Berbagi Pengalaman dan Pengetahuan Seputar Layanan Pendidikan Anak Cerdas Istimewa
Selasa, 25 Mei 2010
FAKTOR MOTIVASI DALAM PEMBELAJARAN DI KELAS AKSELERASI (Bagian 1)
Salah satu masalah yang paling terasa adalah kurangnya motivasi diri dari siswa itu sendiri sehingga kemampuannya tidak terksplorasi dengan maksimal. Kalau siswa akselerasi diibaratkan sebagai bahan peledak, maka memantikkan api adalah yang selalu menjadi masalah. Perlu strategi khusus untuk mampu memotivasi diri mereka agar timbul kesadaran bahwa sebenarnya mereka memiliki potensi luar biasa yang harus dikembangkan.
Guru akselerasi harus mampu membangkitkan motivasi belajar siswa agar sisa dapat berupaya mengerahkan segala kemampuannya dalam proses belajar. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar dan fasilitator namun juga sebagai motivator andal. Untuk itu maka guru wajib mempelajari, memahami dan kemudian melaksanakan langkah-langkah memotivasi siswa agar motivasi diri siswa dapat terpacu dan terpicu. Masalah muncul ketika guru juga belum mehmahami hakekat, macam, dan fungsi dari pemberian motivasi tersebut. Ketidakpahaman ini akan berdampak pada ketidaksadaran akan pentingnya memberikan motivasi. Guru hanya mampu memberikan reward (penghargaan) kepada siswa yang mendapatkan nilai baik sementara hanya memberikan punishment (hukuman) kepada siswa yang gagal untuk menunjukkan prestasi. Padahal semua siswa berhak untuk mendapatkan motivasi yang sama. Siswa yang mampu berprestasi memerlukan motivasi untuk bisa mempertahankan prestasinya, namun juga terus memberikan motivasi kepada siswa yang belum berprestasi dengan memberikan juga penghargaan, bukan hanya hukuman.
Mengapa Perlu Memberikan Motivasi ?
Seorang siswa begitu bersemangat belajar matematika. Dia melakukan apapun untuk bisa memahami materi yang diberikan oleh guru matematika. Perhatiannya dia curahkan untuk bisa memahami setiap angka dan simbol yang ditulis oleh guru dipapan tulis. Bahkan untuk lebih memahaminya, dirumah anak itu pun melakukan les privat. Bahkan orang tua pun mendukungnya dengan membelikan anak itu kumpulan soal atau bank soal matematika. Tujuan anak dan orang tua itu sederhana, MENDAPATKAN NILAI UJIAN NASIONAL 100.
Seorang siswa akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa memahami suatu materi pelajaran bila siswa tersebut mengetahui tujuannya mempelajari materi tersebut. Sekarang mari kita fikirkan kembali, apakah kita bisa menjelaskan, apa fungsi atau kepentingan yang bisa mereka raih ketika mempelajari materi yang sedang guru ajarkan?
Untuk pelajaran matematika, siswa tidak akan bertanya apa gunanya belajar logaritma, karena bagi mereka yang penting adalah mendapatkan nilai UN yang sempurna. Tapi untuk mata pelajaran yang tidak di UN kan, siswa bisa jadi tidak memiliki motivasi yang kuat karena tidak menemukan alasan yang jelas dan tepat untuk apa mereka belajar.
Seorang siswa akan merasa terbebani untuk mempelajari undang-undang karena selain tidak akan dipakai dalam kehidupannya sehari-hari, juga tidak merasa perlu karena tidak ada tuntutan untuk mendapatkan nilai sempurna. Atau seorang siswa tidak merasa perlu memahami pelajaran bahasa sunda karena dia merasa tidak pernah memakainya dalam kehidupannya sehari-hari dan karena bahasa sunda tidak akan di-ujian nasional-kan.
Akan lain ceritanya bila bahasa sunda di-ujian nasional-kan. Mereka tidak akan berpikir apakah bahasa sunda itu akan dipakai atau tidak dalam kehidupan sehari-harinya, yang jelas mereka akan berusaha untuk bisa memahami bahasa sunda karena akan berpengaruh pada keberhasilannya masuk SMA fovorit atau tidak.
Oleh karena itu, untuk mata pelajaran yang tidak di UN kan, guru harus mampu lebih memotivasi kepada siswanya untuk menyadari hakekat dari ilmu yang dipalajarinya. Bahwa pelajaran agama bukan hanya untuk mendapatkan nilai bagus di ilmu agama, bahwa belajar sejarah bukan hanya untuk mengingat tanggal, tahun dan tokoh, bahwa belajar undang-undang bukan hanya menghapal ayat dan pasal, namun jauh lebih itu adalah untuk membuat mereka mampu berpikir lebih utuh dan memiliki wawasan luas dalam segala hal dan itu bisa sangat bermanfaat bagi mereka tidak saja dimasa yang akan datang, tapi juga hari ini.
Apa Sih Motivasi Itu?
Motivasi adalah “dorongan yang dapat menimbulkan perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian suatu tujuan tertentu. Perilaku atau tindakan yang ditunjukkan seseorang adalah untuk mencapai tujuan atau motif tertentu”. Oleh karena itu, motivasi seseorang sangat tergantung pada seberapa besar motive atau seberapa “nyata”-nya tujuan yang hendak mereka capai.
Frederirc J. McDonald mengemukakan bahwa motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai oleh munculnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan baik disadari maupun tidak. dari definisi diatas bisa kita simpulkan bahwa untuk bisa memberikan motivasi maka salah satu yang harus menjadi fokus adalah membantu siswa untuk membuat visi dan tujuannya dalam belajar. Selengkapnya...
Senin, 24 Mei 2010
Orang Kidal Berpikir Lebih Cepat dan Kreatif
Senin, 24/05/2010 13:58 WIB
Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Orang selalu diajarkan untuk menggunakan tangan kanan saat bersalaman, makan, menulis, olahraga, atau pekerjaan lainnya. Tapi banyak seniman, olahragawan bahkan pemimpin dunia yang punya kebiasaan kidal alias terbiasa menggunakan tangan kiri. Benarkah orang kidal lebih cepat dan kreatif?
Tangan kiri memang lekat dengan anggapan 'tangan setan' atau 'tangan terkutuk'. Dan sejak kecil orangtua sudah mengajarkan anaknya untuk selalu menggunakan tangan kanan untuk melakukan hal-hal baik.
Banyak orangtua di tahun 70-an dan 80-an yang memaksa anaknya yang kidal untuk dapat menggunakan tangan kanan. Tetapi sekarang diketahui bahwa orang kidal lebih unggul, seperti menjadi pilot pesawat tempur atau kemampuan berbicara dan mengemudi pada saat yang sama. Menurut Scientific American, ada sekitar 15 persen orang yang aktif menggunakan tangan kiri atau kidal. Alasan sebagian orang kidal tidak sepenuhnya jelas, tergantung pada campuran faktor genetik dan lingkungan.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Neuropsychology menunjukkan bahwa orang kidal lebih cepat memproses beberapa rangsangan ketimbang orang yang menggunakan tangan kanan. Hal ini juga membuat orang kidal lebih kreatif.
