Setelah kurang lebih sepuluh tahun program akselerasi berjalan, masih banyak diantara pengelola pendidikan, termasuk penyelenggara sekolah yang menjalankan program akselerasi, belum memahami hakekat keberadaan program akselerasi ini.
Beberapa kesalahan paradigma ini diantaranya :
1. Menganggap program akselerasi hanya sekedar aksesoris sekolah yang dapat memiliki niali jual kepada masyarakat untuk meningkatkan status sekolah. Sekolah seperti ini bisa dilihat dari mulai cara perekrutan, pengelolaan dan proses pembelajaran di kelas akselerasi. Dan ketika ada program lain yang lebih "menjual" maka sekolah akan berpaling pada program baru tersebut dan menganggap program akselerasi tidak lagi diperlukan.
2. Kurangnya kesadaran dari pihak sekolah tentang eksistensi atau keberadaan siswa yang cerdas istimewa yang secara asasi memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya. Kekurangsadaran tersebut menyebabkan guru, kepala sekolah atau pengelola program akselerasi menjadikan program ini sebagai beban dan memandang siswa cerdas istimewa sebagai siswa yang tidak perlu mendapatkan "Layanan Khusus". Sekolah seperti ini akan nampak pada penanganan proses pembelajaran yang tidak membedakan rencana, metode, sarana maupun evaluasi kepada siswa akselerasi.
3. Sekolah, khususnya Negeri sering panik dengan berbagai informasi yang berhubungan dengan instruksi baru atau program baru yang dibuat pemerintah. SKS, RSBI dan lainnya terkadang dijadikan alasan perlunya perombakan dan penghapusan program akselerasi.
4. Sekolah belum mampu menjadi "Corong" dari hakekat dan esensi dari dibangunnya program akselerasi bagi pemenuhan hak siswa cerdas istimewa dan karakter dari siswa itu sendiri. Masyarakat masih banyak yang menganggap bahwa program akselerasi hanyalah program yang eksklusif dan kecerobohan dalam dunia pendidikan. Namun sayangnya, mereka yang menolak program akselerasi sering kali tidak mampu memberikan solusi yang tepat dan aplikatif di dunia pendidikan. Mereka berasumsi, menyimpulkan dan meng"judge" SALAH. Ketika ditanya bagaimana solusi, maka yang keluar hanyalah berjuta teori yang belum tentu bisa dilaksanakan pada tataran praktek langsung.
5. Karena menganggap eksklusif, maka masih ada pengelola atau pembuat kebijakan menganggap bahwa program akselerasi ini tidak inklusi! Inklusi adalah sebuah sistem yang dibangun dengan maksud untuk memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh elemen dalam masyarakat untuk mendapatkan layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhannya. Tidak hanya anak cerdas istimewa, namun juga siswa lainnya seperti yang memiliki cacat, penderita hiv, mantan pemakain narkoba, anak miskin, anak jalanan dan lain-lainnya. Keberadaan kelas akselerasi masih juga dianggap eksklusif, padahal kelas tersendiri atau digabung dengan kelas reguler merupakan tataran taktis dan tekhnis. misalnya karena ada 20 siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata, maka kelas akselerasi dinilai jauh lebih efektif ketimbang digabung dengan reguler, karena mereka memang membutuhkan layanan yang agak berbeda dengan anak pada umumnya. Namun ketika hanya ada 3 atau 4 orang, maka bisa jadi kelas akselerasi tidak lagi diperlukan karena akan jauh lebih efektif bila digabung dengan kelas reguler.
Oleh karena itu, maka mulai sekarang kita harus :
1. Lebih gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang anak CI/BI, akselerasi dan inklusi.
2. Sekolah mulai dan terus membenahi diri sehingga berbagai anggapan miring tentang akselerasi bisa disanggah dengan bukti.
3. Terus melakukan monitoring dan evaluasi yang ketat dalam pelaksanaan akselerasi untuk menghindari adanya penyimpangan tujuan dari program akselerasi.
Semoga tulisan pendek ini berguna bagi kita semua.
akselerasismptarbak.blogspot.com
Selengkapnya...
Berbagi Pengalaman dan Pengetahuan Seputar Layanan Pendidikan Anak Cerdas Istimewa
Rabu, 15 Juli 2009
SELAMATKAN SISWA CERDAS ISTIMEWA! (3)
SELAMATKAN SISWA CERDAS ISTIMEWA! (2)
Assalamualaikum Wr, Wb
Program Akselerasi adalah sebuah program di sekolah kami dikarenakan kebutuhan dan memang ada aturan mainya seperti UU, selama aturan mainnya belum diganti dengan yang baru maka kami dilapangan masih tetap menjalankan prgram ini, plus minus dilapangan kita kembalikan kepada komsumen, orangtua sebagai pemakailah yang tahu lebih banyak keuntungan.
Kepercayaan mereka kepada sekolah dalam menjalankan program akselerasi sangat penting, karena itu program ini masih tetap berlanjut disekolah kami (SMP Plus Islamic Village), Untuk peminat tidak diragukan lagi cukup banyak, hanya karena seleksinya ketat sehingga yang bisa masuk kelas ini hanya sedikit. Saya menyakini program ini masih tetap dibutuhkan, pengalaman kami dari tahun 2001 hingga sekarang sudah dapat kami amati siswa aksel kami yang berada di perguruan tinggi, dan apresiasi orangtua kepada kami luar biasa positif, kata mereka kelas ini sangat efisien dan tidak buang-buang waktu anak mereka.
Kemarin tanggal 15 juli 2009 ketika kami bertemu dengan teman-teman guru program aksel dari sekolah lain di Tangerang ( SMAN 2 Tangsel, SMAN 3 Tangsel, SDS Model) semua masih tetap konsisten melaksanakan program ini, hasil UN siswa aksel ternyata bagus-bagus dan di terima di perguruan tinggi negeri.
Berbagai komentar miring tentang aksel biarlah, masih banyak yang berkomentar positif, Mari pak Amril kami yang dilapangan akan terus berjuang dan membantu untuk tetap dapat melayani siswa2 cerdas sebagai aset bangsa dan negara.
Untuk data siswa aksel di Provinsi Banten, saya sedang mengumpulkan datanya. nanti bila sudah terkumpul akan saya kirim ke bapak.
Wassalam
Abdu Napudin
Ketua Pokja CI+BI Banten
Selengkapnya...
SELAMATKAN SISWA CERDAS ISTIMEWA! (1)
Beberapa sekolah menginformasikan tentang adanya upaya untuk menutup
program aksel di tempat mereka. ada yang mengajukan alasan penerapan
SKS sehingga otomatis yang pintar bisa cepat selesai. ada pula yang
mengajukan alasan SBI/RSBI yang pembelajaran MIPA juga menggunakan
bahasa inggris dan berbasis IT.
Lalu bagaimana aksel ke depan. kalau kita liha UU no. 20/2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional jelas-jelas menyatakan bahwa anak cerdas/
berbakat istimewa berhak mendapatkan pendidikan khusus. sampai ini
belum ada rumusan yang jelas...seperti apa yang dimaksud dengan
pendidikan khusus itu. dari sisi ini sebenarnya program aksel yang
sekarang berjalan dapat dianggap memiliki kekhususan, yaitu
dikelompokkan berdasarkan tingkat IQ serta menyelesaikan pendidikan
lebih cepat daripada reguler..
tapi...yang berjalan sekarang pun, terus diobok-obok dengan alasan
inklusivitas dan ketidakseimbangan pengembangan diri karena terlalu
fokus pada kemampuan akademik. belum lagi ada tulisan di sebuah blog
yang menyatakan...."tutup akselerasi..masukan ke program inkulisi.
