Rabu, 14 Januari 2009

MENGENAL BELAJAR SISWA DALAM MENGATASI KEGAGALAN

Oleh:
Pudjo Sumedi AS *)
Abstrak: Pada umumnya siswa yang dalam belajar menggunakan strategi yang diharapkan dapat menutupi ketidakmampuannya dan melindungi diri dari kemarahan guru atau olok-olok dan ejekan teman-temannya bila keliru menjawab pertanyaan. Rasa takut pada siswa yang mendorong menggunakan strategi tersebut menyebabkan siswa tidak dapat mengoptimalkan kemampuannya dalam menggunakan nalarnya, sehingga akan mempengaruhi kualitas belajar siswa. Ada bermacam-macam strategi siswa dalam belajar, yaitu: (a) Strategi pencetus – pemikir (Producer – thinker strategy), (b) Strategi komat-kamit (Mumble strategy), (c) Strategi meminimaksimalkan (Minimax strategy), (d) Strategi coba dan benar dengan tebakan dan pengamatan (Tried and true strategy), dan (e) Strategi aduk angka (Numeral shoving strategy). Dengan memahami alasan pemilihan strategi siswa dalam belajar dan jenis-jenis strategi yang digunakan, diharapkan guru dapat memilih cara mengajar yang lebih tepat dengan lebih memberi kebebasan dalam belajar.
Kata kunci: strategi belajar siswa,kemarahan guru, olok-olok dan ejekn teman, cara mengajar, kebebasan belajar.
A. Pendahuluan
"Ochikobore" (tidak tercapainya standar kompetensi dalam belajar) merupakan masalah di Jepang. Di masyarakat muncul sindiran terhadap kekurangberhasilan pendidikan di Jepang dengan ungkapan ochikobore sichi – go-san. Maksud ungkapan itu adalah hanya 70 persen siswa SD yang sebetulnya layak dikatakan tamat SD walaupun faktanya 100 persen tamat. Untuk SLTP hanya mencapai 50 persen berhasil dan di SMU hanya 30 persen. Hal itu berarti + 70 persen tamatan SMU tidak layak melanjutkan pendidikan universitas. Padahal Jepang termasuk bangsa yang paling berhasil dalam menciptakan SDM melalui sistem pendidikannya. Sedangkan di Amerika Serikat, negara yang melakukan banyak ide dan sistem baru tentang pendidikan seperti Individual Priscribed Instruction (IPI), Computer Assisted Instruction (CAI), dan Module putus sekolah masih cukup tinggi.
Menurut John Holt (1981) dalam bukunya ‘How Children Fail’, dinyatakan bahwa siswa yang masuk pendidikan menengah, hampir 40 persen putus sekolah. Bahkan, yang lain pun banyak yang gagal, baik yang benar-benar gagal maupun gagal terselubung. Mereka menyelesaikan pendidikan hanya karena sudah sepakat agar naik kelas dan lulus dari sekolah, tanpa mempedulikan apakah mereka memperoleh ilmu atau tidak. Dengan kata lain tanpa mempertimbangkan kemampuan dan keterampilan siswa pada suatu jenjang pendidikan tertentu.
Sementara di Indonesia mutu pendidikan baik dilihat dari aspek akademik maupun nonakademik menunjukkan angka yang jauh lebih rendah dari Jepang maupun Amerika.
Dilihat dari segi akademik misalnya, salah satu indikator mutu pendidikan, yaitu NEM (Nilai Ebtanas Murni) masih jauh di bawah standar yang diinginkan. Sebagai ilustrasi, klasifikasi mutu SLTP pada tahun 1995/1996 menunjukkan 9 persen baik dan baik sekali (NEM di atas 6,5), 28,9 persen sedang (NEM 5,5 sampai dengan 6,5), dan 62,1 persen kurang (NEM kurang dari 5,5).
Dari aspek non-akademik, mutu pendidikan juga banyak mendapat kritik, khususnya berkaitan dengan masalah kedisiplinan, moral dan etika, kreativitas, dan kemandirian yang tidak mencerminkan tingkat kualitas yang diharapkan oleh masyarakat luas. Rendahnya mutu pendidikan ataupun terjadinya ochikobore tidak terlepas dari kondisi tenaga kependidikan, sarana dan prasarana pendidikan, kurikulum, metode pengajaran, strategi mengajar dan strategi belajar siswa itu sendiri.