Penelitian yang dilakukan di Australian National University (ANU) tampaknya mendukung studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa kebiasaan menggunakan tangan kanan atau kiri ditentukan sejak dalam rahim.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang kidal lebih cepat dan kreatif karena menggunakan kedua belahan otaknya, berbeda dengan orang yang terbiasa menggunakan tangan kanan yang hanya menggunakan otak kiri.
Kedua belahan otak sebenarnya hampir sama, dan sebagian besar untuk memproses informasi yang sama, dengan data lewat bolak-balik di antara keduanya terutama melalui jalur saraf utama.
Namun, tugas-tugas tertentu, seperti pengolahan bahasa, cenderung terjadi pada satu belahan saja. Bagi kebanyakan orang, pengolahan bahasa terjadi di bagian kiri.
Untuk orang kidal, tugas-tugas tersebut mungkin terjadi di kedua belahan otak.
Bidang keahlian lain adalah pengolahan data indra, biasanya data yang dikumpulkan di sisi kanan tubuh, seperti mata kanan, telinga kanan, dan lainnya, akan menuju ke belahan kiri untuk pemrosesan. Dan sebaliknya, data yang dikumpulkan di belahan kiri akan menuju belahan otak kanan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa orang kidal yang terbiasa menulis dengan tangan kiri mungkin memiliki otak yang lebih kondusif untuk simultan atau rangsangan dan pengolahan di kedua bagian otak. Orang kidal lebih mudah menggunakan kedua belahan otak untuk mengelola rangsangan, sehingga keseluruhan proses dan waktu respon lebih cepat.
Ini juga bisa berarti bahwa ketika salah satu belahan otak mendapat kelebihan beban dan mulai melambat, belahan otak lain bisa lebih mudah memilih mengisi kekosongan itu.
Para pakar juga berteori bahwa orang kidal memiliki mental lebih baik saat di usia tua dan saat proses otak secara keseluruhan mulai melambat.
Dan seperti yang dikutip dari Ehow, Senin (24/5/2010), orang kidal cenderung lebih atletis, memiliki kesadaran yang lebih spasial dan berpikir lebih cepat.
Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Dr Alan Searleman dari St Lawrence University di New York, menunjukkan bahwa orang kidal mampu mendukung sisi kiri tubuhnya untuk semua kegiatan fisik.
Orang kidal juga dua kali lebih terampil dalam pemecahan masalah dan memiliki IQ lebih tinggi dari orang yang aktif dengan tangan kanan.
Beberapa orang kidal terkenal seperti Presiden George HW Bush, Bill Clinton dan Barack Obama, Pangeran Charles dan Pangeran William dari Inggris. Musisi Jimi Hendrix, Kurt Cobain dan Paul McCartney. Ilmuwan Isaac Newton, Marie Curie dan Benjamin Franklin. Seniman Michelangelo dan Leonardo Da Vinci, dan tokoh-tokoh sejarah Alexander Agung, Charlemagne dan Julius Caesar.
http://health.detik.com
(mer/ir)
Selengkapnya...
Kamis, 20 Mei 2010
POLA ASUH KELUARGA DALAM MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN SISWA
Saya belum menemukan alasan mengapa merasa kalau orang tua siswa akselerasi juga memerlukan pendampingan dan penanganan khusus selama anaknya mengikuti program akselerasi ini. Namun saya mungkin bisa menduga - dugaan yang dilandasi pengalaman langsung dalam menghadapi berbagai tipe dan karakter orang tua siswa akselerasi – bahwa hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal berikut :
Pertama, orang tua belum memahami keunikan, kelebihan dan kelemahan dari anak cerdas istimewa itu sendiri. Banyak orang tua yang baru menyadari bahwa anaknya memiliki “anugrah” dari Tuhan berupa kecerdasan diatas anak-anak lain yang seusianya ketika anaknya akan memasuki sekolah yang melaksanakan program akselerasi.
Selama SD mungkin ada anak yang tidak pernah mengikuti psikotest sehingga beberapa potensi tersembunyi anaknya belum mampu teridentifikasi. Sering orang tua hanya memperhatikan sifat anak yang cenderung negatif ketimbang sifat positifnya. Ketika anak mendapatkan nilai yang baik atau berperilaku sopan, orang tua memandang itu sebagai sebuah kewajiban dan perilaku yang normal sehingga kurang memberikan respon positif untuk menghargainya.
Namun ketika anak berbuat kesalahan atau berperilaku negatif seperti malas belajar dan sering membangkang, maka orang tua langsung bereaksi dengan memberikan punishment berupa stigma negatif tersebut kepada anak. Oleh karena itu tidak sedikit kemudian terheran-heran ketika anaknya dinyatakan direkomendasikan masuk program akselerasi sebagai bentuk layanan terhadap ACI.
Kalaupun ada yang melakukan psikotest terhadap anaknya, data yang diperoleh tidak dijadikan acuan dalam menindaklnjuti penanganan atas kelebihan dan kelemahan anak yangberhasil diidentifikasi oleh hasil psikotest tersebut. Bisa jadi karena orang tua tidak pernah melihat bentuk atau wujud dari keunikan anak-anaknya.
Kedua, orang tua masih merasa bahwa pola asuh yang dilaksanakan selama ini telah berhasil membawa anaknya menngaruhi tantangan dan hambatan dalam belajar. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan anaknya menjalani pendidikan dasar.
Ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa anaknya memiliki keunikan, maka orang tua cenderung untuk tetap melakukan pola asuh yang sama dengan alasan pola lama yang dianggap berhasil dan memberikan perhatian khusus dikhawatirkan akan berdampak pada perubahan tingkah laku anak.
Ketiga, orang tua kurang memahami arti kata “perlakukan khusus” dan “istimewa” pada label cerdas istimewa. Khusus atau istimewa sering diidentifikasikan dengan kata “eksklusif” yang berarti siswa akan “dipisahkan”, “disterilkan”, “diisolasi” dari kehidupan nyata dengan membuat sebuah lingkungan terpisah dengan lingkungan sosial lainnya.
Padahal kata “khusus” dan “istimewa” dalam konteks akselerasi adalah semata dalam pengertian pemberian dan pemenuhan hak pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dari anugrah yang diberikan Tuhan berupa kemampuan intelektual yang tinggi. Jadi bukan dalam bentuk fasilitas maupun pembedaan perlakuan, namun lebih berfokus pada pengaturan atau manajemen pendidikan dalam rangka pemenuhan kebutuhan siswa dalam menerima informasi dan pengetahuan yang lebih cepat dan lebih mendalam dibandingkan siswa lainnya.
Hal itu menjadi penting bukan saja untuk memaksimalkan potensi mereka yang berguna bagi masyarakat, namun juga untuk meminimalisir dampak negatif apabila anak cerdas istimewa ini tidak ditangani secara proporsional.
Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Anak Cerdas Istimewa
Dari uraian diatas saya bisa sedikit melihat bagaimana karakter pola asuh orang tua dari tampilan anak-anak sehari-hari. Misalnya ketika melihat anak yang cepat panik, bingung dan inferior ketika menemukan sebuah permasalahan, maka saya bisa sedikit mengira bahwa pola asuh orang tua dirumah cenderung dominan dalam mengatur pola hidup anaknya. Dominasi ini bisa berupa ketat mengatur jadwal kegiatan anak, dalam memberikan instruksi atau menentukan sesuatu itu baik atau benar.
Terdapat beberapa pola hubungan orang tua dengan anak yang akan berdampak pada pembentukan dan perkembangan anak atau bagaimana perlakuan orang tua terhadap anak berpengaruh pada profil tingkah laku anak.
Dalam buku Landasan Bimbingan dan Konseling (Dr. Syamsu Yusuf,LN dan Dr. A. Juntika Nurihsan) menyadur alizabeth Hurlock (Child Development, 1956), diuraikan tabel tentang hubungan tersebut. Adapun uraian tersebut berisi sebagai berikut:
Pola perilaku :
OVERPROTECTION (terlalu melindungi)
Perilaku orang tua :
1. Kontak yang berlebihan dengan anak
2. Perawatan dan oemberian bantuan kepada anak yang terus menerus meskipun anak sudah mampu merawat diri sendiri.
3. Mengawasi kegiatan anak secara berlebihan
4. Memecahkan masalah anak
Profil tingkah laku anak :
1. Perasaan tidak aman
2. Agresif dan dengki
3. Mudah gugup
4. Melarikan diri dari kenyataan
5. Sangat bergantung
6. Ingin menjadi pusat perhatian
7. Mudah menyerah
8. Lemah dalam kekuatan memperjuangkan aspirasi dan daya tahan terhadap rasa frustasi
9. Kurang mampu mengendalikan emosi
10. Menolak tanggung jawab
11. Kurang percaya diri
12. Mudah terpengaruh
13. Peka terhadap kritik
14. Bersikap “yes men”
15. Suka bertengkar
16. Troublemaker
17. Sulit bergaul
18. Sering mengalami “homesick”
Pola perilaku :
Permissiveness (membebaskan)
Perilaku orang tua :
1. Memberikan kebebasan untuk berpikir dan berusaha
2. Menerima gagasan atau pendapat
3. Anak merasa diterima dan merasa kuat
4. Terima dan memahami kelemahan anak
5. Cenderung lebih suka memberi dari pada menerima
Profil tingkah laku anak :
1. Pandai mencari solusi dan jalan keluar
2. Mudah bekerja sama
3. Penuh percaya diri
4. Penuntut dan kurang sabaran
Pola perilaku :
Rejection (penolakan)
Perilaku orang tua :
1. Bersikap masa bodoh
2. Bersikap kaku
3. Kurang memperdulikan kesejahteraan anak
4. Menampilkan sikap permusuhan atau dominasi terhadap anak
Profil tingkah laku anak :
1. Agresif (mudah marah, gelisah, tidak patuh/keras kepala, suka bertengkar dan nakal)
2. Submisive (kurang dapat mengerjakan tugas, pemalu, suka mengasingkan diri, mudah tersinggung dan penakut)
3. Sulit bergaul
4. Pendiam
5. Sadis
Pola perilaku :
Acceptance (menerima)
Perilaku orang tua :
1. Memberikan perhatian dan cinta kasih yang tulus kepada anak
2. Menempatkan anak dalam posisi yang penting di dalam rumah
3. Mengembangkan hubungan yang hangat dengan anak
4. Bersikap respek terhadap anak
5. Mendorong anak untuk menyatakan perasaannya dan pendapatnya
6. Berkomunikasi dengan anak-anak secara terbuka danmau mendengar masalahnya
Profil tingkah laku anak :
1. Mau bekerja sama
2. Bersahabat
3. Loyal
4. Emosinya stabil
5. Caria dan optimis
6. Menerima tanggung jawab
7. Jujur
8. Dapat dipercaya
9. Memiliki perencanaan yang jelas untuk masa depan
10. Bersikap realistis
Pola perilaku :
Domination (mendominasi)
Perilaku orang tua :
Mendominasi anak
Profil tingkah laku anak :
1. Bersikap sopan, dan sangat hati-hati
2. Pemalu, penurut, inferior dan mudah bingung
3. Tidak mudah bekerjasama
Pola perilaku :
Submission (serba boleh)
Perilaku orang tua :
1. Senantiasa memberikan sesuatu yang diminta anak
2. Membiarkan anak berperilaku semaunya di rumah
Profil tingkah laku anak :
1. Tidak patuh
2. Tidak bertanggung jawab
3. Agresif dan teledor
4. Bersikap otoriter
5. Terlalu percaya diri
Pola perilaku :
Punitiveness (sangat dispilin)
Perilaku orang tua :
1. Mudah memberikan hukuman
2. Menanamkan kedisiplinan secara keras
Profil tingkah laku anak :
1. Impulsif
2. Sulit mengambil keputusan
3. Nakal
4. Sikap bermusuhan atau agresid. Selengkapnya...
Senin, 17 Mei 2010
Menggali Bakat Memoles Potensi
Koran SI
SETIAP anak mempunyai kemampuan berbeda. Ada yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata, ada juga yang lemah menyerap pelajaran.
Kemampuan yang berbeda itu mengharuskan perlakuan yang juga berbeda. Wakil Menteri Pendidikan Fasli Djalal mengatakan, setiap sekolah harus melihat kemampuan setiap individu siswa. Sekolah perlu mempunyai portofolio perkembangan siswa setiap semester. Pengetahuan akan perkembangan anak sangat membantu. Tidak hanya untuk persiapan semua ujian termasuk ujian nasional (UN), namun juga peningkatan kemampuan lainnya. Untuk sekolah-sekolah yang bagus, biasanya mengetahui jika standar kelulusan UN masih sangat kecil. Karena itu, sekolah berusaha membuat tingkat kelulusan sekolah jauh lebih tinggi sehingga untuk memperlakukan siswa yang mempunyai kecepatan menyerap pelajaran, sekolah melakukan sejumlah upaya. Seperti memasukkan mereka di kelas akselerasi. Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan tantangan-tantangan baru. Dengan adanya penugasan dan tantangan khusus tadi, siswa bisa lari tanpa harus menunggu yang lain. ”Mereka tidak perlu menunggu teman-temannya yang lain. Jika mereka menunggu bukan tidak mungkin bisa mengganggu karena merasa tidak dilayani,” ujar Fasli.