Padahal kalau dilihat di lapangan, lebih banyak anak-anak aksel yang
bisa bersosialisasi dengan teman-teman lainnya secara baik. jadi
kenapa mereka harus dianggap tidak baik. kalaupun memang ada, mari
kita sama-sama benahi.
bukan mau anak-anak ini menjadi anak CI+BI, tetapi karena anugerah
Allah SWT, mereka memiliki kemampuan itu. tapi dengan perkembangan
yang terjadi belakangan ini, mereka seperti makhluk yang tidak boleh
hidup tenang di bumi Indonesia. padahal mereka sudah banyak menyumbang
bagi kehormatan negeri ini melalui ajang-ajang olimpiade dan
sebagainya.
mari selamatkan mereka...agar sumber daya terbaik bangsa ini tak jadi
merana atau pergi yang kadang tak mau kembali.
SELAMATKAN ANAK CI-BI INDONESIA.
Salam.
Amril Muhammad
Selengkapnya...
Selasa, 14 Juli 2009
DAFTAR SISWA AKSELERASI ANGKATAN 6 DAN SMA LANJUTAN
Adi : Bpk Penabur
Anggin : Taruna Bakti
Dinar : Angela
Dwiky : Taruna Bakti
Erin : 3 (RSBI)
Fajar : Taruna Bakti
Genki : Taruna Bakti
Arif : Taruna Bakti
Hafizh : Taruna Bakti
Kamila : Taruna Bakti
Ifa : 3 (RSBI)
Lira : Taruna Bakti
Malik : 3
Mulky : 5
Garid : 3 (RSBI)
Dzaky : Taruna Bakti
Benit : Taruna Bakti
Sena : 3 (RSBI)
Shanry : Taruna Bakti
Selamat ya....semoga kalian terus mampu mempertahankan prestasi dan menjadi manusia sukses dimanapun kalian tinggal dan selalu memberikan kontribusi positif untuk lingkungan sekitar.
Imam Wibawa Mukti,S.Pd
Selengkapnya...Jumat, 10 Juli 2009
MEMBANGUN KEPRIBADIAN ANAK DENGAN CINTA
Dengan cinta maka orangtua dapat menerima anak apa adanya. Terlepas dari apakah
orangtua melihat kelebihan anak ataukah tidak, terlepas dari apakah
orangtua menyukai cacat (kelemahan) anak atau tidak. Tentu saja hal ini
hanya mungkin bagi orangtua yang memiliki tanggungjawah. Orangtua yang
baik tidak akan menuntut anaknya untuk sama dengan anak lainnya. Karena
setiap individu adalah unik. Kita dapat membentuk kepribadian anak
kita, tetapi bukan untuk menyamakan karakter mereka.
. Seperti kita lihat
sahabat Umar ra, Abu Bakar ra dan sebagainya, mereka tidak memiliki
karakter yang sama meskipun masing-masing mereka merupakan
pribadi-pribadi yang islami. Keunikan mereka justru menjadian mereka
ibarat bintang-bintang yang gemerlapan di langit, terangnya bintang
yang satu tidak memudarkan terangnya bintang yang lain. Begitu pula
halnya dengan kreatifitas, setoap sahabat adalah insan kreatif.
Masing-masing mereka memiliki dimensi kreatifitas sendiri-sindiri.
Salman Al-Farisi penggagas perang parit, Umar bin Khattab penggagas
ketertiban lalu lintas, Abu Bakar Ash-Shiddiq penggagas tegaknya sistim
ekonomi islam, Khalid bin Walid penggagas strategi perang moderen dan
banyak lagi. Tinggal yang menjadi masalah sekarang adalah, kita para
orangtua kurang bersungguh-sungguh untuk menemukan bakat-bakat dan
minat-minat yang dimiliki oöeh anak. Seolah-olah kita para orangtua
lebih suka anak kita menjadi fotokopi orang lain, ketimbang dia tumbuh
sebagai suatu pribadi yang utuh. Kalau anak-anak Amerika dengan
shibghah (celupan) individualis liberalis dapat mengatakan : I want to
be me ! Mengapa anak-anak kita, anak muslim tidak dapat mengatakan :
Ana Abdullah ( Saya abdi Allah) ! Kalau kepribadian menentukan
kreativitas, maka seorang muslim pada hakekatnya memiliki potensi
kreatif lebih besar dibandingkan ummat-ummat lainnya. Karena
kepribadian islam tiada tandingannya.
Menumbuhkan dan Mengem-bangkan Motivasi
Kepribadian yang
kuat biasanyaa memiliki motivasi yang kuat pula. Tapi karena
kreatifitas itu dimulai dari suatu gagasan yang interaktif, maka
dorongan dari luar juga diperlukan untuk memunculkan suatu gagasan.
Dalam hal ini para orangtua banyak berperan. Dengan komunikasi dialogis
dan kemampuan mendengar aktif maka anak akan merasa dipercaya,
dihargaai, diperhatikan, dikasihi, didengarkan, dimengerti, didukung,
dilibatkan dan diterima segala kelemahan dan keterbatasannya. Dengan
ini anak akan memiliki dorongan yang kuat untuk secara berani dan
lancar mengemukakan gagasan-gagasannya. Selain komunikasi dialogis dan
mengdengar aktif, untuk memotivasi anak agar lebih kreatif, sudah
seharusnya kita memberikan perhatian serius kepada aktifitas yang
tengah dilakukan oleh anak kita. Seperti misalnya melakukan aktifitas
bersama-sama mereka. Kalau kita biasa melakukan shoum dan shalat
bersama anak-anak kita, mengapa untuk aktifitas yang lain kita tidak
dapat melakukannya ? Bukanlah lebih mudah untuk mentransfer suatu
kebiasaan yang sama ketimbang harus memulai suatu kebiasaan yang sama
sekali baru ? Dengan demikian sesungguhnya seorang muslim memiliki
peluang yang lebih besar untuk menjadikan anak-anak mereka kreatif.
Tinggallah sekarang bagaimana kita sebagai orangtua muslim senantiasa
berusaha untuk memperkenalkan anak-anak kita dengan berbagai hal dan
sesuatu yang baru untuk memenuhi aspek kognitif mereka. Agar mereka
lebih terdorong lagi untuk berpikir dan berbuat secara kreatif. Suatu
hal yang perlu dicatat dalam memotivasi anak agar kreatif, lakukanlah
serekreatif mungkin dan hindarilah kesan-kesan rekonstruktif.
Mensistimatisir Proses Pembentukan Anak Kreatif
Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam pembentukan anak kreatif adalah :
Pertama :
Persiapan waktu, tempat, fasilitas dan bahan yang memadai. Mengenai
waktu dapat berkisar antara 5- 30 menit setiap hari, sangat tergantung
pada bentuk kreatifitas apa yang hendak dikembangkan. Begitu pula
halnya dengan tempat, ada yang memerlukan tempat yang khusus dan ada
pula yang dapat dilakukan di mana saja. Fasilitas tidak harus selalu
canggih, tergantung sasaran apa yang hendak dicapai. Bahan pun tidak
harus selalu baru, lebih sering justru menggunakan bahan-bahan sisa
atau bekas.
Kedua :
Mengatur selang seling kegiatan. Kegiatan diatur sedemikian rupa agar
dalam melakukan aktifitas tersebut anak-anak terkadang melakukan
aktivitas secara individual, tetapi adakalanya juga melakukan aktifitas
secara kelompok. Terkadang anak-anak melakukan aktivitas secara
kompetitif, terkadang juga secara kooperatif.
Ketiga :
Menyediakan satu sudut khusus untuk anak dalam melakukan aktifitas Kita
dapat menyediakan satu sudut di rumah untuk menghamparkan sajadah dan
kemudian shalat diatasnya. Mengapa kita tidak dapat menyediakan sudut
khusus untuk kreatifitas anak-anak kita ?
Keempat :
Memelihara iklim kreatifitas agar tetap terpelihara Caranya dengan
mengoptimalkan point-point yang telah disebutkan pada kunci no 2 untuk
mempertahankan kreatifitas anak.
Mengevaluasi Hasil Kreativitas
Selama ini kita
sering terjebak untuk menilai kreatifitas melalui hasil atau produk
kreatifita. Padahal sesunggunya proses itu lebih penting ketimbang
hasilnya. Pentingnya penilaian kita terhadap proses kreatifitas, bukan
berarti kita tidak boleh menilai hasil kreatifitas itu sendiri.