Dari sekian banyak kondisi yang disinyalir sebagai penyebab rendahnya mutu pendidikan serta terjadinya ochikobore, masalah strategi siswa dalam mengikuti pelajaran jarang dibahas oleh para ahli pendidikan. Oleh karena itu, berikut ini disajikan jenis-jenis strategi yang sering digunakan oleh siswa dalam proses belajar-mengajar. Faktor-faktor yang mempengaruhinya dan penyebab kegagalan siswa dalam belajar.
Bahasan ini diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan guru dalam memutuskan program pembelajaran serta pemilihan strategi pengajaran, sehingga dapat mengurangi kegagalan siswa.
B. Bagaimana Siswa Belajar
Setiap hari jutaan anak dan ribuan orang dewasa berinteraksi dalam hubungan antara siswa dan guru. Namun, tidak diketahui apakah interaksi yang mereka lakukan berpengaruh terhadap proses belajar-mengajar.
Tidak ada teori belajar atau praktik pendidikan yang mengetengahkan apakah yang sebenarnya terjadi ketika guru bertanya kepada siswanya di kelas. Apakah yang didengar siswa bila ia dipanggil? Apakah yang dipikirkannya, fantasinya dan yang diharapkannya? Kebiasaan seperti apa yang dilakukannya? Adakah pengaruh yang ditimbulkannya terhadap guru? Seringkali guru tidak mengerti jawaban siswa atau ia hanya menganggap jawaban tersebut adalah betul atau salah. Itulah sebabnya, memahami anak adalah hal yang sangat penting dalam proses belajar-mengajar. Dengan mempelajari strategi yang dipakai oleh siswa dalam mengikuti pelajaran, pertanyaan-pertanyaan di atas dapat terjawab.
Menurut John Holt (1980), "Strategy deals with the ways in which children try to meet or dodge the demands that adult make on them in school". (Strategi adalah cara siswa memenuhi atau menghindari tuntutan yang dikenakan kepadanya oleh orang dewasa di sekolah).
1. Strategi belajar yang dipakai oleh siswa
Lima dari banyak strategi belajar yang menurut Holt (1980) sering dipakai siswa dalam mengikuti pelajaran di kelas. Pertama Producer-thinker strategy (Strategi pencetus – pemikir). Istilah producer (pencetus) dipakai untuk menunjukkan siswa yang hanya mementingkan jawaban yang benar, dan untuk mendapatkan jawaban itu mereka berbuat apa saja misalnya memakai peraturan dan rumus secara sembarangan. Siswa semacam ini biasanya langsung mencuat dengan jawaban yang benar dan seringkali mundur ke sikap mengalah dan putus asa bila tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya. Istilah thinker (pemikir) adalah siswa yang berusaha memahami arti, kenyataan, atau apa saja yang sedang dipelajarinya. Pemikir biasanya lebih bersedia bekerja keras. Sayangnya, pengguna strategi pemikir lebih sedikit jika dibandingkan dengan pencetus (producer strategy).
Kedua, Mumble strategy (Strategi komat-kamit). Strategi ini sering dipakai siswa dalam pelajaran bahasa di kelas yang besar. Strategi ini sangat bermanfaat untuk guru yang cerewet tentang aksen dan bangga akan aksen dirinya sendiri. Jika siswa diminta mengulangi kalimat, ada yang hanya membuka mulut tanpa mengucapkan bunyi yang jelas atau benar, dan tanpa memahami artinya. Guru akan menyangka semua siswanya mengikuti pelajaran dengan baik.
Ketiga, Minimax strategy (Strategi meminimaksimalkan). Dengan strategi ini, siswa memanfaatkan peluang untuk menang seluas-luasnya (memaksimalkan), dan menekan serendah-rendahnya (meminimalkan) kekalahan kalau terpaksa harus kalah. Contoh : seorang siswa diminta untuk menentukan di titik mana ia harus menaruh suatu beban pada palang keseimbangan (balance beam) sehingga terjadi keseimbangan. Bila teman-temannya berpendapat bahwa palang itu tidak akan seimbang dengan titik pilihannya, makin lama ia makin tidak yakin akan pilihannya. Akhirnya, setelah semuanya berbicara dan ia harus memecahkan masalah itu, ia pun berkata dengan riang: "Saya pribadi juga berpendapat bahwa tidak akan terjadi keseimbangan."