Fasli mengakui, pengklasifikasian kemampuan siswa seringkali hanya terjadi di sekolah-sekolah yang mempunyai bimbingan konseling bagus. Begitu juga dengan penyaluran bakat-bakat yang bisa menangkap pelajaran dengan cepat tersebut, rata-rata hanya bisa dilakukan sekolah-sekolah bagus. Sementara ini, sekolah dengan kemampuan biasa-biasa saja tidak bisa berbuat lebih untuk siswa-siswanya yang berbakat.
Di sinilah, kata Fasli, pemerintah perlu banyak mengambil peran. Anak yang konsisten di peringkat puncak walaupun sekolahnya tidak bagus menjadi sasaran beasiswa yang diberikan pemerintah. Saat ini dengan dukungan anggaran APBNP, pemerintah menyiapkan 2,7 juta beasiswa untuk siswa sekolah dasar (SD), hampir satu juta beasiswa untuk SMP dan 600 ribu beasiswa untuk SMA/SMK. Untuk siswa SD masing-masing bisa mendapatkan Rp40 ribu setiap bulan. Sedangkan untuk SMA/SMK bisa mendekati Rp1 juta per tahun. ”Angka yang besar untuk diperbantukan kepada anak-anak berbakat agar mereka bisa berkibar walau di sekolah yang biasa-biasa saja,” papar Fasli.
Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan menjaring mereka dalam program penelusuran minat dan kemampuan (PMDK) saat akan masuk dalam perguruan tinggi.
Banyak anak berbakat karena sekolahnya yang kurang bagus membuat mereka kesulitan menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Dengan demikian, PMDK bisa menjembatani antara potensi bakat dengan akses perguruan tinggi. Dalam hal ini pemerintah daerah lebih banyak berperan. Karena merekalah yang mengetahui lebih dekat bakat-bakat yang ada di daerahnya. Upaya lain yang bisa dilakukan pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan Nasional adalah menggalakkan perlombaan-perlombaan untuk menggali bakat. Lomba yang diadakan Kemendiknas bukan hanya terkait pencapaian pembelajaran, namun juga bakat-bakat lain. Setelah potensi itu ditemukan, mereka akan diikutkan dalam pelatihan-pelatihan.
Kemendiknas, menurut Fasli, juga menyalurkan bakat-bakat potensial yang ditemukan untuk mengikuti kejuaraan- kejuaraan internasional.
”Biasanya anak-anak mempunyai bakat lebih itu, kami masukkan dalam skema lomba-lomba. Begitu dia dikenal bisa, kita lihat potensinya. Banyak butir-butir yang ditemukan dengan cara itu,” tandas Fasli. Di Indonesia, penyaluran bakat-bakat muda tidak bisa dilepaskan dari sosok Yohanes Surya. Pimpinan Surya Institute ini telah terbukti berhasil mengasah talenta-talenta berbakat untuk bersaing di ajang internasional. Sejumlah piagam internasional, seperti olimpiade sains berhasil diraih anak-anak didik Yohanes.
Bahkan lelaki yang akrab dipanggil Pak Yo ini juga berhasil memoles bakat-bakat cemerlang dari Pulau Papua yang selama ini pendidikannya dinilai lebih terbelakang dari belahan Nusantara lain.
Sumber :
akaldankehendak.com Selengkapnya...
Yang Jenius Sejak Kecil
Senin, 17 Mei 2010 - 14:05 wib
LEONARDO di ser Piero da Vinci atau yang lebih dikenal sebagai Leonardo da Vinci, seringkali dijuluki sebagai arketipe ”manusia renaisans” dan jenius universal.
Dunia juga mengenal jenius lain, seperti John Stuart Mills (filosof) atau Albert Einstein (ilmuwan). Mereka dianggap jenius karena telah memberikan banyak pengaruh terhadap bidangnya masing-masing. Tetapi, kejeniusan seseorang akan menjadi luar biasa ketika hal itu ditunjukkan sejak kecil. Hal inilah yang dicapai sejumlah ”anak ajaib” di dunia. Sebut saja William James Sidis, manusia yang memiliki intelligence quotient (IQ) atau tingkat intelektualitas mencapai kisaran 250–300. Sidis disebut sebagai anak ajaib karena di usia 8 bulan sudah mampu makan sendiri dengan menggunakan sendok. Bahkan, di usia 2 tahun dia menjadikan Koran ternama di Amerika Serikat, New York Times sebagai teman sarapan pagi.
Hebatnya lagi, di usia 8 tahun Sidis sudah menulis beberapa buku di antaranya tentang anatomi dan astronomi. Kejeniusan Sidis semakin bertambah ketika pada usia 11 tahun diterima di Universitas Harvard sebagai mahasiswa termuda. Bahkan, salah satu universitas ternama itu takjub ketika Sidis memberikan ceramah tentang Jasad Empat Dimensi di depan para profesor matematika. Kejeniusan Sidis tak lepas dari peran ayahnya, Boris Sidis, seorang psikolog andal berdarah Yahudi yang lulusan Universitas Harvard. Boris menjadikan anaknya sebagai ”prototype” untuk model pendidikan baru. Pola ini untuk menyerang sistem pendidikan konvensional yang dianggap menjadi biang keladi kejahatan dan kriminalitas. Rupanya, hal ini membuat Sidis tersiksa. Dia meninggal pada usia 46 tahun, sebuah saat di mana semestinya seorang ilmuwan berada dalam masa produktif.
Parahnya lagi, Sidis meninggal dalam keadaan menganggur, terasing dan amat miskin. Tetapi, kisah tragis kejeniusan Sidis tidak dialami tokoh lain seperti Pablo Picasso. Picasso yang lahir 25 Oktober 1881, selain dikenal sebagai salah satu anak ajaib, juga merupakan salah seorang dengan nama terpanjang di dunia, yaitu Pablo Diego José Francisco de Paula Juan Nepomuceno María de los Remedios Cipriano de la Santísima Trinidad Martyr Patricio Clito Ruíz y Picasso. Disebut ajaib karena minatnya terhadap proses pembuatan lukisan sudah terlihat ketika dia masih belum dapat berbicara. Kata pertama yang dapat diucapkan ketika masih bayi adalah ”piz” yang merupakan kependekan dari kata ”lapiz”yang dalam bahasa Spanyol berarti pensil. Pada usia 7 tahun, Picasso mendapat pendidikan formal bidang artistik dan seni lukis dari ayahnya. Sejak itu karya-karya masterpiece Picasso dimulai.
Nama Howard Philips Lovecraft juga tidak bisa dilepaskan sebagai salah satu anak ajaib di dunia. Dia adalah salah seorang penulis horor yang paling berpengaruh di abad 20. Lovecraft belajar membaca pada usia 2 tahun dan mulai menulis puisi yang rumit pada usia 6 tahun. Hal yang menumbuhkan minat Lovecraft terhadap sastra adalah kakeknya yang memberikan karya klasik, seperti The Arabian Night dan The Iliad and The Odissey untuk dibaca. Kakeknya pula yang menyetir minat Lovecraft pada cerita gothic horror dengan menceritakan cerita-cerita seram karangannya sendiri.