Penilaian tetap dilakukan, hanya saja ada satu hal yang harus kita
perhatikan dalam menilai. Hendaknya kita menilai hasil kreatifitas
tersebut dengan menggunakan perspektif anak dan bukan menggunakan
perspektif kita sebagai orang tua. Kalau kita mendapati seorang anak
berusia 3 tahun dan kemudian dia dapat menyebutkan angka dari 1 sampai
10 apakah kita akan mengatakan, “Ah, kalau cuma kaya’ begitu saya bisa
!” Tentu saja satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam mengevaluasi
prosos dan hasil kreatifitas adalah “Open Mind” atau dengan “Pikiran
yang terbuka”. Apalagi anak seringkali mengemukakan gagasannya atau
menelurkan suatu hasil kreatifitas yang tidak lazim. Setiap kali kita
mengevaluasi hasil tersebut, kita harus selalu memberikan dukungan dan
juga penguatan. Dan begitu juga sebaliknya, jauhi celaan dan hukuman
... agar anak kita tetap kreatif.
Tulisan diangkat dari Ummi 8/VI/ 1994
Selengkapnya...
Jumat, 03 Juli 2009
Mengenal Aral Kreativitas
Kreatifitas adalah jantung dari inovasi. Tanpa kreatifitas tidak akan ada inovasi. Sebaliknya, semakin tinggi kreatifitas, jalan ke arah inovasi semakin lebar pula. Sayangnya, banyak pendapat keliru tentang kreatifitas. Misalnya, kreatifitas itu hanya dimiliki segelintir orang berbakat. Lebih salah kaprah lagi, kreatifitas itu pembawaan sejak lahir. John Kao, pengarang buku Jamming: The Art and Discipline in Bussiness Creativity, (1996), membantah pendapat ini. "Kita semua memiliki kemampuan kreatif yang mengagumkan. Dan benar kreatifitas bisa diajarkan dan dipelajari," kata Kao.
Kreatifitas selalu dimiliki orang berkemampuan akademik dan kecerdasan yang tinggi. Ini juga pendapat keliru. Berbagai penelitian membuktikan, sekalipun kreatifitas bisa dirangsang dan ditingkatkan dengan latihan, namun tidak berarti orang cerdas dan berkemampuan akademik tinggi otomatis bisa kreatif. Lagi pula, untuk jadi kreatif ternyata tidak cukup berbekal skill dan kemampuan kreatif belaka. John G. Young, pengarang buku berjudul Will and Won't: Autonomy and Creativity Blocks (2002), berkesimpulan bahwa kreatifitas juga membutuhkan kemauan atau motivasi. Mengapa?
"Sebab memiliki ketrampilan, bakat, dan kemampuan kreatif tidak otomatis membuat seseorang melakukan aktivitas yang menghasilkan output kreatif. Ia bisa memilih tidak melakukan aktivitas kreatif. Jadi faktor dorongan atau motivasi sangat penting di sini," tegas Young.
Creativity blocks
Pendapat-pendapat di atas diperkuat oleh Madhukar Shukla, pengarang buku The Creative Muse: Story of Creativity and Innovation. Ia menyatakan, "Beda antara orang kreatif dan yang tidak hanyalah pada kemampuan orang kreatif dalam menghalau aral (penghalang) kemampuan kreatifitas."
Paparan-paparan para pakar di atas makin menegaskan bahwa semua orang memiliki karunia yang menakjubkan dalam hal kreatifitas. Namun, sekalipun semua orang berpotensi dan punya bakat kreatif, ada penghalang tertentu yang menyebabkan adanya kecenderungan orang yang satu bisa lebih kreatif daripada yang lain. Ini menghantarkan kita pada pertanyaan; bagaimana cara menghilangkan aral atau penghalang-penghalang kreatifitas tersebut?
Tentu saja langkah awalnya adalah dengan mengenali anatomi aral kreatifitas. Ringkasnya, aral kreatifitas (creativity block) adalah kondisi internal maupun eksternal (lingkungan) yang menghalangi proses kreatif. Aral internal berasal dari dalam diri individu sendiri dan bisa berbentuk pola pikir, paradigma, keyakinan, ketakutan, motivasi, dan kebiasaan.
Ada kalanya seseorang mempunyai bakat-bakat kreatif dan tertantang untuk mengembangkannya. Sayang, lingkungan sekitar bukannya mendukung dan mewadahi, namun malah menghalanginya. Kondisi lingkungan yang menghambat kreatifitas dan ini bisa berupa aral sosial, organisasi, dan kepemimpinan. Secara singkat, pembahasan kedua jenis aral kreatifitas tersebut adalah sbb:
Aral pola pikir
Dalam konteks kreatifitas, dikenal dua pola berpikir. Pertama adalah pola pikir produktif yang artinya jika dihadapkan pada suatu masalah, seseorang akan berusaha menemukan cara berpikir berbeda, cara pandang baru (sekalipun tidak selalu orisinil), sikap dan perilaku berbeda, merespon dengan cara-cara non konvensional, bahkan unik. Pola semacam inilah yang membuka jalan dan selalu merangsang kreatifitas seseorang.
Kedua, adalah pola pikir reproduktif yang artinya jika dihadapkan pada masalah, seseorang akan cenderung merespon dengan cara yang sama, mengulang pola pikir atau cara pemecahan lama yang sudah terbukti berhasil. Itu sebabnya pola pikir reproduktif menjadi salah satu penyebab utama kekakuan berpikir, dan dengan demikian menjadi aral kreatifitas.
Seringkali, pola pikir reproduktif berlangsung secara mekanikal atau nyaris otomatis. Dan ini terkondisikan oleh hasil pendidikan model skolastik atau lingkungan yang menuntut cara-cara berpikir praktis dan sangat terstruktur. Sampai pada saat kita mentok dalam upaya pencarian variasi solusi, di titik itulah baru kita sadari keterbatasan pola pikir reproduktif.
Aral paradigma
Tak beda jauh dengan aral pola pikir adalah aral paradigma. Sebagai cara mempersepsi, memahami, dan menafsirkan dunia sekelilingnya, atau alat untuk melahirkan gambaran batin, paradigma seseorang sangat mempengaruhi kreatifitas. Seorang dengan paradigma anti konflik umumnya kurang menyukai perubahan, atau bahkan membenci perubahan yang lebih dianggap sebagai ancaman terhadap kemapanan daripada dipersepsi sebagai peluang perbaikan. Padahal, kreatifitas seringkali merupakan aktivitas yang melampaui kemapanan. Kreatifitas dapat terlahir atau terstimulasi melalui benturan, persinggungan, percampuran, dan penyatuan berbagai unsur yang berbeda atau bahkan saling bertentangan.
Aral keyakinan
Turunan dari paradigmaadalah keyakinan yang bisa menjadi pendorong atau justru menjadi faktor penghambat kreatifitas. Kreatifitas sering memunculkan output baru yang berlawanan atau bahkan mengalahkan hal lampau, mengalahkan senioritas, mengalahkan pengalaman, atau mengalahkan hirarki. Dalam hal keyakinan yang dianut menabukan inisiatif, mengharuskan penghormatan pada senioritas, hirarki, atau pengalaman misalnya, maka manifestasi kreatifitas umumnya relatif terhambat. Nah, sampai batas mana individu bisa mengelola aral ini, sampai pada batas itulah ia bisa menyediakan ruang kreatifitas bagi dirinya sendiri.
Aral ketakutan
Barangkali aral kreatifitas yang paling mudah dikenali adalah rasa takut. Aral ini bisa berupa takut diabaikan, takut dicemooh, takut dievaluasi, takut dihakimi, takut dianggap bodoh, takut pada ketidaksempurnaan, takut mencoba, takut ambil risiko, takut ide tidak berjalan seperti yang diharapkan, takut gagal, dll. Salah satu sebab mengapa banyak rapat-rapat kurang maksimal atau kurang kreatif adalah karena masih kuatnya aral ketakutan yang membelenggu para pesertanya. Pendek kata, kebanyakan rasa takut membuat seseorang cenderung enggan mewujudkan potensi dan mengembangkan kreatifitasnya.