Keempat, Tried and true strategy of guess and look (Strategi coba dan benar dengan tebakan dan pengamatan). Siswa seringkali terus terang dengan strategi yang dipakainya untuk mendapatkan jawaban dari guru. Untuk melakukan tes terhadap siswa dalam hal jenis kata, guru membuat tiga kolom di papan tulis, masing-masing dengan judul kata benda, kata sifat dan kata kerja. Kemudian memberi pertanyaan termasuk jenis kata apa suatu kata. Salah seorang siswa berkata, "Ibu telah menunjukkan jawabannya." Mungkin guru itu terkejut dan bertanya apa maksudnya. Sebenarnya guru tersebut tidak menunjuk, tetapi ia berdiri di samping kolom yang menjadi jawaban. Begitu guru mengucapkan suatu kata, siswa menyimak menghadap ke mana muka guru untuk menebak jawaban yang benar. Siswa tidak sepenuhnya belajar jenis kata, namun lebih mempelajari gerakan atau tingkah guru dalam mengajar. Bahkan dalam penyusunan soal tes, siswa sering mengamati jenis pertanyaan yang biasanya dibuat oleh guru, sehingga siswa hanya belajar bagian tertentu dari pelajaran tersebut.
Kelima, Numeral shoving strategy (Strategi aduk angka). Siswa sering memakai strategi ini dalam pelajaran matematika atau berhitung. Walaupun anak-anak menjawab dengan benar, mereka seringkali tidak betul-betul mengerti masalahnya. Jika kita menanyakan dari mana mereka memperoleh jawaban itu, segera disadari bahwa mereka hanya mengaduk-aduk bahan pelajaran saja.
Pada kenyataannya, siswa memakai strategi secara konsisten. Siswa yang terpandai memakai strategi tersebut, demikian juga siswa yang bodoh, dapat dipastikan selalu menggunakan strategi dalam belajar. Bahkan, setiap siswa cenderung akan memakai strategi tersebut bila dalam keadaan tertekan. Salah satu cara menjelaskan strategi ini adalah dengan menyebutkannya sebagai yang mementingkan jawaban (answer-centred) dan yang mementingkan persoalan (problem-centred). Perbedaan di antara kedua jenis siswa ini dapat dilihat dari persoalan yang dihadapinya. Kebanyakan anak sekolah cenderung mementingkan persoalan adalah answer-centred dari pada problem-centred. Mereka memandang masalah sebagai semacam pengumuman yang jawabannya ada di suatu tempat misterius nun jauh di sana, dan mereka harus pergi ke sana untuk mencarinya.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Strategi Belajar Siswa
Faktor utama yang mempengaruhi anak-anak menggunakan salah satu strategi belajar adalah guru. Lester Smith (1976) bersikukuh: "Practically everything we do in school tends to make children answer-centred" (Hampir semua hal yang kita lakukan di sekolah cenderung membuat anak-anak menjadi answer-centred). Ada tiga alasan yang berhubungan dengan masalah ini. Pertama, jawaban yang benar selalu mendapat ganjaran. Sekolah merupakan semacam tempat pemujaan bagi jawaban yang benar, dan cara untuk maju adalah mempersembahkan sebanyak-banyaknya jawaban benar di meja pemujaan. Kedua, kebanyakan guru pun answer-centred. Apa yang dilakukan guru adalah akibat apa yang telah diajarkan kepadanya, atau hal itulah yang selalu dilakukannya. Ketiga, bahkan guru yang tidak answer-centred pun mungkin tidak melihat perbedaan antara yang answer-centred dan yang problem-centred, apalagi mengerti betapa pentingnya hal itu. Jadi, cara mengajar siswa dan terutama substansi yang diberikan kepada anak-anak, akan mendorong mereka menggunakan strategi yang bersifat answer-centred.