Tokoh lain yang juga menunjukkan kejeniusan sejak kecil adalah Wolfgang Amadeus Mozart. Komponis dan pianis brilian ini merupakan salah satu anak ajaib paling ternama dalam sejarah.
Dia mulai belajar memainkan piano pada usia 4 tahun, meng-compose lagu pertamanya pada usia 5 tahun. Pada usia 8 tahun, Mozart mengarang simfoninya yang pertama. Namun, Mozart tidak berumur panjang. Dia meninggal dunia pada usia 35 tahun. Sepanjang hidupnya, Mozart telah mengarang sekira 600 komposisi untuk simfoni,opera, piano, orkestra, dan lain-lain. Di samping tokoh-tokoh di atas, rasanya tidak adil jika menelisik anak ajaib tanpa menyebutkan Kim Ung-Yong. Pria kelahiran 7 Maret 1963 ini dikenal sebagai orang superjenius. Dalam catatan resmi Guinness Book of Record, Ung- Yong disebut sebagai manusia dengan IQ tertinggi saat ini, yaitu 210. Dia mulai berbicara pada usia 6 bulan dan mulai bisa percakapan pada usia 1 tahun.
Pada usia 3 tahun, Ung-Yong bisa membaca dan menulis dalam empat bahasa (Jepang, Korea, Jerman, dan Inggris). Ung-Yong menjadi mahasiswa jurusan fisika di Universitas Hanyang sejak usia 4 tahun hingga berusia 7 tahun. Pada usia 6 tahun, dia menunjukkan kemampuan menyelesaikan soal kalkulus integral dan differential yang sangat kompleks pada suatu acara TV di Jepang.
Di era globalisasi, sejumlah anak ajaib juga muncul. Sebut saja Gregory Smith, bocah kelahiran 9 Juni 1989 ini sekarang menjabat sebagai Presiden International Youth Advocates, lembaga internasional yang peduli terhadap anak-anak. Smith dapat membaca pada usia 2 tahun dan mulai kuliah pada usia 10 tahun setelah lulus dari Orange Park High School.
Pada 2003 lulus cum laude dengan gelar Sarjana Sains bidang matematika, juga pada studi minor untuk bidang sejarah dan biologi dengan honor dari Randolph-Macon College dengan meraih anugerah ”Force For Good Lifetime Achevement Award.” Di usia 14 meraih beasiswa USD50.000 tiap tahun dari Jack Kent Cooke. Nama bocah ajaib asal India Akrit Jaswal (lahir pada 23 April 1993) juga masuk dalam daftar. Saat ini, Akrit tercatat sebagai mahasiswa dan dokter India termuda dalam sejarah. Dia melakukan operasi bedah pertamanya pada usia 7 tahun. Kejeniusan Akrit sudah terlihat sejak masih balita. Dapat berbicara pada usia 10 bulan, dan di usia 5 tahun sudah membaca seluruh buku karangan William Shakespeare. Pada usia 11 tahun diterima sebagai mahasiswa di Punjab University.
Membicarakan anak ajaib rasanya tidak lengkap tanpa menyebut Cleopatra Stratan (lahir 6 Oktober 2002). Bocah asal Chisinau, Moldova ini adalah pencatat sejarah di industri musik sebagai seorang penyanyi dengan bayaran 1.000 euro per lagu lewat albumnya pada 2006 La vârsta de trei ani. Gadis cilik lain yang juga ajaib adalah Elaina Smith (7), yang dikenal sebagai penyiar terkenal di Inggris. Murid SD ini menjadi penyiar radio termuda.
sumber :
http://suar.okezone.com Selengkapnya...
MENGAPA TIDAK ADA DROP OUT DI PROGRAM AKSELERASI SMP TARUNA BAKTI?
Salah satu yang sering ditanyakan orang tua tentang program akselerasi atau rekan-rekan guru yang akan menyelenggarakan program akselerasi adalah, “Bila ada siswa akselerasi yang tidak bisa mengikuti program akselerasi sampai tuntas, apakah siswa tersebut akan dinyatakan drop out dan ditempatkan ke kelas reguler? Bagaimana menyikapi dan mengantisipasi bila hal tersebut terjadi?”.
Bila kita mengikuti aturan, maka sangat dimungkinkan seorang siswa yang dinilai tidak mampu mengikuti program akselerasi lalu tidak mampu menunjukkan prestasi yang signifika untuk tetap diakselerasi, maka salah satu cara antisipasinya adalah dengan memindahkan siswa tersebut ke kelas reguler. Juga dari pengalaman beberapa sekolah penyelenggara program akselerasi, hal tersebut biasa terjadi.
Oleh karena itu, bukanlah sebuah masalah besar bila ternyata dalam perjalanannya, siswa akselerasi dipindahkan ke kelas reguler. Namun yang harus diantisipasi tidak saja bentuk komunikasi positif yang harus dijalin antara sekolah dengan orang tua dan siswa, namun juga jangan sampai pemindahan siswa tersebut hanya merupakan bentuk cuci tangan dari penyelenggara akselerasi karena merasa sudah tidak sanggup lagi menangani siswa tersebut.
Siswa mengalami masalah atau kendala dalam belajar bukan karena siswa itu ada diprogram akselerasi atau bukan. Di kelas reguler pun banyak siswa yang mengalami kesulitan belajar dan menunjukkan performa negatif dalam nilai akademis. Namun hal tersebut harus diamati secara menyeluruh sehingga kita tidak hanya melihat hal tersebut sebagai “penyebab” siswa tersebut menjadi “bodoh”.
Banyak pengalaman yang menunjukkan bahwa salah satu penyebab kesulitan siswa dalam belajar justru datang dari pihak luar diri siswa itu sendiri. Misalnya situasi rumah yang tidak kondusif atau lingkungannya tidak menantang dirinya merasa perlu berprestasi tinggi karena kurangnya stimulus.
Karena itu, ketika memang ada siswa yang harus pindah ke program reguler tidak menjadi alasan bagi pengelola program akselerasi untuk lepas tangan dan menganggap masalah itu selesai. Penyelenggara akselerasi justru harus kerjasama dengan pihak wali kelas dan BK untuk terus memberikan motifasi. Bisa saja terjadi, seorang siswa akselerasi yang pindah ke kelas reguler bukannya menjadi lebih baik prestasinya, tapi menjadi jauh lebih buruk karena akar masalahnya tidak tertangani.
BAGAIMANA DI SMP TARUNA BAKTI?
SMP Taruna Bakti tidak antipati atau menutup kemungkinan terjadinya “DO” bagi siswa akselerasi. Bagaimanapun, sekolah-dalam hal ini penyelenggara akselerasi- beranggapan bahwa program akselerasi bukanlah jaminan keberhasilan. Program akselerasi adalah layanan bagi siswa yang memiliki karakter pembelajar cepat. Dengan kriteria yang jelas, pasti dan terukur, mereka masuk program akselerasi karena rekomendasi psikolog, observasi guru dan kesepakatan dengan orang tua, maka siswa diharapkan mampu mendapatkan layanan yang sesuai dengan karakteristik tersebut.