Aral motivasional
Motif sangat mempengaruhi sikap, perilaku, keinginan, atau tindakan-tindakan sengaja lainnya. Tanpa motivasi orang cenderung tidak terdorong dan tidak tergerak untuk meraih sesuatu yang diinginkannya. Padahal kreatifitas sering menuntut satu rangkaian persiapan, pemikiran, pendefinisian persoalan, dan pemecahannya. Semuanya membutuhkan --dalam derajat tertentu-- usaha dan kerja keras. Bila motivasi rendah, orang cenderung kurang menyukai kerja keras, kurang tekun, dan enggan memanfaatkan kemampuan kreatifnya untuk memecahkan tantangan.
Aral kebiasaan
Sebagai perpaduan antara pengetahuan, ketrampilan, dan keinginan, maka kebiasaan pun jelas berpengaruh pada kreatifitas. Orang-orang kreatif umumnya memiliki kebiasaan- kebiasaan yang menstimulasi kreatifitas. Sementara orang- orang yang kurang kreatif juga memiliki kebiasaan-kebiasaan tertentu, yang sayangnya bisa meredam kreatifitas. Misalnya; suka menghindari masalah (bukannya mencari solusi), malas berpikir, menghindari tantangan, menghindari tanggung jawab, menghakimi ide-ide baru, berpuas diri, menghindari hal-hal imajinatif, dll. Dihadapkan pada kebiasaan-kebiasaan maka tantangan kreatifitas tidak ada artinya.
Aral sosial
Kreatifitas kadang bukan semata aktivitas individual sehingga langsung atau tidak juga dipengaruhi aspek sosial. Situasi sosial tertentu cukup apresiasif dan menghargai kreatifitas dengan layak sehingga bisa lebih memotivasi indvidu-individu untuk produktif dan kreatif. Sementara situasi sosial lainnya relatif kurang apresiasif atau bahkan mengekang. Pendidikan tradisional misalnya, sering dianggap sebagai salah satu produk sosial yang kurang memberi tempat bagi kreatifitas.
Aral organisasi
Kini organisasi bisnis menempatkan kreatifitas sebagai motor sekaligus bahan bakar inovasi. Sekalipun peran kreatifitas diakui besar, namun banyak organisasi gagal menyediakan lingkungan atau iklim yang kondusif bagi kreatifitas. Organisasi yang konservatif biasanya kurang merangsang kreatifitas. Sebut pula batasan-batasan seperti hirarki, aturan yang tidak fleksibel, ketiadaan wadah bagi ekspresi kreatif, egoisme antar departemen, buruknya komunikasi, atau situasi organisasi yang sangat terpolitisasi. Potensi kreatif individu sering tidak maksimal dalam iklim seperti ini.
Aral kepemimpinan
Dalam kehidupan sosial dan organisasional, faktor gaya kepemimpinan juga berpengaruh secara signifikan terhadap proses kreatifitas. Jika pemimpin organisasi kurang memberi ruang kebebasan, kurang bisa momotivasi, tidak mampu memberi tantangan, tidak mampu mengelola hasrat kreatif, kurang memberi penghargaan, tidak memberi kepercayaan, tidak mendukung, dan tidak mampu menciptakan lingkungan yang kondusif, maka kreatifitas individu-individu dalam organisasi jelas akan terhambat. Seberapa kreatif individu- individu dalam tim, namun jika tidak didukung oleh kemampuan manajemen kreatif pemimpinnya, hasilnya juga kurang menggembirakan.
Sumber: Mengenali Aral Kreatifitas oleh Edy Zaqeus
Selengkapnya...
Kamis, 25 Juni 2009
KITA BISA KOK JADI ANAK JENIUS
Asyiknya jadi anak pintar. Langganan ranking satu, masuk kelas akselerasi atau juara lomba sains. Eits, tapi siapa bilang kita enggak bisa seperti mereka. Bisa kok!
Kita biasa menyebut mereka genius. Anak-anak superpintar yang beruntung bisa masuk kelas akselerasi dan menghemat waktu sekolah. Uuuh, bikin iri. Eh, tapi, jangan asal panggil mereka anak genius. Dalam ilmu psikologi dan dunia pendidikan, mereka biasa dipanggil anak berbakat alias gifted child.
"Istilah genius terlalu berlebihan. Genius itu berarti dia berhasil menciptakan karya yang diakui oleh manusia, seperti Einstein," kata psikolog pendidikan, Dr Reni Akbar-Hawadi. Anak genius itu pasti anak berbakat, tetapi anak berbakat belum tentu termasuk genius, lanjut Bu Reni yang sudah mendalami psikologi anak berbakat sejak tahun 1982. Jadi, lebih aman kalau kita pakai istilah anak berbakat daripada genius. Karena genius itu cuma digunakan untuk mereka yang benar-benar luar biasa pintar dan inovatif. Pokoknya sudah canggih banget deh!
Siapa yang berbakat?
Lalu, apa sih yang bikin seseorang tergolong anak berbakat? Paling kelihatan, ya, dari IQ-nya. Taruhan deh, kita sering menilai seseorang pintar atau enggak dari IQ-nya, kan? Tapi, itu aturan lama! Zaman sekarang penilaian itu enggak cukup cuma dari IQ. Menurut Prof Joe Renzulli, psikolog pendidikan asal Amerika, seseorang dikatakan berbakat kalau mempunyai nilai di atas standar pada tiga macam karakteristik, yaitu kemampuan umum, komitmen tugas, dan kreativitas. Konsep dari Prof Renzulli inilah yang dipakai Kelompok Kerja Pendidikan Luar Biasa (KKPLB) untuk mendeteksi anak berbakat.
Kemampuan umum yang dimaksud di sini antara lain adalah daya tangkap, kemampuan numerik (matematika), dan wawasan kita. Ini akan langsung ketahuan dari nilai IQ kita. "Di Indonesia, nilai IQ minimum untuk masuk kelas akselerasi adalah 125," ujar Bu Reni. Selain IQ, ada dua kemampuan lain yang enggak kalah penting.
Komitmen tugas adalah perasaan senang saat kita sedang menyelesaikan suatu pekerjaan. Ini biasanya kelihatan dari perjuangan, kerja keras, dan keuletan kita. Pantang menyerah gitulah. "Di kelas akselerasi, aku enggak bisa nyantai. Aku harus sering belajar. Tapi, masuk kelas aksel kan keinginanku. Jadi, aku harus tanggung jawab," kata Alyssa yang akrab dipanggil Icha (12), siswi kelas II SMP Madania, yang ikut kelas akselerasi sewaktu SD.
Ada lagi ciri lain anak berbakat. Suka tantangan! Mereka juga mandiri dan enggak takut mengambil risiko. "Kriteria ini termasuk dalam aspek kreativitas," papar Bu Dosen pengarang buku Identifikasi Keberbakatan Intelektual terbitan tahun 2002.
"Di sekolah, Fisika adalah pelajaran yang paling ditakuti. Tapi, aku malah pengin mencoba sesuatu hal yang beda dan enggak disukai orang lain," ujar Thomas (17), siswa kelas II SMU 3 Bandung, anggota Tim Olimpiade Fisika Indonesia 2004.
"Aku lebih senang les biola daripada piano karena jarang banget ada anak kecil bisa main biola. Sementara yang bisa piano kan banyak," ujar Icha yang sejak kelas I SD sudah mengikuti les biola.
Ck-ck-ck… Jadi penasaran, gimana sih cara mereka belajar? "Anak berbakat sudah bisa mengatur sendiri tempo belajarnya. Mereka enggak perlu diingatkan lagi," kata Bu Reni. Adanya inisiatif dan kemandirian tinggi membuat mereka terampil mengatur jadwalnya tanpa harus dibantu orang lain. Wah, jadi malu nih. Soalnya, banyak di antara kita yang baru belajar kalau disuruh ortu.