Strategi belajar merupakan akibat dari karakter siswa. Mereka menggunakan berbagai strategi dalam belajar disebabkan adanya suatu perasaan tertentu yang ingin diatasi, adanya harapan-harapan yang ingin dimiliki, adanya tantangan di kelas dan tantangan lain yang dirasakan. Suatu hal yang menjadi perhatian utama siswa adalah adanya keinginan untuk mempertahankan diri sendiri. Rasa ketakutan akan sangat berpengaruh pada strategi belajarnya.
Hampir dapat dipastikan, bahwa strategi belajar siswa akan konsisten pada kepentingan diri dan pertahanan diri, yang semuanya ditujukan untuk menghindarkan diri dari kesulitan, rasa malu, hukuman, celaan, atau kehilangan status. Berbagai pertanyaan akan muncul pada siswa manakala mereka harus menjawab suatu pertanyaan. Pertanyaan yang muncul antara lain "Apakah yang akan terjadi padaku bila menjawab salah? Tidakkah guru akan marah? Apakah teman-teman tidak akan mentertawakan saya?
Siswa seharusnya dibebaskan dari rasa ketakutan atau kekhawatiran sehingga mampu menggunakan kemampuan dan penalarannya seoptimal mungkin. Sebagai ilustrasi misalnya tentara akan mampu mengontrol ketakutan, hidup di tengah ketakutan, menaklukkan rasa takutnya, dan sangat dimungkinkan justru ketakutannya menimbulkan strategi perang yang baik. Namun, ada perbedaan yang sangat mendasar antara sekolah dan perang.
Siswa dalam menyesuaikan diri dengan perasaan takut akan berakibat buruk dan menghancurkan kemampuan mereka. Sedangkan prajurit yang ketakutan dapat menjadi penyerang yang terbaik, namun pelajar yang ketakutan akan selalu menjadi siswa yang bodoh.
3. Belajar yang sesungguhnya (Real Learning)
Kegiatan seperti mencari kosakata, menghafal sebuah puisi, mengoperasikan komputer, dan aktivitas-aktivitas lainnya termasuk dalam kegiatan belajar. Kegiatan belajar dapat dilakukan di mana saja baik di sekolah maupun di luar sekolah. Kegiatan belajar tidak selalu berarti senyatanya sungguh-sungguh belajar (real learning).
Real Learning atau belajar yang sesungguhnya berhubungan dengan perbedaan antara "apakah yang diharapkan dapat diketahui oleh anak" dengan "apakah yang sebenarnya mereka ketahui".
John Holt (1981) mengatakan dalam bukunya How Children Fail: "What seem simple, natural and self evident to us, may not seem to a child." (yang kelihatan sederhana, alami dan percaya diri kita, tidak demikian dilihat oleh anak). John Holt memberi contoh tentang pemahaman angka 10. Orang dewasa telah terbiasa dengan angka 10 sehingga tidak pernah membayangkan perbedaan angka satu dan nol untuk bilangan sesuatu, apakah lebih besar atau sama. Kita harus akui, kesulitan guru terjadi pada saat pertama mengenalkan angka kepada anak-anak, agar mereka tidak merasa mendapat teka-teki yang tidak jelas. Dikhawatirkan, pada saat pertama dikenalkan angka 10 anak-anak akan kaget sehingga mereka tidak pernah memahami atau akan membekukan penalarannya waktu memikirkan hal tersebut.
Seorang guru Bahasa Inggris di SLTP, harus sangat bijak dalam mengajarkan Countable and Uncountable Nouns. Siswa berpikir bahwa benda yang Countable adalah benda yang dapat diberi bilangan satu, dua dan seterusnya. Dalam otak siswa tidak pernah atau tidak terbiasa memikirkan perbedaan Countable dan Uncountable Nouns, karena tidak dikenal dalam Bahasa Indonesia.
4. Yang Dipikirkan Siswa dalam Mengikuti Pelajaran
Orang dewasa sering tidak mengetahui apakah yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh anak. Jika anak tidak dapat memahami hal yang sangat umum, hal itu dimungkinkan karena bahasa yang digunakan sulit dipahaminya, atau paling tidak disebabkan adanya kontradiksi antara kebiasaan yang mereka alami dengan yang kita bicarakan. Kita tidak dapat mengatakan anak itu bodoh bila ia tidak dengan cepat memahami ide kita ketika diminta membagi angka 6 dengan ½. Contoh : siswa yang memahami definisi pembagian akan menjawab dengan benar yaitu 12. Namun, bagi siswa yang merasa telah ahli dalam perkalian pecahan yang dipelajari beberapa hari sebelumnya, mereka akan mengartikan pembagian dengan definisi yang berbeda. Kalau membagi 6 kedalam tengahan, berapa besar tiap-tiap tengahan, sehingga mereka berfikir berapa separuhnya 6, maka jawabannya adalah 3. Di sini guru menemukan kesulitan, karena tidak menjelaskan perbedaan definisi pembagian, sehingga definisi kedua ini tidak dapat diterapkan pada kasus tersebut.