Namun karena sudah menjadi komitmen kami, bahwa siswa yang masuk program akselerasi adalah benar-benar siswa yang memenuhi kualifikasi standar dan benar-benar merupakan hasil pengamatan yang cermat, maka ketika siswa tersebut masuk menjadi siswa akselerasi maka adalah tanggung jawab semua pihak untuk melakukan pendampingan total.
Pendampingan total ini tidak hanya diberikan kepada siswa yang memiliki kesulitan belajar, namun juga kepada siswa yang tidak mengalami kesulitan sehingga prestasinya tidak mengaami penurunan.
Terlepas dari adanya siswa yang mengalami kesulitan belajar ketika sedang mengikuti program akselerasi, sebenarnya itu tidak akan pernah membuat siswa tersebut menjadi turun tingkat intelektualitasnya. Dengan proses penjaringan dan penyaringan yang seobyektif mungkin, maka kekeliruan analisa data siswa bisa diminimalisir. Dengan demikian maka titik tolak penanganannya adalah mencari akan permasalahan, mencari solusi dan memberikan saran kepada orang tua dan guru untuk berperan serta menyelesaikan masalah tersebut.
BEBERAPA ALASAN SISWA AKSELERASI TURUN PRESTASI
Seberapa berani sekolah mempertanggungkawabkan proses penjaringan dan penyaringan, akan berdampak pada seberapa besar layanan sekolah kepada siswa akselerasi itu sendiri. Ketika sekolah bisa mempertanggungkawabkan proses perekrutan tersebut, maka kita yakin benar bahwa siswa yang masuk akselerasi adalah siswa yang benar-benar memiliki bakat atau kecerdasan luar biasa. Sehingga ketika ditengah perjalanan mengikuti program akselerasi, siswa mengalami penurunan prestasi akademis, hal tersebut bukan karena salah perekrutan, tapi karena ada masalah yang muncul dan memerlukan penanganan segera. Berarti ada kesadaran bahwa siswa sama sekali tidak mengalami penurunan tingkat kecerdasannya, tapi pada kemampuannya menangani dan mengatasi masalah yang mereka alami.
Dari pengalaman selama ini, ada beberapa penyebab munculnya gejala menurunnya prestasi dari siswa, diantaranya :
Faktor internal :
1. Kurangnya motivasi diri. Ada siswa yang menganggap bahwa mengikuti program akselerasi adalah tujuan, sehingga ketika dia telah masuk program akselerasi maka motivasi yang dia tunjukkan ketika masa observasi menjadi menurun. Tipe seperti ini akan nampak diawal tahun ajaran sehingga akan lebih mudah diantisipasi.
2. Pertumbuhan dan perkembangan. Usia remaja adalah masa yang tidak saja membuat pusing orang tua dan guru tapi juga sebenarnya membuat remaja sendiri bingung. Pertumbuhan biologis yang mungkin saja mereka alami (khususnya laki-laki diawal SMP) akan membuat mereka galau. Begitu juga dengan perkembangan psikologis, dimana mereka menjadi lebih suka tantangan, dalam proses menjalin pertemanan atau mengalami kejenuhan. Masa pertumbuhan dan perkembangan sering terlihat sangat menonjol ketika mereka sudah masuk tahun kedua. Karena itu pendampingan dari wali kelas, koordinator dan BK sangat berperan dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya.
Faktor eksternal :
1. Faktor pertemanan dan pergaulan. Siswa bisa jadi diawal pembelajaran akan merasa tidak nyaman berada di kelas akselerasi. Hal ini bisa disebabkan oleh karena jumlah temannya yang sedikit, kurang cocok dengan karakter teman-temannya, ada siswa yang dianggap “freak”, atau menganggap teman-teman kelas terlalu serius.
2. Masalah dalam menyesuaikan dengan kecepatan dan gaya belajar. Dengan kecepatan yang tinggi, maka siswa bisa jadi mengalami kesulitan untuk menyesuaikan dengan gaya belajar yang sudah biasa dilakukannya pada saat SD. Proses adaptasi ini bukan hanya masalah siswa akselerasi namun juga dialami oleh teman mereka di reguler. Guru yang banyak dengan segala karakternya, mata pelajaran yang lebih banyak dengan segala kedalaman materinya, tugas dan PR yang cukup banyak. Namun dengan seiring waktu, mereka harus mampu beradaptasi dengan baik kurang lebih satu bulan, sehingga ketika dibulan kedua mereka masih mengalami kesulitan maka wali kelas dan BK harus segera bertindak dengan melakukan pendampingan.
3. Melawan prasangka, anggapan dan stereotip teman atas kriteria “KECERDASAN ISTIMEWA” yang mereka sandang. Diawal pembelajaran, siswa biasanya banyak mengalami masa orientasi, yaitu masa penyesuaian antara anggapan orang lain dengan kenyataan yang mereka alami sehari-hari. Siswa akselerasi ada yang mengeluh karena mendapatkan tatapan yang “berbeda” ketika berada di tempat-tempat umum di sekolah.
4. Memiliki masalah di rumah.
Dari uraian diatas, kita bisa temui bahwa masalah yang menjadi tantangan dalam melakukan proses pendampingan siswa akselerasi, penulis tidak pernah menemukan masalah yang disebabkan oleh “ADANYA PERUBAHAN TINGKAT KECERDASAN” dari siswa akselerasi.
Oleh karena itu penyelenggara program akselerasi SMP Taruna Bakti berusaha untuk menjaga proses pendampingan terhadap anak akselerasi agar dapat mengikuti program akselerasi sampai tuntas.
BENTUK PENDAMPINGAN TERHADAP SISWA AKSELERASI
Intinya adalah keseriusan dan komitmen dalam memberikan layanan kepada mereka. Sesulit apapun permasalahan yang dihadapi oleh siswa kita, maka yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa mereka harus dilayani.
Beberapa bentuk layanan pendampingan terhadap siswa akselerasi harus melibatkan banyak pihak, namun peran wali kelas dan BK cenderung lebih dominan. Proses ini harus melibatkan orang tua secara maksimal karena masalah yang dihadapi siswa tidak jarang justru berawal atau berasal dari rumah. Kalaupun itu tidak terjadi, minimal dengan bantuan orang tua, siswa mendapatkan pendampingan yang total baik di sekolah maupun di rumah.
Beberapa bentuk pendampingan biasanya melalui beberapa tahapan, diantaranya :
Wali kelas memanggil siswa untuk diajak berdialog dan mengidentifikasi permasalahan yang mereka alami. Banyak siswa yang belum memahami masalah mereka dan belum bisa mengidentifikasi masalah yang sebenarnya mereka alami. Sering ditemukan, siswa mengaku memiliki masalah padahal hal tersebut belum tentu benar adanya. Dengan pendampingan yang intens, maka siswa dilatih untuk bisa mengidentifikasi masalah mereka sendiri dan mencari solusi terbaik menurut mereka.
Bila wali kelas masih mengalami kesulitan karena masalah yang muncul lebih kompleks, maka tenaga BK menjadi andalan untuk membantu siswa menyikapi permasalahan yang mereka hadapi agar lebih terarah dan tidak berdampak lebih jauh. Pendampingan ini memerlukan metode dan tekhnik tersendiri yang mungkin hanya dikuasai oleh guru BK karena menyangkut karakter indivisu siswa. Ada siswa yang mudah mengungkapkan masalah dan perasaannya, namun tidak jarang juga ada siswa yang sangat tertutup sehingga membutuhkan pendampingan guru BK.
Membangun komunikasi positif dengan orang tua. Orang tua bisa membantu untuk memperoleh informasi tentang keseharian siswa di rumah. Juga guru bisa berkomunikasi bagaimana cara orang tua dalam melakukan pendampingan dirumah. Hal ini untuk menyelaraskan pola pendampingan antara sekolah dengan orang tua.
Melakukan pertemuan antara wali kelas, BK, orang tua dan siswa. Hal ini bisa juga dilakuka dengan pihak lain yang memiliki hubungan dengan masalah yang dihadapi siswa. Dengan pertemuan ini diharapkan masalah bisa diselesaikan sampai tuntas.
Meminta bantuan dengan tenaga profesional.
Dengan adanya proses pendampingan ini diharapkan masalah yang dihadapi siswa ketika menjadi siswa akselerasi bisa diatasi dengan cepat dan tepat. Namun proses yang diuraikan diatas masih dalam tataran umum, namun telah menjadi standar baku di SMP Taruna Bakti. Tentu dalam kenyataannya, wali kelas atau guru bisa jadi menemukan permasalahan yang spesifik dan membutuhkan proses pendampingan yang lebih intens, namun dengan kesabaran dan komitmen yang tinggi, setiap permasalahan siswa bisa diatasi tanpa harus “cuci tangan” dengan memindahkan siswa ke kelas reguler.
Imam Wibawa Mukti,S.Pd
Koordinator Akselerasi SMP Taruna Bakti Bandung Selengkapnya...
Minggu, 16 Mei 2010
Mendiknas: Penerapan Pendidikan Karakter Dimulai SD
Sabtu, 15 Mei 2010 21:30 WIB
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Muhammad Nuh, di Medan, Sabtu, mengatakan, pendidikan karakter harus dimulai sejak dini yakni dari jenjang pendidikan SD.
Pada jenjang SD ini porsinya mencapai 60 persen dibandingkan dengan jenjang pendidikan lainnya.Hal ini agar lebih mudah diajarkan dan melekat dijiwa anak-anak itu hingga kelak ia dewasa.
"Pendidikan karakter harus dimulai dari SD karena jika karakter tidak terbentuk sejak dini maka akan susah untuk merubah karakter seseorang,"katanya saat menjadi pembicara pada acara seminar nasional "Pendidikan Karakter Bangsa" yang merupakan rangkaian acara rapat pimpinan Program Pasca Sarjana (PPs) Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK) se-Indonesia di Universitas Negeri Medan (Unimed).
Ia mengatakan, pendidikan karakter tidak mendapatkan porsi yang besar pada tingkat Taman Kanak-kanak (TK) atau sejenisnya karena TK bukan merupakan sekolah tetapi taman bermain.
"TK itu taman bermain untuk merangsang kreativitas anak, bukan tempat belajar. Jadi jika ada guru TK yang memberikan tugas atau PR maka itu guru kurang kerjaan dan tak paham tugasnya," katanya.
Menurut dia, dalam menanamkan karakter pada seseorang yang paling penting adalah kejujuran karena kejujuran bersifat universal.
Dalam hal ini siswa SD yang masih belum terkontaminasi dengan sifat yang kurang baik sangat memungkinkan untuk ditanamkan sifat-sifat atau karakter untuk membangun bangsa.
Untuk itu, selain orang tua, guru SD juga mempunyai peranan yang sangat vital untuk menempah karakter siswa.
"Pembinaan karakter yang termudah dilakukan adalah ketika anak-anak masih duduk di bangku SD. Itulah sebabnya kita memprioritaskan pendidikan karakter di tingkat SD. Bukan berarti pada jenjang pendidikan lainnya tidak mendapat perhatian namun porsinya saja yang berbeda," katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan, dunia pendidikan diharapkan sebagai motor penggerak untuk memfasilitasi pembangunan karakter, sehingga anggota masyarakat mempunyai kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis dan demokratis dengan tetap memperhatikan norma-norma di masyarakat yang telah menjadi kesepakatan bersama.
Pembangunan karakter dan pendidikan karakter menjadi suatu keharusan karena pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik menjadi cerdas, juga mempunyai budi pekerti dan sopan santun sehingga keberadaannya sebagai anggota masyarakat menjadi bermakna baik bagi dirinya maupun orang lain.
"Intinya pembinaan karakter harus dilakukan pada semua tingkat pendidikan hingga Perguruan Tinggi (PT) karena PT harus mampu berperan sebagai mesin informasi yang membawa bangsa ini menjadi bangsa yang cerdas, santun, sejahtera dan bermartabat serta mampu bersaing dengan bangsa manapun," katanya.
Pada kesempatan itu, Mendiknas Muhammad Nuh juga diberikan sebuah buku yang berjudul" Pendidikan Karakter Dalam Pembangunan Bangsa" setebal 200 halaman yang di susun oleh pimpinan atau direktur PPs LPTK se-Indonesia sebagai salah satu hasil rapim PPs LPTK se-Indonesia tahun lalu. (*)
(T.KR-JRD/B/M034/R009)
COPYRIGHT © 2010
sumber gambar :
PENDIDIKAN KARAKTER, YANG TERLUPAKAN
Keberadaan seperti ini menggambarkan struktur dasar manusia sebagai mahluk yang memiliki kebebasan, namun sekaligus sadar akan keterbatasannya. Dinamika struktur manusia yang seperti inilah yang memungkinkan pendidikan karakter menjadi sebuah pedagogi. Dengannya manusia menghayati transendensi dirinya dengan cara membaktikan diri pada nilai-nilai yang diyakininya sebagai berharga bagi dirinya sendiri serta bagi komunitas di mana individu tersebut berada.
Setiap kali kita berbicara tentang pendidikan karakter, yang kita bicarakan adalah tentang usaha-usaha manusiawi dalam mengatasi keterbatasan dirinya melalui praksis nilai yang yang dihayatinya. Usaha ini tampil dalam setiap perilaku dan keputusan yang diambilnya secara bebas. Keputusan ini pada gilirannya semakin mengukuhkan identitas dirinya sebagai manusia.
Karakter
Istilah karakter sendiri sesungguhnya menimbulkan ambiguitas. Karakter, secara etimologis berasal dari bahasa Yunani “karasso”, berarti ‘cetak biru’, ‘format dasar’, ‘sidik’ seperti misalnya dalam sidik jari. Dalam tradisi Yahudi, misalnya, para tetua melihat alam, seperti, laut, sebagai sebuah karakter, yaitu sebagai sesuatu yang bebas, tidak dapat dikuasai manusia, mrucut seperti menangkap asap. Karakter adalah sesuatu yang tidak dapat dikuasai oleh intervensi manusiawi, seperti, ganasnya laut dengan gelombang pasang dan angin yang menyertainya. Mereka memahami karakter seperti lautan, tidak terselami, tak dapat diintervensi. Karena itu, berhadapan dengan apa yang memiliki karakter, manusia tidak dapat ikut campur tangan atasnya. Manusia tidak dapat memberikan bentuk atasnya. Sama seperti bumi, manusia tidak dapat membentuknya sebab bumi memiliki karakter berupa sesuatu yang ‘mrucut’ tadi. Namun sekaligus, bumi itu sendirilah yang memberikan karakter pada realitas lain.
Tentang ambiguitas terminologi ‘karakter’ ini, Mounier, mengajukan dua cara interpretasi. Ia melihat karakter sebagai dua hal, yaitu pertama, sebagai sekumpulan kondisi yang telah diberikan begitu saja, atau telah ada begitu saja, yang lebih kurang dipaksakan dalam diri kita. Karakter yang demikian ini dianggap sebagai sesuatu yang telah ada dari sononya (given). Kedua, karakter juga bisa dipahami sebagai tingkat kekuatan melalui mana seorang individu mampu menguasai kondisi tersebut. Karakter yang demikian ini disebutnya sebagai sebuah proses yang dikehendaki (willed).
Karakter sebagai suatu kondisi yang diterima tanpa kebebasan dan karakter yang diterima sebagai kemampuan seseorang untuk secara bebas mengatasi keterbatasan kondisinya ini membuat kita tidak serta merta jatuh dalam fatalisme akibat determinasi alam, ataupun terlalu tinggi optimisme seolah kodrat alamiah kita tidak menentukan pelaksanaan kebebasan yang kita miliki. Melalui dua hal ini kita diajak untuk mengenali keterbatasan diri, potensi-potensi, serta kemungkinan-kemungkinan bagi perkembangan kita. Untuk itulah, model tipologi yang lebih menekankan penerimaan kondisi natural yang dari sononya tidak cocok. Cara-cara ini hanya salah satu cara dalam memandang dan menilai karakter.
Karena itu, tentang karakter seseorang kita hanya bisa menilai apakah seorang itu memiliki karakter kuat atau lemah. Apakah ia lebih terdominasi pada kondisi-kondisi yang telah ada dari sononya atau ia menjadi tuan atas kondisi natural yang telah ia terima. Apakah yang given itu lebih kuat daripada yang willed tadi. Orang yang memiliki karakter kuat adalah mereka yang tidak mau dikuasai oleh sekumpulan realitas yang telah ada begitu saja dari sononya. Sedangkan, orang yang memiliki karakter lemah adalah orang yang tunduk pada sekumpulan kondisi yang telah diberikan kepadanya tanpa dapat menguasainya. Orang yang berkarakter dengan demikian seperti seorang yang membangun dan merancang masa depannya sendiri. Ia tidak mau dikuasai oleh kondisi kodratinya yang menghambat pertumbuhannya. Sebaliknya, ia menguasainya, mengembangkannya demi kesempurnaan kemanusiaannya.
Orang yang terlalu dikuasai oleh situasi kondisi yang dari sononya itu, dalam tingkatan yang paling ekstrem bisa jatuh dalam fatalisme. Ekspresi umum orang seperti ini adalah, “karakter saya memang demikian. Mau apa lagi?” “Saya menjadi demikian ini sudah dari sono-nya. Inilah takdir dan keberuntungan hidup saya”. Semua ini seolah ada di luar kendali dirinya. Karena itu tidak ada gunanya lagi mencoba mengatasinya. Sebab jika sesuatu itu telah ditentukan dari sononya, manusia ini hanya semacam wayang yang tergantung dari gerakan tangan sang dalang. Kalau saatnya masuk kotak ya kita tinggal masuk kotak saja. Saat tampil, ya kita tampil. Fatalisme seperti ini sangat kontraproduktif dengan cita-cita sebuah pendidikan yang merupakan sebuah intervensi sadar dan terstruktur agar manusia itu semakin dapat memiliki kebebasan sehingga mampu lebih gesit dan lincah dalam menempa dan membentuk dirinya berhadapan dengan determinasi alam dalam dirinya.
Manusia memiliki struktur antropologis yang terbuka ketika berhadapan dengan fenomena kontradiktif yang ditemukan dalam dirinya, yaitu, antara kebebasan dan determinasi, antara karakter yang stabil dengan ekspresi periferikal atasnya yang sifatnya lebih dinamis dan mudah berubah.
Dengan gambaran manusia seperti ini, Mounier menegaskan bahwa individu itu selalu bergerak maju mengarah ke masa depan. Aku bukanlah sekumpulan masa laluku. Aku adalah sebuah gerak menuju masa depan, yang senantiasa berubah menuju kepenuhan diriku sebagai manusia yang lebih besar. Aku adalah apa yang dapat aku kerjakan, aku lakukan, yang membuatku menjadi seperti yang aku ingini. Aku mengatasi apa yang ada dalam diriku saat ini. Aku adalah apa yang masih bisa aku harapkan daripada sekedar hal-hal yang telah aku peroleh selama ini. Jadi, manusia memiliki kemampuan untuk berharap dan bermimpi, sebab harapan dan impian ini merupakan semacam daya dorong yang membuatnya mampu secara optimis menatap masa depan dengan mempertimbangkan daya-daya aktualnya yang sekarang ini ia miliki.
Karakter merupakan struktur antropologis manusia, tempat di mana manusia menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasan dirinya. Struktur antropologis ini melihat bahwa karakter bukan sekedar hasil dari sebuah tindakan, melainkan secara simultan merupakan hasil dan proses. Dinamika ini menjadi semacam dialektika terus menerus dalam diri manusia untuk menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasannya. Karakter merupakan kondisi dinamis struktur antropologis individu, yang tidak mau sekedar berhenti atas determinasi kodratinya melainkan juga sebuah usaha hidup untuk menjadi semakin integral mengatasi determinasi alam dalam dirinya demi proses penyempurnaan dirinya terus menerus. (16 Agustus 2008)
Sumber:
Doni Koesoema, A. (2007). Tiga Matra Pendidikan Karakter. Dalam Majalah BASIS, Agustus-September 2007.
http://pendidikankarakter.org/index.php?news&nid=2
25 Mei 2009
http://karakterbangkit.blogspot.com/
Sumber: http://www.learningresources.com/images/en_US/local/products/detail/prod2288_dt.jpg
Sumber gambar :