"Aku biasa belajar setelah mandi sore sampai makan malam. Setelah itu, belajar lagi. Enggak perlu diingetin lagi, ini kan sudah tanggung jawabku," kata Icha.
"Aku belajar keinginan sendiri saja. Sejak SMP, ortu enggak pernah nyuruh-nyuruh belajar. Biasa belajar malam hari. Ngantuk sih, tapi kalau lagi semangat, enggak terasa," cerita Thomas yang langganan ranking satu sejak SMP. Duh, hebat banget sih! Kayaknya hidup anak berbakat asyik banget! Eh, tapi, enggak juga lho.
Problem anak berbakat
"Semakin tinggi IQ seorang anak, ia akan semakin merasa beda," tutur Bu Reni. Anak berbakat punya kebutuhan berbeda dibandingkan dengan anak lain yang seusianya. Contoh, mereka cepat banget menangkap ilmu yang diajarin sehingga gampang kesal kalau menghadapi orang yang enggak sepintar dia. Kemampuan bahasa mereka yang biasanya di atas rata-rata juga sering membuat mereka mendominasi pembicaraan dan sulit mendengarkan orang lain.
Persoalan-persoalan yang dihadapi anak berbakat biasanya seputar dunia pergaulan. Kenapa ya? "Sebab, perkembangan pikiran mereka lebih maju dibandingkan dengan perkembangan emosi," jawab Bu Reni. Sering terjadi, anak berbakat justru dianggap aneh oleh orang lain. Anggapan ini muncul karena cara berpikir mereka yang terlalu kreatif. Mereka sering melontarkan ide-ide nyeleneh yang dianggap aneh bagi banyak orang.
Mereka juga sering diperlakukan berbeda oleh orang-orang di sekitarnya. "Aku paling bete kalau teman-teman pada becandain aku pakai label ’jago Fisika’. Aku enggak suka dibedain," keluh Thomas.
Hidup anak berbakat memang akan semakin susah kalau orang sekitarnya enggak bisa memahami dia. Di Indonesia sendiri, fasilitas untuk mereka masih belum memadai. "Fasilitas konseling dan pengarahan anak berbakat belum banyak ditemui. Apalagi pengetahuan masyarakat tentang mereka masih minim," ujar Bu Reni yang sedang berencana membuat klub anak berbakat.
Jadi anak berbakat
Sebenarnya dari mana datangnya anak berbakat? Ada dua faktor. Pertama, faktor keturunan dari keluarga. Nyokap-bokap yang pintar kemungkinan besar akan melahirkan anak yang pintar juga. Faktor kedua yang enggak kalah penting adalah lingkungan. Ini berjalan sepanjang kehidupan kita. Kita mendapatkannya dari pola asuh orangtua, teman-teman, dan benda-benda di sekitar kita. Kebanyakan anak berbakat dibesarkan dalam lingkungan yang mendukung potensinya.
"Anak berbakat akan semakin berkembang kalau orangtuanya mendukung kegiatan mereka. Misal, membebaskan mereka ikut les-les," ujar Bu Reni.
"Mama ngebebasin aku ikut les apa saja yang aku pengin," kata Icha yang sampai sekarang aktif les balet, biola, dan Bahasa Inggris.
Fasilitas di rumah juga ikut mendukung. Seperti yang dialami Thomas, "Waktu kecil, ortu langganan koran. Aku paling suka baca artikel-artikel tentang sains." Pengaruh faktor lingkungan yang dahsyat ini juga memberikan pencerahan buat kita. Bahwa sesungguhnya kita yang IQ-nya normal pun bisa maju seperti anak berbakat!
"Kalau menaikkan IQ memang sulit. Sebab, otak kita sudah punya kapasitas yang enggak bisa ditambah. Lebih baik kembangkan aspek komitmen tugas dan kreativitas!" ujar Bu Reni. Jadi, serius nih, kita bisa jadi anak berbakat? "Bukan bisa lagi!" kata Bu Reni tegas.
Tapi, tetap ada syarat utama. Minimal IQ kita 100. Ini adalah patokan IQ normal. Kalau syarat ini sudah terpenuhi, kita kembangkan kemampuan lain, yaitu kreativitas dan komitmen pada tugas. Keberhasilan malah lebih tergantung pada dua aspek ini lho! Enggak percaya?
"Lihat saja kisah orang sukses. Enggak ada yang ngomongin IQ. Mereka lebih menekankan kerja keras dan panjang akal," papar Bu Reni.
"Aku pernah gagal waktu masuk kelas akselerasi SMU karena IQ-ku cuma 116. Tapi, aku belajar keras buat membuktikan ke sekolah kalau bisa tetap lolos olimpiade fisika," curhat Thomas. Kerja kerasnya berbuah manis. Sekarang Thomas jadi satu-satunya perwakilan sekolah yang berhasil lolos dan tergabung dalam Tim Olimpiade Fisika Indonesia. Nah, ini jadi bukti sakti bahwa IQ bukan patokan mati!
Kerja keras, mandiri, pantang menyerah, kritis, kreatif, senang menyerap ilmu baru, dan berani ambil risiko adalah beberapa sifat penting yang harus dikembangkan supaya bisa sehebat anak berbakat. Jangan cuma gigit jari dan iri hati melihat mereka. Di dalam diri kita tersimpan potensi yang menunggu untuk dikembangkan. Sekarang pertanyaannya, apakah kita mau mengeluarkannya?
Even if you have doubts about the extent of your giftedness, you will really bring your talents to life if you will embrace your drive to become, serve, create, achieve, and contribute.
(Mary Rocamora, pendiri sekolah anak berbakat Rocamora di Los Angeles)
TRINZI MULAMAWITRI Tim MUDA
Rabu, 24 Juni 2009
PENTINGNYA PROSES PENJARINGAN DAN PENYARINGAN DALAM PROGRAM AKSELERASI
(sambungan....)
Pada saat observasi, siswa digabung di kelas reguler dan diobservasi oleh semua guru kelas VII. Dengan demikian ada dua keuntungan dari tahapan observasi ini yaitu adanya kesempatan para calon akseleran untuk bersosialisasi dengan rekannya di reguler. Kedua, siswa mendapatkan pengamatan secara langsung oleh semua guru sehingga potensi dan aktualisasinya dapat dipantau secara seksama.. Hasil observasi ini akan dibawa kedalam rapat pleno untuk menentukan siswa yang akan mengikuti program akselerasi. Dengan adanya rapat pleno maka penyelenggara akselerasi akan mendapat informasi lebih lengkap baik perihal akademis, komitmen dan tanggungjawabnya selama proses pembelajaran. Keuntungan kedua adalah karena diambil secara musyawarah maka seluruh guru dilibatkan dan memiliki tanggung jawab yang sama untuk membina dan mendampingi siswa.
Dengan pelaksanaan penjaringan dan penyaringan yang sesuai dengan prosedur maka diharapkan kualitas input peserta akselerasi akan lebih baik sehingga tidak akan ditemui masalah yang berarti dalam proses pembelajaran. Semoga !
REFLEKSI
Kalau siswa yang dapat mengikuti program akselerasi adalah yang memenuhi karakteristik diatas, maka bagaimana dengan siswa yang memiliki IQ tinggi namun tidak terjaring dalam tahapan-tahapan yang telah ditentukan...? ini menjadi PR kita semua...! pernah sekolah kami mendapatkan anak dengan IQ di atas 145! Fantastis, namun sayang potensinya tidak diikuti dengan kemampuan mengeluarkannya dalam bentuk prestasi atau kemampuan akademis yang luar biasa. Mereka adalah golongan underachiever yang sebenarnya memiliki potensi luar biasa apabila ditangani secara serius. Mari berbagi....!
Bandung 24 Juni 2009
Imam Wibawa Mukti,S.Pd
Koordinator Akselerasi SMP Taruna Bakti Bandung
085624098017 Selengkapnya...
Selasa, 23 Juni 2009
PENTINGNYA PROSES PENJARINGAN DAN PENYARINGAN DALAM PROGRAM AKSELERASI
(BAGIAN PERTAMA)
Ada pandangan negatif terhadap program akselerasi saat ini, padahal program ini telah berjalan kurang lebih 10 tahun. Ada apa sebenarnya? Mengapa masyarakat belum juga bisa menerima program ini secara penuh?
Dari pada mencari-cari kesalahan orang lain lebih baik kalau kita (sekolah penyelenggara akselerasi) untuk mencoba melakukan evaluasi diri, kira-kira apa kelemahan dari program akselerasi kita selama ini.
Saya mencoba beberapa artikel untuk menjadi bahan renungan atau refleksi bagi keberadaan akselerasi saat ini. Ternyata bisa kita identifikasi beberapa masalah yang menjadi sorotan pihak yang kontra program akselerasi, diantaranya adalah :
Adanya keraguan terhadap program ini untuk mampu memberikan layanan terbaik bagi anak cerdas istimewa. Hal ini dikarenakan adanya berita tentang siswa akselerasi yang stress, depresi atau drop ke kelas reguler karena tidak mampu mengikuti program akselerasi di tengah jalan.
Mengapa ada siswa yang stress, depresi atau tidak mampu mengikuti program ini padahal anak ini memiliki potensi diatas rata-rata? Apakah waktu dua tahun untuk menguasai materi SMP atau SMA ini sangat berat bagi siswa? Atau apakah progam ini membebankan tugas dan materi yang terlalu berat buat mereka?
Mari kita mencoba memikirkan penyebab hal tersebut!
Ada beberapa kemungkinan, diantaranya :
Sekolah membuat jadwal waktu pembelajaran melebihi standar baku, misalnya menambah jam belajar siswa akseleran dibandngkan kelas reguler.
Guru tidak melakukan modifikasi atau rekayasa kurikulum sehingga semua materi dan metode pembelajaran persis sama dengan reguler namun dengan kecepatan lebih tinggi daripada kelas reguler.
Kurangnya pengawasan, pendampingan dan bimbingan dari guru Bimbingan dan Konseling sehingga guru dan orang tua tidak mampu mengantisipasi perkembangan permasalahan yang dihadapi siswa.
Yang terakhir dan yang terpenting adalah adanya kesalahan atau kekurangtepatan dalam proses penjaringan dan penyaringan.
Pada tulisan ini saya hanya ingin membahas satu point penting saja, yaitu proses penjaringan dan penyaringan siswa calon akseleran. Karena pangkal dari keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh seberapa tepatnya sekolah melakuka proses memilih input, sehingga siswa yang masuk program akselerasi benar-benar telah memenuhi standar yang ditentukan.
Apa sih yang mungkin salah dalam proses perekrutan siswa akseleran selama ini...? Mari kita identifikasi beberapa langkah atau tahapan dalam yang sesuai dengan petunjuk umum pedoman penyelenggaraan akselerasi.
PROSES PENJARINGAN DAN PENYARINGAN
Proses rekrutmen dan seleksi dipengaruhi oleh model layanan pendidikan yang diberikan bagi peserta didik cerdas istimewa. Beberapa prinsip identifikasi yang perlu diperhatikan adalah (Klein, 2006; Porter, 1999):
Kecerdasan istimewa merupakan suatu fenomena yang kompleks sehingga identifikasi hendaknya dilakukan secara multidimensional dengan:
1. Menggunakan sejumlah cara pengukuran untuk melihat variasi dari kemampuan yang dimiliki oleh anak cerdas istimewa pada usia yang berbeda.
2. Mengukur bakat-bakat khusus yang dimiliki untuk dijadikan acuan penyusunan program belajar bagi anak cerdas istimewa.
3. Tidak hanya memperhatikan kecerdasan istimewa yang sudah teraktualisasi, namun juga mengidentifikasi potensi.
4. Identifikasi tidak hanya untuk mengukur aspek kognitif, namun juga motivasi, minat, perkembangan sosial emosional serta aspek non kognitif lainnya.
Prosedur dirancang utk semua anak artinya harus dapat menjangkau semua anak dengan berbagai perbedaan latar belakang. Dan prosedur tersebut telah ditetapkan dalam PEDOMAN PENATALAKSANAAN PSIKOLOGI UNTUK PENDIDIKAN SISWA CERDAS ISTIMEWA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDERAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH LUAR BIASA JAKARTA 2007 meliputi :
1. Melaksanakan psikotest untuk memperoleh data objektif berupa skor hasil psikotest yang meliputi IQ, CQ dan TC. Menurut pedoman diatas, skor minimal untuk IQ yaitu 130 skala Cettel (kategori superior) dengan indikator lainnya seperti kreatifitas dan tanggung jawab diatas rata-rata.
Sebagai titik pangkal acuan, maka penyelenggara akselerasi dilarang untuk mempermainkan atau merubah standar
Bila ada sekolah yang menurunkan standar IQ dengan alasan untuk menjaring siswa sebanyak-banyaknya, maka siswa bisa dipastikan akan menghadapi masalah dalam proses kegiatan belajar mengajar. Karena dirasakan atau tidak, proses pembelajaran diakselerasi akan menuntut ketahanan mental dan fisik. Oleh karena itu maka menurunkan standar
2. Setelah diidentifikasi dari hasil psikotest, maka sekolah harus menggabungkannya dengan alat ukur lainnya, yaitu prestasi akademis. Hal ini penting untuk membaca track record siswa dan memetakan antara potensi dengan produk yang mampu dicapai oleh calon akseleran. Adapun criteria akademis yang dibakukan adalah :
a. Nilai Ujian Nasional dari sekolah sebelumnya, dengan rata-rata minimal 8,0 untuk SMP dan SMA.
b. Tes kemampuan Akademis, dengan nilai sekekurang-kurangnya 8,0
c. Rapor kelas sebelumnya , nilai rata-rata seluruh mata pelajaran tidak kurang dari 80.
d. Nilai hasil Ujian Akhir Sekolah Dasar Rata-rata ³ 8,0
e. 8.Tidak terdapat nilai 6 di rapor SD
f. Nilai Rapor kelas 5 dan 6 untuk mata pelajaran Agama, Bahasa Indonesia dan Matematika ³ 8,0 (delapan koma nol)
Pertanyaannya, apakah sekolah telah melaksanakan ketentuan ini dengan baik? Mungkin sekolah memiliki mekanisme atau system tersendiri untuk melaksanakan ketetapan diatas. Namun tentunya apapun system tersebut tidaklah berarti menurunkan standar baku tersebut.
2. Langkah berikutnya adalah melakukan sosialisasi program akselerasi sekaligus menawarkan program ini kepada siswa dan orang tua. Hal sangat penting untuk dilakukan mengingat masih banyak masyarakat yang belum memahami arti dari layanan akselerasi ini sehingga
Dari pengalaman melakukan sosialisasi kepada orang tua, kami dapat mengelompokan mereka ke dalam dua kelompok ekstrim, pertama adalah kelompok yang sudah memasang sikap apriori, skeptis atau sinis terhadap program akselerasi. Mereka merasa telah mengetahui program ini walaupun sumbernya mungkin baru dari warung kopi atau hasil arisan..? sehingga materi yang diterima kurang lengkap dan cenderung tendensius.
Kelompok kedua adalah orang tua yang merasa pantas anaknya masuk program akselerasi dengan alasan pintar dan memiliki prestasi saat SD atau SMP. Mereka terkadang tidak terlalu peduli dengan sosialisasi karena targetnya adalah bagaimana anak mereka dapat masuk ke program ini.
Oleh karena itu, sosialisasi merupakan jembatan antara orang tua dari kelompok apatis dengan kelompok peminat supaya mereka mendapatkan informasi yang menyeluruh dan lengkap untuk memahami akselerasi, tidak sekedar mengetahui.
Apabila sekolah tidak melakukan sosialisasi dalam proses penjaringan, kita menghawatirkan masih adanya kesalahpahaman orang tua dalam memandang program akselerasi dan menolak mengikutkan anaknya kedalam program akselerasi sementara anaknya memenuhi standar. Atau mungkin ada orang tua yang memaksakan anakanya untuk masuk ke dalam program akselerasi sementara anaknya tidak memenuhi syarat untuk masuk program. Dan pada akhirnya akan memperngaruhi kualitas input dari siswa yang mengikuti program akselerasi.
Dengan adanya sosialisasi, maka apabila ada orang tua dan siswa yang mengikuti atau menolak keikutsertaannya di program akselerasi dilandasi oleh pemahaman yang utuh tentang akselerasi.
3. Setelah sosialisasi dan penawaran, maka orang tua dan siswa harus menandatangai kesepakatan bersama dengan sekolah untuk menyatakan bahwa keputusan ini merupakan keputusan bersama tanpa adanya tekanan dari salah satu pihak. Ini penting! Sebenarnya kesepakatan itu untuk menjaga komitmen antara siswa, orang tua dan sekolah untuk bekerja sama memberikan segala sesuatu yang terbaik untuk kepentingan bersama. Hal ini disebabkan karena akselerasi harus memiliki program terintegrasi dan didukung oleh semua pihak.
Dampak apabila sekolah tidak membuat nota kesepahaman adalah kurangnya dukungan orang tua dalam berbagai program sekolah yang berhubungan dengan peningkatan kualitas pembelajaran, seperti outbond, Achievment Motivation Training dan lain sebagainya.
4. Proses berikutnya adalah tahap observasi. Tahap ini merupakan tahapan yang sangat penting mengingat pada tahap ini siswa diamati secara intens oleh guru kelas VII untuk menilai tingkat keseriusan dan kemampuannya untuk mengikuti program akselerasi.
(bersambung...)
Senin, 22 Juni 2009
MENCARI SOLUSI DARI BERBAGAI KEKELIRUAN PELAKSANAAN PROGRAM AKSELERASI
Seiring perjalanan waktu, program akselerasi telah berjalan kurang lebih 10 tahun. Perjalanan waktu yang tidak sebentar mengingat banyak hal yang mengiringi pelaksanaan program ini, baik yang bersifat mendukung maupun yang menentang program ini. Masih butuh waktu bagi program ini untuk mampu membuktikan sumbangsihnya kepada dunia pendidikan khususnya dan kepada bangsa secara umum.
Kepada dunia pendidikan, akselerasi harus mampu membuktikan bahwa program ini bukanlah sekedar program coba-coba atau trial and error yang memang senantiasa menjadi ciri khas dunia pendidikan di Indonesia. Dunia pendidikan harus mengakui bahwa akselerasi mampu melahirkan lulusan-lulusan yang memiliki kompetensi yang sejajar atau bahkan lebih dari lulusan yang ada selama ini. Bahkan kalau bisa, program ini harus mampu menjadi sebuah proyek percontohan bagi jenis-jenis layanan pendidikan bagi siswa yang memiliki kebutuhan khusus di Indonesia. Dengan keberanekaragaman kebutuhan khusus peserta didik, sekolah harus terus dipacu untuk mampu meningkatkan layanan kepada mereka yang unik dan memiliki karakter khas sebagai pengakuan kepada peserta didik secara utuh.
Kepada bangsa, mungkin program ini harus mampu menunjukkan sebuah karya nyata bagi bangsa dengan menghasilkan karya nyata yang bermanfaat bagi masyarakat atau memberikan catatan prestasi tinggi di dunia internasional sehingga mampu mengangkat nama bangsa dikancah pendidikan internasional.
Terlepas dari semua itu, berbagai tentangan dan kontra dari para pakar pendidikan dan masyarakat lainnya tidaklah lantas membuat akselerasi semakin berkurang peminatnya. Bahkan dibeberapa sekolah justru mampu mengangkat nama sekolah karena dinilai memiliki kapasitas untuk melaksanakan pendidikan untuk anak cerdas istimewa. DAN...DISINILAH UJUNG PANGKAL MASALAH PROGRAM AKSELERASI SELAMA INI....!
BEBERAPA KEKELIRUAN DALAM PENYELENGGARAAN PROGRAM AKSELERASI DAN DAMPAKNYA
Karena anggapan atau pandangan yang salah dari pihak sekolah terhadap program ini, telah membuat kesalahan dalam pelaksanaannya. Harus kita akui masih ada sekolah yang menganggap program ini sebagai prestige aa sekedar mengangkap gengsi sekolah atau kepala sekolahnya saja. Tidak mustahil anggapan ini benar adanya mengingat masih ada beberapa kekeliruan dalam pelaksanaannya.
Beberapa kekeliruan tersebut diantaranya :
1. Karena memandang sebagai program prestiSe, maka sekolah berusaha untuk terus memaksakan supaya program ini selalu ada di setiap tahun ajaran dengan jumlah siswa semaksimal mungkin. Kekosongan program ini dianggap sebagai sebuah kemunduran, padahal keberadaan program ini pada hakekatnya adalah sebagai bentuk layanan terhadap siswa yang memiliki kecerdasan luar biasa, sehingga keberadaannya sangat tergantung pada ada atau tidaknya siswa yang memiliki kemampuan intelektual diatas rata-rata.
Bahkan dalam kasus dimana jumlah siswanya relatif sedikit, misalnya 3 atau 5 orang, mungkin anak-anak ini akan lebih baik kalau dilayani bersamaan dengan kelas reguler dengan diberikan materi, tugas dan tantangan lebih ketimbang siswa lainnya sehingga tetap mampu mengikuti program belajar selama 2 tahun. Hal ini karena apabila dipaksakan, secara proses kegiatan memisahkan siswa yang 5 orang atau kurang ke dalam satu kelas tidaklah efektif dan efisien.
Yang lebih parah lagi adalah, tidak mustahil ada sekolah yang kemudian melakukan berbagai hal untuk ”menggenapkan” jumlah sampai jumlah maksimal sekitar 20 orang bahkan lebih. Lantas ”kekeliruan” apa yang mungkin dilakukan sekolah dalam mencapai tujuannya tersebut?
Pertama, dengan menurunkan standar minimal bagi siswa untuk mengikuti program ini. Misalnya standar minimal IQ yang seharusnya minimal 130 skala Cettel diturunkan menjadi 120-125 dengan maksud untuk menambah jumlah siswa yang dapat mengikuti program akselerasi. Selain IQ, perlakuan yang sama juga dilakukan terhadap indikator lainnya seperti Task Commitment dan Creativity Quotient. Atau merekayasa indikator lainnya, seperti hasil test akademis yang minimal 8 menjadi cukup hanya dengan angka 7 atau dengan tidak menjadikan track record (misalnya indeks raport) siswa selama di SD sebagai bahan pertimbangan.
Kekeliruan ini melahirkan anggapan bahwa program akselerasi sebagai program asal coba dan asal jadi yang membebani siswa dengan beban akademis yang tinggi dan tugas yang banyak. Padahal apabila proses penjaringan dan penyaringan berjalan sesuai aturan dan prosedur, maka siswa yang mengikuti program ini akan mampu mengikuti program ini dengan sangat-sangat baik.
Kedua, menawarkan pilihan kepada siswa atau orang tua untuk mengikuti program akselerasi atau tidak. Padahal program akselerasi bukanlah program pilihan karena program ini harus memenuhi standar yang telah
Kekeliruan ini kemudian membuat masyarakat menaruh curiga terhadap program akselerasi seolah menjadi ajang mengeruk dana dari orang tua yang memiliki kelebihan dana pendidikan.
2. Memberikan layanan pembelajaran yang tidak berbeda dengan layanan reguler. Kekeliruan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya keseriusan sekolah dalam mengelola akselerasi. Apabila sekolah memandang akselerasi hanya untuk mengingkatkan gengsi atau ajang promosi untuk menarik siswa saja, maka setelah PSB (penerimaan Siswa Baru) selesai dan tahun pelajaran dimulai maka sekolah menganggap perhatian terhadap program ini pun selesai dan diperlakukan sama dengan program lainnya. Faktor lainnya adalah kualitas dari Sumber Daya Manusia dari tenaga pendidik itu sendiri. Dengan tingkat tuntutan dan kecepatan yang tinggi, guru akselerasi dituntut untuk mampu terus mengembangkan berbagai inovasi dan kreatifitas dalam proses pembelajaran, dan untuk itu berarti berbanding lurus dengan sumber daya tenaga pendidik. Bila guru terlalu puas dengan metode yang telah dilakukan maka akan cenderung untuk stagnan dan berhenti untuk kreatif.
Padahal, dengan potensi yang dimiliki oleh siswa program akselerasi maka guru harus mampu menggali materi lebih luas dan lebih mendalam dengan memanfaatkan berbagai fasilitas dan sarana belajar yang tersedia, bahkan tidak mungkin guru melibatkan siswa secara langsung dalam menentukan materi, metode, sarana dan media pembelajaran.
Kekeliruan ini berdampak pada anggapan bahwa metode, proses, media, , evaluasi hasil dan pembelajaran di akselerasi sama saja dengan program reguler dan tidak menjanjikan kelebihan atau keistimewaan lainnya selain pembelajaran yang dimampatkan menjadi dua tahun.
3. Progam akselerasi diperlakukan istimewa oleh sekolah khususnya dalam hal fasilitas dan sarana belajar sehingga menimbulkan kecemburuan dari siswa atau guru lainnya. Kembali kekeliruan ini ujung pangkalnya adalah kesalahan sekolah dalam memandang keberadaan program ini.
Dianggap sebagai icon atau simbol prestise maka sekolah memberikan beberapa keisitimewaan seperti fasilitas atau sarana belajar yang lebih lengkap di kelas akselerasi. Kesenjangan ini akan menimbulkan kecemburuan dari kelas lain yang merasa memiliki hak dan kewajiban yang sama namun diperlakukan berbeda. Alasan sekolah melakukan keistimewaan juga bisa disebabkan karena alasan dana. Biasanya, disekolah tertentu karena siswa akselerasi dipungut biaya pendidikan lebih dari reguler maka sekolah menganggap bahwa penambahan fasilitas untuk kelas akselerasi menjadi sesuatu yang wajar, padahal tanpa fasilitas dan perlakukan yang berbeda sekalipun secara psikologis dan pergaulan siswa akselerasi bisa jadi telah merasa berbeda dengan kelas lainnya.
Dampak dari perbedaan perlakuan ini akan semakin memperdalam jurang perbedaan antar program dan akhirnya bisa menciptakan suasana belajar yang kurang kondusif bagi siswa.
SOLUSI
Perlu waktu dan kerja keras bagi penyelenggara program akselerasi di manapun untuk mampu membuktikan bahwa progam akselerasi memberikan kontribusi positif bagi pendidikan Indonesia, terlepas dari berbagai kekurangan yang ada. Berbagai wacana yang berkembang selama ini di berbagai media informasi telah mampu memberikan pencerahan, khususnya dari pihak yang selama ini kontra terhadap peyelenggaraan program akselerasi.
Ada beberapa solusi yang kami coba lemparkan untuk menjadi wacana lebih lanjut dan menjadi bahan diskusi semua pihak. Adapun beberapa solusi tersebut diantaranya adalah :
- Membenahi pandangan atau paradigma dari sekolah dan masyarakat dalam memandang program akselerasi. Oleh karena itu maka sekolah penyelenggara akselerasi harus terus membenahi diri dalam pelaksanaan akselerasi sehingga tidak menimbulkan kesalahanpahaman dari masyarakat. Sekolah berada pada posisi sebagai ujung tombak pelaksanaan program ini, sehingga dituntut untuk membenahi diri dalam memandang keberadaan program akselerasi. Pandangan bahwa akselerasi hanya menjadi icon atau simbol dari status sekolah semata harus ditanggalkan dan diganti menjadi bentuk pengabdian dalam melayani siswa secara utuh dan disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Apabila sekolah memandang program ini sebagai bentuk layanan bagi siswa cerdas istimewa maka sekolah tidak akan main-main atau asal dalam menjalankan program ini karena manyangkut masa depan siswa dan pemenuhan hal mereka secara utuh. Setelah melakukan hal tersebut kami mengusulkan supaya sekolah penyelenggara akselerasi melakukan sosialisasi yang baik dan tepat tentang hakekat dan landasan penyelenggaraan program akselerasi. Hal ini bisa dilakukan terbatas yaitu kepada stakeholder pendidikan maupun secara umum melalui berbagai media yang tersedia. Misalnya kalau kita mencoba membuka internet dan mencari artikel atau tulisan seputar akselerasi, maka yang kita temukan banyak sekali yang bernada negatif atau kontra. Ini bukan semata kesalahan masyarakat, namun juga kekurangan sekolah dan pemerintah dalam mensosialisasikan program ini secara tepat dan baik. Begitu pun orang yang mengaku sebagai pakar pendidikan yang biasa bergulat dengan berbagai teori dan wacana tanpa mampu melihat pelaksanaannya secara lebih detil atau merata. Kekeliruan pelaksanaan progam di beberapa sekolah kemudian menjadi dalih atau alasan bagi mereka dalam menyatakan bahwa akselerasi tidak tepat, salah dan ngawur dalam mengakomodasi anak-anak yang memiliki kecerdasan superior atau cerdas istimewa. Sementara sekolah yang dinilai berhasil menyelenggarakan program ini cenderung menutup diri untuk berbagi pengalaman dan strategi pelaksanaan mereka kepada sekolah lain. Harus kita akui dan pahami bahwa akselerasi memangg bukan satu-satunya jenis layanan pada anak cerdas istimewa, namun yang harus dimengerti pula oleh masyarakat bahwa sekolah tidak dapat dengan mudah atau asal-asalan membuat sebuah inovasi layanan pendidikan karena menyangkut masalah legalitas dan kesinambungan program bagi siswa-siswa yang mengikuti program tersebut. Dan sampai saat ini, program yang relatif siap untuk itu adalah akselerasi. Oleh karena itulah maka kami senantiasa mengusullkan kepada pemerintah untuk juga memfasilitasi bentuk layanan lainnya. Melakukan proses rekruitmen yang benar-benar mengikuti aturan dan prosedur baku dan telah ditentukan oleh Dinas Pendidikan. Masalah yang dihadapi sekolah penyelenggara akselerasi dalam perjalanan proses pendidikan di kelas salah satu faktor yang sangat menentukannya adalah pada proses perekrutan. Apabila sekolah mencoba-coba bermain atau tidak serius dalam masalah perekrutan ini maka akan dapat dipastikan mengalami berbagai masalah perkembangan siswa didiknya, seperti ada siswa yang tidak kuat mengikuti proses pembelajaran dalam tingkat kecepatan yang tinggi atau masalah dalam perkembangan dan kematangan psikologis. Jadi apabila perekrutan dijalankan secara benar maka tidak akan kita temui siswa yang drop dan masuk ke kelas reguler karena pada hakekatnya mereka telah memiliki potensi yang baik.
- Solusi untuk kekeliruan kedua, sekolah terus membenahi diri dalam meningkatkan sumber daya tenaga pendidik, minimal dalam pemahaman tentang karakteristik anak cerdas istimewa. Dengan demikian maka guru secara individual bisa melakukan perbaikan metode dan sarana pembelajaran secara mandiri. Pemahaman guru dan orang tua akan pentingnya layanan untuk anak cerdas istimewa ini akan sedikit demi sedikit mendorong perubahan ke arah lebih baik dalam pengelolaan akselerasi.
- Solusi ketiga adalah tidak memperlakukan akselerasi secara berlebihan, kecuali dalam hal metode dan pendalaman materi. Perlakuan berbeda akan semakin membuat siswa akselerasi jauh dari lingkungan sekitarnya. Dan dana yang mungkin ditarik dari orang tua akselerasi bisa dimanfaatkan untuk menambah kualitas guru dengan mengadakan workshop atau seminar tentang anak-anak berbakat atau metode pengajaran yang tepat bagi mereka.
Akselerasismptarbak.blogspot.com
Selengkapnya...