukan tema yang akan diangkat sebagai materi penelitian, pengamatan atau presentasi yang akan diajukan kepada dewan guru 2 MINGGU
(8 – 26 Januari 2009)
Dalam bentuk pengajuan judul atau tema yang akan diangkat sebagai karya ilmiah
2 Dewan guru menentukan dan menetapkan tema dan judul yang layak untuk diteliti dan dipaparkan dalam sebuah karya ilmiah Dengan indikator :
1. Hubungannya dengan materi yang telah diajarkan
2. Ketepatan tema yang diangkap
3. Manfaat bagi perkembangan dan pengalaman siswa yang bersangkutan
4. Ketersedian SDM guru pembikbing
3 Dewan guru menetapkan guru pembimbing untuk mendampingi siswa dalam menyusun dan menulis karya tulis ilmiah
4 Siswa mencari, menggali tema yang diajukan untuk kemudian mewujudkannya dalam bentuk karya tulis ilmiah dan hasil karya ilmiah dengan bimbingan guru yang ditunjuk 3 MINGGU
(27 Januari -13 Februari 2009) Bimbingan meliputi metodologi penulisan karya ilmiah, materi dan kesiapan pengujian
5 Setelah disetujui dan dianggap layak maka siswa akan diuji secara akademis oleh pakar yang kompeten dibidang tema yang dipresentasikan oleh siswa 1 MINGGU
(21 dan 28 Februari 2009) Disesuikan dengan kesanggupan penguji
Tempat :
Media Resource Center
6 Siswa memperbaiki dan atau merubah hasil karya ilmiah sebagai langkah akhir proses pembelajaran 1 MINGGU
7 Sekolah membukukan hasil karya tulis ilmiah siswa dan memberikan sertifikat kelulusan bagi siswa yang telah melakukan presentasi dan uji kompetensi 1 MINGGU
Selengkapnya...