Penjelasan yang keliru oleh guru akan menyebabkan salah pengertian siswa. Oleh karena itu, sebaiknya menanyakan masuk akal atau tidak atau dapat dipahami atau tidak daripada menanyakan salah atau benar.
5. Penyebab Kegagalan Siswa
Setelah diketahui tentang Ochikobore yang terjadi, masalah tersebut harus dipecahkan dan diatasi. Sungguhpun Ochikobore bukan semata-mata merupakan produk guru, namun guru tidak boleh mengelak dari tanggung jawabnya.
Banyak siswa gagal dalam belajar karena mereka tidak dapat menangkap bahasa guru. Selain itu, seringkali kemampuan siswa di sekolah tidak terlihat karena mereka merasa takut. Hal ini menyebabkan guru keliru dalam menilai kemampuan siswa. Adanya perasaan takut yang mempengaruhi, menyebabkan siswa menggunakan berbagai strategi dalam belajar untuk menjaga diri agar tidak dimarahi oleh guru. Guru sering meremehkan kemampuan dan kreativitas siswa dengan memerintahkan mereka berbuat sesuatu atas inisiatif guru.
Guru menciptakan kekhawatiran bagi siswa, khawatir membuat kesalahan, tidak memenuhi harapan orang lain atau teman, tidak dapat menggembirakan, gagal, dan menjadi salah.
B. Kesimpulan dan Saran
Berbagai strategi belajar sering digunakan oleh siswa dalam rangka membela diri karena sebenarnya mereka dalam kondisi takut. Mereka takut kena marah guru, takut diolok-olok teman, dan takut mendapat nilai jelek. Untuk mengurangi kegagalan siswa atau ochikobore, guru diharapkan lebih memberikan perhatian pada strategi siswa dalam belajar, disamping berupaya membantu menghilangkan berbagai rasa takut yang ada pada siswa dengan memberikan kebebasan dalam belajar. Guru diharapkan lebih memahami kemampuan siswa yang sesungguhnya sehingga mampu menyusun program yang sesuai untuk langkah pembelajaran selanjutnya.
Seharusnya, sekolah menjadi tempat di mana anak-anak mempelajari apa yang sesungguhnya ingin mereka ketahui dan bukan apa yang mereka harus ketahui.
Seorang anak yang ingin mengetahui sesuatu akan selalu mengingat dan menggunakannya sekaligus. Sebaliknya, anak yang belajar untuk menyenangkan atau melakukan sesuatu atas perintah orang lain, akan segera lupa sewaktu keperluan tersebut telah lewat.
Untuk menghilangkan atau mengurangi rasa takut siswa, peran guru harus diubah yang selama ini lebih selaku instruktor menjadi fasilitator. Tugas guru adalah membantu anak dalam belajar. Perbedaan-perbedaan individu pantas untuk mendapat perhatian. Hal ini sulit dilakukan bila jumlah siswa di kelas terlalu besar. Disarankan agar standar jumlah siswa di kelas disesuaikan dengan kemampuan kontrol guru agar "out put" dari sekolah mencapai kualitas yang memadai. Prinsip persamaan hak (equality) dalam pendidikan sudah waktunya ditingkatkan dari pemerataan kesempatan belajar ke arah pemerataan kualitas belajar.
Pustaka Acuan
W.O. Lester Smith. 1976. Education, Penguin Books Ltd
John Holt. 1981. How Children Fail, Pipman Publishing Coporations
John Holt. 1980. How Children Learn, Pipman Publishing Coporations
John Holt. 1970. The Understanding School, Pipman Publishing Coporations
Lindgren Henry C. 1972. Educational Psychology in the class room, Modern Asia Edition

Tidak ada komentar: